The Devil JOVE

The Devil JOVE
110. Menakut-Nakuti


__ADS_3

Rose bergegas datang ke mansion setelah di beritahu kalau putranya mengalami hal buruk setelah Pamela menyuntikkan obat. Dia yang kala itu baru pulang melatih Kiara tanpa pikir panjang langsung datang ke sana. Bagaimana Rose tidak khawatir. Racun yang dia turun kepada Jove merupakan racun yang sangat mematikan. Rose takut terjadi penolakan di tubuh Jove setelah obat penawar yang diracik dari campuran darah Casandra malah mendatangkan masalah yang baru. Jadilah dia tergesa-gesa pergi memeriksa tanpa mempedulikan rasa lelah yang meredam badan.


Braaakkkk


"Dimana Jove?"


Casandra yang sedang menyeka keringat di wajah Jove sampai berjengit kaget saat pintu kamar di dobrak dengan kuat. Niatnya sih dia ingin mengamuk orang yang sudah membuat kegaduhan itu. Tapi begitu melihat siapa pelakunya, amarah tersebut langsung surut. Ya kali dia berani memarahi ibunya Jove. Yang ada Casandra di buat jadi perkedel nantinya.


"Jove, kau baik-baik saja, Nak?" tanya Rose sambil berjalan cepat menuju ranjang. Dia lalu menangkup wajah putranya yang terlihat sangat pucat seperti mayat. "Apa yang kau rasakan sekarang, hem?"


"Bedanya tubuhku tidak kaku seperti kayu. Selain itu, rasa sakitnya sama persis seperti yang kurasakan selama ini," jawab Jove tanpa menujukan reaksi apapun. Memang sakit, tapi selama dia memegang tangan Casandra, Jove bisa mengendalikan rasa sakit tersebut. Aneh memang.


"Kau yakin hanya itu yang terjadi?"


"Iya, Ibu. Jangan cemas."


Rose menghela nafas panjang setelahnya. Dia kemudian menoleh ke samping. "Pamela, kenapa kau tidak memberitahu Bibi kalau ingin menyuntikkan obat ke tubuhnya Jove? Kalau dia sampai kenapa-napa bagaimana? Kau tidak mungkin tidak tahukan kalau darah milik Casandra bisa berefek fatal jika sampai terjadi penolakan? Jangan sembarangan!"


Ditegur oleh sang bibi membuat Pamela mengerucutkan bibir. Dia yang sedang sibuk menghitung dollar seketika tak bersemangat lagi karenanya. Sambil memasukkan asal gepokan dollar ke dalam koper, Pamela menjelaskan alasan mengapa dia langsung menyuntik kakak sepupunya tanpa memberitahu sang bibi lebih dulu.


"Bagaimana caraku memberitahu Bibi kalau kelangsungan labolatorium Grisi sedang di pertaruhkan? Asal Bibi tahu saja ya. Dua jam sebelum anak buahnya Kak Jove datang menjemput, terjadi hal mengerikan pada tubuh janin yang aku jadikan sebagai bahan percobaan. Hanya berjarak tak kurang dari lima belas menit, tubuh janin berusia kurang lebih lima bulan mendadak berubah menjadi bayi raksasa. Aku syok. Lalu bersama teman-temanku kembali melakukan penelitian untuk mencaritahu penyebab mengapa hal itu bisa terjadi. Setelah itu kami akhirnya tahu kalau penyebabnya adalah karena darah janin itu menolak menyatu dengan darah Casandra. Dan tidak hanya itu. Tadi saat aku sedang dalam perjalanan kemari, temanku mengirim pesan kalau obat yang sudah terlanjur dibuat tak bisa dibiarkan terlalu lama di ruangan terbuka. Efeknya mematikan!" jelas Pamela. "Karena perjalanan dari labolatorium ke mansion ini cukup jauh, makanya aku langsung menyuntikkan obat itu ke badan Kak Jove. Jadi tolong berhenti menyalahkan aku ya. Aku sudah melakukan yang terbaik sebisaku!"


Kalau Rose hanya diam tanpa menunjukan ekspresi apapun, lain halnya dengan yang terjadi pada Casandra. Wanita itu terbengang dengan mata membelalak lebar. Dia sangat tidak mengira kalau darah miliknya akan seberbahaya ini untuk orang lain.

__ADS_1


A-apa aku ini monster? Kenapa begitu mengerikan? Astaga, Casandra. Sebenarnya kau itu siapa? Kenapa orang-orang ini mengatakan fakta yang begitu menakutkan tentang darah yang mengalir di tubuhmu? Ya Tuhan.


"Jangan takut. Hal menakutkan ini hanya akan terjadi jika darahmu salah dipergunakan. Pamela berkata seperti itu karena mengkhawatirkan keadaanmu. Anggap kalau dia sedang memperingatkan kita semua agar lebih berhati-hati dalam menjagamu," bisik Jove sambil menggenggam sebelah tangan Casandra. Kasihan calon istrinya. Pasti kaget sekali mendengarnya.


"J-Jove, aku ini monster ya? Atau, atau aku ini sebenarnya adalah alien yang berasal dari dunia antah berantah? Aku takut. Aku tidak mau seperti ini. Tolong aku!" cicit Casandra dengan suara gemetar. Rasanya dia seperti mau pingsan sekarang. Sungguh.


"Kau bukan monster, juga bukan alien. Kau manusia normal, hanya darahmu sedikit istimewa dari orang lain. Jangan takut ya. Aku dan yang lainnya tida akan membiarkan rahasia ini bocor keluar. Kau dan keistimewaanmu itu aman di tangan kami. Oke?"


