The Devil JOVE

The Devil JOVE
114. Menikmati Kesenangan


__ADS_3

Merasa cukup sehat, Casandra memutuskan untuk datang ke perusahaan. Dia bosan terus berada di mansion tanpa melakukan apa-apa. Terlebih Jove sama sekali tak beranjak dari sisinya. Bukannya bosan, Casandra hanya merasa akan gila karena pria itu hanya diam menatap tanpa berkata-kata. Siapalah wanita yang tidak gugup jika berada di posisinya. Jadi pagi ini Casandra memutuskan untuk mulai beraktifitas seperti biasa saja.


"Kau yakin mau berangkat ke perusahaan?" tanya Jove sembari mencium tengkuk Casandra yang tak tertutup rambut. Wanita ini sedang mengancing baju, jadi dia mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Ummm." Casandra mengangguk. "Jangan ganggu dulu, Jove."


"Tidak. Kau lakukan saja apa yang musti dilakukan, dan akupun juga hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan."


"Dengan terus menciumi tengkukku seperti ini?"


"Hmmmm," ....


Sambil memejamkan mata dan menempelkan wajah ke rambut Casandra, Jove melingkarkan kedua tangan ke perutnya. Tanpa terasa kini hubungan mereka sudah jauh lebih dari kata baik, meski kadang-kadang Jove masih harus menerima umpatan kasar dari calon istrinya ini.


"Jove, apa sebelum aku masuk ke mansion ini kau memang sudah jarang pergi ke perusahaan?" tanya Casandra penasaran. "Aku perhatikan hanya sesekali saja kau datang ke sana. Tidak khawatirkah di perusahaanmu ada tikus yang merongrong keuntungan demi memuaskan rasa serakah mereka?"


"Franklin akan menangani masalah ini," jawab Jove. "Jikapun ada tikus di perusahaan, aku hanya perlu mengirimkannya pada Pamela."


"Memangnya apa yang akan dilakukan gadis gila itu pada mereka?"


"Menjadikan setiap bagian tubuhnya menjadi dollar."


"A-apa?"


Astaga, seseram itukah Pamela? Menjadikan manusia sebagai penghasil dollar, tidakkah ini kelewat gila? Ya Tuhan, baru kali ini aku bertemu dengan gadis semenyeramkan Pamela. Hiii.


"Jangan memikirkan orang lain saat sedang bersamaku. Aku tidak suka!" ucap Jove tak membiarkan Casandra larut dalam lamunannya.


"Orang lain itukan sepupumu sendiri, Jove. Kau tidak mungkin cemburu, kan?" sahut Casandra sedikit tak percaya akan keposesifan pria yang masih betah memeluknya.


"Siapapun itu aku hanya ingin kau memikirkanku seorang!"


"Jika aku menolak?"


"Kau menantangku?"

__ADS_1


"Iya. Kenapa memangnya?"


Sebelah sudut bibir Jove terangkat ke atas. Dengan gerakan yang sangat cepat, Jove memutar tubuh Casandra hingga menghadapnya. Setelah itu Jove menempelkan ujung hidung mereka sambil saling menatap.


"Aku sudah melamarmu. Harusnya kau tahu itu!" ucap Jove sarat akan gertakan. Namun kali ini bukan gertakan kasar seperti yang biasa dia ucapkan, melainkan gertakan penuh kepemilikan.


"Ya ya ya, aku sangat tahu akan hal itu. Lagipula aku hanya bercanda saja. Kenapa begitu serius saat menanggapinya?" sahut Casandra sambil tertawa renyah melihat sikap Jove. Setelah itu dia mengalungkan kedua tangan ke leher calon suaminya. "Bagaimana bisa aku memikirkan orang selain dirimu kalau kau saja tak pernah jauh dari sisiku. Jadi jangan mengkhawatirkan sesuatu yang jelas-jelas hanya ada kau dan aku di dalamnya. Oke?"


"Pamela. Kau baru saja memikirkannya!"


"Memang benar, tapi dia itukan sepupumu. Juga Pamela adalah wanita. Masa iya kau cemburu padanya?"


"Rasa cemburu muncul tidak hanya karena lawan jenis, tapi sesama wanita juga bisa menimbulkan kecurigaan!"


"Lalu?"


"Jangan menantang. Aku tidak sedang dalam suasana hati yang baik sekarang!"


Sebelah alis Casandra tertarik ke atas. Di tatapnya lekat wajah Jove yang terlihat cukup serius. Khawatir terjadi sesuatu, diapun memutuskan untuk bertanya.


