
Sreeettt
"Kau cantik memakai gaun ini." Jove berbisik di samping telinga Casandra setelah membantu menarik resleting gaun. Satu jarinya bergerak menyusuri bentuk tubuh wanita ini yang tercetak seksi sebab gaun yang melekat pas di tubuhnya. "Juga menggoda. Aku suka."
Tengkuk Casandra meremang. Matanya sampai terpejam saking merasa geli saat Jove tak berhenti berbisik dan memuji. Setelah acara lamaran yang begitu dadakan, pria ini langsung menggendongnya keluar guna menemui seorang desainer yang Casandra kenal sebagai desainer paling top di negara mereka. Merasa bingung akan apa yang terjadi, diapun bertanya. Dan alangkah terkejutnya Casandra saat tahu kalau desainer itu sengaja didatangkan adalah untuk menyiapkan gaun yang akan dipakainya untuk menyambut kedatangan orangtua Jove dan juga Kiara. Ah, sedikit berlebihan memang. Namun, dari sikap ini Casandra coba melihat kesungguhan Jove yang seperti ingin menegaskan bahwa dia seribu kali lebih layak dari mantan teman tidurnya itu. Anggaplah Casandra cemburu, itu benar. Hehe.
"Rambutmu biarkan tergerai saja. Aku bisa lepas kendali jika melihat tengkukmu yang putih terekspos liar," ucap Jove tak ragu menyatakan ketertarikannya. Dia kemudian menelan ludah saat aroma wangi tubuh Casandra menyapa indra pendengarannya.
"Jangan seterus-terang inilah, Jove. Kita masih belum menikah. Hargailah aku sedikit," sahut Casandra mencoba meredam gejolak birahi pria di belakangnya. Ini dia sadari saat mendengar suara nafas Jove yang mulai memburu.
"Tomorrow?"
"Maksudnya?"
"Kita menikah besok."
Plaaakkk
"Sembarangan. Kau pikir pernikahan macam apa yang bisa terjadi hanya dalam waktu semalam?" cibir Casandra setelah menggeplak tangan Jove yang tengah melingkar di pinggangnya. Ada-ada saja. "Jangan lupa. Kita sekarang bukan sedang berada di dunia dongeng. Jadi jangan melantur. Tahu?"
"Asalkan kau menjawab iya, maka besok pagi pernikahan itu pasti terjadi," sahut Jove sembari menciumi rambut Casandra dari belakang. "Tidak percaya?"
"Ya ya ya, tentu saja aku percaya kalau kau mampu mewujudkan pernikahan itu. Secara, kau itukan Jove Lorenzo, penjahat yang bisa membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Iya, kan?"
"Kau mengenalku dengan baik ternyata."
"Bukan mengenalmu dengan baik, tapi dipaksa untuk menerima keburukanmu. Tahu?"
"Tapi kau suka, kan?"
Casandra kicep. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum. Berawal dari rasa benci, sekarang berubah menjadi suka. Ah, ini terlalu menjijikkan untuk di akui. Tapi mau bagaimana lagi. Gerak tubuh dan suara hati terus mendesak untuk dia menjawab iya.
"Kau benar-benar brengsek, Jove. Entah sihir apa yang telah kau tebar sehingga aku bisa menyukaimu," ucap Casandra memaki dengan suasana hati berbunga-bunga.
"Bukan sihir, tapi karena Tuhan memang sudah memilihkanmu untuk menjadi milikku," sahut Jove tak marah mendengar makian Casandra. Dia menganggapnya sebagai alunan musik syahdu yang candu.
"Apa itu semacam bualan seorang bajingan?"
"Jika suka, maka anggaplah seperti itu. Aku tidak keberatan."
"Cihh, menyebalkan."
