VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Ospek


__ADS_3

..."Akan Ada Hari yang Cerah Setelah Badai"...


...----------------...


Setelah malam itu, Semuanya berjalan seperti biasa dan karena kesibukan Daffin di kantor ia pun sudah tak lagi mengingat pertengkarannya dengan Vanya, Ia nampak fokus pada pekerjaan sementara Vanya kini telah disibukan oleh persiapan masuk kuliah.


Leonardo Kevin Hardika



Dion Ifani Martino



...----------------...


Pagi itu di sebuah Universitas,


Semua calon mahasiswa serta mahasiswi baru, Tengah berkumpul dan berbaris dilapangan.


Vanya tengah berdiri disana bersama Fani dan juga Meta, Mereka akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya bersama Vanya di kampus Daffin sebelumnya.


Nampak para senior yang tengah memberikan pengarahan, Mereka pun tengah mendengarkan dengan seksama.


Sampai tiba waktunya istirahat,


Vanya memilih duduk bersantai bersama teman-temannya dibawah sebuah pohon yang cukup rimbun, Tidak lama setelahnya Vanya mulai terlihat diam ia nampak memperhatikan sesuatu tanpa berkedip sedikitpun, Teman-teman Vanya mulai terlihat heran, Lalu mereka pun mulai bertanya,


"Va lo kenapa?" tanya Meta.


"Iya, Vanya lo lagi lihatin apa sih?" tanya Fani.


Vanya tak menjawab pertanyaan dari teman-temannya, Ia pun bergegas bangun dari duduk nya dan berlari menghampiri seseorang didepan sana sambil mulai memegang tas ditangannya.


BRUKK...


Vanya mengayunkan tas ditangannya dan mendarat tepat di wajah seseorang di depan Vanya, Yang membuat orang tersebut jatuh tersungkur,


"Ion?? Lo gak apa-apa??"


"Heh mahasiswi baru, Lo tuh junior disini berani-beraninya mukul senior" ucap orang itu yg ternyata adalah Leo dan yang terjatuh tadi adalah Dion.


Dion pun mulai menatap ke arah orang yang mengayunkan tasnya tadi yang tengah menatapnya dengan penuh kebencian.


Vanya batin Dion.


"Vanya, Kok kamu kasar banget sama aku?" ucap Dion kemudian yang masih terbaring dibawah.


Vanya tak menjawab pertanyaan dari Dion, Ia masih belum puas pikirnya, Kini ia pun kembali memukuli Dion dengan tas dan juga tangan kosong.


"Br*ngs*k ! br*ngs*k !" ucap Vanya seraya terus saja memukuli Dion, Leo tampak ternganga melihat Vanya yang tengah memukuli Dion secara membabi buta.


Sementara itu Fani dan Meta yang menghampiri Vanya mulai berusaha menghentikannya.


"Vanya udah Vanya" ucap Meta yang mulai menarik lengan Vanya.


"Ada apa nih ribut-ribut?" tanya Senior yang lainnya yang mulai berdatangan menghampiri mereka.


"Enggak ada apa-apa cuma game doang" ujar Dion.


Meta dan Fani pun mulai menarik Vanya serta membawanya pergi dari sana.


"Vanya lo gila kali ya" ucap Fani.


"Dia yang gila bukan gue! " ucap Vanya emosi.


"Iya Vanya, Tapi ini tuh di kampus dan kita lagi ospek lo mau nanti dikerjain abis-abisan sama mereka" ucap Fani.


"Gue enggak perduli yang penting gue puas mukulin dia !"ucap Vanya marah.


Fani dan Meta mulai saling berpandangan, Meta pun mulai menyentuh bahu Vanya lalu mengusapnya, Meta tahu pasti Vanya sangat marah kepada Dion karena dia juga lah orang yang turut andil merubah hidup Vanya saat ini.


...----------------...


Sementara itu di tempat lain,


Nampak Dion yang tengah duduk di sebuah kursi dan mulai mengelus-ngelus wajahnya sendiri, Leo yang tengah berdiri dan bersandar di dinding sambil mengapit kedua tangannya pun mulai terlihat tersenyum melihat temannya itu.


"Dion... Dion... Bukannya lo yang ngerjain junior, Malah lo sendiri yang dikerjain" ucap Leo sambil menggelengkan kepalanya.


