
"Honey, siapa yang ingin kau telepon?" tanya Adam cepat-cepat menghampiri wanita cantik yang tengah duduk sambil menempelkan ponsel ke telinga. Adam takut istrinya ini ingin menghubungi pria lain.
"Hanya ingin memastikan saja kalau menantuku tidak sedang di targetkan oleh gadis itu," jawab Rose seraya menyunggingkan senyum ketika tangan kekar suaminya melingkar erat di pinggang. Seperti biasa, posesif.
"Gadis itu?" Kening Adam mengerut. "Maksudmu Pamela?"
"Iya. Pagi tadi anak buahnya membawa pergi orang-orang yang sedang mengintai di kediaman keluarga Lin. Aku hanya penasaran saja mengapa gadis itu bisa lebih dulu tahu tentang masalah ini bahkan sebelum aku sempat sampai di sana!"
"Oh, jadi kau pergi menyambangi kediaman calon besan kita ya?" ucap Adam. "Pantas aku hanya menemukan guling saat bangun dari tidur. Kau keluyuran ternyata!"
Rose hanya tersenyum saja mendengar sindiran yang dilayangkan oleh Adam. Setelah itu ekpresi wajahnya langsung berubah dingin begitu mendengar suara dari dalam telepon. Orang yang dia hubungi sudah merespon.
"Aku tidak ada hubungannya dengan masalah ini!" ucap Gerald langsung menyatakan diri kalau dia tidak terlibat dengan apapun urusan yang membuat Rose menelponnya.
"Aku tidak menuduhmu, tapi aku hanya ingin memastikan saja kalau putrimu tidak sedang menjadi salah satu musuh yang mengincar darah langka di tubuh calon mantuku!" sahut Rose tegas, tenang, tapi penuh ancaman. "Pagi tadi anak buah Pamela tiba-tiba membawa pergi beberapa orang yang sedang mengintai keluarga Lin. Mungkin jika ada pemberitahuan lebih dulu, aku tidak akan repot-repot menghubungimu. Sayangnya tindakan ini Pamela lakukan atas keinginan sendiri. Jadi aku ingin memberitahumu kalau di keluarga besar kita, aku akan menjadi orang pertama yang melenyapkan anggota keluarga sendiri jika memang terbukti Pamela mengincar Casandra!"
Adam diam menyimak pembicaraan Rose dengan Gerald. Walaupun sebenarnya agak kaget, tapi dia berusaha tenang menunggu sampai kedua manusia yang sama-sama dingin ini selesai bicara. Sebelum ini Adam juga sempat terbersit satu pemikiran kalau Pamela memiliki keinginan untuk menguasai Casandra. Mau bagaimana lagi. Gadis itu merupakan seorang ilmuwan gila yang suka sekali melakukan eksperimen mengerikan yang kadang berada di luar nalar manusia. Dengan memiliki Casandra, otomatis itu akan menjadi kesenangan tersendiri bagi seorang Pamela Thampson, si gadis psikopat yang tingkat kegilaannya hampir sama dengan penghuni rumah sakit jiwa.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak suka dengan yang namanya ancaman. Akan tetapi jika memang benar Pororo melakukan hal itu, maka aku sendiri yang akan memasungnya di rumah!"
"Jika semudah itu mengatasi kegilaan putrimu aku tidak akan mungkin menghubungimu, Gerald. Lekas kau awasi gadis itu sebelum aku membeberkan masalah ini di hadapan Jessy. Kau pasti tidak mau bukan istrimu yang cantik itu minggat dari rumah?" ancam Rose sambil tersenyum samar. Hanya ini. Hanya ini satu-satunya ancaman yang bisa membuat seorang Gerald takluk tanpa ada perlawanan.
Dan benar saja. Begitu Rose selesai mengancam, pria jelmaan batu es itu langsung menghela nafas. Dan suara nafasnya terdengar berat, menandakan kalau dia hanya bisa pasrah menerima ancaman.
"Tuhan dan Jessy adalah titik kelemahanmu, aku sangat tahu akan hal itu. Karenanya aku minta kau awasi baik-baik Pamela. Aku begini karena tahu seperti apa pemikiran para penemu jika mendengar ada sesuatu hal menarik yang bisa mereka jadikan sebagai bahan eksperimen. Dan Casandra adalah sasaran yang sangat empuk sekali. Aku tidak mau sampai terjadi pertikaian antara Jove dengan Pamela karena memperebutkan darah langka yang ada di tubuh Casandra. Sebab itu mari kita membuat langkah pencegahan agar tidak terjadi perang saudara!" ucap Rose sedikit melembut. Biar bagaimana pun Pamela adalah keponakan sendiri, jadi Rose juga tidak mungkin menegur Gerald terlalu keras. Dan teguran kali ini harusnya sudah lebih dari cukup.
