The Devil JOVE

The Devil JOVE
101. Kekhawatiran Regent


__ADS_3

Regent terus memperhatikan sang ayah yang tak henti tersenyum sejak datang ke rumah sakit. Dia heran. Bertanya sudah Regent lakukan, tapi dia malah di abaikan. Entah hal baik apa yang sudah terjadi di luar sehingga menyebabkan sang ayah bisa terlihat sesenang ini. Andai tidak sedang terluka, Regent pasti bisa dengan mudah mencari tahu apa penyebabnya. Sayang sekali dia tengah menjadi pria pesakitan. Mau tidak mau sekarang dia hanya bisa menunggu sang ayah membuka mulut meski pikirannya terus di dera rasa penasaran yang begitu besar.


Apa sikap Ayah ada hubungannya dengan darah langka di tubuh Casandra ya? Tapi masa iya sih Ayah akan tega memburu nyawa keponakannya sendiri? Aku yang menyukai Casandra saja tidak sampai hati untuk memikirkannya. Tidak mungkin Ayah sekejam itu, kan? Ya Tuhan, Casandra. Kenapa sih kau tiba-tiba jadi primadona begini. Bersama Jove saja sudah membuatku hampir frustasi. Kenapa sekarang sainganku jadi bertambah semakin banyak? Belum lagi dengan Awan, juga orang-orang lain di luaran sana. Aku rasa cinta kita tidak akan pernah bisa menyatu selamanya. Haihhh, sialan.


"Ayah, Ayah itu sebenarnya kenapa sih. Aku perhatikan sejak tadi wajah Ayah terlihat sangat berseri-seri. Ada apa? Sadar tidak kalau sikap Ayah sekarang terlihat seperti orang yang sedang mengalami gangguan jiwa. Senyum-senyum tidak jelas. Habis obat atau bagaimana?" Regent memutuskan untuk kembali bertanya pada sang ayah. Dia sudah tak tahan membiarkan benaknya terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. "Jangan hanya diam saja, Ayah. Cepat beritahu aku hal baik apa yang telah membuat Ayah jadi terlihat begitu bahagia. Ayo bicara!"


Eriko menoleh. Dan barulah dia tersadar kalau sejak tadi dia tidak sendirian di ruangan ini. Karena terlalu senang memikirkan kejayaan yang sudah ada di depan mata, Eriko sampai mengabaikan putranya sendiri. Dia kelewat bahagia, hingga melupakan semua hal di sekitarnya.


"Ayah, please. Tolong beritahu aku apa yang telah terjadi di luar sana. Jangan diam saja. Bicara!" desak Regent kian tak sabar melihat ayahnya yang hanya diam menatap.


"Regent, kita menemukan jacpot yang sangat besar sekali. Kemenangan dan juga kejayaan sudah ada di depan mata kita sekarang. Nanti setelah kau keluar dari rumah sakit, mari kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan posisi hebat ini. Oke?" ucap Eriko dengan penuh semangat. Dia lalu beranjak menuju ranjang, menepuk bahu Regent pelan kemudian sedikit membungkukkan tubuh. "Ayah sudah mengkonfirmasi langsung tentang kebenaran dari perkataan pria bernama Awan-Awan itu. Casandra, sepupumu, gadis itu benar-benar pemilik darah langka. Awalnya Ayah tidak percaya pada mitos seperti ini. Tapi karena penasaran, Ayah menghubungi salah satu teman Ayah kemudian menanyakan tentang hal tersebut. Dan kau tahu jawaban apa yang Ayah dengar? Darah langka yang dimiliki oleh Casandra ternyata memang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Hanya dengan menggunakan setetes darah langka miliknya, mampu menjadi obat penawar ampuh yang bisa menyembuhkan segala jenis racun di dunia ini. Bayangkan jika kita bisa menjual darah itu dengan harga setinggi langit. Dalam sekejap saja kita pasti bisa menjadi orang terkaya di dunia ini. Luar biasa sekali, bukan?"


"Lalu maksud Ayah kita akan memburu Casandra kemudian memerah darahnya agar bisa mencapai titik kejayaan dan juga kemenangan yang tadi Ayah maksud?"

__ADS_1


"Ya, kau benar sekali. Selama inikan kita telah berjuang keras demi untuk bisa meraih kedua hal tersebut. Siapa yang akan menyangka kalau kunci menuju kesuksesan itu ternyata ada di lingkup keluarga kita sendiri. Casandra, darah langkanya akan mengantarkan kita berdua di titik puncak kehidupan. Hahahhaha!"


"Aku tidak setuju!!"


Dengan kasar Regent menepis tangan ayahnya yang masih berada di pundak kemudian beringsut menjauh. Menahan rasa sakit di leher karena terlalu kuat bergerak, Regent menyatakan ketidaksetujuannya atas ide gila yang ingin ayahnya lakukan.


"Ayah, Casandra itu sepupuku. Dia keponakan Ayah, dan aku mencintainya. Jadi mau sebesar dan sehebat apapun darah yang dia miliki, selamanya aku tidak akan pernah setuju untuk mengikuti keinginan Ayah. Itu tidak benar!" teriak Regent penuh emosi.


