The Devil JOVE

The Devil JOVE
66. Syok Terapi


__ADS_3

Sambil melayangkan tatapan sinisnya, Casandra berjalan melewati Jove yang sedang menunggunya di depan lift. Walaupun sebenarnya Casandra dongkol setengah mati, dia tetap tidak bisa mengabaikan pekerjaannya dengan tidak pergi ke L Group setelah Jove memaksanya untuk tetap tinggal di mansion sialan ini.


Sreeetttt


“Jove!”


“Aku tidak tuli. Jangan meneriakiku seperti itu!” tegur Jove seraya melayangkan tatapan yang sangat dingin pada Casandra yang berteriak karena dia menarik tangannya. Jove benci di abaikan, dan Casandra baru saja melakukannya.


“Kalau kau merasa tidak terima dengan teriakanku, maka sebaiknya kau jangan bersikap seolah kau adalah pemilikku. Jangan melewati batasanmu karena aku berhak untuk memilih mana perlakuan yang aku suka dan mana yang membuatku muak. Paham?!” amuk Casandra dengan tatapan mata yang berapi-api. Sungguh, saat ini Casandra benar-benar sangat ingin membenturkan kepalanya Jove sampai pecah. Dia benci sekali diperlakukan seperti ini. Casandra tak terima.


“Apa yang membuatmu menjadi semarah ini, hem? Apa karena aku memindahkan barang-barangmu kemari? Atau karena aku memintamu untuk tetap tinggal di rumah ini?” tanya Jove dengan intonasi yang sedikit lebih lembut. Kendati demikian Jove tetap mencengkeram kuat pergelangan tangan Casandra. Karena biar bagaimanapun Jove bukan orang yang mudah untuk bersikap lembut pada orang lain, terkecuali pada ibunya. Dan jika Casandra berkeinginan untuk membuat seorang Jove tunduk kepadanya, maka Casandra harus berjuang keras memikirkan cara agar Jove menjadi luluh dan langsung berucap iya begitu Casandra mengatakan sesuatu. Tapi tentu saja itu semua bukanlah sesuatu yang mudah mengingat status Jove yang adalah seorang mafia. Jove terbiasa hidup dengan kekerasan dan kekejaman, baik itu pada wanita maupun pada orang yang lebih tua darinya. Kalian paham ‘kan?


Casandra menghela nafas dengan kuat.


“Jove, menurutmu wajar tidak kalau aku marah dan tidak menerima semua perlakuanmu yang tidak jelas ini?” tanya Casandra dengan sorot mata penuh kebencian. “Dan juga bagaimana caranya semua barang yang tadinya ada di rumahku bisa berpindah ke kamar mandi milikmu? Tolong jelaskan semuanya padaku, Jove. Sekarang!”


“Salah satu pelayan di rumahmu adalah orang suruhanku. Dan saat kau tertidur nyenyak di atas ranjangku aku memintanya untuk datang kemari sambil membawa semua barang yang biasa kau gunakan!” jawab Jove dengan jujur. “Kau jangan khawatir. Ayah dan Ibumu telah mengizinkanmu untuk tinggal bersamaku. Jadi kau sudah tidak punya alasan lagi untuk bersikap kasar terhadapku. Oke?”


Mata Casandra membulat lebar saat Jove memberitahunya kalau ayah dan juga ibunya telah memberikan izin untuknya tinggal di rumah ini. Seakan tak percaya akan hal tersebut, dengan kuat Casandra menepuk sebelah pipinya. Sulit untuk Casandra memahami jalan pikiran kedua orangtuanya yang bisa dengan mudah membiarkannya untuk tinggal bersama pria bajingan seperti Jove. Ini tidak masuk akal.


“Selamat pagi, Tuan Jove. Selamat pagi Nona Casandra!”

__ADS_1


Setelah menyapa kedua tuannya Franklin langsung menundukkan kepala. Dia yang baru saja kembali dari luar segera datang menemui bosnya guna melaporkan beberapa hal. Terutama tentang seseorang yang telah membocorkan kalau Nona Casandra adalah pemilik darah langka yang selama ini dicari-cari oleh banyak orang.


“Lepaskan tanganku, Jove!” geram Casandra saat Jove tak kunjung melepaskan cengkeraman dari pergelangan tangannya.


“Akan aku lepaskan kalau kau bersedia untuk diam,” sahut Jove seraya tersenyum manis. Iya manis, tapi manis yang sangat mematikan.


“Brengsek!”


“Casandra,” ….


Casandra mendengus. Dia akhirnya mengalah setelah Jove memanggilnya dengan nada suara yang membuat bulu kuduknya berdiri semua. Belum reda kekesalan di diri Casandra, dia kembali dibuat kesal saat Jove melepaskan cengkeraman tangannya kemudian beralih merengkuh pinggangnya dengan sangat posesif. Benar-benar bajingan yang tidak mau merugi. Cihhh.


“Ada apa, Frank?” tanya Jove sambil mengusap naik-turun pinggang ramping Casandra. Raut wajah Jove sangat datar, menandakan kalau jiwanya tengah bergejolak menahan luapan amarah yang terpendam.


