The Devil JOVE

The Devil JOVE
93. Pindah Pelatihan


__ADS_3

Bibir Kiara terus bergetar kuat saat tubuhnya di biarkan telanjang hanya dengan menyisakan pakaian dalam saat Nona Reina memerintahkan seseorang untuk menyiram tubuhnya dengan air es. Bayangkan betapa dinginnya saat itu. Dan akan jauh lebih baik jika seandainya pelatihan ini dilakukan dalam kondisi tubuh Kiara yang sedang baik-baik saja. Sayang sekali fakta yang terjadi tidaklah semudah itu. Belum juga kering luka bakar di tubuh Kiara, dia sudah kembali menerima siksaan seperti ini. Ingin memberontak, tapi itu semua hanya percuma saja. Jadi mau tidak mau Kiara hanya bisa menjalaninya di bawah pengawasan langsung dari pentolan ketua yang ada di pulau ini. Berharap sekeluarnya dia dari sini bisa segera bertemu dengan keluarga yang dia rindukan.


"Reina, kau yakin gadis itu tidak akan mati jika kita terus menggebraknya dengan pelatihan yang terlampau keras? Kiara tidak memiliki basic apapun. Aku khawatir dia tak kuat jika kita terlalu menge-pushnya dalam pelatihan yang bahkan banyak anggota lain tidak kuat bertahan," tanya Lorus sambil terus memperhatikan ekpresi kesakitan di wajah Kiara. Walaupun berhati dingin, tapi Lorus tetap merasa sedikit kasihan melihat perjuangan gadis itu.


"Aku juga tidak tahu, Lorus. Asal kau tahu saja ya. Aku sebenarnya sangat ingin menghentikan semua kegilaan ini, tapi Jove pasti akan murka. Kiara terpilih secara khusus untuk menjaga Casandra, jadi kita mana mungkin membiarkannya keluar dari pulau dalam keadaan lemah dan tidak bisa di andalkan. Memangnya kau mau mati gosong karena pulau ini di bom oleh anak buahnya Jove?" jawab Reina sedikit cetus. Bisa-bisanya Lorus menanyakan pertanyaan yang dia sendiri juga bingung dengan jawabannya. Haihhh.


"Apa Nyonya Rose tahu hal ini?"


"Tentu saja dia tahu. Tapi tetap saja, Lorus. Rose pasti juga tidak bisa berbuat banyak terhadap nasib Kiara. Apalagi ini menyangkut tentang keselamatan calon menantunya. Aku berani bertaruh kalau Kiara akan menerima pelatihan yang seribu kali lebih berat jika sampai Rose yang turun tangan langsung untuk melatihnya. Kau sendiri tahu kan seperti apa gilanya mawar hitam itu?"


Lorus menghela nafas. Dia lalu menggerakkan dagu ke arah penjaga agar kembali menuangkan air dingin ke tubuh Kiara. Sembari memperhatikan gadis itu, pikiran Lorus melayang pada kejadian beberapa tahun silam saat dia hampir mati menerima pelatihan dari ketua Ma Queen. Namun karena dendam yang dia tanggung begitu besar, Lorus akhirnya berhasil melewati semua tahap pelatihan yang begitu menyiksa. Jadi sekarang dia bisa merasakan dengan sangat jelas beban derita seperti apa yang tengah di tanggung oleh Kiara. Gadis yang malang. Hmmm.


"Nona Reina, Nyonya Rose menelpon," lapor seorang penjaga seraya menyodorkan ponsel pada wanita seksi di hadapannya.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru juga kita membicarakan wanita ini, Lorus. Orangnya malah langsung menelpon. Panjang umur untukmu, sayangku," ucap Reina begitu bahagia saat menerima ponsel dari penjaga.


Karena di sana keadaan sedikit ramai, Reina memutuskan untuk menjauh saja. Dia lalu menyender pada sebatang pohon sebelum menyapa Rose sambil terus memperhatikan Kiara yang gemetaran ketika tubuhnya tak henti di guyur air es.


"Halo sayangku, apa kabar? Kapan kau akan berkunjung ke pulau. Tahu tidak, aku sudah hampir mati karena merindukanmu."


"Kabarku sangat baik, Reina. Kau dan yang lainnya baik-baik saja, bukan?" sahut Rose dari dalam telepon. "Aku akan mengunjungimu di pulau nanti setelah Kiara siap untuk di jemput. Dan tujuanku menelpon adalah untuk memberitahumu kalau orang-orang itu sudah mulai mengincar keselamatan keluarga Casandra. Ini membuatku cemas, Reina. Jadi bisakah Kiara keluar lebih cepat dari waktu yang di berikan Jove pada kalian?"