"Tahu nih mana sakit lagi, Itu tas isinya batu kali"ucap Dion.


"Lagi siapa sih tuh cewek berani banget" ucap Leo.


"Dia tuh Vanya, Bininya si Daffin" ucap Dion.


"Ha? Pantes aja mukanya enggak asing, Gue kayak pernah lihat dimana gitu"ucap Leo.


"Emang lo udah pernah ketemu?" tanya Dion.


"Udah tapi cuma sekilas doang pas ulang tahunnya si Hans, Itu juga udah beberapa bulan yang lalu" ujar Leo.


Kring kring🎶🎶


Suara deringan ponsel milik Dion, Dion pun mulai mengambil ponselnya dari dalam saku celananya lalu mulai menjawab panggilannya,


"Gimana ion, Aman?" Suara dari telepon yang ternyata adalah Daffin.


"Aman apanya !? Bini lo barbar banget sih!" keluh Dion di telepon.


"Hah? Kenapa emangnya?"ucap Daffin bingung.


"Dateng-dateng gue ditabok pake tas tahu enggak?? Kecil-kecil tenaga badak sampe nyungsep gue" ucap Dion sewot.


"Hahahahaha, Masa sih??" ucap Daffin sambil tertawa.


"Kalau gue disitu seru pasti tuh" ucap Daffin lagi.


"Seru pala lo ! Gak mau tahu gue pokoknya jatah gue nambah kalau gini caranya" protes Dion.


"Beres lah, Yang penting pastiin dia aman dan jangan sampai ada cowok yang deketin dia" ujar Daffin.


"Tenang aja gue bisa diandalkan" ucap Dion yang mulai mematikan ponselnya.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Leo


"Temen lo si Daffin, Tadi bininya sekarang lakinya" gerutu Dion.


Leo hanya tersenyum kecut


"Gue ke kantin dulu lah, Aus... Ikut enggak lo?" tanya Leo.


"Gue nyusul lah mau ke toilet dulu," ucap Dion.


Leo pun mulai berjalan menuju ke kantin sesampainya disana, Ia mulai membuka lemari pendingin, Lalu mengambil minuman serta membuka tutup botol dan mulai meneguknya.


"Permisi Kak" ucap seorang wanita yang ingin mengambil minuman juga namun terhalangi oleh Leo.


"Oh iya silahkan" ucap Leo seraya menyingkir.


Ia pun mulai memperhatikan wanita itu yang tengah mengambil minuman, Lalu mulai menyapanya.


"Hai Vanya" ucap Leo kepada wanita tadi yang ternyata adalah Vanya.


Vanya pun mulai menoleh serta mengerenyitkan dahinya untuk mencoba mengingat siapa orang yang tengah menyapanya itu.


"Siapa ya?" tanya Vanya.


Leo mulai mengulurkan tangannya,


"Aku Leo, Temannya Daffin, Mungkin kamu lupa tapi kita pernah ketemu waktu ulang tahunnya Hans" ucap Leo.


Vanya mulai menjabat tangan Leo, Kemudian melepasnya lagi seraya berkata," Maaf Kak, Tapi aku enggak inget" ucap Vanya.


"Iya enggak apa-apa, Waktu itu emang kita belum sempat saling sapa karena kamu pergi buru-buru" ucap Leo.


"Oh iya, Ya udah ya Kak aku duluan teman aku udah nunggu disana" ucap Vanya yang berjalan meninggalkan Leo.


Vanya pun mulai menghampiri Meta dan juga Fani, Serta berjalan pergi dari sana.


"Wah gila baru hari pertama, Udah ada yang ngajak kenalan aja" ucap Fani.


"Siapa?" tanya Vanya.


"Pura-pura lagi, Ya lo lah, Tadi pas di kantin," ucap Fani.


"Oh.. itu tadi masih temennya Daffin," ucap Vanya.


"Temennya laki lo?" tanya Fani


"Iya"jawab Vanya.


"Lumayan Va, Kenalin ke gue dong" ucap Fani kemudian.


"Orang gue enggak kenal" ucap Vanya.


"Katanya temen laki lo, Kok sekarang bilang enggak kenal?" protes Fani.


"Iya maksudnya gue enggak akrab, Gue juga lupa malah kalau pernah ketemu sama dia" ucap Vanya cuek.