Seandainya salah satu dari kalian ada yang berada di posisinya Casandra saat ini, kira-kira apa yang akan kalian lakukan begitu mendengar perkataan Franklin? Kencing di celana atau malah jatuh tak sadarkan diri? Sementara Casandra sendiri, nyawanya seperti melayang keluar lewat ubun-ubun begitu dia tahu kalau mulai hari ini dia akan tinggal dengan sekelompok orang berhati iblis.


Ya Tuhan, dosa apa yang telah kulakukan di masa lalu sampai kau harus melibatkanku dengan orang-orang seperti Jove dan Franklin? Aku tidak mampu, Tuhan. Ini terlalu mengerikan untukku. Tolong ….


“Kau menakutinya, Frank!” ucap Jove sembari membelai pipi Casandra yang terasa sangat dingin. Dia tahu dengan jelas kalau wanita jaguarnya sedang ketakutan karena omongan Franklin. Namun, ini sedikit menyenangkan karena Casandra jadi terlihat seperti anak kucing yang baru lahir dimana dia tidak berdaya melihat hal baru dalam hidupnya.


“Maaf, Tuan. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya saja tanpa ada niat untuk menakuti Nona Casandra,” sahut Franklin tanpa merasa bersalah sama sekali.

__ADS_1


“Baiklah. Sekarang bisakah kau memberitahuku tentang kabar menyenangkan lainnya?” tanya Jove mengalihkan pembicaraan. Dia ingin Franklin segera mengatakan sesuatu yang bisa membakar amarah di diri wanita jaguarnya. “Apa tanggapan Tuan dan Nyonya Lin saat kau datang bertamu ke rumah mereka?”


Ekpresi di wajah Casandra langsung berubah saat Jove tiba-tiba membahas tentang keluarganya. Khawatir, itu yang dia rasakan. Casandra takut Franklin melakukan hal yang buruk pada ayah dan ibunya. Itu bisa saja terjadi bukan mengingat kalau kedua pria ini adalah para bajingan yang tidak akan berpikir dua kali untuk menyakiti orang lain?


“Tuan Cadenza dan Nyonya Elzavat dengan senang hati mengizinkan Nona Casandra untuk tinggal di mansion ini, Tuan Jove. Mereka juga mengatakan kalau mereka bergantung sepenuhnya kepada anda,” jawab Franklin.


Jove tersenyum puas. Sangat sesuai dengan apa yang dia inginkan.


“Kau dengar itu, Casandra? Bahkan Ayah dan Ibumu tidak merasa keberatan sama sekali kau tinggal bersamaku. Tidakkah menurutmu ini adalah kabar yang sangat baik?”


“Tidak mungkin!” sahut Casandra syok. “Ayah dan Ibu tidak mungkin membiarkanku tinggal bersama bajingan seperti kalian. Fidel juga. Dia pasti tidak akan tinggal diam membiarkanku berada di tengah-tengah binatang buas seperti kalian. Tidak! Franklin, kau pasti sudah melakukan sesuatu yang buruk pada mereka ‘kan? Kau pasti telah mengancam Ayah, Ibu dan juga Fidel. Iya ‘kan?”


“Nona Casandra, jangan berpikir terlalu berlebihan tentang saya. Tanpa harus saya melayangkan ancaman, Ayah dan Ibu anda akan tetap bergantung pada Tuan Jove. Karena saat ini satu-satunya orang yang bisa menjamin keselamatan anda adalah Tuan Jove seorang. Selain Tuan Jove, mereka semua hanya akan menyakiti anda. Jika tidak percaya, cobalah pergi tanpa pengawasan kami. Saya berani menjamin anda akan sangat menyesal telah melangkahkan kaki keluar dari tempat yang paling aman untuk anda. Benar begitu, Tuan Jove?” ucap Franklin sambil melayangkan senyum tipis saat bertanya pada bosnya.


Casandra segera menatap Jove untuk mencaritahu kebenaran dari perkataan Franklin. Dan di detik selanjutnya Casandra dibuat menelan ludah berkali-kali saat Jove menganggukkan kepala membenarkan kalau ucapan Franklin adalah benar adanya.


“Jangan penuhi pikiranmu untuk membayangkan ini dan itu. Nanti malam aku akan menjemputmu kemudian membawamu pergi ke suatu tempat yang bisa menjawab rasa penasaranmu. Sekarang kita ke ruang makan. Aku akan mengantarkanmu ke L Group setelahnya,” ucap Jove kemudian membawa Casandra pergi ke ruang makan untuk sarapan. Dia benar-benar puas sekali akan syok terapi yang di berikan oleh Franklin.


Yang bisa Casandra lakukan hanyalah patuh saat Jove menarikkan kursi untuknya kemudian memintanya untuk duduk di sana. Entahlah, Casandra sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi sekarang. Satu-satunya yang ingin Casandra lakukan hanyalah sesegera mungkin sampai di perusahaan lalu menemui ayahnya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia yakin sekali Jove pasti menyembunyikan alasan besar dengan tidak membiarkannya keluar dari rumah ini tanpa adanya pengawasan.


Ayah, aku harap Ayah tidak menyembunyikan apa-apa saat aku bertanya nanti. Apapun itu aku harus tahu kebenaran yang sesungguhnya. Aku tidak sudi dikekang dengan alasan yang tidak jelas begini, Ayah. Aku lelah ….

__ADS_1


***


__ADS_2