
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Setelah memperingatkan Fidel, Jove pergi menuju hotel guna menemui Casandra. Sudah cukup seharian ini dia membiarkan wanita itu menghancurkan semua barang yang ada di dalam kamar hotel, bahkan dua anak buahnya sampai ikut menjadi korban saat mencegah Casandra yang ingin melompat dari jendela. Sungguh seorang strongwoman yang sangat luar biasa sekali. Jove sampai terpana melihat bagaimana Casandra mengamuk seperti itu. Sungguh.
“Tuan!” sapa para penjaga sambil menundukkan kepala mereka. Bos besar sudah datang.
“Apa dia masih belum berhenti mengamuk juga?” tanya Jove sambil melirik ke arah kamar tempat Casandra berada. Sudut bibirnya kemudian berkedut.
Para penjaga saling melirik sebelum mereka sama-sama menganggukkan kepala. Jove yang melihat hal itupun menjadi semakin tidak sabar ingin segera menyaksikan secara langsung bagaimana wanitanya membuat kegaduhan. Franklin yang tahu kalau bosnya ingin masuk ke dalam kamar segera membukakan pintu kemudian berbalik menghadap belakang. Nona Casandra berbeda, jadi Franklin tidak bisa sembarangan menatapnya.
Praaaanngggg
Kedatangan Jove di sambut dengan lemparan guci kaca yang langsung pecah berhamburan di lantai. Jova yang melihat keramahan Casandra dalam menyambutnya pun hanya tersenyum saja. Dia dengan santai melangkah masuk ke dalam kamar sambil memperhatikan wanita yang tengah menatapnya penuh kebencian.
“Dasar iblis kejam. Apa-apaan kau menyekapku di tempat ini hah. Dasar sialan!” umpat Casandra dengan nafas yang menderu. Emosinya sudah tembus ke langit sejak dia bangun pagi tadi. Dan sekarang dia harus melihat langsung seperti apa rupa dari bajingan yang telah merenggut keperawanannya. Wajarkan kalau Casandra kesurupan?
“Nona, jujur saja. Aku tidak terlalu suka dengan wanita yang kasar. Jadi bersikaplah dengan lembut agar aku bisa sedikit melunak padamu. Oke?” ucap Jove sambil terus melangkah menuju Casandra. Mata elangnya terus memperhatikan perubahan emosi di diri wanita cantik ini. Sungguh menggemaskan. Jove jadi semakin tertarik untuk mempermainkan emosinya.
“Cihhh, tidak ada hubungannya denganku mau kau suka atau tidak. Itu masalahmu, dan bukan masalahku!” sahut Casandra dengan sengit. “Cepat keluarkan aku dari sini. Dasar pria cabul!”
__ADS_1
“Pria cabul?”
Jover terkekeh. “Apa tidak salah kau memberikan julukan seperti itu pada pria yang jelas-jelas telah kau perk*sa, hem? Nona, aku yakin kau masih belum lupa kalau semalam kau sendirilah yang memintaku agar memuaskanmu. Kau begitu panas, datang memohon padaku dengan wajah yang tidak berdaya. Sebagai pria baik-baik mungkinkah aku akan membiarkanmu kesakitan begitu saja? Tentu tidak.”
Sebelum sempat Casandra membalas perkataan pria cabul ini, dia sudah dibuat kaget saat tubuhnya berpindah ke pelukan pria tersebut. Dan ketika Casandra hendak mengumpat, bibirnya sudah lebih dulu di bungkam dengan ciuman. Syok, itu sudah pasti. Tubuh Briana sampai kaku karena tidak menyangka dirinya akan menerima perlakuan sedemikian rupa dari pria yang telah menyekapnya.
“Rasa manisnya masih sama persis seperti yang semalam. Aku suka,” bisik Jove sambil menj*lat bibir bawahnya. Dia kemudian tersenyum melihat Casandra yang syok dengan mata membelalak lebar. “Nona, kau sadar tidak kalau ekpresimu sekarang membuatku ingin menidurimu lagi, hem?"
Plaaakkkk
Satu tamparan mendarat dengan sangat indah di pipinya Jove setelah dia mengutarakan keinginannya yang ingin kembali bercinta dengan Casandra. Alih-alih tersinggung dan mengamuk, Jova malah tertawa sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
“Aku sungguh semakin menyukaimu, Nona. Perlawananmu membuatku merasa sangat tertantang!”
Dengan marah Casandra menunjuk wajah pria yang barusaja dia tampar. Tak sudi terus di peluk olehnya, sekuat tenaga Casandra berontak untuk melepaskan diri. Dia kemudian berlari menghindar dan memilih untuk berdiri di sisi kanan ranjang. Sambil mengelap bibirnya, Casandra mengancam akan menyakiti dirinya sendiri jika pria gila itu masih menolak untuk membiarkannya pergi.
“Kau setan sialan. Kalau kau masih tidak mau mengeluarkan aku dari tempat sialan ini, percaya tidak kalau aku akan memilih untuk mati di sini. Aku tidak sudi ya terus berada di tempat bajingan yang telah merenggut kegadisanku dengan cara yang tak beradap. Asal kau tahu saja. Semalam aku mendatangimu karena aku tidak bisa mengontrol tubuhku yang tiba-tiba kepanasan. Jadi kau jangan besar kepala dengan menganggap kalau aku yang telah memperk*samu. Dasar brengsek!” maki Casandra dengan kasar.
