The Devil JOVE

The Devil JOVE
92. Memberi Peringatan


__ADS_3

Jove terus memperhatikan Casandra yang tengah terlelap setelah dokter memberinya obat tidur. Sesekali bibirnya nampak tersenyum, merasa lucu karena wanita ini terlihat menggemaskan saat sedang memejamkan mata.


"Tuan Jove, hari sudah mulai malam. Apa tidak sebaiknya kita berangkat sekarang?"


Pertanyaan Franklin sukses membuyarkan khayalan Jove. Meski begitu, tak nampak kemarahan di wajahnya. Setelah Pamela memberitahu tentang siapa orang yang telah mengirimkan penyusup untuk mengawasi keluarga Casandra, Franklin langsung menyebar orang untuk mencari tahu di mana keberadaan Albert sekarang. Dan begitu titik lokasinya di temukan, dia meminta dokter agar memberikan obat tidur kepada Nona Casandra. Alasannya? Sudah pasti karena keinginan bosnya yang tak mau Nona Casandra sampai mengetahui kalau ada orang yang datang mengawasi kediaman orangtuanya. Jove tak mau wanita ini merengek, apalagi sampai mengamuk memaksa untuk pulang.


"Hmmm, aku malas beranjak dari sini, Frank," ucap Jove. Dia kemudian mengelus bibir Casandra, merasai betapa lembut gumpalan daging kenyal yang terkadang membuatnya menelan ludah. "Albert hanya sampah. Haruskah aku meninggalkan wanita ini hanya demi kotoran sepertinya?"


"Jika anda merasa enggan, biar saya saja yang datang ke sana," sahut Franklin paham akan keengganan yang dirasa oleh bosnya.


Bukannya menganggap lemah. Hanya saja setelah Nona Casandra dibuat pingsan akibat pendarahan, sikap bosnya jadi sedikit melunak. Entah itu karena merasa menyesal atau bagaimana, Franklin kurang paham. Yang jelas sikap ini terlihat berbeda dari sosok Jove Lorenzo yang selama ini dia kenal. Mungkin jika orang lain yang berada di posisi Franklin sekarang, di jamin mereka pasti akan beranggapan kalau bosnya sudah berubah menjadi orang lemah begitu takluk pada pesona seorang wanita. Akan tetapi yang dirasa Franklin tidaklah seperti itu. Dengan melemahnya sikap bosnya sekarang, itu malah membuat Franklin merasa seribu kali lebih tertantang. Mengapa demikian? Karena itu sama artinya dengan kematian dan kemurkaan besar bagi siapa saja yang berani mengusik apalagi menyakiti Nona Casandra. Anggaplah kalau kini nyawa wanita itu telah benar-benar berhasil menduduki satu kasta terpenting di hidup bosnya. Yang mana juga menjadi titik kelemahan terbesarnya.


"Kita pergi bersama!" Jove beranjak dari sisi Casandra. Namun sebelum pergi dia menyempatkan diri untuk mel*mat bibir jaguar ini. Setelah itu barulah dia melangkah keluar dengan di ikuti Franklin di belakangnya.


Di luar mansion telah berjejer deretan mobil dan juga penjaga lengkap dengan senjata di balik pakaian masing-masing. Sementara Jove sendiri, dia muncul


dengan menggunakan stelan santainya. Tak lupa juga dia mengenakan kaca mata hitam yang mana membuat penampilannya jadi berkesan misterius dan juga dingin. Sangat khas dengan julukannya sebagai seorang mafia.


"Silahkan masuk, Tuan!" ucap Franklin setelah membukakan mobil. Dia kemudian menundukkan kepala saat pria mengerikan ini berhenti di hadapannya.


"Di mana Albert?" tanya Jove.


"Bajingan itu sedang bersantai dengan para p*lacurnya sambil mengawasi transaksi di gudang, Tuan," jawab Franklin. Dia kemudian mengangkat wajahnya. "Dia tidak sedang sendirian. Ada beberapa pembeli yang datang secara khusus, dan kebanyakan dari mereka merupakan pelanggan tetap kita. Sepertinya Albert telah banyak berusaha demi bisa mendapatkan kepercayaan mereka, Tuan!"


"Aku sebenarnya kurang suka jika harus menghabisi Albert sekarang. Akan tetapi mengingat sikapnya yang lancang mengintai keluarga Casandra, tiba-tiba aku merasa tak senang. Datangi dia lalu beri sedikit cendera mata padanya. Setelah itu biarkan dia tetap hidup sampai satu kesialan datang merenggut nyawanya!"


"Baik, Tuan!"