"Ya lo bilangin ke laki lo lah, Suruh dia yang kenalin ke gue" ucap Fani.


"Iya nanti, Laki guenya juga sibuk" ucap Vanya.


"Ya sibuk kerja, Kadang di rumah tuh kerjaannya nulis laporan terus, Tahu deh laporan apaan gue juga enggak ngerti" ucap Vanya.


"Oh gitu, Gue kira sibuk sama cewek" celetuk Fani.


"Sembarang !" ucap Vanya.


"Dia tuh enggak mungkin aneh-aneh, Gue percaya sama dia, Soalnya waktu buat guenya aja sedikit apalagi buat cewek lain" ucap Vanya.


"Tapi sekertarisnya kan cewek pasti cantik juga" ucap Fani yang masih saja memanasi.


"Sok tahu, Sekertarisnya tuh cowok bukan cewek, Lagian di kantor tuh ada Papanya ada Mas Daniel juga, Dia enggak akan berani macem-macem" ucap Vanya.


...----------------...


Kini mereka mulai kembali ke lapangan,


Semua peserta ospek mulai diperintahkan untuk duduk di tengah-tengah lapangan yang cukup terik, Para senior mulai berkumpul dihadapan mereka semua.


Salah satu diantara para senior mulai memerintahkan agar salah satu dari mereka maju kedepan,


Leo pun nampak tersenyum mengingat kejadian tadi saat Vanya menghajar Dion, Ia pun mulai memanggil namanya,


"Yang bernama Vanya silahkan maju kedepan" perintah Leo.


Dion nampak terbelalak, Karena meskipun tadi Vanya telah menghajarnya namun Daffin telah memberi amanat agar ia menjaga Vanya disini bukan malah mengerjainya, Dion mulai maju dan menghampiri Leo serta mulai berbisik kepadanya,


"Le buat yang satu itu jangan lo apa-apain si Daffin udah kasih amanat ke gue" bisik Dion.


"Ini ospek bro, Enggak ada pilih kasih, Lagi pula enggak mau lo bales dia tadi yang udah ngehayar lo" bisik Leo.


"Terserah lo tapi kalau sampai Daffin murka gue enggak tanggung ya" bisik Dion.


Sementara itu Vanya mulai berdiri dan berjalan kedepan serta mulai berhadapan dengan Leo di depan sana.


"Nama lengkap?" tanya Leo


"Vanya Satya Utama" ucap Vanya.


"Kamu tahu untuk apa saya memanggil kamu?" tanya Leo.


"Enggak Kak" jawab Vanya.


"Dion sini" panggil Leo.


Dion pun mulai menghampiri Leo, Lalu ia mulai menghadapkan Vanya dengan Dion.


"Minta maaf" perintah Leo.


Vanya pun mulai menatap tajam ke arah Dion, Dion pun nampak terlihat tidak nyaman.


"Minta maaf !" ucap Leo yang mulai meninggikan suaranya.


"Enggak!"ucap Vanya dengan suara yang tak kalah tinggi.

__ADS_1


Leo tersenyum kecut, Baru kali ini ia melihat junior yang begitu berani di depan semua orang.


"Le udah lah, Enggak usah diperpanjang" bisik Dion.


" Tugas kita disini adalah mentatar mereka supaya mereka punya etika yang baik," ujar Leo.


"Ayo cepat minta maaf"perintah Leo lagi.


"Saya enggak salah, Untuk apa saya minta maaf" ucap Vanya lagi.


Sementara itu Fani dan Meta nampak tengah berbisik.


"Aduh Vanya, Lo malah nyari mati" ucap Fani.


"Iya parah banget sih" ucap Meta.


Leo semakin tak habis pikir, Begitu keras kepalanya wanita satu ini.


"Ok, Karena kamu tidak mau, Kamu harus menerima hukuman" ujar Leo.


"Le, udah jangan diterusin" ucap Dion.


"Kita harus sportif kalau dibiarkan begitu aja mereka semua juga akan berani" ucap Leo.


"Kamu sana lari keliling lapangan 10 putaran" ucap Leo.


"Iya Kak" ujar Vanya yang langsung berlari.


Bener-bener nih cewek padahal gue kasih yang gampang dia malah pilih yang susah batin Leo.


Dion nampak terlihat bingung, Habis lah ia pikirnya, Daffin pasti marah besar kalau tahu Vanya malah kena hukuman.