Reina mengerjapkan mata. PR lagi. Belum juga Kiara selesai dia siksa, sekarang malah datang satu perintah yang sama sekali tak bisa Reina bantah. Astaga.

__ADS_1


"Rose, aku tahu kau mencemaskan Casandra. Akan tetapi ketahuilah kalau Kiara itu tidak memiliki basic apapun tentang yang namanya pertahanan diri. Kalau bukan dengan memakai iming-iming keluarganya, aku tidak bisa menjamin kalau gadis itu kuat menerima pelatihan yang kami beri. Kiara lemah, Rose. Kami benar-benar harus mengasahnya dari bawah. Dia juga tidak seperti kami yang diliputi dendam. Jadi jujur, ini semua cukup sulit untukku. Tolong mengertilah!"


Hening. Tak ada suara apapun dari dalam telepon setelah Reina mencoba membujuk Rose. Sadar kalau ucapannya telah menyinggung perasaan wanita itu, dengan cepat Reina meminta maaf.


"Jangan marah. Oke aku salah, aku minta maaf. Tapi tentang Kiara, aku mohon jangan terlalu mendesaknya. Aku takut dia mati, Rose!"


"Jangan khawatirkan hal ini. Besok pagi aku dan Adam akan menjemput Kiara dan membawanya pergi dari pulau. Dan ini aku lakukan bukan karena tak puas dengan kinerja kalian. Akan tetapi aku merasa akan jauh lebih baik jika aku mempertemukan langsung Kiara dengan orang yang akan di jaganya. Karena aku juga berniat melatih Casandra agar mempunyai kemampuan untuk bertahan diri jika seandainya nanti dia berada dalam kesulitan. Jadi sekarang bawa Kiara pergi istirahat agar besok dia memiliki sedikit tenaga saat kami datang menjemput. Oke?"


Setelah itu panggilan langsung terputus. Alih-alih merasa kesal, Reina malah bersorak kegirangan. Dia senang sekali karena tidak harus melihat Kiara yang tersiksa karena pelatihan. Walaupun Reina tahu di bawah didikan Rose gadis itu akan seribu kali lebih menderita, tapi itu terasa jauh lebih baik karena dia tak harus menyaksikannya langsung. Reina kemudian bergegas menghampiri Lorus dan meminta penjaga menghentikan pelatihan.


"Kenapa pelatihannya tiba-tiba di hentikan, Rein?" tanya Lorus penasaran. "Apa yang Nyonya Rose katakan padamu?"


"Rose bilang ingin mendidik Kiara bersamaan dengan Casandra juga. Menurutnya ini jauh lebih efektif jika mempertemukannya langsung dengan orang yang akan di jaga olehnya. Begitu," jawab Reina. Dia menatap iba ke arah Kiara yang terus menggigil hebat begitu penjaga membantunya berdiri.


"Sudah tahu kenapa masih bertanya. Tapi tenang saja, aku yakin Rose pasti bisa menyesuaikan keadaan. Dia adalah wanita yang sangat hebat, jadi kita tidak perlu mencemaskannya."


"Hmm, kau benar. Nyonya Rose adalah yang terbaik!" puji Lorus sambil tersenyum kecil.


Lorus dan Reina kemudian mengikuti penjaga yang sedang memapah Kiara menuju kamar. Sesekali terdengar mereka menghela nafas panjang melihat kaki Kiara yang gemetar hebat. Kasihan sekali. Bukan hal mudah untuk seseorang yang tidak tahu menahu tentang pelatihan fisik menjalani hal semacam ini. Terlebih lagi bagi seorang Kiara yang sama sekali tidak menyimpan dendam, membuat gadis itu jadi seribu kali jauh lebih menderita.


"Auwwwhhhh." Kiara melenguh pelan begitu tubuhnya di baringkan ke ranjang. Setelah itu dia tersenyum, menatap sayu ke arah wanita seksi yang tengah memandangnya penuh iba. "Aku baik-baik saja, Nona Reina. Jangan khawatir. Aku masih kuat menjalani pelatihan lainnya!"