Jove langsung masuk ke dalam mobil setelah memberikan perintah pada Franklin. Setelah itu dia menurunkan kaca jendela lalu mengulurkan satu tangan keluar. "Berikan aku rokok!"


Segera Franklin mengambil sebatang rokok kemudian memasukannya ke dalam mulut sang bos. Setelah itu dia menyalakan korek dan membakar ujung rokok tersebut. Franklin kemudian bergegas masuk ke dalam mobil setelah selesai melayani bosnya yang sedang dalam suasana hati kurang baik. Pria ini kesal.


"Jangan terlalu lama, Frank. Casandra butuh aku di sampingnya!"

__ADS_1


"Baik Tuan!"


Iring-iringan mobil mulai bergerak meninggalkan pekarangan mansion. Sungguh sangat mengerikan. Belasan mobil dengan penjaga pilihan bergerak mengikuti satu mobil khusus yang di dalamnya ada seorang pria tampan berhati iblis. Jove, dia memejamkan mata, membiarkan asap rokok bergerak memenuhi udara dalam mobil. Selepas Casandra bertemu dengan orangtuanya, dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Jove jadi ingin selalu dekat dengan wanita itu, menikmati setiap detik kebersamaan mereka dengan memperhatikan jutaan perubahan ekpresi Casandra yang sangat menarik. Ah, memikirkan wanita itu membuat Jove jadi ingin pulang dan memeluknya. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan sekarang karena saat ini mobil tengah bergerak menuju tempat di mana nanti dia akan bertemu seorang bajingan menjijikkan.


Tak kurang dari sembilan puluh menit, mereka semua akhirnya sampai di depan sebuah gudang yang di sekelilingnya di jaga dengan sangat ketat oleh puluhan penjaga. Namun karena yang datang adalah Jove, dengan santai Franklin menerobos masuk pos penjagaan mereka seraya melesatkan tembakan pada beberapa sniper yang mengincar dari atas bangunan. Dan ya, baku tembak pun tak terelakkan lagi.


Door doorr


Di dalam gudang, Albert yang tengah menghinakan seorang pe*acur dengan cara mencambuk tubuh mereka menggunakan ikat pinggang seketika menjadi sangat panik begitu mendengar suara tembakan. Dia dan para kliennya bergegas mengenakan kembali pakaian mereka kemudian mengambil senjata untuk melindungi diri.


"K*parat! Siapa yang berani menyerang ke gudang ini. Cari mati!" umpat Albert yang kini sudah berlindung di balik tembok. Dia lalu memerintahkan anak buahnya agar mengamankan para klien yang terlihat tak senang atas apa yang sedang terjadi. "Lindungi dan bawa mereka ke tempat aman lewat pintu belakang. Hati-hati. Perhatikan langkah kalian!"


"Baik, bos!"


"Yak Albert, apa-apaan ini. Bagaimana bisa kau mengundang kami masuk ke dalam bahaya yang mencekam!" protes salah satu pria yang hanya mengenakan celana panjang. Dia kemudian mendorong kasar tubuh penjaga yang ingin mengajaknya pergi. Dengan mata berkilat mata, pria ini menodongkan senjata ke arah Albert, si tuan rumah yang baru saja melakukan transaksi dengannya. "Seharusnya kau itu bisa memastikan keamanan kami semua sebelum melakukan transaksi. Sekarang aku menyesal karena lebih memilihmu alih-alih meminta Jove agar memasokkan narkoba padaku. Cuiihhhh!"


"Hei, hati-hati dengan ucapanmu. Kau pikir aku akan segila itu dengan sengaja membiarkan kalian berada dalam bahaya apa!" sentak Albert tersulut emosi. Namun suara tembakan segera menyadarkannya agar bersikap tenang. Sambil terus bersiaga, Albert mengingatkan kliennya agar menurut dan segera


pergi dari sana. "Sekarang bukan saatnya untuk mempermasalahkan hal ini. Lebih baik kalian semua cepat pergi dari sini sebelum musuh berhasil masuk kemudian menghabisi kita semua. Cepat pergi!"


Brraaaakkkk


Mobil berhenti. Di susul oleh beberapa mobil lainnya di belakang. Jove yang melihat tampang ketakutan Albert tak kuasa untuk tidak tersenyum. Dia kemudian meminta Franklin untuk keluar.


"Pergilah sapa mereka dulu. Albert bisa terkena serangan jantung jika melihatku keluar dari dalam mobil ini!"