“Oh, begitu ya?”
Jove mendudukkan bokongnya di pinggiran ranjang king size miliknya. Setelah itu Jove menoleh. Namun kali ini tatapan Jove terlihat begitu dingin. Dia benar-benar tidak suka dengan orang yang berani bicara kasar di hadapannya.
“Nona Casandra Lin, kalau memang benar kau berani untuk mati di sini maka silahkan lakukan di hadapanku sekarang juga. Kau yang telah bermain api, maka kau juga yang harus memadamkannya!” ucap Jove meminta Casandra untuk melakukan ancaman yang tadi di sebutkannya. Dia ingin melihat sejauh mana wanita ini memiliki keberanian diri dengan tidak mempermainkan kata-katanya sendiri. Sekalian Jove ingin menilai seberapa pantas Casandra untuk menjadi Nyonya Lorenzo. Dan yang Jove harapkan adalah Casandra akan benar-benar melakukannya.
__ADS_1
Whaattt? Jadi bajingan ini menantangku? Hah, benar-benar sulit di percaya. Tapi tidak masalah. Yang sedang kau hadapi adalah Casandra Lin, wanita kuat yang tak takut pada apapun. Jangan kau kira aku akan mundur mendengar gertakanmu ya. Aku ini Casandra, bukan wanita lemah yang hanya besar mulut saja. Heh.
Sambil menyeringai samar, Casandra mencari-cari benda apakah yang bisa dia gunakan untuk mengakhiri hidupnya. Dia lalu tak sengaja menemukan pecahan kaca yang terselip di bawah ranjang, lalu memutuskan untuk mengambilnya. Tanpa pikir panjang lagi Casandra segera menggunakan pecahan kaca tersebut untuk memotong urat nadi di tangannya. Dan dalam hitungan detik lantai di kamar itu sudah tergenangi aliran darah yang berasal dari luka sayatan di pergelangan tangannya.
“Kau lihat ini, setan. Aku bukan wanita yang bisa kau gertak. Daripada aku harus terus berada di tempat menjijikkan ini, aku lebih memilih untuk mati saja. Kau dengar itu?!” teriak Casandra dengan mata yang mulai berkunang-kunang.
Sial. Sepertinya aku akan segera bertemu dengan malaikat maut. Haih, memalukan sekali. Harusnya aku bisa tampil cantik saat berjumpa dengannya. Tapi ini? Jangankan cantik. Mandipun tidak. Benar-benar moment yang tidak di sangka-sangka.
Jove diam tak bergeming melihat Casandra yang benar-benar menyakiti dirinya sendiri. Terpesona, itu yang Jove rasakan. Ternyata pilihannya memang sudah sangat tepat dengan menjadikan Casandra sebagai miliknya. Dan Jove baru bereaksi saat Casandra jatuh tergolek ke atas genangan darah. Sambil menggulung lengan kemejanya, Jove berjalan mendekat kemudian berjongkok. Dia lalu membelai wajah Casandra yang sudah memucat.
“Mengapa kau terlihat semakin cantik saat sedang sekarat seperti ini, Casandra? Apa kau tahu, keberanianmu barusan benar-benar membuatku merasa sangat terpana. Kau begitu berani dan mempesona. Benar-benar tipikal wanita yang sangat cocok untuk menjadi pendampingku!” gumam Jove sambil tersenyum penuh haru. Setelah itu Jove melepas kemeja, lalu menggunakannya untuk mengikat pergelangan tangan Casandra yang terus mengeluarkan darah. “Franklin!”
“Ya, Tuan!”
Franklin sedikit kaget melihat Nona Casandra yang tidak sadarkan diri di atas genangan darah. Dia lalu menundukkan kepala saat bosnya menatapnya sambil tersenyum aneh.
“You see that? Sambutlah. Mulai detik ini Casandra sudah benar-benar resmi menjadi majikan barumu. Bagilah perhatianmu untuk melindunginya juga!” ucap Jove penuh bangga.
“Baik, Tuan. Saya bersumpah mulai saat ini saya dan anggota yang lain akan menjadikan keselamatan Nona Casandra sebagai perintah nomor satu di hidup kami. Dan jika Nona Casandra sampai terluka, nyawa kami taruhannya!” sahut Franklin dengan lantang menyatakan sumpah setianya untuk melindungi dan menjaga majikan barunya.
Jove mengangguk. “Sekarang panggilkan dokter. Aku tidak mau Casandra mati konyol karena mencoba bunuh diri.”
“Baik, Tuan. Saya permisi!” sahut Franklin kemudian segera menghubungi dokter pribadi bosnya. Dia lalu meminta penjaga memanggil pelayan untuk membereskan keadaan kamar yang sudah mirip dengan kapal pecah. Sedang bosnya sendiri memilih untuk membopong dan memangku tubuh lemas Nona Casandra sambil menunggu dokter tiba di sana. Luar biasa.
__ADS_1
***