The Devil JOVE

The Devil JOVE
97. Janin


__ADS_3

Di dalam ruangan yang sedikit gelap, terlihat seorang pria yang sedang duduk sambil memainkan pisau di tangannya. Tatapan mata pria ini begitu dingin, seolah mampu membekukan siapa saja yang berani datang mengganggu.


Awan, si pembunuh bayaran berdarah iblis, nampak menyunggingkan senyum tipis saat mengingat percakapannya dengan Regent Lin, sepupu dari wanita yang sedang dia incar darah langkanya. Awan sama sekali tak menduga kalau pria bodoh itu tidak mengetahui tentang keistimewaan darah di tubuh sepupunya sendiri. Padahal, di luaran sana ada banyak sekali orang sedang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Benar-benar bodoh. Huhh.


"Baru kali ini aku bertemu dengan manusia yang otaknya sama sekali tidak bisa berfungsi. Bertahun-tahun hidup berdampingan dengan seseorang yang begitu berharga, tapi bagaimana bisa Regent tidak menyadarinya? Padahal Cadenza sudah cukup memperlihatkan gelagat mencurigakan dengan tidak membiarkan Casandra membaur dengan dunia luar. Bagaimana bisa mereka masih tidak sadar? Konyol!" cibir Awan menertawakan kebodohan Regent dan ayahnya.


Setelah kemarin memutuskan untuk menemui Regent, Awan kini tengah menunggu jawaban dari pria itu. Dia telah memerintahkan anak buahnya untuk kembali datang ke rumah sakit, dan seharusnya Regent tidak melakukan kesalahan dengan memancing kemarahannya. Seharusnya.


Tok tok tok


Mata Awan terpejam erat saat dia mendengar suara ketukan pintu. Mendadak dia jadi ingin memenggal kepala orang. Awan benci waktu santainya di ganggu dengan sesuatu yang tidak menyenangkan. Suara ketukan pintu ini contohnya. Berusaha untuk menekan gejolak emosi, dengan suara yang sangat dingin Awan mempersilahkan anak buahnya untuk masuk ke dalam.


“Kalau kau datang mengganggu hanya untuk menyampaikan kabar yang tidak penting, bersiaplah untuk mati dengan kepala terpenggal. Cepat katakan apa yang terjadi kemudian enyah dari hadapanku. Sekarang!” gertak Awan sambil menggeram marah.


“Bos, seseorang mulai mengawasi pergerakan kita. Ini dimulai dari jejak cctv yang tadinya sudah terhapus tiba-tiba di pulihkan kembali. Sepertinya orang ini tahu kalau kemarin kita datang mengunjungi Regent!”


“Apa?” Awan membeo santai. Sudah tidak mengherankan lagi kalau jejaknya bisa dengan mudah di temukan. Tanpa harus bertanya siapa orang yang di maksud oleh anak buahnya, Awan bisa langsung mengetahui pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Jove, mafia besar yang sedang dia coba hindari. “Jangan lakukan apapun. Pelakunya adalah orang-orangnya Jove. Kita bisa terjebak masalah besar jika sampai salah mengambil langkah!”


“Lalu bagaimana dengan anak buah kita yang sedang berada di rumah sakit itu, bos? Apa perlu kita menariknya sekarang juga?”


“Biarkan saja. Aku butuh dia tetap berada di sana supaya bisa menghubungkanku dengan Regent!” jawab Awan. Dia kemudian mengulurkan tangan. “Berikan ponselmu padaku!”


Segera anak buah Awan mengambil ponsel kemudian menyerahkannya. Sambil memainkan pisau, Awan menghubungi anak buahnya yang dia tugaskan menjemput jawaban dari Regent. Sembari menunggu, Awan dengan marah menancapkan pisau ke kulit sofa kemudian menariknya kuat hingga membuat isi sofa berurai keluar. Dia terbakar amarah.

__ADS_1


“Halo. Ada apa?”


“Apa kau sudah sampai di rumah sakit?” tanya Awan begitu panggilan tersambung. “Berikan ponselnya pada bajingan tolol itu sekarang juga. Aku ingin menyapa sebentar. CEPAT!!”


Ruangan berubah mencekam saat Awan mulai tak bisa mengendalikan emosinya. Anak buahnya yang paham akan kebiasaannya di kala emosi, segera berlari mengambil minuman yang tersimpan di rak khusus. Dia terlihat takut-takut saat ingin memberikan botol minuman pada Awan. Bagaimana tidak takut. Yang sedang terbakar amarah adalah seorang pembunuh berdarah dingin di mana bisa sewaktu-waktu menyasar dengan menjadikannya sebagai pelampiasan. Wajarkan kalau dia ketakutan.


“Halo. Apa maumu, Awan? Apa masih belum cukup dengan kau mengirimkan orang untuk menggertakku?” amuk Regent dari seberang telepon. “Asal kau tahu saja. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau bekerjasama denganmu untuk menculik Casandra. Dia sepupuku, dan aku sangat menyayanginya. Jadi lebih baik kau kubur dalam-dalam keinginanmu itu dan perintahkan orangmu agar jangan menggangguku lagi. Ingat, kita itu tidak saling kenal. Jadi kau tidak berhak mengancam nyawaku. Paham?!”