"Yang di katakan Jove benar, Cassey. Kami semua menyayangimu, jadi yang menjadi rahasiamu akan menjadi rahasia kami juga. Jangan takut ya. Masalah ini pasti ada jalan keluarnya. Jove, Bibi, Pamela dan yang lainnya tidak akan mungkin membiarkanmu menanggung sendirian!" ucap Rose ikut menenangkan Casandra yang sedang ketakutan. Dia lupa kalau si pemilik darah langka juga berada di kamar ini.


"Benar, Nona Casandra. Kami semua ada untuk mendukungmu!" imbuh Franklin ikut bersuara. Dia kemudian melirik ke arah bosnya yang terlihat mulai relaks, tak kesakitan seperti tadi.


Sepertinya obat itu mulai menujukan efeknya. Semoga saja tidak ada hal berbahaya setelah ini. Nona Casandra bisa mati ketakutan jika Tuan Jove sampai kenapa-napa.


Pamela yang melihat Casandra panik dan ketakutan dengan tengilnya malah terpikir untuk mengerjainya saja. Dia merasa gemas melihat reaksinya yang malah menyebut dirinya sebagai Monster dan alien.


"Ekhmmm!"


Seluruh tubuh Casandra gemetar hebat setelah mendengar perkataan Pamela. Benarkah dia telah menyebabkan limbah berbahaya bertebaran di mana-mana? Ya Tuhan, apa yang harus dia lakukan sekarang. Bertahun-tahun telah terlewat sejak di awal dia mulai datang bulan. Lalu sebanyak apa binatang yang telah meneguk bekas aliran darahnya?


"Pamela, kau jangan malah menambahkan ketakutan di diri Casandra. Lihat, wajahnya jadi pucat gara-gara kau menakutinya!" tegur Rose mengomeli keponakannya yang bersikap jahil. Sudah tahu Casandra sedang ketakutan, malah sengaja di takut-takuti seperti ini. Rose jadi kasihan.


"Bibi, sudahlah. Apa sih salahnya merubah suasana supaya tidak terlalu tegang? Dan juga Casandra. Dia berhak tahu kalau darah di tubuhnya memang seberbahaya itu jika sampai tertela oleh manusia ataupun binatang. Lihat saja Kak Jove. Dia sampai tak berdaya begitu setelah aku menyuntikkan obat ke tubuhnya. Padahal sudah banyak campuran obat lain yang aku masukkan, tapi masih saja dia kesakitan. Wajarkan kalau aku mengingatkan semua orang?" sahut Pamela enggan di salahkan.

__ADS_1


"Apapun itu Bibi tetap tidak setuju. Tahu?"


"Baiklah-baiklah."


Jove yang sudah mulai membaik segera menarik tubuh Casandra ke dalam dekapannya. Dia lalu mencium keningnya yang sudah di banjiri keringat.


"Tidak apa-apa. Pamela hanya sedang mengerjaimu saja, jangan di ambil hati. Karena seberbahaya apapun dirimu, aku pasti akan mencari cara agar bahaya itu tidak sampai menyakiti orang lain. Oke?" bisik Jove sambil meng*lum senyum. Antara kasihan dan ingin tertawa melihat jaguarnya ketakutan. Sungguh manis. Wanita yang biasanya selalu bersikap galak seolah tak takut pada apapun, mendadak berubah seperti anak kanguru yang baru lahir. Jove jadi semakin tidak sabar untuk segera memilikinya secara resmi.


"Tapi dia bilang darahku sangat mematikan, Jove. Bagaimana jika tanpa kuketahui ada seseorang ataupun binatang yang terkena dampaknya? T-Tuhan pasti akan langsung mengutukku," sahut Casandra berusaha menahan diri agar tidak menangis. Dia melesakkan wajahnya ke dada Jove sedalam yang dia mampu, mencari-cari titik ternyaman yang bisa sedikit menenangkan hati.


"Memang benar, tapi aku tetap tidak akan tinggal diam. Kau milikku, ku pastikan tidak akan ada ketakutan apapun lagi di hidupmu. Kau percaya itu, kan?"


Meskipun ragu, Casandra tetap menganggukkan kepala. Nafasnya sesak, terlalu takut untuk kembali membayangkan hal menakutkan yang bisa saja terjadi.


Rose, Franklin dan juga Pamela hanya berdiri diam melihat bagaimana Jove menenangkan Casandra. Tak lama setelah itu datang Adam bersama Kiara. Kedua orang ini tampak mengerutkan kening karena bingung melihat Jove yang berwajah pucat sedang memeluk Casandra dengan erat. Penasaran, Adam memutuskan untuk bertanya pada Rose.


"Honey, apa yang terjadi di sini?"


"Jove kesakitan setelah Pamela menyuntikkan obat penawar racun itu. Sedangkan Casandra, dia ketakutan gara-gara perkataan Pamela. Gadis nakal ini penyebabnya," jawab Rose sambil menggerakkan dagu ke arah Pamela.


"Haihhh, Pamela-Pamela. Kenapa sih kau itu jahil sekali. Apa perlu Paman mengadukan hal ini pada Ibumu? Tidak takut kau akan di pasung?"


Pamela keki. Tak mau menjadi bahan ejekan orang-orang yang ada di sana, secepat kilat dia menarik ketiga kopernya keluar dari ruangan. Pamela tak berani jika ibunya sudah dibawa-bawa. Hal paling menyeramkan dimana dia dan ayahnya akan langsung patuh bak kerbau yang di colok hidungnya begitu sang ibu membuka suara. Biasalah.

__ADS_1


Kenapa sih Paman Adam harus membahas masalah ini di hadapan banyak orang. Akukan jadi malu.


***


__ADS_2