
Teman-teman, mohon dukungannya untuk novel emak yang berjudul WANITA KESAYANGAN SANG PRESDIR yang insyaallah emak ikut sertakan dalam lomba 100%kekasihideal. Genrenya Romantis/Komedi dan sudah up mulai hari ini. Silahkan cek profil emak untuk mampir kesana ya. Di jamin sakit perut karena nahan tawa 😂😂😂 Terima kasih.
***
“Hah? Transaksinya sudah selesai? Tapi bagaimana mungkin? Sejak tadi kami bersiaga di sini, mustahil transaksi narkoba itu berhasil!”
“Namun pada kenyataannya transaksi itu benar-benar telah selesai dilakukan, Komandan. Bahkan mata-mata yang kita kirim telah melaporkan kalau saat ini Tuan Jove dan anak buahnya sudah berada di club. Bukankah itu artinya misi mereka telah selesai dilakukan?”
“Sial. Kita ditipu.”
Jove hanya tertawa saja saat mendengar rekaman pembicaraan para polisi yang tadinya berniat menggagalkan transaksinya bersama Farjaad. Oya, apa kalian merasa penasaran darimana Jove mendapatkan rekaman tersebut? Jawabannya hanya ada satu. Yaitu … mata-mata sialan yang dikirim oleh sekelompok polisi sialan itu kini berada di bawah kendalinya. Kalian jangan lupa kalau dia adalah Jove Lorenzo, si mafia yang tak tidak akan membiarkan anak cacing sekalipun mengacaukan rencananya. Begitu Jove mendengar laporan kalau pekerjaan Don tidak beres, dia langsung meminta Franklin untuk meretas sistem keamanan di kantor polisi. Jove harus tahu rencana mereka dalam menyelidiki transaksi yang akan dilakukannya bersama pria AG itu. Dan begitu Jove tahu ada seorang mata-mata yang dikirim untuk mengintai mansion miliknya, dia memerintahkan anak buahnya untuk menangkap hidup-hidup orang tersebut, juga meminta anak buahnya untuk menculik anak dan istri dari mata-mata ini. Kejam? Tentu saja tidak karena ini sudah menjadi resiko bagi siapapun yang berani mencari masalah dengan mafia. Di sini kalian perlu mencatat kalau mafia tidak akan menyerang orang yang tidak bersalah, kecuali jika orang tersebut berani mencampuri urusannya terlebih dahulu. Mata-mata ini contohnya. Jika sejak awal dia sudah tahu kalau orang yang akan dia intai bernama Jove Alexander Lorenzo, harusnya dia menolak untuk melakukannya. Karena masuk ke kandangnya Jove sama artinya dengan mempercepat kematian semua anggota keluarganya. Sampai sini paham?
“Hmmm, dasar bodoh. Apa kalian kira aku akan tetap memilih lokasi yang sama setelah rute yang telah kami atur bocor ke kepolisian? Ckckck, percuma Negara mengeluarkan uang untuk menggaji orang-orang tak berguna seperti kalian. Hanya sia-sia saja,” ujar Jove sembari menatap mata-mata yang tengah menundukkan kepala dengan kedua tangan berada di belakang telinga. “Kau. Apa gunanya kau menjadi seorang polisi kalau mengintai kediamanku saja kau tidak mampu, hem? Tahu tidak. Kecerobohan yang kau lakukan sekarang telah membuat nyawa anak dan istrimu berada dalam bahaya. Kau menghancurkan kebahagiaan keluargamu sendiri. Tahu?”
“A-apa? Anak dan istriku?”
Tanpa menunggu di perintah, Franklin segera menyalakan televisi yang sudah disambungkan dengan cctv di sebuah gudang tempat anak dan istri dari mata-mata ini di sekap. Tak lupa juga Franklin menyalakan loudspeakernya agar mata-mata ini bisa mendengar langsung suara jerit dan tangisan istri dan anaknya.
“Ini akibatnya kalau kau lancang mencampuri urusan Tuan kami. Anak dan istrimu yang harus menanggung imbasnya. Lihat mereka!” hardik Franklin seraya menatap sinis ke arah polisi yang tengah terpaku melihat video di layar televisi.
__ADS_1
Tak tahan mendengar suara jeritan anak dan istrinya, mata-mata itu dengan cepat menghambur ke bawah kakinya Jove kemudian menangis dengan kuat. Suaranya terdengar gemetaran, dia sangat ketakutan. “T-Tuan Jove, t-tolong jangan sakiti anak dan istriku. Mereka tidak bersalah, mereka tidak tahu apa-apa. A-aku mohon tolong lepaskan mereka, Tuan. Aku yang salah, biar aku saja yang di hukum. Jangan mereka, Tuan. Aku mohon!”
“Kenapa aku harus memaafkanmu? Bukankah sejak awal kau sudah tahu ya kalau hal semacam ini pasti akan terjadi jika kau berani menyinggungku, hm?” tanya Jove. Dia lalu menjambak rambut mata-mata itu hingga kepalanya terdongak menatapnya. “Kau dengan senang hati menyetujui perintah dari atasanmu untuk mengawasiku. Lalu kenapa sekarang kau menangis?"
