The Devil JOVE

The Devil JOVE
124. Tugas Mulia


__ADS_3

"Nona, ini barangnya!"


Pamela yang sedang fokus mengamati jentik-jentik calon virus dari teleskop segera menoleh ke belakang saat mendengar anak buahnya bicara. Setelah itu Pamela tersenyum lebar, senang saat mendapati ada dua tubuh pria yang terlihat sangat segar meski tanpa kepala.


"Apa kau sudah mengamankannya dengan benar?" Pamela bertanya sambil melepas sarung tangan. Dia kemudian berjalan mendekat. "Uwaahhh, wangi sekali. Aku bisa mencium aroma dollar yang begitu menyengat dari tubuh kedua pria ini. Awan benar-benar sangat mengerti seleraku. Dia pasti sengaja mengirim anak buah yang segar untuk memburu Casandra!"


"Lalu apa yang harus kita lakukan dengan tubuh ini, Nona?"


"Umm kalian simpan dulu saja di ruang pendingin. Aku sedang ada pekerjaan mendesak sekarang!"


"Baik, Nona. Kami permisi."


Pamela mengangguk. Dia kemudian mengambil ponsel yang berada di atas meja. Sambil merapihkan rambut, jari tangannya bergerak mencari nomor seseorang yang adalah calon kekasihnya. Pamela berniat mengucapkan kata terima kasih pada Awan atas hadiah yang dikirimkannya.


"Haihhh, harusnya kalau kau merasa rindu padaku langsung kau telpon saja, sayang. Kenapa malah menjadikan Casandra sebagai alasan untuk menunjukkan perasaanmu itu. Manis sekali," gumam Pamela sambil terkekeh lucu saat panggilannya tak kunjung di jawab. "Lama sekali. Apa jangan-jangan Awan sedang merapihkan penampilannya terlebih dahulu karena khawatir aku akan merasa ilfeel padanya? Ya ampun, kau kenapa menggemaskan sekali sih. Aku kan jadi semakin merindukanmu."


Panggilan pertama lewat begitu saja tanpa ada respon dari pembunuh bayaran itu. Dan hal ini tentu saja membuat Pamela merasa tidak senang. Sambil bersungut-sungut, Pamela keluar dari dalam ruangan penelitian kemudian berjalan menuju ruangan tempat di mana dia bisa mengetahui segala kegiatan dari orang yang telah di targetkan. Andai ada pihak kepolisian yang melihat ruangan tersebut, di jamin mulut mereka akan langsung menganga lebar begitu menyaksikan ada ratusan cctc yang bisa di akses dengan sangat mudah. Dan tentunya ada seorang hacker handal yang Pamela pekerjaan di ruangan ini.


"Kekasihku mengabaikan panggilan. Bisa tolong cari tahu apa yang sedang dia lakukan?" tanya Pamela sedih. Dia kemudian duduk di pinggiran meja sambil mengerucutkan bibir. "Padahal aku ingin berterima kasih secara langsung padanya. Tapi dia malah mengacuhkan aku. Aku sedih,"

__ADS_1


"Apa itu adalah Awan, Nona?"


"Ya, itu dia. Sekarang bisakah kau menolongku?"


"Tentu saja sangat bisa. Tunggu sebentar."


Adalah petaka bagi seseorang yang telah berani menyinggung seorang Pamela Thampson. Usianya boleh saja muda, tapi untuk urusan kegilaan dan juga kenekatan, gadis ini sangat sulit untuk mencari tandingannya. Jadi ketika moodnya mulai memburuk, semua orang yang berada di lab akan merasa resah. Sebab apa? Sebab gadis ini bisa menggila hingga di luar batas manusia. Pokoknya apapun yang terjadi N


Pamela harus tenang, baru semua orang bisa bekerja tanpa harus merasa tertekan.


"Nona, sepertinya Awan memang sengaja mengabaikan panggilan darimu. Perlu di beri pelajaran tidak?"


"Baik, Nona."


"Astaga, aku lupa!"


Pamela memekik sambil menepuk kening. Dia lupa kalau sore nanti harus menyerahkan hasil pemeriksaan tentang cocok atau tidak cocoknya darah milik Casandra dengan sepupunya. Tak mau labolatorium ini di bom oleh mafia itu, secepat kilat Pamela berlari masuk ke dalam ruangan khusus kemudian bergegas membuka kotak pendinginan.


