
“Oh, Cassey. Kau datang, sayang?” kaget Eriko seraya melayangkan pertanyaan pada keponakannya yang baru saja datang. Dan sedetik kemudian Eriko dikejutkan oleh satu fakta yang baru disadarinya.
Darimana Casandra tahu kalau aku telah memindahkan Regent ke rumah sakit ini? Aku bahkan tidak memberitahu Cadenza, lalu bagaimana caranya gadis ini mengetahuinya?
“Paman, di mana Regent? Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya,” tanya Casandra dengan sorot mata yang berapi-api. Dia sampai tak mempedulikan raut penasaran sekaligus kaget yang muncul di wajah sang paman. Satu tujuan Casandra, secepat mungkin menghajar bajingan tengik yang telah membuatnya terjebak di bawah kuasa seorang Jove.
“Regent? Dia ada di dalam ruang rawat. Sedang istirahat,” jawab Eriko jujur. Dan di detik selanjutnya Eriko langsung menarik tangan Casandra yang hendak masuk ke dalam kamar putranya. “Tunggu dulu, Cassey. Bisakah kau memberitahu Paman dari siapa kau mengetahui kalau Regent dipindahkan ke rumah sakit ini? Seingat Paman tidak ada yang tahu tentang kepindahan Regent. Lalu bagaimana caramu bisa sampai kemari?"
Saat Casandra ingin menjawab, satu orang penjaga dengan kasar mencengkeram leher belakang sang paman kemudian melemparkannya hingga menabrak pot bunga yang ada di sana. Casandra yang tak pedulipun bergegas masuk menemui Regent tanpa mempedulikan kegaduhan yang sedang terjadi. Masa bodo. Itu akibatnya jika berani menyentuhnya tanpa memperhatikan siapa yang datang bersamanya. Huh.
“Sialan! Berani sekali kalian berbuat kasar kepadaku. Cari mati!” umpat Eriko langsung tersulut emosi begitu menerima perlakuan kasar dari penjaga yang datang bersama keponakannya. Setelah itu Eriko berusaha bangun, tapi di halangi oleh penjaga yang satunya lagi. Kesal, Eriko pun meludahi pakaiannya. “Cuihhhh!”
“Tuan Eriko, beruntung karena sekarang anda sedang berada di rumah sakit. Jika tidak, saya pasti akan langsung memotong lidah anda yang lancang itu!” gertak si penjaga dengan datarnya.
“Kalian pikir kalian itu siapa sehingga bisa menggertakku seperti itu hah! Kalian tidak tahu siapa aku!” amuk Eriko kian emosi. Segera dia berdiri kemudian menatap nyalang pada penjaga yang masih berdiri di hadapannya. “Dasar sampah! Beraninya orang rendahan seperti kalian menyerangku. Bedebah!”
Bugghhhhh
Tubuh Eriko kembali terpental menabrak pot bunga saat perutnya mendapat bogem mentah dari penjaga yang baru saja dimakinya. Setelahnya kedua penjaga tersebut melenggang masuk ke dalam ruang rawat Regent tanpa mempedulikan amukan dan juga cacian yang dilontarkan oleh Eriko. Termasuk juga tak menghiraukan kerumunan orang-orang yang merasa penasaran akan apa yang baru saja terjadi.
Sementara itu di dalam ruang rawat, saat ini Casandra tengah berdiri di samping ranjang tempat Regent terbaring tak berdaya. Muak, benci, mendendam, semua perasaan ini bercampur aduk menjadi satu di benak Casandra. Sedangkan Regent sendiri, pria itu nampak santai-santai saja menyambut kedatangan Casandra meski dia tahu kalau Casandra datang dengan membawa kebencian yang sangat besar.
“Nona Casandra, perlukah kami membantu memperlebar mulut pria ini supaya dia lekas bersuara?” tanya penjaga begitu masuk ke dalam kamar.
“Tidak perlu!” sahut Casandra cetus. “Kalau aku mau aku bisa melakukannya sendiri. Kalian jangan ikut campur!”
__ADS_1
Regent menyeringai.
“Yooo, baby. Ada apa dengan cara bicaramu, hem. Dan siapa mereka. Wajah mereka sedikit asing di mataku. Mereka orang baru?” tanya Regent penasaran.
“Jangan banyak bertanya kau, brengsek! Mau mereka orang baru atau bukan itu tidak ada urusannya dengamu. Paham?” hardik Casandra. Setelah itu Casandra sedikit membungkukkan tubuhnya agar bisa melihat wajah menjijikkan Regent dari jarak dekat. “Kau bajingan. Sekarang beritahu aku apa yang telah kau lakukan di malam saat kita menghadiri acara Tuan Zian. Malam itu kau pasti sengaja bukan meninggalkan aku sendirian di sana? Dan juga minuman aneh yang membuat seluruh tubuhku serasa dibakar api. Kau pasti telah mencampurkan sesuatu ke dalam minuman tersebut, bukan? Mengakulah selagi aku masih bersikap baik padamu. Ayo cepat mengaku!”
Regent tampak mengeratkan giginya mendengar cecaran pertanyaan dari Casandra. Dia bukan marah ataupun merasa tersinggung, tapi Regent merasa kesal karena sejak kejadian malam itu hidupnya terus-terusan tertimpa kemalangan. Dan kemalangan paling buruk adalah kondisinya saat ini. Terbaring tak berdaya dengan tulang patah di mana-mana.