Jove menghela nafas. Dia lalu memutar tubuh Casandra agar menghadapnya. Menggunakan jari telunjuknya, Jove menyusuri wajah wanita ini yang terlihat sangat cantik dengan polesan make-up glamor. Oh, tentu saja harus glamor. Tamu yang sebentar lagi akan datang berkunjung merupakan orang-orang yang tidak bisa di sepelekan. Ibunya, adalah wanita yang menempati urutan pertama sebagai kemuliaan di keluarga Clarence dan Lorenzo. Lalu ayahnya, adalah pria teromantis yang pernah suatu kali membuat Jove ternganga ketika menujukan cintanya pada sang ibu. Lalu yang ketiga, Kiara. Wanita yang pernah menjadi mantan teman tidurnya malam ini akan bertandang sebagai calon penjaga wanitanya. Mungkin banyak dari kalian yang bertanya-tanya mengapa Kiara. Dan jawaban dari pertanyaan itu adalah karena Jove tahu ada amarah yang akan meledak begitu Kiara mengetahui fakta tentang keluarganya.
Satu malam sebelum Kiara dilempar ke atas ranjangnya, Franklin telah menerima informasi penting kalau keluarga Kiara telah di bantai habis oleh Eriko, yang tak lain adalah ayahnya Regent. Keluarga naas itu terpaksa di habisi karena menolak untuk menjual tanah tempat mereka tinggal sehingga menghalangi jalannya pembangunan pabrik milik pria arogan itu. Awalnya Jove tak peduli karena dia merasa kalau itu bukan urusannya. Tapi setelah Kiara naik ke ranjang, mendadak kepasrahan dan ketulusan wanita itu menyita perhatiannya. Tepat setelah Kiara menceritakan tentang derita akibat ulah sang manager, Franklin langsung bergerak menyelidiki semua hal yang berhubungan tentangnya. Dan ya, semuanya sudah berada dalam kendali Jove. Termasuk juga dengan berkumpulnya para mutan yang menyerupai anggota keluarga Kiara. Ayah, Ibu, dan juga adik Kiara, mereka semua sudah mati berkalang tanah. Hanya menyisakan nisan bertulisan nama mereka saja. Bayangkan. Jika Kiara sampai mengetahui hal ini, kemurkaan seperti apa yang akan menyelimuti hidupnya? Inilah mengapa Jove memilihnya secara khusus untuk melindungi Casandra. Di dunia ini tidak ada satu hal pun yang berbahaya, selain marahnya seorang wanita ketika di buat patah oleh harapan. Yang tadinya merunduk lemah, bisa berubah bak binatang buas jika telah kehilangan titik semangatnya. Dan Kiara, adalah singa buas yang siap memangsa siapapun yang berani mencari masalah. Jove pastikan itu.
__ADS_1
Tok tok tok
"Tuan Jove, Nona Casandra. Mereka sudah datang!" lapor Franklin dari luar kamar.
"Katakan pada Paman dan Bibi kami akan segera keluar," sahut Casandra penuh semangat. Dia lalu menghentikan jari tangan Jove yang terus saja bergerak membelai wajahnya. "Kendalikan dirimu. Mantan partner se*ksmu sudah datang. Waktunya kita keluar untuk menyapa!"
"Di antara dua wanita. Siapa yang akan menang?" ucap Jove menggumam. Dia lalu menarik pinggang Casandra hingga tubuh mereka berbenturan pelan. "Kau dengan pesonamu, dan Kiara dengan amarahnya. Hmmm, aku jadi penasaran."
"Apa maksudmu bicara seperti itu?"
"Kita keluar sekarang!"
Dengan tampang kebingungan Casandra hanya bisa patuh saat Jove membawanya keluar dari dalam kamar. Benaknya banyak sekali bermunculan pertanyaan, tapi Casandra tak berniat mengungkapkan. Untuk apa. Apa pentingnya membahas tentang wanita lain? Terlebih lagi wanita itu pernah menghangatkan ranjangnya Jove. Sudah pasti mereka adalah rival secara tak kasat mata. Haihh. Menjengkelkan.
Di ruang tengah, terlihat Kiara yang duduk di samping ibunya Jove. Matanya terus saja bergerak memperhatikan setiap benda yang ada di mansion mewah ini. Luar biasa. Itu kesan pertama yang Kiara rasa begitu masuk kemari. Kekayaan seorang Jove memang tidak perlu diragukan lagi. Sungguh.
