VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
S2 Part 144


__ADS_3



Keesokan harinya...


Daffin telah bersiap di bawah menunggu Vanya yang tengah mandi bersama Dava di gendongannya.


Vanya pun turun dan menghampiri suami serta putranya itu.


"Yuk berangkat, Aku udah siap. Sini Dava nya," pinta Vanya yang mengulurkan tangan untuk mengambil Dava dari tangan Daffin.


"Enggak usah yang, Dava berat, Aku aja yang gendong," tolak Daffin yang menjauhkan Dava dari Vanya.


Seketika bayi tampan itu mulai mencebik karena ia sudah siap untuk berpindah tangan. Namun, Papanya malah menjauhkannya.


"Mam..." Dava yang berucap dengan air yang menggenang di kedua bola matanya.


"Tuh kan! Dava mau nangis!" pekik Vanya.


Daffin nampak shock melihat putranya itu yang tengah bersiap menangis dengan keras.


"Udah sini," tanpa basa basi lagi Vanya mulai mengambil alih Dava.


Dan Daffin mulai terlihat serba salah.


"Yang, Tapi Dava berat, Kasian kamunya," ucap Daffin yang terlihat khawatir.


"Ya mau gimana lagi? Udah ayo jalan cuma sampai depan aja gendongnya juga," ucap Vanya yang kini mulai berjalan lebih dulu disusul Daffin dibelakangnya.


Sesampainya di garasi Daffin mulai membukakan pintu di kursi belakang kemudi agar Vanya dapat meletakkan Dava di car seatnya.


Setelah Dava aman di kursi belakang, Vanya bergegas masuk ke kursi samping kemudi.


"Udah siap sayang? Enggak ada yang ketinggalan kan?"tanya Daffin seraya menoleh ke arah Vanya yang tengah sibuk melihat ke dalam tasnya.


"Iya udah siap semua, Enggak ada yang ketinggalan."


Daffin mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Sesampainya di sana, Vanya tengah duduk menunggu dengan Dava di pangkuannya. Sementara Daffin tengah berdiri di loket pendaftaran.

__ADS_1


Setelah mendapat nomor antrian, Daffin dan Vanya mulai berjalan ke ruangan dokter kandungan dan menunggu di luar.


Nampak Daffin yang tengah menggendong Dava dan bercengkrama dengannya, Agar ia sejenak melupakan Mamanya sebentar, karena ia tak tega bila Vanya harus menggendongnya dalam posisi ia yang tengah berbadan dua.


"Nomor urut 5," ucap perawat yang baru saja keluar dari ruangan.


Daffin dan Vanya bergegas bangun dan memasuki ruangan. Nampak perawat yang membantu Vanya untuk naik ke tempat tidur pasien. Lalu ia pun mulai mengangkat sedikit kaus yang ia kenakan agar perawat bisa mengoleskan gel pada perutnya.


Lalu dokter pun mulai meletakkan transducer pada perut Vanya dan menggerakkannya ke kiri dan juga ke kanan.


Seketika dahi Daffin mengerut melihat layar monitor dengan dua warna hitam dan putih. Namun, kini tengah yang membuat dahinya mengerut ialah dua kantong janin yang nampak di sana.


"Dok, Itu kok..." ucap Daffin dengan jari telunjuk yang mengarah ke layar monitor.


"Iya Pak, Selamat ya, Janinnya kembar," ucap dokter tersebut seraya mengembangkan senyumnya.


Awalnya Daffin terperangah. Namun kini ia pun ikut tersenyum dan menoleh ke arah Vanya yang tengah berbaring.


"Kembar sayang," ucap Daffin semringah.


"Hei, Mas Dava, Adik kamu kembar," ucap Daffin yang kini tengah menatap Dava dalam gendongannya.


"Awas, Hati-hati sayang," ucap Daffin yang mencoba untuk turut menggenggam tangan Vanya dan membantunya untuk turun.


Vanya dan Daffin mulai duduk di depan meja dokter dengan dokter yang tengah menulis resep vitamin untuk Vanya.


"Emm... Ibu, Umur anak pertamanya berapa tahun ya?" tanya dokter tersebut.


"Baru 7 bulan dok," jawab Vanya.


"Diberi ASI atau susu formula?" tanya dokter lagi.


"ASI dok, Tapi sufor juga cuma jarang-jarang," jawab Vanya lagi.


"Emm begini bu... Sebaiknya mulai hari ini ASI nya di stop ya bu? Apalagi kehamilan ibu ini kembar, Jadi saya sarankan untuk tidak lagi memberikan ASI karena akan beresiko juga untuk kehamilan ibu saat ini," jelas dokter.


Dahi Vanya mengerut seolah tak terima dengan apa yang dokter katakan.


"Tapi dok, Nanti vitamin sama gizinya gimana?Memangnya bagus ya kasih sufor?" protes Vanya.


"Ibu tidak perlu khawatir, Vitamin dan gizinya tetap dapat terpenuhi, Mengingat saat ini juga anak pertama ibu sudah boleh mengkonsumsi makanan pendamping," jelas dokter tersebut.

__ADS_1


"Oh gitu ya dok?" ucap Vanya.


"Hmm.. Iya, Apa ada yang mau ditanyakan lagi?" ucap dokter.


"Ada dok, Kira-kira untuk makanannya bagaimana ya dok ? ada larangan memakan apa atau gimana," tanya Daffin.


"Makanan ya seperti saat kehamilan pertama saja, Tidak ada yang berbeda, Bedanya cuma saat ini janinnya ada dua, Itu saja." ucap dokter.


"Emm... Terus, Masih aman kan ya dok kalau mau hubungan?" tanya Daffin dengan gamblangnya membuat Vanya dengan cepat menoleh ke arahnya dan menajamkan tatapannya.


"Masih boleh, Tapi jangan terlalu sering, Supaya istri bapak juga bisa beristirahat dengan cukup, Apalagi masih memiliki anak yang masih di bawah satu tahun. Sudah mulai aktif, Dan sudah dipastikan akan membuat ibunya cepat.lelah."


"Oh gitu ya dok, Makasih ya dok kalau begitu," ucap Daffin.


Dokter mulai memberikan resep vitamin dna Daffin beserta Vanya mulai berpamitan keluar ruangan, Menebus vitamin dan setelah itu kembali ke mobil.


Nampak Vanya yang hanya diam melamun.


"Kenapa sayang?" tanya Daffin yang menatap Vanya di sampingnya.


"Gimana ya? Dava harus stop ASI nih? Kan masih kecil kasian," ucap Vanya yang menoleh ke arah Daffin.


" Ya kan kamu dengar sendiri kata dokternya tadi, Enggak apa-apa katanya," ucap Daffin.


Vanya masih terlihat gusar karena harus menyapih Dava padahal usianya belum genap satu tahun.


"Kamu enggak usah sedih begitu, meskipun Dava stop ASI, Aku enggak akan ikutan berhenti kok," celetuk Daffin.


Vanya membulatkan matanya dan kini menatap Daffin serta melayangkan tangan kanannya pada pinggang suaminya itu.


"Aduhh!" Daffin melonjak dan kini mengelus pinggangnya sendiri karena lagi-lagi Vanya mencubit pinggangnya.


"Kamu kebiasaan!" ucap Vanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf banget baru up😣😣


Waktu nulisnya mepet banget😣😣


Di sebelah juga lagi dicariin reader nih 😔

__ADS_1


__ADS_2