The Devil JOVE

The Devil JOVE
27. Tubuh Yang Panas


__ADS_3

Casandra yang tidak terbiasa menghadiri acara-acara seperti ini sempat merasa kaget ketika melihat ada banyak sekali wartawan yang menunggu di depan pintu masuk acara. Bahkan jalan menuju tempat pesta berlangsung telah dilapisi karpet merah seolah para tamu adalah para model yang sedang melakukan fashion show. Luar biasa sekali. Ternyata dunia luar sebegini indahnya. Casandra jadi menyesal karena tidak mengikuti acara megah seperti ini sejak dulu.


“Baby, ayo gandeng tanganku!” ucap Regent sambil menyorongkan sebelah tangannya, berharap kalau dia dan Cassey akan sama-sama melewati karpet merah layaknya pasangan kekasih.


“Cihhh, kau pikir aku ini apa. Bayi besar yang tidak bisa melihat jalan?” sahut Cassey sambil menyingkirkan tangan Regent yang hampir menyentuh lengannya. Najis sekali dia jika harus menggandeng lengan sampah ini. Yang ada bukannya merasa senang, Cassey malah akan tertular penyakit menjijikkan. Muak sekali dia.


“Cassey, jangan mulai. Kau datang kemari dengan membawa nama baik Paman Cadenza dan juga Bibi Elzavat!” tegur Regent berusaha sabar menyikapi kekeraskepalaan Cassey. Dia kemudian tersenyum saat ada wartawan yang mengarahkan kamera untuk memotretnya.


Sialan. Jangan sampai kau mempermalukan aku di sini, Cassey. Kau akan membayarnya dengan sangat mahal nanti.


Begitu nama kedua orangtuanya di sebut, mau tidak mau Cassey akhirnya bersedia untuk menggandeng lengan Regent. Dia kemudian tersenyum canggung saat lenza kamera banyak tertuju ke arahnya. Sambil memegang kuat lengan Regent, Cassey melangkah melewati karpet merah. Dia sama sekali tidak menyadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya tanpa kedip. Dan pemilik mata itu adalah Jove, takdirnya.


“Jangan biarkan para wartawan itu menulis berita yang tidak-tidak tentang Casandra, Frank. Pastikan berita tentangnya tidak ada yang menarik perhatian!” perintah Jove setelah Casandra masuk ke dalam gedung.


“Baik, Tuan. Saya akan segera memerintahkan anak buah kita agar mensortir berita yang memuat tentang Nona Casandra,” sahut Franklin patuh.


“Pastikan juga kau sudah mengatur orang untuk mengawasi mereka yang coba-coba mengambil darah milikku. Saat ada gelagat yang mencurigakan, langsung habisi saja. Jangan membuka peluang apapun untuk mereka mengetahui rahasia Casandra.”


“Baik, Tuan.”


Setelah berkata seperti itu Jove mengajak Franklin kembali ke mobil. Karena mereka datang hanya untuk mengawasi Regent dan Casandra saja, Jove sengaja meminta Franklin untuk memarkirkan mobil di tempat yang agak jauh dari lokasi pesta. Karena sekarang Casandra sudah datang, mereka akan berpindah ke parkiran. Ini Jove lakukan agar nantinya dia bisa dengan mudah membawa Casandra pergi dari pesta ketika Regent sudah melancarkan trik liciknya.

__ADS_1


Sementara itu di dalam ruang pesta, Regent langsung mengajak Cassey untuk menyapa pemilik acara. Dia yang sebelumnya memiliki hubungan dekat dengan Tuan Zian, pemilik EH Group, dengan senyum lebar memperkenalkan Cassey pada mereka. Meski harus memakai embel-embel sepupu, Regent dengan penuh bangga memuji kecantikan Cassey di hadapan Tuan Zian. Dia seolah ingin menegaskan kalau Cassey hanya boleh dimilikinya seorang saja.


“Tuan Zian, selamat atas acara anda. Saya mewakili Ayah dan L Group dengan sepenuh hati ingin mengajak anda bersulang,” ucap Cassey seraya mengangkat segelas wine ke hadapan Tuan Zian yang sejak tadi terus mencuri-curi pandang terhadapnya. Ini menjijikkan, tapi sedikit jauh lebih baik daripada harus mendengar bualannya Regent. Itu seribu kali jauh lebih menjijikkan lagi. Sungguh.


“Terima kasih banyak atas ucapannya, Nona Casandra. Saya sungguh merasa sangat tersanjung karena menjadi orang pertama yang di hadiri acaranya oleh orang sehebat dan secantik anda. Cherrss!” sahut Tuan Zian dengan senyum manis mengembang di bibirnya.


“Cheersss,” ….