"Nah, itu mereka," ucap Rose begitu melihat Jove dan Casandra berjalan menuruni anak tangga. Segera dia berdiri kemudian mengajak Kiara untuk menghampiri mereka. "Ayo, Kiara. Bibi akan mengenalkanmu pada Casandra."
"Baik, Bibi."
Adam hanya duduk diam memperhatikan istrinya membawa Kiara ke hadapan Jove dan Casandra. Jujur, pemandangan ini lebih cocok di sebut sebagai mertua yang sedang mengenalkan calon madu ke hadapan anak dan menantunya. Ahahaha, menggelikan sekali. Adam jadi ingin tertawa atas pemikiran konyolnya.
"Halo Bibi. Selamat malam," sapa Casandra sambil memasang wajah manis. Ekor matanya kemudian melirik sinis pada wanita yang bernama Kiara. "Hai, aku Casandra. Calon istrinya Jove."
"Selamat malam kembali, sayang. Kau cantik sekali malam ini," puji Rose terkagum akan penampilan calon menantunya. Dia bersikap santai meski tadi cukup kaget saat Casandra mengenalkan diri sebagai calon istrinya Jove. Lumayan agresif, tapi Rose suka itu.
"Terima kasih banyak atas pujiannya, Bibi Rose. Aku terlihat cantik begini karena Jove mengundang seorang desainer khusus untuk mendandaniku. Walaupun bajingan, dia cukup perhatian!"
Kiara merasa canggung saat ekor mata Casandra tak henti melirik ke arahnya. Sebisa mungkin dia bersikap tenang meski sebenarnya merasa tak enak hati.
"Kiara, ayo perkenalkan dirimu," ucap Rose sambil mengelus lengan Kiara yang terlihat tak nyaman. Dia sadar kalau gadis ini merasa terintimidasi oleh sikap Casandra.
"Baik, Bibi," sahut Kiara patuh. Dia lalu menyunggingkan senyum sebelum membungkukkan tubuh di hadapan Jove dan calon istrinya. "Halo Nona Casandra. Perkenalkan, aku Kiara. Nantinya aku yang akan bertanggung jawab atas keselamatanmu setelah Bibi Rose menyatakan aku layak untuk memulai pekerjaanku. Mohon kerjasamanya!"
"Hmmm, formal sekali. Bisa tidak kau bersikap biasa saja? Jujur, aku kurang suka pada orang-orang yang terlalu patuh pada aturan," ucap Casandra langsung menegur sikap Kiara yang begitu patuh. Walaupun merasa cemburu, Casandra sebenarnya sedikit berharap kalau dia bisa mendapatkan penjaga yang hampir mirip dengan Fidel. Tapi setelah melihat sikap Kiara, sepertinya harapan itu tidak akan pernah terkabul. Sayang sekali.
"Cassey, jangan terlalu keras menekan. Kiara aku tugaskan untuk memegang tanggung jawab atas keselamatanmu. Itu artinya dia tidak bisa menjadi Fidel yang mau melakukan kebohongan demi bisa menyenangkanmu. Kau paham itu, bukan?" tegur Jove tanggap akan apa yang di harapkan oleh jaguarnya. Mana mungkin dia akan membiarkan singanya patuh seperti Fidel. Kiara harus buas dan temperamen. Dengan begitu dia baru bisa membiarkannya menjadi penjaga calon istrinya yang lumayan sulit ini.
"Lagi-lagi kau membatasiku dengan aturan. Kau menyebalkan, Jove!" sungut Casandra.
"Aku tahu." Jove menjawab singkat. "Dan kau pun tahu kalau aku tidak pernah main-main dengan perkataanku. Paham?"
Casandra melengos. Moodnya memburuk seketika. Rose yang melihat pertengkaran lucu itupun tak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum. Dia lalu menoleh, memperhatikan ekpresi yang muncul di wajah Kiara.
