
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
“Tuan, bibir anda berdarah. Apa kita perlu ke rumah sakit?” tanya Franklin saat mobil yang di kendarainya sedang berhenti di lampu merah. Nona Casandra benar-benar tipikal wanita yang sangat brutal dan juga liar. Bisa-bisanya dia membuat bibir bosnya jadi terluka seperti ini. Sepertinya julukan sebagai anak jaguar memang pantas di peruntukkan bagi Nona Casandra. Haih.
“Aku dimatamu aku secengeng itu sampai harus pergi ke rumah sakit hanya karena luka seperti ini?” sahut Jove balik bertanya. Dia lalu menyeka luka di bibirnya dengan jari telunjuk. Tersenyum saat teringat dengan reaksi kaget di diri Casandra saat dia menciumnya berulang kali. “Frank, kau tadi lihat sendiri bukan kalau pujianmu sama sekali tidak sesuai dengan fakta yang terjadi? Aku benar-benar sangat menyukai pemberontakan yang dilakukan Casandra kepadaku. Penolakannya yang begitu keras membuat andrenalinku semakin terpacu. Dia harus menjadi milikku, Frank!”
“Itu sudah pasti, Tuan. Di negara ini hanya anda seorang yang pantas untuk memiliki Nona Casandra. Selebihnya, mereka hanya sampah,” jawab Franklin setuju dengan keinginan bosnya.
“Termasuk dirimu?”
“Maybe yes, maybe no.”
Jove tersenyum. Dia kemudian menoleh, menyipitkan matanya saat memperhatikan mobil yang berhenti tepat di sebelah mobilnya. Tak butuh waktu lama bagi Jove untuk mengenali siapa pemilik mobil tersebut. Itu Regent, bajingan yang telah mengirim Casandra ke dalam pelukannya. Teringat dengan rencana liciknya Regent bersama Zian, mendadak kekesalan Jove sedikit tersulut. Dia jadi berkeinginan untuk memberi pria itu pelajaran karena sudah berani menggertaknya lewat Zian. Brengsek sekali bukan?
“Franklin?” panggil Jove.
__ADS_1
“Ya, Tuan. Ada apa?”
“Di sebelah mobil kita ada mobilnya Regent. Aku ingin melihatnya masuk rumah sakit hari ini juga. Regent lancang mencampuri urusanku, dia berhak menerima salahm pengenalan diri dariku. Kau mengerti bukan apa yang harus kau lakukan sekarang?” ucap Jove seraya mengelus dagu bawahnya. “Buat tulang leher dan tangannya patah!”
“Baik, Tuan!”
Franklin segera menghubungi anak buahnya yang berada di mobil lain dan memerintahkan mereka agar menggiring mobilnya Regent menuju jalanan yang sedikit sepi. Dan setelah itu Franklin segera menjalankan kembali mobilnya saat lampu lalu lintas sudah berganti warna menjadi merah. Sambil terus berbicara dengan anak buahnya lewat earpiece, Franklin berbelok menuju jalan tikus yang biasanya di gunakan oleh para pengendara untuk memotong jalan.
Sementara itu Regent yang tidak tahu apa-apa nampak kebingungan saat mobilnya dikepung beberapa mobil dari arah samping dan juga dari arah belakang. Karena tidak tahu apa yang sedang terjadi, Regent berusaha untuk menghindar. Akan tetapi kemanapun mobil Regent bergerak, mobil-mobil itu terus saja memepet mobilnya. Sadar ada yang salah, Regent segera memikirkan cara untuk pergi dari kepungan mobil tersebut. Dia lalu tak sengaja melihat sebuah jalan terobosan, dan tanpa membuang waktu lagi segera berbelok ke arah sana. Namun sayang, keputusan Regent untuk berbelok ke jalan tersebut merupakan keputusan yang sangat salah. Mungkin mobil-mobil yang tadi mengepungnya dijalanan sudah tidak lagi mengejarnya. Akan tetapi di depan sana kedatangan Regent sudah di tunggu oleh lima buah mobil dimana salah satunya merupakan mobil yang hanya ada beberapa saja di dunia.
Sial. Sepertinya aku sedang diserang. Apa jangan-jangan mereka adalah komplotan dari orang yang telah membobol data perusahaan? K*parat. Berani sekali mereka mencari gara-gara denganku. Heh, kalau begitu mari kita beradu. Kita lihat siapa yang akan keluar sebagai pemenangnya.
“Hahahaha, dasar to lol. Ingin mengalahkanku? Mimpi kalian. Bahkan sampai langit terbalikpun kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan seorang Regent Lin. Kalian sampah. Cuiihhhhh!”
