The Devil JOVE

The Devil JOVE
139. Jalan-Jalan


__ADS_3

"Kau mau pergi kemana, Pamela?" tanya Jessy sambil menatap penuh curiga ke arah putrinya yang sudah bertukar pakaian. Baru saja mereka pulang dari tempat acara, tapi gadis nakal ini sudah mau pergi lagi. Membuat orang jadi curiga saja.


"Bu, Ibu kenapa menggangguku terus sih. Memangnya tidak boleh ya kalau aku keluar untuk jalan-jalan? Aku bosan berada di hotel," jawab Pamela bersungut-sungut. Meski begitu dia bicara dengan nada suara yang cukup pelan, tidak berani kurang ajar di hadapan wanita tukang pasung ini. Pamela takut.


"Bosan kau bilang?"


Sebelah alis Jessy terangkat ke atas. Dia lalu bersedekap tangan, makin merasa curiga dengan gelagat putrinya. "Kita bahkan belum ada satu jam berada di hotel ini. Bagaimana bisa kau menjadikan rasa bosan sebagai alasan untuk pergi keluar? Pamela, Ibu tidak bodoh. Cepat beritahu Ibu kenakalan apa yang ingin kau lakukan di luar sana. Kalau tidak mau mengaku, Ibu akan ....


"Akan apa? Mau memasungku lagi?" sela Pamela jengkel. Dia lalu melirik ke arah pria yang sedang duduk santai di sofa. Ayahnya. Haruskah dia meminta tolong padanya? Tapi mustahil ayahnya akan bersedia. La wong ayahnya saja juga takut pada wanita ini. Ya ampun.


Awan pasti sudah sangat merindukan aku sekarang. Kalau aku tidak segera pergi dari sini, bisa-bisa dia mati kering karena menungguku. Ya ampun, kenapa sih Ibu harus mencurigaiku seperti ini. Akukan jadi serba salah.


"Pamela, Ibu sangat hafal dengan kelakuanmu. Kau pergi pasti karena ada tujuan tersendiri, kan? Ayo cepat jawab!" desak Jessy makin tak sabar.


Sebelum Pamela sempat menjawab, Sean sudah lebih dulu muncul di sana. Dia yang baru saja selesai mandi tampak mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil di tangannya. Melihat adik dan ibunya yang sedang berdebat, Sean hanya diam membiarkan saja. Dia memilih duduk di samping sang ayah yang juga tidak mempedulikan keributan yang sedang terjadi.


"Ayah tidak ingin membela Pororo?" bisik Sean.


"Ibumu jauh lebih membutuhkan dukungan dari Ayah," jawab Gerald dengan yakin.


"Apa tidak salah?"


Diam. Gerald tak mau menjawab. Sean terkekeh, sudah tak kaget dengan jawaban ayahnya yang selalu menyebut ibunya paling membutuhkan. Padahal fakta yang ada adalah kebalikannya. Haih.


Sementara itu Pamela yang sudah tidak kuat lagi mendengar omelan sang ibu, segera pergi melarikan diri begitu ada celah. Dia langsung masuk ke dalam mobil di mana anak buahnya sudah siap mengantarkannya ke tempat di mana Awan berada.

__ADS_1


"Akhirnya aku bisa bebas juga. Fyuhhh," ucap Pamela penuh kelegaan.


"Nona, tadi Awan mencoba kabur dari rumah itu," lapor penjaga sambil terus mengemudikan mobil.


"Lalu?"


"Mereka menghajarnya sampai pingsan."


"Ya ampun, kasihan sekali calon kekasihku. Tapi dia tidak mati, kan?"


"Mungkin hanya sekarat saja, Nona."


"Oh ya sudahlah tidak apa-apa. Lagipula itu adalah salahnya sendiri karena menolak menjadi kekasihku. Padahal aku ini sudah belajar untuk menjadi kekasih yang baik. Benar tidak?"


Andai mutan ini bisa membatin, dia pasti akan mempertanyakan pelajaran macam apa yang telah di pelajari oleh majikannya ini. Jelas-jelas yang dilakukannya adalah sesuatu yang mengerikan, mana bisa di anggap sebagai kekasih yang baik. Tapi untunglah mutan ini tak bisa membatin. Jadi dia tak perlu risau memikirkan tentang keanehan kata dari gadis yang duduk di kursi belakang.


"Sayang, kenapa kau lemah sekali sih. Baru juga di hajar oleh anak buahku, masa kau sudah pingsan begini. Lalu apa kabar jika sampai Ibuku yang datang menghajarmu? Aku rasa kau bisa langsung mati di tempat. Hmmm," ucap Pamela sambil menggelengkan kepala. Dia kemudian masuk ke dalam kamar, berjongkok di sebelah Awan yang masih belum sadarkan diri. "Kau tidak seru, sayang. Bangunlah. Ayo kita bersenang-senang!"