Begitu tenang. Artinya Kiara tidak merasa cemburu menyaksikan kedekatan Jove dan Casandra. Hmmm, apa sebenarnya yang di incar oleh Jove. Nanti begitu ada waktu, aku harus segera menanyakannya. Kali ini aku akui Jove dan Franklin benar-benar main aman. Atau ... mereka sedang menyiapkan kejutan? Semoga saja.
__ADS_1
"Haih, kenapa tidak ada yang menyadari keberadaanku ya? Jove, Casandra. Lihatlah pria malang yang sedang duduk sendirian di sini. Tidakkah kalian ingin menyapanya?" keluh Adam yang merasa di abaikan. Dia lalu beranjak dari duduknya, melangkah perlahan kemudian berhenti tepat di samping Rose. "Dan kau wanita cantik. Bagaimana bisa kau tega mengabaikan aku begitu Kiara muncul di tengah-tengah hubungan kita. Aku di duakan kah?'
"Kau ini bicara apa, Dam. Jangan mengada-ada," sahut Rose sambil menggelengkan kepala. Kalau sudah dalam mode cemburu, suaminya ini suka bicara asal.
"Aku tidak mengada-ada, Honey. Aku hanya merasa terlupakan saja. Sungguh!"
"Sekarang sudah tidak, kan?"
"Sedikit. Hehehe,"
Entah mengapa Casandra suka sekali melihat interkasi orangtuanya Jove. Walaupun tekanan intimidasi begitu kuat terasa, tapi hal itu tak membuat kedua orang ini terlihat murahan. Ini bukan tentang cibiran atau apapun itu, tapi ini tentang suatu hubungan yang terlihat sangat mahal meski kata-katanya terkesan singkat. Jika yang melakukan adalah orang lain, belum tentu Casandra akan menyukainya.
"Apa Ayah dan Ibu sudah makan malam?" tanya Jove membuka pembicaraan.
"Kami sengaja datang dengan perut kosong supaya bisa merampok semua makanan enak yang ada di mansion ini. Iyakan, Kiara?" jawab Adam berkelakar.
"Benar sekali, Paman. Bahkan saking kosongnya cacing yang tinggal di dalam perutku sampai tak bisa mengeluarkan suara. Mereka lemas," sahut Kiara ikut melemparkan candaan. Lumayanlah untuk mengakrabkan diri. Karena sepertinya Casandra tidak sejahat yang dia kira. Wanita ini baik, hanya sedikit cetus saja. Mungkin.
"Nah, kau dengar itu Jove? Kami bertiga sudah sangat kelaparan. Jadi bisakah sekarang kau meminta koki untuk menyiapkan makanan paling enak yang kalian miliki?"
Jove mengangguk. Dia melepaskan pelukannya dari tubuh Casandra saat sang ibu ingin mengajaknya berjalan bersama. Dan ketika Kiara berjalan melewatinya, Jove berbisik.
"Aku tidak bermaksud mengingkari janjiku. Saat waktunya tiba nanti, kau akan tahu mengapa aku melakukan semua ini!"
Kiara terdiam. Dia menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap ke arah Jove. "Apapun itu aku tetap akan berterima kasih padamu, Jove. Satu hal saja. Tolong biarkan aku menemui keluargaku. Aku janji aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa membuatmu marah. Boleh?"
"Bukankah Ibuku sudah mewakilkan?"
"Aku lebih suka kau yang menjawab iya."
"Ya!" Kembali Jove menjawab singkat.
"Terima kasih."
Setelah itu Kiara bergegas menyusul Casandra dan juga Bibi Rose yang sudah menunggu di ruang makan. Dia lupa kalau percakapannya dengan Jove di dengar oleh Paman Adam yang kala itu masih berada di belakangnya.
"Sepertinya kita perlu bicara serius, Jove," ucap Adam santai.
"Mari lakukan itu setelah kita selesai makan malam," sahut Jove tak kalah santai.
"Baiklah. Ayah dengan senang hati akan menunggu. Sekarang mari kita susul para wanita itu sebelum mereka membuat kekacauan."
Jove mengangguk. Dia dan ayahnya kemudian berjalan beriringan menuju ruang makan.
***
__ADS_1