
Jove menatap tak berkedip ke arah Casandra yang sedang mencoba gaun pengantinnya. Dia kini tengah duduk di sofa, memperhatikan dengan seksama bagaimana wanita cantik itu tak henti tertawa bersama dengan para desainer yang terus melayangkan godaan. Sungguh, tak pernah Jove menyangka kebahagiaan ini akan datang begitu cepat dalam hidupnya. Padahal dulu jangankan untuk menikah, berpikir untuk menjalin hubungan dengan wanita saja tidak. Tapi hari ini, di depan kedua matanya sendiri Jove menyaksikan bagaimana Casandra terlihat sangat luar biasa cantik mengenakan gaun berwarna putih yang begitu pas di tubuhnya. Ah, bolehkah Jove melemah untuk hari ini saja? Dia ingin menjadi seperti pria di luaran sana yang terkagum-kagum akan kecantikan calon istrinya sendiri. Dia ingin untuk sejenak melupakan statusnya yang adalah seorang bajingan, dia ingin menanggalkan itu semua mulai dari detik ini. Sungguh.
"Tuan?"
Franklin berbisik memanggil bosnya. Namun, panggilan itu tak mendapat sahutan.
"Tuan Jove?"
"Ha?"
Kepala Jove tertoleh ke samping. Agak kaget saat Franklin memanggilnya dengan suara yang sedikit kencang.
"Ada apa?"
"Nona Casandra sudah selesai mencoba gaun pengantinnya. Lihatlah ke depan!" ucap Franklin memberi bosnya sambil menunjuk ke arah depan. Pantas saja tidak merespon saat di panggil, ternyata bosnya sedang melamun ya. Hmmm.
Segera Jove melihat ke arah yang di tunjuk oleh Franklin. Dalam beberapa detik, dia hanya diam saja tanpa mengatakan apapun. Matanya terpaku, hingga membuat sensor di lidahnya menjadi sulit untuk di gunakan. Sesosok wanita cantik menggunakan gaun putih dengan model bahu terbuka kini tengah berdiri dengan sangat anggun di hadapannya. Rambut wanita ini di tata dengan sebegitu indah di mana ada mahkota di atasnya. Ah, ada apa ini? Kenapa Jove merasa dirinya berubah menjadi orang bodoh gara-gara rasa terpesonanya? Apa ini memalukan? Tapi kenapa hatinya begitu membuncah? Tidak jelas, tapi Jove suka akan getaran yang muncul.
"Jove, bagaimana? Apa aku cantik dengan gaun ini?" tanya Casandra gugup. Dia jadi salah tingkah sendiri melihat Jove yang hanya diam tak berkata.
Apa aku terlihat tua ya memakai gaun yang ini. Makanya Jove sampai terdiam seperti itu. Hmmm, ganti dengan gaun yang lain sajalah. Aku tidak mau terlihat buruk di hari pernikahanku sendiri
"Aku mau ganti gaun yang ....
"Jangan!" Jove beranjak dari duduknya. Dengan tatapan mata yang terus tertuju pada Casandra, dia berjalan menghampiri. Begitu sampai Jove langsung merengkuh pinggang Casandra lalu mencium keningnya lama. "Kau sangat luar biasa cantik dengan gaun ini. Aku suka."
"Kalau suka kenapa diam saja saat aku bertanya tadi?" tanya Casandra tersipu malu akan tindakan mafia ini. Bisa-bisanya Jove menciumnya di hadapan banyak orang. Sembrono sekali.
"Aku tidak bisa mengontrol perasaanku. Kau ... terlalu memukau mata," jawab Jove jujur. Dia lalu menarik nafas panjang. "Kenapa kau cantik sekali?"
__ADS_1
"K-kau kenapa bertanya seperti itu padaku. Memalukan tahu."
"Aku memuji istriku sendiri. Apa yang salah?"
Jove beralih menatap satu-persatu orang yang ada di sana. "Istriku sangat cantik, bukan?"
"Tentu saja Nona Casandra adalah yang paling cantik, Tuan Jove. Emm sebenarnya kami masih memiliki gaun lain yang jauh lebih bagus daripada yang ini. Akan tetapi jika Anda sudah memilihnya, maka kami tidak akan meminta Nona Casandra untuk mencoba gaun yang lainnya lagi," jawab salah satu desainer terpana melihat keromantisan pria dingin ini. Sangat mengejutkan. Seorang Jove Lorenzo yang terkenal bak manusia es, tiba-tiba bersikap manis di hadapan banyak orang. Bahkan tak ragu bertanya pendapat orang lain tentang kecantikan di diri calon istrinya. Hmm, ternyata cinta memang mampu merubah kepribadian seseorang dari yang dingin menjadi sehangat selimut. Menakjubkan.
"Tapi aku mau mencoba gaun yang lain dulu, Jove. Boleh ya?" bujuk Casandra. Dia benar-benar bern*fsu ingin mencoba semua gaun yang di bawa oleh para desainer itu. Bentuknya lucu dan juga sangat indah. Casandra suka.