Tanpa di duga-duga Awan bangun dari pingsannya kemudian langsung melayangkan pukulan ke wajah Pamela. Benar, dia hanya pura-pura pingsan agar bisa menemukan celah untuk menyerang gadis gila ini. Pamela yang kaget akan reaksi cepat Awan nampak kesal sambil menjilat darah yang keluar dari sudut bibirnya. Pukulan pria ini kuat sekali, membuat Pamela jadi sedih.


"Jangan kau kira aku selemah itu, Pamela. Kau salah jika berpikir aku akan kalah darimu. Cuiihhh!" ejek Awan sambil meludah di samping tubuh Pamela. Dia kemudian mengibaskan bajunya yang kotor sebelum melangkah keluar meninggalkan gadis yang masih terduduk di lantai. Puas sekali rasanya bisa membalaskan penghinaan yang beberapa hari ini dia rasakan. Hahaha.


"Kau mau kemana, sayang?"


Awan menelan ludah. Sebuah tangan bertengger di bahunya ketika dia baru akan melangkah keluar dari dalam kamar. Sial, Pamela tidak selemah yang dia pikir. Ini boomerang.

__ADS_1


"Kenapa diam, hem? Kau mau pergi ke mana?" Pamela mengulang pertanyaannya. Sambil menyeringai seperti seorang psikopat, dia menarik bahu Awan agar menghadap ke arahnya. Setelah itu seringai di bibir Pamela berganti menjadi sebuah smirk yang cukup membuat bulu kuduk berdiri. Dia marah. "Kau tahu. Selama ini tidak ada satupun orang yang berani menyentuhku hingga terluka. Tapi kau? Kau baru saja membuat bibirku mengeluarkan darah. Aku tidak suka ini, Awan. Kau membuatku merasa sedih. Tahu?"


"Apa yang kau inginkan, hah! Jangan menggertakku!" hardik Awan jengkel. Dia muak melihat cara gadis ini menunjukkan smirknya.


"Kau tanya apa yang aku inginkan?"


Pamela tertawa. Dan suara tawanya menggema memenuhi semua sudut kamar. Sambil berjalan memutari tubuh Awan, Pamela memberitahu pria ini tentang apa yang dia inginkan.


"Ibuku pernah bilang kalau ada satu orang berbuat kasar pada wanita, maka wanita berhak membalas sepuluh kali lipat dari rasa yang pria ini hadirkan. Jadi meskipun kau adalah calon kekasihku, aku tidak akan memaafkanmu begitu saja. Aku akan membalas perbuatanmu dengan sesuatu yang mungkin tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Mau tahu itu apa?"


Awan menggeretakkan gigi. Tak perlu dia bertanya, bayangan siksaan itu sudah lebih dulu muncul di pelupuk mata. Awan sadar penderitaan itu akan segera datang. Dan mau tidak mau dia harus siap menanggungnya.


"Hei kalian, kemarilah. Tolong bantu aku mengikat tubuh kekasihku di bagian belakang mobil. Aku akan membawanya pergi jalan-jalan sebentar!" teriak Pamela memanggil anak buahnya.


"Baik, Nona."


"Kau benar-benar j*lang sialan, Pamela. Aku bersumpah akan membalas semua penghinaan ini. Aku tidak terima kau merendahkan aku seperti ini. Aku tidak terima!" teriak Awan frustasi. Dia mencoba berontak ketika dua orang penjaga datang dan ingin menyeretnya keluar. "Lepaskan aku!"


Bugghhh


"Ochhhhh!" pekik Pamela sambil menutup mulut melihat Awan di pukul lagi oleh anak buahnya. Setelah itu dia terkikik, merasa lucu menyaksikan seorang pembunuh bayaran diseret paksa seperti karung beras. "Siapa suruh kau menyakitiku. Jadi jangan salahkan aku memperlakukanmu seperti ini. Lagipula kanapa sih kau tidak patuh dan menurut saja padaku. Aku cantik, aku kaya, dan aku jenius. Kenapa terus menolak untuk menjadi kekasihku? Dasar bodoh!"


Pamela segera menyusul keluar untuk memastikan kesiapan Awan yang ingin dia ajak berjalan-jalan. Sebelum masuk ke dalam mobil, Pamela meminta agar penjaga memeriksa lagi apakah tali yang mengikat tubuh kekasihnya sudah terpasang dengan benar atau belum. Kan tidak lucu saat mobil sedang berjalan tiba-tiba kekasihnya kabur.


Awan yang sudah dalam kondisi terikat kencang hanya bisa pasrah menerima nasib saat mobil mulai bergerak. Mungkin jika tangan yang di ikat itu masih mending. Akan tetapi ini malah sebaliknya. Tubuhnya dibiarkan terbaring di tanah, sedangkan kedua kakinya di ikat ke bagian belakang mobil. Kalian bayangkan sendiri saja rasa sakit seperti apa yang akan segera dirasa olehnya. Satu hal yang ingin Awan katakan. PAMELA GILA, GADIS ITU SANGAT LUAR BIASA PSIKOPAT.

__ADS_1


***


__ADS_2