“T-Tuan Jove, aku masih anggota baru di kepolisian. Aku benar-benar tidak tahu kau siapa dan apa akibatnya jika aku mengganggumu. Saat aku menerima perintah ini, atasan hanya memberitahuku kalau kau adalah seorang pengedar narkoba yang sama seperti para bandar yang lainnya. Aku sungguh tidak tahu kalau mengintaimu akan membahayakan nyawa keluargaku. Tolong lepaskan anak dan istriku, Tuan. Jangan sakiti mereka!”
Tepat setelah mata-mata itu bicara, ponsel milik Jove bordering. Dan begitu melihat siapa yang menelpon Jove langsung meminta mata-mata itu agar berhenti menangis. Setelah itu Jove pun beranjak dari duduknya dan memilih untuk berdiri di dekat jendela kaca sebelum mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Bu. Ada apa?”
“Jove, dia tidak bersalah. Lepaskan saja. Mata-mata yang kau tangkap hanya kambing hitam yang baru memasuki dunia bawah tanah. Atau anggaplah kalau dia sengaja dijadikan umpan oleh atasannya sendiri dengan tujuan agar mereka tidak ada yang jatuh ke tanganmu. Licik sekali bukan?” ucap Rose dari dalam telepon. “Dan satu lagi. Setelah urusanmu selesai segeralah kembali ke rumah karena Paman Gerald sudah menunggu. Dia bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan denganmu. Ini tentang penyakitmu, Jove.”
“Baiklah, Bu. Terima kasih atas informasi ini dan secepatnya aku akan segera pulang ke rumah setelah urusan di sini selesai kubereskan,” sahut Jove sedikit kaget setelah di beritahu kalau pamannya datang berkunjung.
“Franklin, bebaskan mereka bertiga. Dia ternyata hanya digunakan untuk melindungi keselamatan sekelompok anjing menjijikkan itu. Cihh, aku sungguh muak. Mereka menggunakan kekuasan hanya untuk menindas yang lebih lemah. Mereka bahkan tega melemparkan anggotanya sendiri demi agar mereka tetap hidup enak. Tidak kusangka mereka jauh lebih kejam daripada kita!” geram Jove. “Dan kau. Ingatlah kalau malam ini adalah malam terbaik yang pernah kau miliki karena hanya kau satu-satunya orang yang masih bisa hidup setelah berurusan denganku. Pergilah, aku memaafkanmu.”
“B-benarkah? La-lalu anak dan istriku bagaimana? Mereka juga di bebaskan bukan?” tanya si mata-mata dengan penuh harap.
“Ya. Aku juga akan membebaskan mereka asal kau bersedia memenuhi syarat yang kuminta,” jawab Jove.
“Apapun syaratnya pasti akan aku lakukan asal kau bersedia membebaskan kami bertiga. Sungguh.”
“Apapun?”
__ADS_1
“Iya, Tuan Jove. Apapun akan aku lakukan demi keselamatan anak dan istriku.”
“Good!” Jove menepuk bahu si mata-mata dengan bangga. Mungkin ini alasan mengapa ibunya menelpon dan meminta Jove agar melepaskan polisi ini. Orang yang sangat peduli dengan keluarganya ternyata. “Aku minta kau jangan pernah lagi kembali bergabung dengan mereka. Asal kau tahu saja, atasan yang selalu kau puja-puja itu sengaja mengirimkanmu kemari karena mereka tak mau menanggung resikonya. Beruntung ada dewi penyelamat yang membantumu dan keluargamu keluar dari kematian. Jadi kalau ingin kalian semua selamat, penuhi apa yang aku minta dan tinggalkan Negara ini secepatnya. Mengerti?”
“T-tapi, Tuan. Kami baru saja pindah dan aku belum menerima gaji dari kantor. Tidak bisakah kau memberiku waktu beberapa hari lagi sampai aku mendapatkan cukup uang untuk memboyong keluargaku pindah dari Negara ini?”
“Franklin!”
“Baik, Tuan. Akan segera saya urus,” sahut Franklin langsung tanggap akan apa yang harus dilakukannya.
“Aku tunggu di mobil. Ingat, lebih cepat lebih baik.”
“Baik, Tuan.”
Mata-mata itu dibuat syok setengah mati saat Franklin melemparkan segepok uang ke wajahnya. Dia yang kebingungan memberanikan diri untuk bertanya pada Franklin saat pria dingin ini hendak pergi meninggalkannya. "Tuan, tunggu. Uang ini … uang ini apa maksudnya?”
“Tuan Jove ingin kau dan keluargamu pergi malam ini juga. Dan uang itu adalah pesangon untuk kalian bertiga. Lebih baik sekarang kau segera pulang saja karena anak dan istrimu sudah menunggumu di rumah. Kalian berkemaslah secepat mungkin sebelum Tuan Jove berubah pikiran dan memutuskan untuk menghabisi kalian bertiga. Paham?” jawab Franklin sesaat sebelum dia keluar dari club. Bosnya sudah menunggu, tidak baik jika dia terus mengulur waktu untuk bicara dengan anjing lemah seperti mata-mata itu.
Ya Tuhan, apakah aku berdosa jika ingin berterima kasih pada seorang penjahat? Aku sungguh tidak menyangka kalau aku dan keluargaku sengaja dilemparkan masuk ke kandang harimau oleh orang-orang yang selama ini kuanggap baik. Ternyata memang benar kalau tidak semua penjahat berhati gelap dan tidak semua orang baik berhati tulus. Terima kasih banyak, Tuan Jove. Semoga hidupmu bahagia.
***
__ADS_1