
TEMAN-TEMAN, MAAF YA KEMARIN EMAK SALAH LAPAK. LAGI SIBUK BANGET SAMPE NGGAK SADAR MASUKIN BAB NOVEL LAIN. KEBETULAN PAS MAU EDIT SINYAL EROR SAMPE TENGAH MALAM. SEKALI LAGI HARAP MAKLUM ATAS KETIDAKSENGAJAAN INI YA. 🙏🙏🙏🙏
**
Hampir saja kepala Awan terantuk kursi depan mobil saat anak buahnya tiba-tiba mengerem mendadak. Dia yang sedang sibuk mencari informasi reflek menodongkan senjata ke arah anak buahnya saat menoleh ke belakang.
"Apa kau sudah bosan hidup?" tanya Awan dingin. "Berani sekali kau mengganggu konsentrasiku. Lancang!"
"Tuan, maaf. Sepertinya kita di serang," ucap si penjaga sambil menunjuk ke arah depan.
"Di serang?" Awan membeo. Dia segera memiringkan kepala untuk membuktikan ucapan anak buahnya. Dan benar saja. Terlihat di depan sana ada sebuah mobil yang menghadang jalan. Geram, Awan memutuskan untuk keluar saja. Dia ingin tahu manusia mana yang sudah berabis menghadang perjalanannya.
Pamela yang sedang sibuk memeriksa make-up langsung memekik kesenangan saat bawahannya berkata kalau Awan kini sedang bejalan menuju mobil mereka. Pamela panik, takut kalau-kalau penampilannya berantakan yang mana bisa membuat pria itu merasa bosan.
"Jangan khawatir, Nona Pamela. Anda adalah wanita paling cantik yang pernah saya lihat di dunia ini," hibur bawahan Pamela.
"Ck, jangan menggodaku. Di hadapanmu sekarang sedang ada kekasihku, memangnya kau tidak takut ya di habisi olehnya," sahut Pamela menggerutu. Dia kemudian berdehem, merapihkan rambut saat Awan mengetuk kaca mobil.
Tok tok tok
"Keluarlah sebelum aku menembak kepala kalian dari luar mobil. Sekarang!" ancam Awan sambil menempelkan ujung pistol ke kaca mobil. Dia berusaha sabar menunggu pemilik mobil keluar. Walau sebenarnya hatinya sudah diliputi amarah yang sangat besar.
Tak berapa lama kemudian pintu mobil pun terbuka. Sepasang kaki jenjang yang sangat mulus dan putih keluar memijak tanah hingga membuat Awan mengerutkan kening. Dia sama sekali tak menyangka kalau orang yang menghadang jalan ternyata adalah seorang wanita.
Siapa wanita ini? Berani sekali dia menghentikan rombongan mobil orang lain. Aku harus waspada. Nyali besar seperti ini hanya bisa dimiliki oleh wanita tertentu.
"Hai!" Pamela menyapa ramah sambil melambaikan tangan begitu dia keluar dari dalam mobil. Sambil tersenyum malu-malu, Pamela menatap Awan yang tengah menatap tak berkedip. Sepertinya pria ini terpesona. Hehehe.
"Siapa kau?" tanya Awan terheran-heran akan sikap santai wanita di hadapannya. Lain daripada yang lain, dan hal ini membuat Awan merasa sangat penasaran sekali.
"Aku Pamela. Calon kekasihmu," jawab Pamela tanpa ragu. Tanpa merasa takut sedikitpun, dia melangkah ke hadapan Awan kemudian mengedipkan mata. "Pamela Thampson, adik sepupunya Jove Lorenzo. Kenal?"
Bagai di sambar petir, tubuh Awan langsung menegang kaku begitu dia tahu identitas dari wanita yang ada di hadapannya. Belum juga dia sampai di tempat yang di tujunya, bahaya besar sudah datang menghampiri. Mungkinkah ini adalah petunjuk kematiannya? Entahlah, dada Awan berdesir takut. Melawan Jove saja harus mengumpulkan keberanian sekuat mungkin, lalu ini? Pamela Thampson, astaga. Nasib sial apa yang di gariskan Tuhan untuk Awan sehingga harus mendengar kalimat "calon kekasihmu" keluar dari mulut wanita di hadapannya.
__ADS_1
"Ekhmmmmm, aku tahu kalau aku ini sangat cantik dan menarik. Tapi tidak perlulah sampai kau bereaksi seperti ini. Kenapa, hem? Terpesonakah?" ucap Pamela sambil tersenyum malu-malu. Ternyata dugaannya memang benar kalau Awan pasti akan langsung jatuh cinta padanya jika berpenampilan feminim seperti ini. Syukurlah. Untung saja otak cerdasnya bisa bekerja dengan baik tadi. Kalau tidak, Pamela pasti akan muncul dengan memakai pakaian sesuka hati dia yang lebih nyaman pakaian simpel.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Awan ingin tahu. "Aku tidak mengenalmu dan tidak pernah terlibat urusan apapun denganmu. Kenapa tiba-tiba kau menghadang jalanku dengan anak buahku? Apa tujuanmu sebenarnya?"