Vanya masih terus saja berlari baru setengah putaran ia sudah nampak kewalahan, Hingga sampai diputaran kesepuluh Vanya mulai menghadap kembali kepada Leo,


"Udah Kak" ucap Vanya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Ya sudah kamu boleh..."


BRUKK..


Leo terbelalak, Vanya pingsan tepat dihadapannya, Tanpa pikir panjang Leo langsung mengangkat tubuh Vanya dan membawanya ke ruang kesehatan diikuti Dion dibelakangnya.


Sesampainya diruang kesehatan Leo mulai membaringkan tubuh Vanya di atas tempat tidur.


"Gue bilang juga apa ! Elo sih macem-macem ! "ucap Dion.


"Ya mana gue tahu, Gue pikir dia bakalan pilih yang gampang, Ternyata malah pilih yang sulit" ucap Leo.


"Terus sekarang gimana ini?" tanya Dion panik.


"Udah lo tenang aja gue yang urus, Gue yang tanggung jawab, Sana lo balik aja ke lapangan" perintah Leo.


"Enggak bisa Le, Gue harus pastiin dia baik-baik aja" ujar Dion.


"Ya udah lo panggil si Tasya kesini, Biar dia urus, Gue tungguin dia sampai sadar pokoknya" ucap Leo.


"Ok lah gue panggil si Tasya dulu" ucap Dion seraya pergi dari sana.


Leo nampak memperhatikan Vanya yang masih menutup matanya, Ia pun mulai mengambil tissu dan menyapu keringat yang ada di wajahnya.


Kini Leo mulai memandangi wajah Vanya terus menerus,


Cantik, Pantes aja si Daffin sampe tergila-gila batin Leo.


Leo pun mulai teringat untuk memberikan minyak angin, Ia pun mulai mengalihkan matanya dan mencari minyak angin di dalam ruangan, Leo pun nampak menemukan apa yang sedang ia cari, Ia pun mulai membuka tutup minyak angin serta mendekatkannya ke hidung Vanya, Vanya mulai mengerenyitkan dahinya serta perlahan membuka matanya.


Vanya yang telah tersadar pun mulai bangun dan duduk,


"Kamu enggak apa-apa?" tanya Leo.


"Enggak apa-apa" jawab Vanya.


"Sorry ya kalau hukumannya terlalu berat" ujar Leo.


Vanya hanya terdiam tidak lama kemudian Dion datang bersama Tasya, Tasya nampak sedang mengurus Vanya sementara Leo dan Dion kembali ke lapangan.


...--------------...


Sepulang dari kampus,


Vanya tengah berdiri di halte dekat kampusnya, Ia sedang menunggu Daffin menjemputnya, Karena tadi pagi Daffin berkata akan izin untuk pulang lebih awal demi menjemput Vanya yang baru hari pertama masuk ke kampus, Vanya nampak masih menunggu sambil sesekali melihat ponselnya.


Sementara itu di kantor,


Nampak seseorang mengetuk pintu ruangan Daffin,


Tok tok tok


"Siapa?"tanya Daffin.


"Mas Daniel Fin" jawab Daniel


"Oh iya Mas masuk aja" ucap Daffin.


Daniel pun masuk ke dalam ruangan dengan beberapa berkas di tangannya, Lalu ia pun memberikannya kepada Daffin.


"Apa nih mas?" tanya Daffin.


"Kerjaan, Tadi Papa suruh kasih ke kamu dan harus selesai hari ini juga katanya" ujar Daniel


"Lho tapi Daffin kan udah bilang Papa mau pulang lebih awal" protes Daffin.


"Ya Mas mana tahu, Pokoknya pesan Papa katanya kamu harus selesaikan hari ini juga" ucap Daniel yang mulai berpamitan untuk pergi.


"Ah si*l "ucap Daffin.


Daffin pun mulai berusaha menelepon Papanya,


Tutt tutt tut cklek..


"Pa, Daffin kok dikasih kerjaan lagi, Daffin mau pulang Pa, Daffin udah janji mau jemput.Vanya" keluh Daffin


"Tapi itu berkas penting Fin dan sedang ditunggu, Jadi harus selesai hari ini juga" ucap Papanya.

__ADS_1


Note : Jangan lupa tinggalkan like komen dan juga Votenya . Terimakasih😌😌


__ADS_2