“Oh, seekor anak domba yang sedang tidak berdaya sudah berani mengancam orang ya. Luar biasa!” Awan terkekeh. Namun kekehan itu keluar bukan karena dia yang merasa senang, melainkan karena sedang menahan emosi. Sebelum lanjut berbicara, Awan meneguk setengah dari isi botol minuman yang tengah di pegangnya. “Dengarkan aku baik-baik, Regent. Bukankah kemarin aku sudah memberitahumu kalau aku tak akan segan untuk menghabisimu kalau kau berani memberitahu orang lain tentang kedatanganku ke rumah sakit. Tahukah engkau kalau hari ini seseorang telah menyelidiki tentang aku? Dan semua itu terjadi karena mulutmu yang bocor dan juga busuk. Sekarang cepat beritahu aku siapa orang yang telah kau ajak bicara. Kalau kau tidak patuh, maka bersiaplah mati di tangan anak buahku. Mengerti!”


Terdengar kata umpatan pelan dari dalam telepon setelah Awan mengancam Regent agar mau bicara. Setelah itu dia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Seorang Awan mencoba sabar demi menunggu sebuah jawaban. Tidakkah menurut kalian ini sangat luar biasa? Hanya Regent yang bisa membuatnya melakukan ini semua. Brengsek.


“Awan, aku sama sekali tidak memberitahu siapapun tentang kedatanganmu kemarin. Jadi aku tidak tahu menahu tentang siapa orang yang sedang menyelidikimu. Lagipula apa kau sudah lupa dengan kondisiku saat itu. Kau tidak mungkin berpikir kalau aku sedang pura-pura saja, kan?”


Klik. Panggilan langsung di putus sepihak oleh Awan. Dia lalu membanting ponsel ke lantai hingga pecah berantakan. Ingin tak percaya, tapi Awan juga tidak segila itu dengan berpikir kalau Regent bisa pergi jauh dengan kondisinya yang sedang sangat mengenaskan. Sembari menghabiskan minuman, Awan mulai mengira-ngira sebab apa yang telah membuat Jove tertarik untuk menyelidikinya. Di yakin pasti ada seseorang yang dengan sengaja telah memantik api di antara mereka.


“Perintahkan dia untuk segera kembali. Aku tak mau mengambil resiko ketahuan oleh Jove jika anak buahnya sampai menangkapnya!”


“Baik, bos!”


Belum hilang kekesalan di diri Awan, suara dering ponsel membuat kekesalannya semakin bertambah besar. Dengan marah Awan menyambar ponsel miliknya kemudian melihat siapa yang menelpon.


“Hmmmm, Albert. Untuk apa dia menghubungiku?” gumam Awan seraya menaikan satu alis ke atas. Merasa penasaran, dia akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut. “Apa maumu? Bukankah aku sudah jelas menegaskan kalau aku menolak untuk membantumu?”

__ADS_1


“Jove membuatku sekarat, Awan. Tidakkah kau berbelas kasihan ingin membantu membalaskan dendam untukku?” sahut Albert bicara dengan suara seperti sedang menahan sakit. “Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba datang menyerang ke gudang tempat aku melakukan transaksi. Padahal aku sama sekali tidak sedang bersinggungan dengannya. Kali ini aku mohon tolong bantu aku. Aku janji aku akan memberikan apapun yang kau minta asalkan kau bersedia membalaskan dendamku pada bajingan itu!”


Jove menyerang Albert tanpa sebab yang jelas? Ini mustahil, Awan tak bisa mempercayainya begitu saja. Jove yang dia kenal bukanlah tipe mafia yang suka mencari masalah. Pria itu sangat dingin terhadap masalah orang lain, jadi sangat tidak mungkin jika sampai melakukan penyerangan jika bukan Albert dulu yang memulai.


“Kau jangan coba-coba mengelabuiku, Albert. Aku memang tidak berada di dunia yang kalian geluti, tapi bukan berarti aku tidak bisa mengenali karakter masing-masing dari kalian berdua. Terutama Jove. Aku tidak percaya kau tidak menyinggungnya lebih dulu sampai Jove bisa menyerang tanpa alasan. Jadi jangan membual dan berharap kalau aku akan bersedia membantumu. Aku bukan orang bodoh kalau kau mau tahu!” sindir Awan seraya tersenyum samar. Sayang sekali Albert tidak sedang ada di sini. Kalau ada, Awan pasti akan langsung melemparkan pisau hingga memnacap di kepalanya. Sialan.


Hening. Tak ada suara apapun dari dalam telepon setelah Awan membongkar kebohongan Albert. Hal ini tentu saja membuat Awan merasa percuma telah membuang waktu untuk bicara dengan pengecut satu ini. Malas meladeni, Awan segera mematikan panggilan. Dia kemudian berjalan menuju lemari, mengelus sebuah kepala manekin yang di buat dari kepala manusia.