"Tentu saja tujuanku adalah menyapa calon kekasihku. Apalagi memangnya?" jawab Pamela jujur.
"Nona, di antara kita berdua itu tidak saling kenal. Jadi mana mungkin aku adalah kekasihmu. Jangan konyol kau!"
"Ck, malah tidak percaya!"
Pamela menghela nafas panjang. Dia sedikit kesal atas hardikan yang Awan lontarkan. Sambil memilin rambut bawahnya, Pamela meminta agar bawahannya menunjukkan bukti foto bahwa sudah dari beberapa waktu belakangan dia mulai memperhatikan setiap gerak-gerik Awan.
"Berikan foto itu kepadanya. Sepertinya dia lupa kalau di antara kami sudah terikat hubungan secara tak kasat mata!"
"Baik, Nona."
Anak buah Awan langsung maju ke depan saat anak buah Pamela melangkah maju. Sedangkan Awan sendiri, dia memilih untuk terus memperhatikan Pamela. Dia memang tahu tentang kehidupan ibunya Jove, tapi wanita ini? Keberanian macam apa yang membuatnya bisa begitu santai? Awan benar-benar dibuat penasaran setengah mati olehnya. Dia yakin pasti ada beking kuat yang membuat Pamela bisa ada di hadapannya sekarang, bahkan mengaku sebagai calon kekasihnya.
"Troublemaker?" Kedua sisi rahang Awan mengerat. Matanya berubah bengis ketika anak buahnya menyodorkan foto padanya. Benar-benar brengsek. Bagaimana cara wanita ini mencuri foto yang cukup privasi? Dan itu dicuri di dalam rumahnya sendiri. Astaga.
Merasa di provokasi, Awan mendorong semua anak buahnya agar jangan menutup jalan. Dia lalu berjalan cepat ke hadapan Pamela kemudian langsung mencekiknya. Namun, reaksi wanita ini membuat Awan heran setengah mati. Jika wanita lain yang mendapat perlakuan kasar seperti ini, dijamin wanita-wanita itu pasti akan langsung menangis ketakutan. Tapi Pamela? Pamela bahkan hanya tersenyum saja tanpa menunjukkan reaksi sakit atau takut atas apa yang Awan perbuat.
"Kau ... siapa kau sebenarnya hah? Apa maksudmu melakukan semua ini. Jawab!" bentak Awan dengan kilat amarah memuncak. Dia menambah tekanan cekikan di leher Pamela, tapi wanita benar-benar bebal. Masih tak berusik dan hanya tersenyum sambil terus menatapnya, membuat gejolak amarah di diri Awan semakin melonjak setinggi-tingginya.
"Namaku Pamela, Pamela Thampson lebih tepatnya. Tadikan aku sudah bilang. Tidak dengar ya? Atau jangan-jangan saking terpesonanya dirimu padaku sampai gendang telingamu pun menjadi tidak bisa merespon perkataanku. Benar?" sahut Pamela dengan santainya. Ayolah, ini sangat romantis. Yang dilakukan Awan kepadanya benar-benar membuat Pamela sangat gembira. Bagaimana tidak gembira. Di pertemuan pertama mereka, Awan sudah berani menyentuhnya. Tidakkah menurut kalian ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa beruntung? Xixixi.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Entah itu Pamela Thampson ataupun Pamela-Pamela lain, aku tidak peduli. Yang ingin aku tahu apa tujuanmu memata-mataiku hingga saat mandi pun kau bisa memiliki fotoku. Cepat jelaskan sebelum aku berubah pikiran kemudian meminta anak buahku untuk menghabisimu!"
Pamela tersenyum. Tapi di detik selanjutnya, senyum yang menghiasi bibir berubah menjadi smirk tipis yang mana bisa membuat orang yang sudah mengenal siapa Pamela akan gemetar ketakutan. Smirk itu adalah tanda kalau dia sudah terpancing kesal. Dan biasanya akan berakhir dengan dia melukai seseorang.
"Aku menyukaimu. Karena kau dan aku mempunyai fisi dan misi yang sama. Tak perlu ku jelaskan fisi misi apa itu, tapi yang jelas aku suka kau karena kita sama. Jadi sebaiknya aku turunkan sedikit nada suaramu agar aku tidak mempunyai keinginan lain selain menyukaimu. Paham?"
Awan terkekeh. Yang benar saja dia di ancam dengan seorang wanita. Merasa tersinggung, Awan mendekatkan wajahnya ke depan wajah Pamela kemudian menatap tajam. Sangat amat tajam seolah tatapannya mampu menembus hingga ke tulang belulangnya.