"Aku mengerti. Masalah Pororo aku akan menanganinya setelah ini. Tapi Rose, berjanjilah untuk tidak membawa nama Jessy di sini. Dia sangat mencintaiku, dan dia akan merasa sangat tersiksa sekali jika sampai pergi dari rumah!"
Rose langsung terkekeh begitu panggilan dimatikan sepihak oleh Gerald. Pria batu es itu benar-benar ya. Sekalipun tak pernah mau mengaku kalau dialah yang sebenarnya sangat mencintai Jessy dan akan berubah seperti mayat hidup jika Jessy sampai minggat karena merajuk. Dasar aneh.
"Aku ini Rose, bukan Jessy yang bisa membuat seorang Gerald mengucapkan kata godaan," jawab Rose sambil menggelengkan kepala. Setelah itu dia menyender ke dada Adam, meresapi kehangatan pelukan posesif pria ini. "Pamela memerintahkan orang untuk membawa pergi para penyusup itu, Dam. Dan aku khawatir ini dia lakukan untuk mencari kesempatan merebut Casandra dari Jove. Pamela cukup mengerikan. Aku takut dia memiliki na*su untuk menguasai sepenuhnya darah langka itu. Rambut boleh sama hitam dan darah boleh sama-sama merah, tapi dalamnya hati manusia siapalah yang bisa tahu selain Tuhan. Kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi, bukan?"
"Aku setuju dengan pemikiranmu, Hon. Karena sebelum kau merasakan hal ini, aku sudah lebih dulu memikirkannya. Namun aku berpegang teguh pada satu keyakinan kalau Pamela tidak akan mungkin seberani itu memantik amarahnya Jove, tapi setelah mendengar ceritamu aku jadi merasa tak tenang. Mereka berdua sama-sama gila. Jadi kalau tidak segera di tengahi, aku khawatir pertikaian antar saudara tidak akan terelakkan lagi!" sahut Adam setuju akan kekhawatiran yang dirasakan oleh Rose. Pamela bukan gadis yang bisa dengan mudah diremehkan, makhluk itu sangat berbahaya karena pergerakannya cukup sulit untuk di tebak.
"Haruskah kita pergi ke labolatorium Grisi untuk memastikan sendiri apakah Pamela akan senekad itu atau tidak?"
__ADS_1
"Kita tanyakan saja dulu pada Jove. Jika menurutnya ini penting, maka aku akan menemanimu pergi ke sana. Tapi jika Jove berkata dia bisa mengendalikan semuanya, kita awasi saja dari jauh. Oke?"
"Aku akan menghabisi Pamela dengan kedua tanganku sendiri kalau dia sampai berani menyakiti Casandra!" gumam Rose sambil membuka mata mengenang mimpi aneh yang semalam muncul dalam tidurnya.
Semoga saja mimpi itu hanya sebatas mimpi penghias tidur saja. Jove terlihat begitu merana menyaksikan Casandra terbaring dengan wajah begitu pucat. Hmmm, semoga mereka baik-baik saja sekarang. Aku khawatir sekali.
Andai saja Rose tahu kalau mimpinya benar-benar telah menjadi kenyataan, dia pasti akan langsung pergi menjenguk calon mantunya yang sedang tidak sadarkan diri karena tidak sengaja terkena efek racun dari tubuhnya Jove yang kambuh mendadak. Sayang sekali.
"Mau pergi jalan-jalan tidak, Hon. Sepertinya hari ini langit sedang cerah. Pasti akan menyenangkan sekali kalau kita bisa menghabiskan waktu sambil menikmati pemandangan hijau yang segar," tanya Adam menawarkan hiburan agar istrinya yang cantik ini tidak terlalu gundah.
"Keadaan sedang tidak kondusif, Dam. Apa tidak apa-apa kalau kita malah pergi jalan-jalan begini?" sahut Rose antara ingin pergi atau tidak.
"Jangan khawatir. Aku tidak mungkin diam saja membiarkan Jove seorang diri menghadapi masalah ini. Melihatmu begini membuat duniaku seketika menggelap. Aku ingin melihatmu tersenyum lepas, Honey. Kita pergi ya?" bujuk Adam.
"Baiklah!"
Begitu Rose menyatakan kesediannya, sebelah tangan Adam langsung mengambil ponsel dari saku celana. Dia lalu meminta Cesar agar mengatur penjagaan seketat mungkin selama dia dan Rose sedang tidak ada di tempat.
__ADS_1
Gerald, sebaiknya kau awasi putrimu baik-baik. Kalau dia sampai berani membuat istri dan anakku merasa tak senang, bersiaplah kalian berhadapan denganku. Karena segila-gilanya kalian, tetap tidak akan bisa menghadapi kemarahan dari seorang ayah dan seorang suami yang sangat mencintai keluarganya. Ingat itu!
***