Ekor mata Regent terus melirik ke arah segelas wine yang secara perlahan mulai diteguk habis oleh Cassey. Setelah memastikan wine itu benar-benar habis, seulas seringai tipis langsung menghiasi bibirnya. Apa kalian penasaran penyebab mengapa Regent bisa terlihat begitu bahagia? Jawabannya hanya satu. Dia telah menambahkan obat perangsang ke dalam minuman yang baru saja diminum oleh Casandra. Kenapa bisa seperti itu? Karena Regent adalah orang yang telah memberikan minuman tersebut. Tentu saja ini bukanlah hal yang sulit bagi seorang Regent untuk menuangkan dua tetes obat perangsang ke dalamnya mengingat karena dia sudah menyiapkannya lebih dulu dari sebelum berangkat kemari. Jadilah sekarang Regent hanya perlu menunggu kapan waktunya tiba untuk dia menikmati malam dengan sepupunya yang sangat luar biasa menggoda ini.


Ughhhh, kenapa rasanya gerah sekali ya? Apa ini karena aku belum terbiasa membaur dengan orang-orang ini? Aneh.


“Nona Casandra, you okay?” tanya Tuan Zian cemas melihat wajah Casandra yang tiba-tiba memerah.


“Oh, toiletnya ada di sebelah sana. Perlu saya antar?”


“T-tidak usah. Saya bisa sendiri.”


“Baiklah kalau begitu. Hati-hati."


Regent yang menyadari kalau obat perangsang itu sudah mulai bekerja segera mengikuti Cassey yang berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Dia tadi sengaja meninggalkannya sebentar berbincang dengan Tuan Zian dengan maksud membuat alibi sebelum nanti Regent menidurinya. Idenya bagus sekali bukan?

__ADS_1


“Akhhh, sial. Kenapa tubuhku serasa terbakar dan nafasku menjadi sesak? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” keluh Cassey sambil menyenderkan tubuhnya ke dinding.


“Cassey, apa yang terjadi dneganmu? Tuan Zian bilang wajahmu tiba-tiba memerah. Kau demam?” tanya Regent pura-pura tidak tahu. Dia kemudian memperhatikan keadaan sekeliling. Beruntung Cassey memilih jalan yang salah, jadi posisi mereka sekarang bukan di lorong menuju kamar mandi. Melainkan lorong menuju pintu belakang acara yang terhubung langsung dengan tempat parkir. Sungguh tempat yang sangat cocok sekali bukan untuk … ekhm ekhm.


“Regent, tolong aku. Aku … aku tidak bisa bernafas dan tubuhku begitu panas. Tolong aku,” jawab Cassey dengan suara gemetar. Tatapan matanya begitu gelisah, dia membutuhkan sesuatu yang bisa membantunya merasa tenang.


“Apa tidak salah kau meminta tolong padaku, Cassey? Nanti kalau kau menyesal bagaimana?”


Tanpa menunggu Cassey menjawab, Regent sudah lebih dulu merengkuh pinggangnya. Setelah itu Regent mengendus leher Cassey, membaui aroma wangi dari wanita yang tengah terbakar birahi ini. Dan ketika Regent hendak memagut bibirnya Cassey yang terus men**sah, dengan sialnya ponsel di saku Regent berdering. Awalnya hal itu di abaikannya. Namun ketika deringan ponsel terus saja terdengar, dengan sangat terpaksa Regent menunda kesenangannya kemudian mengangkat panggikan yang ternyata adalah asistennya yang menelpon.


“Kalau bukan hal penting yang kau sampaikan, aku bersumpah akan ….


“Tuan Regent, ada yang membobol data perusahaan. Sebagian nama investor bocor ke publik. Sekarang juga anda harus segera datang ke Omari Group. Ini genting, Tuan Regent!”


“APAAAA???”


Tak mempedulikan Cassey yang sudah setengah sadar dan setengah tidak sadar, Regent langsung berlari pergi meninggalkannya. Yang dia pikirkan hanya satu, segera menyelamatkan Omari Group dari kehancuran. Bisa gawat jika CL Group sampai melihat data-data para investor yang sudah dengan susah payah Regent dapatkan.


Sementara itu Cassey yang sudah sangat kepanasan berjalan tak tentu arah sambil terus merintih dan melenguh. Pikiran dan tubuhnya sudah tak terkontrol lagi. Dan yang di inginkannya hanya satu, pelepasan. Mungkin jika hal ini dilihat oleh pria hidung belang, mereka pasti akan menganggap Cassey sebagai mangsa yang begitu empuk. Seorang wanita cantik yang tengah menggeliat kepanasan efek obat perangsang yang tidak sengaja diminum olehnya, membuat penampilan Cassey menjadi semakin hot saja. Dengan pandangan mata yang berkunang-kunang, Cassey melihat ada seorang pria berpakaian serba hitam tengah berdiri di samping sebuah mobil. Tanpa banyak kata lagi Cassey pun menghampiri pria tersebut kemudian menghambur memeluknya.


“Tolong aku,” bisik Cassey setengah men**sah. Tatapannya sayu dan jantungnya berdebar dengan sangat kuat. “Tubuhku panas sekali. Tolong aku, Tuan," ….

__ADS_1


***


__ADS_2