__ADS_1
"Dengarkan aku baik-baik, wanita sinting. Fisi misi? Baru kali ini aku mendengar ada manusia yang dengan tidak tahu malunya berkata seperti itu di hadapanku. Jangan kau kira statusmu sebagai adik sepupunya Jove akan membuatku merasa takut ya. Tidak, tidak sama sekali. Jadi aku minta kau jangan pernah memprovokasi kemarahanku terlalu jauh. Karena apa? Karena aku tak pandang bulu jika ingin menghabisi lawan. Mengerti?"
"Oh ya? Uuu takut sekali!"
Entah kapan Pamela membawa belati, tiba-tiba saja tangannya sudah berlumuran darah dalam sekali gerakan. Awan yang tidak menyangka kalau wanita ini akan menyerangnya segera menunduk kemudian menggeretakkan gigi saat tangan gadis ini merayap seperti ingin memasukkan jari ke luka mengaga yang baru saja di buatnya.
Sial. Sebenarnya siapa wanita sinting ini. Kenapa aku merasa kalau jiwanya adalah seorang psikopat? Mungkinkah Pamela adalah seseorang yang berada di balik kekuasaan Jove?
"Jangan berpikir terlalu banyak tentangku, sayang. Karena hal itu hanya akan membuatmu merasa sakit kepala!" ucap Pamela sambil terus jarinya bermain-main di atas lukanya Awan. Tatapan matanya begitu dalam, hingga dia bisa merasakan kalau pria di hadapannya mulai kesakitan. Meski begitu, Pamela tak berniat menghentikan apa yang sedang dia lakukan. Terlalu menyenangkan, membuatnya jadi merasa seperti sedang bermain squishy basah yang berasal dari makhluk hidup. Hahaha.
"Kau wanita gila. Singkirkan tanganmu dari tubuhku!" umpat Awan enggan menyentuh tangan wanita ini yang masih berada di perutnya. Namun karena rasa sakit itu terasa begitu menyiksa, Awan akhirnya menyerah. Dia melepaskan cekikannya kemudian mundur ke belakang Sementara anak buahnya, tidak ada satupun yang berani mendekat atau menyerang Pamela. Mereka dilema. Karena pria yang berdiri di sebelah wanita itu memamerkan benda yang bisa membuat mereka mati gosong dalam sesaat. Peledak, you know that.
"Hmmm, seperti yang aku duga kalau darahmu pasti beraroma wangi dan manis. Aku suka," lirih Pamela sembari menjilati tangan yang berlumuran darah. Setelah dia ekpresinya kembali berbeda. Pamela tersenyum dengan sangat manis seraya memperhatikan lekat ke arah Awan yang terlihat sangat marah. "Sayang, aku rasa pertemuan pertama kita cukup sampai di sini dulu. Aku harus segera pulang karena tadi aku belum sempat makan. Nanti setelah aku beristirahat, aku pasti akan datang menjengukmu. Oke?"
"Berhenti memata-mataiku!" teriak Awan jengkel.
"Baiklah. Tapi sayang, sekalipun bersembunyi di dalam perut bumi aku akan tetap menemukanmu. Jadi janganlah kau membuang waktu dengan mencari tempat persembunyian yang baru. Nanti aku jadi repot."
"Kau ....
"Ah, kakiku pegal. Ayo kita pulang!" ucap Pamela tak menghiraukan kemarahan Awan. Dia dengan santainya kembali masuk ke dalam mobil setelah bawahannya membukakan pintu. Begitu masuk, Pamela langsung menurunkan kaca mobil kemudian mengacungkan jari telunjuk. Tepat begitu mobil bergerak, dengan gerakan yang sangat sensual dia kembali menjilat darah seraya tersenyum lebar ke arah Awan dan anak buahnya. Setelah itu Pamela tertawa. Sangat kencang.
Dengan tatapan yang sangat nyalang Awan terus memperhatikan perbuatan Pamela. Sungguh, sikap gadis itu membuat Awan merasa seperti sedang berhadapan dengan dirinya dalam versi wanita. Bedanya wanita itu terlalu blak-blakan dalam bertindak, sedangkan Awan lebih terkesan diam, baru kemudian bunuh.
"Bos, anda baik-baik saja?" Seorang penjaga datang mendekat kemudian bertanya pada bosnya. Dan di detik selanjutnya dia dibuat terkaget-kaget melihat darah segar yang merembes keluar dari arah perut. "Bos, anda terluka!"
"Kita lanjutkan perjalanan sekarang juga. Aku butuh sesuatu yang bisa meredakan kemarahanku. Sekarang!" sahut Awan kemudian memutar menuju mobil. Dia tak mengindahkan tetesan darah yang terus keluar membasahi pakaian.
"Baik, bos!"
Pamela, awas aja kau. Cepat atau lambat aku pasti akan membuat perhitungan denganmu. Yang terjadi hari ini tidak akan pernah kulupakan? Calon kekasihku? Cuihhhh, matipun aku tidak akan sudi menjalin hubungan dengan wanita sinting sepertimu.
***
__ADS_1