The Devil JOVE

The Devil JOVE
80. Lain Di Mulut, Lain Di Hati


__ADS_3

Karena pingsan, Jove akhirnya membawa Casandra beristirahat di dalam kamar setelah menyaksikan Franklin menguliti tubuh pengkhianat itu. Dan tadi setelah dia membaringkan tubuh lemas Casandra di atas kasur, Pamela menelpon dan memberitahukan tentang keabadian wanitanya. Kaget, tentu saja tidak. Justru Jove merasa kagum akan kecerdasan sepupunya itu dalam menemukan rahasia yang tadinya hanya di ketahui oleh Tuan Cadenza seorang.


"Pamela, aku harap kau tidak merubah prinsip setelah tahu kalau wanitaku melebihi kata istimewa. Karena jika itu sampai terjadi, kau mungkin akan berakhir menjadi mayat di tanganku. Aku menyayangi Casandra, dan tidak akan membiarkan siapapun bisa menyakitinya. Termasuk dirimu," ujar Jove sembari mengelus pipi Casandra yang masih sangat pucat. Jauh di dalam lubuk hati, dia sebenarnya merasa sedikit kasihan pada jaguar satu ini. Namun apa daya. Disayang oleh seorang mafia rasanya tidaklah sama seperti ketika disayang oleh pria biasa. Ada banyak sekali tantangan, dan sudah pasti selalu berhubungan dengan nyawa. Jadi terpaksalah Casandra harus melewati ujian seperti sekarang guna mengasah mentalnya agar tidak lemah.


Eugghhhh


"Di mana aku?"


Casandra menggumam lirih. Dibukanya perlahan mata yang terasa sangat berat. Tepat ketika kedua netranya terbuka lebar, Casandra dibuat terpaku oleh satu wajah tampan yang berada tepat di depan wajahnya. Untuk beberapa saat pikiran Casandra sempat bleng. Bahkan tangannya secara tak sadar terulur untuk mengusap wajah tampan tersebut.


"Jangan memancingku, Cassey. Kau bisa pingsan lagi kalau aku sampai merespon," ucap Jove langsung memberikan teguran saat tangan Cassey tak berhenti membelai.


"Tampan," sahutnya. Sedetik kemudian barulah Cassey sadar siapa pemilik wajah tampan tersebut.


Sialan. Bagaimana bisa aku terbuai oleh ketampanan bajingan ini? Sadar Cassey, sadar. Pria ini adalah Jove, bajingan tengik yang suka sekali memperkosamu. Sadarrr!!


"Apa sudah lebih baik sekarang?" tanya Jove sambil mengelus pelan kedua alis Casandra yang tampak mengerung tajam. Sepertinya jaguar ini tengah memikirkan sesuatu yang membuatnya kesal. Mungkin.


"Bagaimana mungkin aku bisa merasa baik setelah melihat kekejaman yang kau lakukan pada pria itu?" sahut Casandra balik bertanya. "Dan gara-gara provokasimu, aku sampai melakukan tindakan yang hampir sama gilanya dengan kalian. Bayangkan, Jove. Seumur-umur aku hidup, baru sekali ini aku berani menusuk manusia. Aku sudah tertular kekejaman kalian sejak tinggal di mansion ini. Menjengkelkan!"


Jove tersenyum. Dia diam membiarkan Casandra menumpahkan segala unek-unek yang terpendam di dalam hati. Sekalian dia ingin menikmati momen indah ini karena Casandra sepertinya tidak sadar sedang memeluk pinggangnya dengan begitu erat. Seperti biasa, lain di mulut lain juga di dalam hati. Mulut berkata jahat tapi reaksi tubuh berkata membutuhkan. Ah, manis sekali.


"Jove?" ....


"Hem," ....


"Orang itu ... bagaimana keadaannya? Dia tidak mati gara-gara tusukan itu 'kan?" tanya Casandra cemas. Dia memang kesal setelah tahu kalau keselamatannya di anggap permainan. Akan tetapi begitu ingat kalau tadi dia dua kali menusukkan pisau ke tubuh pengkhianat itu, Casandra malah jadi takut sendiri jadinya.

__ADS_1


"Bahkan semut akan langsung bergoyang mengejekmu jika hanya ditusuk seperti itu. Seranganmu masihlah sangat buruk, Cassey. Namun cukup lumayan untuk ukuran wanita manja sepertimu," jawab Jove dengan sengaja kembali memanas-manasi Casandra agar mentalnya. Dia lalu menangkap tangan Casandra yang ingin menamparnya. "Jadilah kuat agar aku bisa merasa lebih tenang saat kau jauh. Aku tahu kau sebenarnya takut menghadapi orang-orang itu. Karenanya jangan ragu untuk membunuh manusia yang coba menyakitimu. Mengerti?"


Casandra kicep. Dia terpaku dalam pesona tatapan Jove yang entah mengapa terasa menghangatkan hati. Memang benar adanya kalau dia dilanda ketakutan besar setelah sang ayah memberitahukan rahasia yang selama ini tersembunyi. Namun Casandra tetaplah seorang Casandra yang keras kepala dan suka memberontak. Dia mana mungkin mau terlihat lemah di hadapan Jove meski pada kenyataannya dia memang lemah. Akan tetapi sekarang ... sekarang dia bagai menemukan sandaran yang tepat untuk sekedar melepas lelah. Rasa hangat ini membuat Casandra menjadi ....