“Jove, kenapa sulit sekali untuk bersembunyi darimu. Apa kau tidak bisa membiarkan aku sedikit tenang saat memburu wanitamu? Biarkanlah aku mendapatkan satu tetes saja darah langka yang dimiliki oleh Casandra. Setelah itu kau bisa tenang karena aku tidak akan pernah mengejarnya lagi. Tapi kenapa sekarang kau tiba-tiba tertarik dan malah menyelidikiku? Haruskah kita bertemu sebagai musuh? Ayolah, aku sama sekali tak takut padamu. Hanya saja Ibumu terlalu menyeramkan untukku. Tahukah kau akan hal ini?”


Saat Awan sedang menghadapi dilema besar, di labolatorium Grisi ada Pamela yang sedang asik memandangi foto seorang pria berlumuran darah. Bibirnya yang merah alami tampak menyunggingkan senyum tipis, merasa tersihir akan ketampanan pria tersebut. Ah, mungkin dari kalian ada yang ingat kalau dia telah meminta sang bibi agar membawakan pria ini ke lab. Semakin bertambah tua usianya, Pamela jadi sering merasa kesepian. Dia butuh tambatan hati yang bisa menghiburnya di kala lelah. Dan pria yang dia inginkan adalah ….


“Awan-Awan, kenapa aku baru memperhatikanmu belakangan ini ya. Kalau sedari awal aku tahu Tuhan telah menciptakan pria sehebat dan sepanas dirimu, aku pasti tidak akan membuang waktu untuk mengejar Franklin. Pria sombong itu, heh. Dia benar-benar tidak punya hati karena sudah berani mengabaikan gadis sesempurna diriku. Semoga nanti setelah Bibi Rose membawamu kemari, kita bisa menjadi pasangan yang kompak dalam mengumpulkan pundi-pundi dollar ya. Kau menjadi pembunuh bayaran demi mendapatkan banyak uang, kan? Begitu juga dengan aku. Aku bekerja siang dan malam demi agar gudangku bisa segera penuh dengan tumpukan dollar. Jadi kita berdua itu sangat serasi dalam fisi maupun misi. Karenanya segeralah mencari masalah dengan gembong narkoba itu supaya kita bisa segera bertemu. Oke?” ujar Pamela penuh harap. Setelah itu Pamela menempelkan foto Awan ke dinding kemudian menusuk matanya dengan pisau kecil yang juga berlumuran bekas darah yang sudah mengering. “Sampai di sini dulu ya kita berbincangnya. Aku harus segera pergi untuk memeriksa obat penawar milik sepupuku. Asal kau tahu saja ya. Obat penawar ini akan memberiku beberapa koper dollar yang sangat wangi. Menggiurkan sekali, bukan?"


Puas mengobrol dengan foto Awan, Pamela segera melangkahkan kaki menuju satu ruangan tempat dia menyimpan racikan obat khusus. Dan begitu masuk Pamela langsung di suguhkan satu akuarium besar berisi embrio yang sudah hampir sempurna berbentuk janin. Susah payah dia mengembangkan penemuan ini, tapi Pamela harus rela menjadikannya sebagai kelinci percobaan guna mencaritahu apakah obat penawar itu bisa membantu menyelamatkan keturunan kakak sepupunya atau tidak. Jika percobaan ini berhasil, maka Pamela berniat meminta bayaran yang sangat tinggi. Dia tidak mau usaha dan pengorbanannya tidak mendapat apresiasi yang sepadan.


Sambil bersenandung kecil, Pamela memakai sarung tangan kemudian mengambil janin tersebut lalu memindahkannya ke dalam wadah yang telah di sterilkan lebih dulu. Setelah itu Pamela meneteskan obat penawar ke tubuhnya.


“Ouwhh, jangan menggeliat terlalu kuat, sayangku. Nanti tubuhmu hancur. Kau itu masih sangat muda dan lemah, jadi berhati-hatilah. Oke?” ucap Pamela agak panik saat janin itu tak henti menggeliat setelah di tetesi obat. Dia lalu menajamkan penglihatannya saat mendapati kulit si janin mulai melepuh. “Sial. Obatnya terlalu keras. Apa jangan-jangan aku salah memasukkan campuran? Payah sekali. Jadi matikan janin ini. Haihhhh!”


Mengomel tidak jelas, Pamela membuang janin tersebut ke dalam akuarium besar berisi makhluk aneh yang adalah bentuk percampuran DNA manusia dengan seekor laba-laba beracun. Dan hanya dalam waktu singkat, tubuh janin tersebut sudah berlubang di sana sini. Kasihan memang, tapi apa mau di kata. Inilah mengapa banyak ilmuwan cerdas mati dengan cara tidak wajar. Sudah tahu bukan apa alasannya? Itu karena isi dalam otak mereka sangatlah menakutkan dan juga berbahaya. Sungguh malang nasib Awan yang secara tidak langsung telah menarik perhatian dari seorang ilmuwan muda yang sangat luar biasa psikopat. Hmmm.


***

__ADS_1


__ADS_2