"Fyuhhh, untung aku ingat. Kalau tidak, maka habislah aku!" ujar Pamela lega karena hasilnya sudah muncul. Sambil tersenyum-senyum sendiri, Pamela mengangkat plastik transparan di mana ada darah kental di dalamnya. Setelah itu dia berjalan menuju sebuah tabung tempat janin percobaan tersimpan. "Nah anakku sayang, maaf ya karena hari ini aku terpaksa mengirimmu pergi ke surga. Tapi jika kau berhasil bertahan, maka suatu saat nanti kau akan menjadi bayi kesayangan kakak sepupuku. Karena apa? Karena tubuhmu telah tercampur dengan darah langka milik Casandra. Jadi kau akan tumbuh istimewa. Keren, kan?"

__ADS_1


Mungkin jika orang lain melihat Pamela yang sedang bicara dengan seorang janin yang baru berbentuk, mereka pasti akan menganggapnya gila. Akan tetapi yang terjadi tidaklah seperti itu saja. Di kepala janin tersebut telah terpasang beberapa alat yang menyambungkan getaran otak ke sebuah monitor. Dari alat inilah Pamela bisa tahu apakah si janin bisa merespon perkataannya atau tidak. Gila, bukan?


Dengan sangat hati-hati Pamela mengambil setetes darah dari dalam plastik kemudian menyuntikkannya ke tubuh janin melalui selang. Setelah itu raut wajah Pamela berubah tegang dan juga serius. Takut kalau-kalau janin ini akau berubah menjadi raksasa seperti yang terjadi waktu itu.


"Lima, empat, tiga, dua, sa ... tu! Wowww, amazing! Hahahaha, akhirnya. Kak Jove, sekarang kau bisa tenang jika ingin menikahi Casandra. Darah kalian cocok, jadi bisa di pastikan keturunan kalian kelak tidak akan terjangkit penyakit yang kau derita. Ahahahaa, aku senang sekali. Tumpukan dollar ada di depan mata. Yeyyyy!"


Saat Pamela sedang berbahagia atas keberhasilannya, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dia lalu meng*lum senyum begitu tahu siapa yang mengirim pesan tersebut.


"Kau benar-benar k*parat, Pamela. Apa maksudmu menyerang kediamanku hah? Ingat, di antara kita tidak ada hubungan apapun. Dan sebelumnya kita juga tidak pernah saling singgung. Jadi berhentilah menggangguku. Asal kau tahu saja, matipun aku tidak akan sudi menjadi kekasih dari seorang wanita sinting sepertimu. Tahu kau!"


Kedua rahang Pamela langsung mengerat kuat setelah dia membaca pesan yang di kirim oleh Awan. Tak terima, dia segera mengirim pesan balasan yang menyiratkan kalau dia tak menerima penolakan. Enak saja pria itu. Pamela sudah bersusah payah moveon dari Franklin, masa Awan seenak jidat memintanya agar tidak berharap. Pamela mana mau melakukan hal itu.


"Sayang, kau jangan terlalu pongah dengan tidak menerimaku bahkan sebelum kita saling dekat. Ketahuilah, di dunia ini hanya aku seorang yang paling cocok jadi menjadi pasanganmu. Kau bekerja demi mendapatkan uang, bukan? Aku pun sama. Kau menyukai dollar, aku juga. Jadi tidak ada alasan untuk kau menolak kehadiranku. Karena jika kau tidak patuh, detik ini juga aku akan membuatmu menjadi milikku. Ingat, sekarang zaman sudah modern di mana wanita memiliki hak yang sama dengan para pria untuk menyuarakan pendapat dan juga keinginan mereka. Jadi terimalah saja nasibmu itu. Oke? Jangan membantah. Karena aku kurang menyukai yang namanya penolakan. Paham?"


Send. Pesan terkirim. Setelah itu Pamela ganti mengirim pesan ke nomor Bibi Rose. Dia sedang tidak mood berurusan dengan sepupunya, jadi dia memilih untuk membagikan kabar bahagia ini lewat bibinya saja.


"Akhirnya tugas muliaku selesai juga. Fyuhhhh, rasanya benar-benar melelahkan meski hanya mengurus satu pekerjaan saja. Semoga nanti saat Kak Jove dan Casandra mempunyai anak, keturunan mereka tidak akan membuatku repot. Lama-lama otakku bisa layu kalau hanya mengurusi persoalan mereka yang seperti tidak ada habisnya. Mana Awan masih malu-malu untuk menerimaku sebagai kekasihnya. Kan tidaknya lucu kalau aku kembali gagal memenangkan hati pria yang kusukai. Cukup Franklin saja, tidak dengan Awan. Huh!" ucap Pamela sebelum akhirnya dia kembali menyimpan sisa darah ke dalam kotak pendingin. Setelah itu Pamela pergi ke ruang cctv, penasaran ingin melihat sikap malu-malu Awan seusai membaca pesan darinya. Pasti sangat lucu. Hehehe.


***

__ADS_1


__ADS_2