Eriko meradang. Tidak percaya kalau putranya melakukan penolakan. Dengan tatapan nyalang, Eriko kembali menyuarakan tujuannya kalau dia tidak akan mundur memburu darah langka itu meski pemiliknya adalah keponakannya sendiri.


"Kau gila, Ayah!" Regent mengumpat kasar. Dia lalu mengusap pelan wajahnya, merasa frustasi karena gagal menghentikan tujuan gila sang ayah. "Ayah, aku tahu kalau akupun sangat ingin memiliki kedudukan kuat di dunia ini, itu aku akui. Akan tetapi haruskah kita mendapatkannya dengan cara seperti ini? Kasihan Casandra. Hatinya pasti sedih sekali jika tahu kalau Paman yang di hormatinya memiliki niat jahat kepadanya. Tolonglah, Ayah. Jangan seperti ini. Apa Ayah tidak takut Jove akan mengetahuinya? Kalua dia murka kemudian menghabisi Ayah bagaimana? Bukannya senang, yang ada Ayah malah berkubang di liang kubur. Hentikan saja. Oke?"


"Cihhhh, sudah Ayah bilang kalau Ayah tidak akan mundur apapun yang terjadi. Itu berarti pada Jove pun Ayah tak peduli. Lagipula mafia itu mana mungkin tahu kalau Ayah diam-diam menginginkan darah Casandra. Hanya kita berdua, Regent. Hanya kau dan Ayah yang mengetahui rencana ini. Tahu?"

__ADS_1


"Jangan keras kepalalah. Jove itu bukan seseorang yang bisa kita tebak pergerakannya. Walau dia berada jauh dari negara ini sekalipun, dia tetap tidak akan kehilangan informasi meski itu hanya sebesar biji kelasih. Mata-mata Jove ada di mana-mana, Ayah. Aku khawatir Ayah hanya akan mati sia-sia di tangannya jika sampai tertangkap basah ingin menguasai Casandra. Ingat, Ayah. Pepatah menyebutkan kalau sungai yang tenang, ada arus kuat di baliknya. Dengan beradanya Casandra di rumah Jove, harusnya Ayah sadar kalau kita tidak akan pernah bisa menggapainya. Jove mungkin diam. Tapi di balik diamnya, ada kematian yang bisa sewaktu-waktu datang menghampiri. Aku harap Ayah bisa menyadari hal ini dengan cepat sebelum ada hal buruk yang datang menghampiri Ayah!" ucap Regent yang memang tidak mempunyai nyali untuk menantang kekuasaan seorang Jove. Mungkin dalam hal lain Regent masih berani lah untuk memancing keributan. Akan tetapi masalah yang satu ini, dia lebih baik tetap merongrong CL Group daripada harus di incar oleh mafia bengis itu. Regent masih ingin menikmati hidup.


Mendengar peringatan yang di ucapkan oleh Regent membuat Eriko diam merenung. Yang di katakan oleh putranya tidak ada yang salah. Berurusan dengan Jove ibarat definisi cara mudah bertemu dengan malaikat maut. Namun, haruskah dia membiarkan kesempatan emas ini lewat begitu saja?


Casandra adalah kunci pencapaian terbaik di hidupku. Aku tidak rela jika harus mengalah dan membiarkan orang lain yang mendapat kejayaan itu. Tapi ... bagaimana caraku menghadapi Jove? Bajingan itu terlalu mengerikan. Astaga, kenapa aku baru mengetahui hal ini sekarang sih. Kalau sedari dulu aku tahu Casandra begitu berharga, aku yakin saat ini aku dan Regent sudah menjadi orang paling berpengaruh di dunia ini. Sialan.


"Ayah, menyerah sajalah. Ini demi kebaikan kita berdua!" ucap Regent kembali membujuk.


"Ayah masih belum tahu. Kita lihat saja bagaimana nanti. Jika Ayah bisa menemukan cara lain, Ayah mungkin akan melupakan darah langka Casandra. Akan tetapi jika hanya itu satu-satunya cara yang bisa menghantarkan kita pada kejayaan, maaf Regent. Berhadapan dengan Jove pasti akan Ayah lakukan!" sahut Eriko bertekad. "Kau istirahatlah dengan benar. Ayah pergi dulu!"


"Mau kemana?"


Tak ada jawaban. Regent hanya bisa menarik nafas dalam-dalam melihat kepergian sang ayah. Khawatir, itu sudah pasti. Apalagi sekarang dia masih terjebak di ranjang rumah sakit. Regent takut ayahnya akan benar-benar nekad kemudian salah mengambil tindakan. Bisa jadi yatim piatu total dia.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi merasa kasihan pada Casandra ya? Bukankah seharusnya aku mendukung niatan Ayah? Ini karena aku mencintainya atau karena menyayanginya sebagai saudara? Astaga, kenapa aku jadi plin-plan begini sih," gumam Regent terheran-heran akan sikapnya sendiri. Sungguh aneh.


***


__ADS_2