"Kau cantik dengan gaun putih ini," sahut Jove. Terlalu enggan untuk Jove melepas wanita ini pergi dari dekapannya.
Casandra menghela nafas dalam. Dia lalu meletakkan kedua tangannya di dada kekar calon suaminya ini. "Jove, pernikahan ini adalah momen yang sangat berharga untukku. Aku ingin semuanya sempurna, semuanya indah, dan semuanya adalah yang terbaik. Gaun ini memang cantik, tapi ini masih ingin mencoba yang lainnya dulu. Karena setelah kita menikah, rasanya pasti tidak akan sebahagia ini lagi jika mencoba gaun yang sama. Jadi bisakah kau biarkan aku memuaskan diri dengan mencoba semua gaun yang mereka bawa? Hanya untuk sekali seumur hidup, Jove. Oke?"
Bagai tersihir, Jove langsung mengangguk mengizinkan apa yang di ingini oleh Casandra. Dia lalu melepaskan wanita ini dari dekapannya.
Langkah Casandra langsung terhenti. Dia berbalik lalu menggerakkan jari telunjuknya. "Franklin, tolong jangan biarkan bosmu masuk ke ruang ganti. Aku ingin bersenang-senang dulu."
"Baik, Nona," sahut Franklin patuh. Segera dia menghampiri bosnya lalu memintanya untuk kembali duduk.
"Apa aku terlihat bodoh?"
Jove mengusap wajah. Dia lalu menyenderkan tubuh ke sofa, menatap langit-langit ruangan sambil membayangkan wanita bergaun putih yang hampir membuatnya gila.
"Bukan bodoh, Tuan. Tapi lebih ke terlalu mencintai Nona Casandra," jawab Franklin menolak untuk membenarkan dugaan bosnya. Dia tak suka pria ini menganggap dirinya bodoh hanya karena terpesona pada kecantikan istrinya sendiri. "Adalah hal yang lumrah untuk seorang pria mencintai pasangannya. Karena bukan hanya Anda saja yang melakukan, tapi Tuan Besar Adam pun demikian. Jadi Anda tidak perlu merasa seperti itu. Semuanya sangat wajar dilakukan!"
"Kau tadi melihat sendirikan betapa Casandraku sangat cantik?" Jove tersenyum. Matanya terpejam. "Hanya tinggal hitungan jam dia akan menjadi milikku sepenuhnya. Aku benar-benar tidak menyangka akan sampai di titik ini, Frank. Dulu wanita adalah simbol kelemahanku, tapi sekarang wanita adalah puncak bahagiaku. Aku bangga memilikinya!"
"Nona Casandra memang sangat luar biasa cantik mengenakan gaun pengantin itu, Tuan. Saya sebagai bawahan Anda pun merasa bangga karena mempunyai majikan secantik dan seistimewa dirinya. Bukan maksud ingin kurang ajar, mohon Anda jangan salah memahami perkataan saya!"
__ADS_1
Jove membuka mata. Dia kemudian menoleh. "Kau yang paling tahu tentangku. Bagaimana mungkin aku akan salah paham padamu? Konyol!"
Franklin tersenyum. Setelah itu dia dan bosnya sama-sama diam menantikan wanita cantik yang sedang sibuk mencoba gaun pengantin. Sebagai orang yang bergelut di dunia gelap, Franklin dan Jove tentu sadar kalau kabar pernikahan ini akan menjadi fokus para musuh untuk menjadikan Casandra sebagai titik kelemahan. Karenanya mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya jauh-jauh hari sebelum Pamela mengumumkan bahwa Jove dan Casandra bisa menikah tanpa harus mengkhawatirkan sesuatu. Belum lagi dengan kondisi Casandra yang sedikit berbeda dari orang lain. Hal ini membuat Franklin menjadi seribu kali lebih ketat mengatur penjagaan baik menjelang pernikahan atau sesudahnya.
"Bagaimana dengan persiapan di gedung acara?" tanya Jove.
"Semuanya aman terkendali, Tuan,"
"Jangan sampai lengah. Perhatikan baik-baik si Eriko. Aku tidak mau dia sampai membuat keributan sebelum acara selesai dilaksanakan!"
"Anda tenang saja. Masalah Eriko biar saya yang mengurus. Lebih baik Anda fokus ke pernikahan saja agar di pemberkatan nanti Anda tidak pingsan karena gugup!"
"Kau meremehkan aku?"
"Saya mana berani, Tuan," sahut Franklin sembari tersenyum tipis.
"Lalu?"
"Hanya ingin menggoda saja."
"Hmmm,"
Jeda sejenak.
"Kau brengsek juga ternyata!"
Setelah mengumpat, Jove tersenyum. Tapi kali ini senyumnya tidak menyiratkan apa-apa. Murni hanya senyum bahagia. Ya, dia bahagia. Sangat malah.
***
__ADS_1