"Cassey, apa yang akan kau lakukan jika Kiara menghabisi seseorang yang kau kenal cukup dekat?" sahut Jove balik bertanya. Sebenarnya bukan ini yang membuat pikirannya merasa terganggu. Akan tetapi karena masalah itu belum boleh di ketahui oleh Casandra, Jove memutuskan untuk membahas hal yang lain saja.


"Seseorang yang aku kenal dekat?" Casandra mengerutkan kening. Dia agak bingung dengan maksud pertanyaan Jove barusan. "Jove, siapa orang yang kau maksud? Dan kenapa juga Kiara harus menghabisinya? Apa yang terjadi?"


"Kau hanya perlu menjawab apa yang ku tanyakan!"


"Jove!"


"Jangan membantah. Jawab saja!"


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Casandra saat Jove menolak memberitahukan siapa orang terdekatnya yang akan di habisi oleh Kiara. Sambil terus menerka-nerka, Casandra akhirnya menjawab.


"Tergantung dari apa yang dilakukan oleh orang terdekatku itu. Kalau dia merugikanku atau keluargaku, sudah jelas aku akan membiarkan Kiara menghabisinya. Akan tetapi jika itu hanya permasalahan pribadi antara Kiara dengan orang tersebut, mungkin aku akan berusaha menjadi penengah kemudian mencari jalan keluar untuk masalah yang membelit mereka. Begini lebih adil, kan?"


"Jika keduanya?"

__ADS_1


"Jove, ayolah. Beritahu aku siapa orang itu!" desak Casandra seraya memutar bola matanya jengah.


"Belum sekarang," sahut Jove seraya tersenyum tipis. Dia mendekatkan bibirnya ke kening Casandra kemudian menciumnya lama. "Saat waktunya tiba nanti, kau pasti akan tahu sendiri mengapa Kiara bisa sampai menghabisi orang tersebut. Dan saat itu terjadi menjauhlah sebisamu dari sekitar Kiara. Mengerti?"


"Kenapa aku harus menjauhi Kiara? Apa dia juga akan menghabisiku?"


"Dia tidak akan berani melakukannya, tapi aku tak yakin kau akan baik-baik saja. Karena apa yang akan terjadi nanti itu akan sangat membakar gejolak amarah dari seseorang yang selama ini berhati lembut dan hanya bertahan hidup demi seseorang yang dia sayang!"


Kiara akan seribu kali lebih mengerikan begitu mengetahui kalau Eriko telah menghabisi semua keluarganya hanya karena keluarga Kiara menolak untuk menjual tanah yang mereka tempati. Saat itu terjadi, hari tersebut akan terlahir srigala yang bahkan tidak akan ragu untuk mencabik siapapun yang berani menyakiti jaguarku. Hmmm, aku tidak sabar menantikan kesenangan ini terjadi.


"Semengerikan itu?" Casandra merinding.


"Ya," sahut Jove singkat. "Bahkan bisa lebih daripada itu. Karenanya berhati-hatilah. Aku tidak ingin kau terluka!"


Tak mau membuat orang khawatir, Casandra memilih untuk patuh saja. Dia kemudian terkekeh saat Jove melesakkan wajah di ceruk leher. Merasa geli, Casandra mendorong kepala Jove agar pergi dari sana. Namun bukannya pergi, Jove malah semakin membenamkan wajahnya di sana. Alhasil Casandra hanya bisa pasrah membiarkan, menunggu sampai pria ini puas bermanja kepadanya.


"Kapan Kiara akan mulai menjagaku, Jove?" tanya Casandra di sela-sela memanjakan calon suaminya. Dia menggunakan sebelah tangan untuk membelai rambut hitam pria ini.


"Segera begitu dia siap!" jawab Jove dengan suara parau. Dia bergairah, tapi tak berniat mencari pelampiasan. Jove masih takut luka di milik Casandra belum kering yang mana akan membuatnya merasa kesakitan jika di paksa.


"Jove, berhentilah. Ini sudah waktunya aku berangkat ke perusahaan," rengek Casandra tak kuat lagi menahan geli di leher.


"Lima menit lagi," sahut Jove enggan melepaskan.


"Itu terlalu lama. Nanti aku terlambat."


"Tidak ada kata seorang bos terlambat datang ke perusahaannya sendiri."


"L Group itu milik Ayah, bukan milikku. Tahu?"


"Kau anaknya, dan sebentar lagi aku akan segera menjadi menantunya. Sekarang diamlah dan biarkan aku menikmati kesenangan ini. Nanti setelah aku puas, aku akan langsung mengantarkanmu ke perusahaan. Oke?"


"Haihhh, kau ini. Terserahlah, yang penting kau tepati saja janjimu itu. Awas kalau kau berani ingkar!"


"Hemmm," ....

__ADS_1


***


__ADS_2