Saat Regent sedang senang-senangnya melakukan kejar-kejaran mobil dengan sekelompok orang bodoh itu, tiba-tiba dari arah samping ada sebuah mobil yang muncul dengan kecepatan tinggi. Regent yang tidak menyangka dengan hal itu tanpa pikir panjang langsung menginjak gas mobilnya sekuat mungkin untuk menghindar agar mobil itu tidak menabraknya. Namun, karena terlaku kencang Regent akhirnya kehilangan kendali. Mobilnya melaju tanpa kontrol hingga membuatnya panik sendiri. Tidak sampai di sana saja. Belum juga Regent berhasil mengendalikan mobilnya, dari arah belakang ada mobil yang menabraknya. Dan itu tidak hanya sekali, tapi berulang kali hingga membuat kepala Regent terbentur stir mobil. Dalam kondisi mobil sedang melaju cepat, Regent hanya bisa pasrah saja saat mobilnya menabrak tiang listrik di pinggir jalan. Dan ....
Braaakkkk Ciittttt sraaaakkkk
Sambil tersenyum tipis Jove menyaksikan bagaimana mobil Regent terguling beberapa kali hingga akhirnya tersangkut di tepian jembatan yang tak jauh dari sana. Tak berapa lama kemudian terlihat asap mulai mengepul mengelilingi mobil Regebt yang pastinya sudah rusak parah. Dan bisa dipastikan kalau Regent tidak akan keluar dengan kondisi baik-baik saja. Ya minimal patah leherlah, itu sudah pasti.
__ADS_1
Melihat kinerja Franklin dan anak buahnya yang begitu hebat membuat Jove tak bisa menahan diri untuk tidak bertepuk tangan. Dia mengambil ponselnya kemudian menghubungi seseorang. “Ada sebuah kecelakaan di sekitar jalan tembusan. Kalian lambatlah sedikit karena aku dan anak buahku masih ada di sini untuk menikmati kerja keras kami. Jika ada laporan, katakan saja itu adalah kecelakaan tunggal. Jangan lupa untuk menghapus cctv di mulai dari lampu merah. Paham?”
“Paham, Tuan Jove. Lima belas menit lagi kami baru akan tiba disana.”
Dan klik, panggilan terputus. Setelah itu Jove membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Jove ingin melihat sendiri seperti apa keadaan Regent setelah dengan sombongnya dia mengacungkan jari tengah pada anak buahnya. Sambil mengibas tangan untuk menghalau asap, Jove bertanya pada anak buahnya yang sudah lebih dulu ada disana.
“Bagaimana? Apa dia mati?”
“Tidak, Tuan. Orang ini hanya pingsan saja. Dan kemungkinan besar lehernya akan dipasang gips dan kepalanya akan di bungkus perban.”
“Hmmmm, cukup memuaskan,” sahut Jove maklum. Dia lalu melirik ke arah jari tangan Regent yang menjuntai keluar. Senyum evil langsung muncul di bibirnya. “Patahkan jari yang tadi dia gunakan untuk mengejek kalian. Dua-duanya saja sekalian supaya dia jera!”
“Baik, Tuan!”
Antara sadar dan tidak sadar, Regent hanya bisa menjerit pelan saat jari tangannya dijepitkan ke pintu mobil. Dan kraakk, tulang di jari tengahnya pun patah. Belum hilang rasa sakitnya, kembali jari tangan yang satunya dipatahkan dengan begitu brutalnya. Tak kuat menanggung rasa sakit, Regent kembali kehilangan kesadarannya. Dia pasrah, tak bisa lagi berbuat apa-apa.
“Hmmmm, tadi kau terlihat sangat senang saat mengejek anak buahku. Tidak kusangka ternyata kau selemah ini, Regent. Harusnya kejadian hari ini bisa kau jadikan pelajaran agar di lain hari kau tidak lagi mengganggu urusan orang lain. Beruntung karena kebodohanmu, aku jadi bisa menghabiskan malam dengan Casandra. Jika tidak, hari ini pasti akan menjadi hari terakhirmu hidup di dunia. Sekarang kita impas. Kau mengantarkan Casandra padaku dan aku memberimu satu kali kesempatan untuk hidup. Berbahagialah. Karena tidaklah mudah untuk seorang Jove memaafkan orang yang berani mengusiknya!” ucap Jove sambil menatap datar ke arah tulang jari tangan Regent yang menyembul keluar. “Kita pergi sekarang. Polisi sebentar lagi akan segera datang!”
“Baik, Tuan!” sahut Franklin dan anak buahnya yang lain.
__ADS_1
***