"Terima kasih banyak karena sudah bersedia untuk melindungiku, Jove. Aku tahu terkadang sikapku memang kelewatan, dan aku juga sadar kalau aku sangatlah menyebalkan. Namun dibalik itu semua aku tetap membutuhkan kehadiran beberapa orang yang bisa aku jadikan sebagai sandaran. Dan salah satu dari orang tersebut adalah dirimu," ucap Casandra sambil tersenyum kecil.


"Apa ini semacam undangan?" tanya Jove mencoba santai.


"Mau kulubangi ubun-ubunmu apa bagaimana?"


"Aku hanya bertanya,"


"Begitu juga dengan aku,"


Jove lagi-lagi tersenyum. Dia lalu menempelkan bibirnya ke bibir Casandra. Hanya menempelkan, tidak ada l*matan. Bukan tidak ada sih, tapi belum. Rasanya dia amat sayang melewatkan momen pengakuan ini begitu saja. Jarang-jarangkan jaguarnya mau berkata terima kasih tanpa harus dipaksa lebih dulu? Dan Jove sangat suka melihat kepatuhannya. Casandra jadi terlihat semakin manis dan juga seksi. Sungguh.


"Tumben sekali kau tidak menciumku, Jove," tanya Casandra heran. Padahal dia sudah siap-siap melakukan serangan balasan. Tapi sepertinya malam ini Jove sedang tidak beringas. Mungkin.


"Lalu?"


"Aku hanya sedang meresapi pengakuanmu saja. Dan nanti pada akhirnya bibirmu akan menjadi penutup malam untukku!"


Blusshhh


Wajah Casandra langsung memerah saat Jove menyebutkan kalau ciuman bibir mereka akan menjadi penutup malam. Andai bisa mendengar, saat ini jantung Casandra berdegub seratus kali lebih cepat tidak seperti biasanya. Ya gugup, ya speechless, ya malu, ya senang, ya banyaklah pokoknya. Mungkin untuk malam ini Cassey akan sedikit bernegosiasi dengan kegengsiannya karena harus dia akui Jove terlihat sangat gentel dan juga romantis sekali. Membuatnya jadi merasa sedikit kasmaran. Hehehe.


"Bulan ini apa kau sudah jatuh tempo?" tanya Jove memastikan. Dia tak mau mengambil resiko Casandra sampai keguguran jika seandainya perbuatan mereka sampai menbuahkan benih kehidupan. Jove memang mafia, tapi dia paling tidak bisa mengabaikan yang namanya tanggung jawab. Terlebih lagi kepada darah dagingnya sendiri. Jove mana mungkin sanggup melakukan.

__ADS_1


"Maksudmu tanggal merah?"


Jove mengangguk. Dia dan Casandra saling menatap lekat sebelum kembali lanjut membahas tentang masa haid.


"Kita dua kali bercinta dan aku selalu mengeluarkan mereka di dalam. Kalau tumbuh itu yang aku mau, tapi jika tidak maka aku akan kembali memasukannya," ucap Jove iseng.


Plaaakkk


Satu pukulan kuat mendarat tepat di rahang Jove buah dari keisengannya. Dia yang memang sudah tahu kalau Casandra pasti akan bertindak hanya tertawa saja melihat wajah wanita ini yang sudah berubah menjadi merah padam. Haha, lucu sekali. Seperti jantung manusia yang baru di ambil paksa dari dalam tubuh.


"Bi-bisa tidak kau jangan bicara sefrontal itu, Jove. Kau sudah tidak punya urat malu apa bagaimana?!" tegur Casandra antara kesal dan juga malu.


"Untuk apa aku harus merasa malu kalau di dalam kamar ini hanya ada kita berdua saja."


"Ya tapikan tidak harus sefrontal itu juga. Astaga!"


Tak mau frustasi, Casandra segera berbalik memunggungi Jove. Dan di detik selanjutnya dia dibuat tersenyum-senyum tidak jelas saat Jove memeluknya dari belakang.


"Aku bukan pria yang bisa menjanjikan sesuatu yang romantis kepadamu. Namun aku bisa memastikan kalau kau pasti akan hidup bahagia jika tetap bersamaku. Karena pada dasarnya seorang bajingan hanya akan mengizinkan wanita baik-baik melahirkan para keturunannya kelak. Dan kau adalah pilihanku," bisik Jove dengan tulus.


"Apa ini semacam kata lamaran? Menjengkelkan sekali," ejek Casandra seraya meng*lum senyum.


"Walaupun aku buta tentang sesuatu yang manis-manis, tapi Franklin tidak. Dia mana mungkin membiarkan aku melamarmu dengan cara yang biasa seperti ini. Kau istimewa, sudah pasti akan menerima perlakuan yang istimewa juga dariku. Dan itu bukan sekarang," sahut Jove sambil menciumi rambut Casandra yang selalu wangi. Dia lalu memejamkan mata. "Tidurlah sebelum kau ku tiduri. Juniorku sudah mengamuk, Cassey. Jadi ada baiknya kalau sekarang kau segera memejamkan mata supaya aku tidak terpikir untuk memperkosamu lagi!"


"Sialan!"


"Casandra," ....

__ADS_1


Brengsek!


***


__ADS_2