“Cepat jawab aku, Regent. Atau aku akan ….
“Akan apa, hem? Menyakitiku seperti waktu itu?” sela Regent seraya menampilkan senyum sinis. “Cassey-Cassey, memangnya apa sih yang bisa di perbuat oleh wanita manja sepertimu. Jadi janganlah sok menakut-nakuti aku seakan kau mampu melakukannya. Tahu tidak, di telingaku itu terdengar menggelikan sekali. Sungguh!”
“Oh, jadi kau meremehkan aku ya?”
Merasa tertantang, tanpa pikir panjang Casandra langsung menekuk tangan Regent ke atas. Setelah itu dia memukul jari tangan Regent yang terpasang gips menggunakan tas kulit buayanya. Dan tentu saja perbuatan Casandra membuat Regent menjerit sejadi-jadinya. Namun, hal itu tak serta-merta membuat Casandra merasa iba. Dia malah semakin kerasukan dengan memukul wajah Regent berulang kali hingga lubang hidungnya mengeluarkan darah segar.
“Hah, Ayah?”
Casandra tertawa penuh ejek. Dia kemudian menoleh menatap kedua penjaga yang hanya berdiri diam sambil menonton permainannya. “Kalian berdua, dimana Pamanku? Seharusnya tadi kalian sudah membuatnya di tangani oleh dokter ‘kan?”
“Anda tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Tuan Eriko, Nona. Cukup fokus menghajar pria lemah itu saja. Yang lain biar kami yang urus,”
“Oke. Ini baru yang namanya kesenangan!”
Regent seolah tak percaya mendengar apa yang baru saja di katakan oleh penjaga Casandra. Kalau sudah begini keadaannya, itu artinya sudah tidak ada jalan untuk Regent menyelamatkan diri. Dia lalu menatap lekat pada Casandra yang tengah menyeringai seram sembari membunyikan jari-jari tangannya.
__ADS_1
“Kau jangan gila, Cassey. Aku sepupumu, kau mana boleh menyerangku seperti ini. Sadarlah!” ucap Regent berusaha membujuk agar Casandra tidak menyakitinya lagi.
“Sadar?” Casandra terkekeh. “Tadikan aku sudah memintamu untuk menjawab selagi aku masih bisa bersikap baik, tapi apa yang terjadi? Kau malah mengejek dan menyebutku sebagai gadis manja. Dan setelah aku terpancing emosi dengan seenak jidat kau memintaku untuk sadar? Hahaha, belajar melawak dari siapa kau, Regent. Lucu sekali!”
“Cassey, aku tidak tahu apa tujuanmu bertanya seperti itu kepadaku. Satu yang jelas, malam itu aku sama sekali tidak melakukan hal yang salah kepadamu. Alasan mengapa aku meninggalkanmu sendirian di acara itu adalah karena ada hacker yang meretas sistem keamanan di perusahaanku. Dan tentang minuman itu, aku … aku!" ....
Regent kesulitan melanjutkan perkataannya ketika menyinggung tentang minuman yang sebenarnya telah dia campur dengan obat perangsang. Dengan kondisi Casandra yang sedang terbakar emosi, bukankah sama artinya dengan bunuh diri kalau Regent sampai mengakui kebenarannya?
“Aku apa? Hah?” Casandra meradang. Di cekiknya leher Regent yang kala itu terpasang gips. Sungguh, Casandra benar-benar sangat ingin menghabisi bedebah satu ini. Dengan marah Casandra kembali mengeluarkan unek-unek yang terpendam di dalam hati, termasuk juga dengan kecurigaan tentang adanya persekongkolan antara Regent dengan Jove.
“Dengar ya, Regent. Jangan kau pikir aku tidak tahu kalau kau sengaja berbuat begitu padaku dengan tujuan agar Jove mendapatkan aku. Dengan kau memberikanku kepadanya, maka semua bisnismu akan berjalan lancar. Aku benar ‘kan?”
“A-apa? Jove?”
Ada apa ini. Kenapa Cassey tiba-tiba menuduhku ada main dengan Jove. Jangan-jangan ….
“Cassey, jangan bilang malam itu orang yang telah membawamu pergi adalah Jove. Apa aku benar?” tanya Regent memastikan. Dia sudah tidak mempedulikan rasa sakit di lehernya lagi. Kebenaran tentang siapa orang yang telah menyelamatkan Casandra dari pengaruh obat perangsang itu jauh lebih penting daripada rasa sakit yang dia terima.
“Halah, jangan pura-pura tidak tahu kau, Regent. Dasar bajingan kau ya. Gara-gara perbuatanmu sekarang aku harus menyerahkan hidupku pada bajingan seperti Jove. Memang brengsek kau ya. Aku akan membunuhmu!”
Tepat ketika kegilaan Casandra semakin memuncak, Eriko datang bersama dengan beberapa security rumah sakit. Sontak saja hal ini membuat Casandra terpaksa melepaskan Regent. Dia lalu dengan marah mengajak kedua penjaga pergi dari sana karena tak sudi memberi atau mendengar penjelasan apapun baik dari Regent maupun sang paman. Terlalu membuang waktu, begitu pikir Casandra.
“Antarkan aku ke L Group. Sekarang!” perintah Casandra begitu duduk di dalam mobil. Dia lalu mendengus marah.
“Baik, Nona,” sahut penjaga patuh.
__ADS_1
***