"Bukankah seharusnya dia memang sudah harus terkena serangan jantung saat mendengar suara baku tembak tadi, Tuan?" sahut Franklin seraya membuka seatbelt. Dia lalu melangkah keluar setelah mendengar suara kekehan bosnya. Melayangkan seringai evil, Franklin menatap dingin ke arah Albert yang langsung membelalakkan mata begitu melihat kemunculannya. "Apa kabar, Albert? Tidak kusangka kita akan berjumpa lewat cara seperti ini!"


Hah? Jadi yang melakukan serangan adalah orang-orangnya Jove? Brengsek! Apa mau mereka sebenarnya? Apa mungkin mereka tahu kalau klien mereka kini telah berpindah padaku?


"Jangan kaget begitulah. Santai!" olok Franklin memanaskan keadaan.


"Bajingan. Apa maksudmu melakukan serangan ke gudang milikku hah?!" bentak Albert sambil menggeretakkan gigi.

__ADS_1


"Oh, jadi gudang ini milikmu ya?"


Franklin menghela nafas. Dia kemudian memperhatikan ke sekeliling gudang tempat Albert melakukan transaksi dengan klien yang berkhianat. Saat ekor mata Franklin tak sengaja melihat ke arah sudut, dia mendapati ada tiga wanita tak berbusana terkapar di lantai dengan kondisi memilukan. Malas melihatnya, Franklin segera mengarahkan senjata kemudian meledakkan kepala mereka masing-masing dengan satu peluru.


"Seseorang datang mengintai sesuatu yang bukan miliknya. Itulah alasan mengapa kami mendatangimu di sini, ALBERT!" ucap Franklin sengaja menekankan kata Albert di akhir kalimat. Dia ingin pria ini tahu kalau bosnya merasa tak senang atas apa yang telah di perbuatnya.


"Apa maksudmu?" Albert bertanya seraya mengerutkan kening. "Apa kau sedang mencoba menuduhku melakukan provokasi pada bosmu?"


Sebelum sempat Franklin membalas perkataan Albert, bosnya sudah lebih dulu keluar dari dalam mobil. Franklin kemudian mengikuti bosnya yang dengan santai berjalan menghampiri bajingan itu.


"Ooh, kau rupanya. Ada apa, hem?" ejek Albert dengan berani.


Doorrr


Satu gerakan yang sangat cepat di mana Albert langsung mendapat tembakan di lengannya begitu dia selesai bicara. Dan yang bisa dia lakukan hanyalah mengerang kesakitan saat Jove tiba-tiba menusukkan belati ke perutnya. Albert tak sempat mengelak.


"K-kau! Arkhhhhh!"


"Aku tidak masalah kalau kau merebut semua klienku sekalipun. Akan tetapi aku merasa sangat tersinggung saat kau memerintahkan orang untuk mengintai kediaman keluarga Lin. Kau tahu kenapa?" tanya Jove sambil terus menekan belati agar semakin dalam menembus perut Albert. "Karena wanita yang sedang kau buru adalah milikku. Itu artinya kau akan berhadapan langsung denganku jika berani macam-macam dengannya. Mengerti?"


Dalam sekali tarikan Jove mencabut belati dari perut Albert kemudian melayangkan tatapan membunuh pada semua penjaga yang ingin menyerangnya. Jove kemudian tersenyum saat tubuh Albert luruh ke lantai dengan bersimbahkan darah.


"J-Jove, a-aku tidak akan pernah menerima penghinaan ini. Ka-kau tunggu saja. A-aku pasti akan datang untuk menuntut balas!" ancam Albert sambil meringis kesakitan. Sialan. Dia sama sekali tak menyangka kalau Jove akan menyerangnya seperti ini.


"Lancang!"


Buggghhhh


Anak buahnya Albert bingung apakah harus mencegah Franklin menghajar bos mereka atau malah membiarkannya. Bagaimana mau melawan. Saat ini saja di kepala mereka sudah menempel satu senjata yang siap menembak begitu di perintah. Dan hal inilah yang menjadi penyebab mengapa sejak tadi mereka hanya bisa berdiri diam menyaksikan bos mereka disiksa sedemikian rupa.


"Jika mampu, maka lawanlah aku. Jika tidak, maka nikmatilah apa yang kau miliki sekarang. Kita pulang, Frank!" ucap Jove sambil menatap datar pada Albert yang sudah setengah sekarat setelah di hajar oleh Franklin.


"Baik, Tuan!" sahut Franklin kemudian meludahi wajah Albert yang sudah bermandikan darah.

__ADS_1


Dengan kemenangan telak tanpa ada perlawanan, Jova bersama anak buahnya pergi meninggalkan gudang. Sungguh sangat lemah. Dengan kemampuan sebegini kecil berani sekali Albert memprovokasi kemarahan Jove. Benar-benar lawakan yang menggelitik hati. Hah.


***


__ADS_2