"Dasar gadis bodoh. Kalau sakit maka mengeluh sajalah. Jangan malah berpura-pura kuat seperti itu," omel Reina sambil berjalan menuju ranjang. Dia kemudian duduk, meraih satu tangan Kiara yang sedang gemetaran lalu menggenggamnya dengan erat. "Kiara, besok seseorang akan datang untuk membawamu pergi dari sini. Kau akan di pindahkan tempat pelatihannya."

__ADS_1


"Seseorang?" beo Kiara lirih. "Siapa itu?"


"Ayah dan Ibunya Jove," sahut Reina. Dia lalu menarik nafas. "Ibunya Jove bilang dia ingin melatihmu bersamaan dengan orang yang akan kau jaga. Besar kemungkinan kau bisa menjalani hari-hari dengan bebas di bawah pengawasannya. Apa kau senang?"


Awalnya Kiara sempat merasa sedih saat tahu kalau dia akan di bawa pergi oleh orangtua Jove. Namun begitu dia mendengar Nona Reina berkata kalau dirinya akan menikmati kebebasan, seketika semangat di diri Kiara kembali berkobar. Satu di pikiran Kiara, ingin melihat keluarganya meski hanya sebentar.


"Nona Reina, bisakah kau berbicara pada ibunya Jove agar mengizinkan aku pergi menemui keluargaku? Sehari saja. Ya?" ucap Kiara penuh harap.


"Kau tidak perlu sampai memohon seperti ini padaku, Kiara. Ibunya Jove adalah wanita yang sangat luar biasa baik. Yakin dan percayalah kalau kau pasti bisa langsung bertemu dengan keluargamu asalkan kau patuh dan tidak banyak tingkah. Mengerti?" sahut Reina merasa lega menyaksikan binar keceriaan di mata gadis malang ini. Genggaman tangannya semakin erat, dia ikut bahagia karenanya. "Sekarang kau istirahat ya. Ibunya Jove bisa menghajarku kalau besok pagi keadaanmu masih lemah. Ingat. Dia memang wanita berhati baik, tapi jika amarahnya sampai terpancing, kau akan melihat apa yang di sebut iblis berwujud manusia. Kecantikan dan kebaikan ibunya Jove adalah kematian bagi siapapun yang berani menyinggungnya. Ingat pesanku ini baik-baik ya cantik?"


"Iya Nona Reina. Aku pasti akan selalu mengingat pesanmu dengan baik. Terima kasih."


Reina mengangguk. Setelah itu dia menarik selimut kemudian menutupi seluruh tubuh Kiara dengan rapat. Lorus yang melihat betapa Reina begitu perhatian merasa sedikit aneh. Mungkinkah jiwa lelaki rekannya itu muncul setelah bertemu dengan gadis sepolos Kiara?


"Kau jangan berpikir macam-macam ya, Lorus. Aku melakukan hal itu semata-mata karena aku prihatin pada Kiara. Jadi jangan pernah kau menganggapku telah jatuh cinta padanya. Aku wanita, mustahil untukku jatuh cinta pada sesama jenis. Paham kau!" omel Reina saat menyadari kalau Lorus menatapnya dengan pandangan berbeda.


"Apa itu terlihat begitu jelas?" olok Lorus. Dia lalu menahan nafas saat Reina tiba-tiba meninju ulu hatinya. Nama, wajah, dan juga bentuk tubuh boleh saja menyerupai wanita. Akan tetapi tenaganya, astaga. Lorus serasa di pukul oleh seorang pegulat. Sungguh.


"Sekali lagi kau berani menatapku dengan cara seperti tadi, aku bersumpah akan langsung mencongkel kedua bola matamu lalu membuangnya ke tengah hutan. Huh!" gerutu Reina. Dia lalu menggumam pelan sambil melangkah keluar dari dalam kamar Kiara. "Memang hanya Resan seorang yang bisa mengertiku luar dalam. Dulu ada Rose, tapi setelah Adam datang aku jadi di abaikan. Lorus benar-benar sangat menyebalkan. Aku sangat membencinya!"


Sepeninggal Reina, Lorus tak langsung pergi dari sana. Matanya terus menatap ke arah ranjang, memperhatikan gadis malang yang mulai mendengkur dalam balutan selimut tebal.


"Kiara, aku jadi penasaran apakah kau mampu bertahan di bawah pengawasan Nyonya Rose atau tidak. Jika kau mampu bertahan, maka kau akan menjadi wanita kedua setelah Nyonya Rose yang akan ku puji keberaniannya. Sungguh," gumam Lorus sesaat sebelum pergi dari sana.

__ADS_1


***


__ADS_2