VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Flashback Papa


__ADS_3

"Cel buka pintunya, Marcello !" teriak Virnie dari luar rumah Marcello.


"Kenapa Vir?" tanya Marcello saat membuka pintu.


Tanpa basa basi Virnie masuk ke dalam rumah Marcello, Dan mengambil beberapa botol minuman keras dari tempat penyimpanan milik ayah Marcello.


"Vir, Jangan diambil lagi nanti Papaku marah" cegah Marcello.


"Bawel lo ah !" ucap Virnie yang terlihat memegang serta membawa 2 botol minuman keras dan membawanya ke atas menuju kamar Marcello.


"Vir, Sini udah kamu jangan minum lagi, Ini punya Papa nanti aku kena marah lagi" ujar Marcello seraya mengambil botol yang di pegang Virnie.


Namun Virnie menahan dengan sekuat tenaga saat Marcello hendak mengambil botolnya.


"Cel, Malem ini aja, Gue bener-bener butuh ini" ujar Virnie.


Virnie mulai duduk di lantai kamar Marcello yang beralaskan karpet, Lalu Marcello pun ikut duduk di depannya.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Marcello.


"Biasa, Lagi-lagi seenaknya bawa l*nt* ke rumah, Nyokap kurang sabar apa sama kelakuan dia, Tiap hari bisanya cuma marah-marah sama nyokap" jawab Virnie tersenyum kecut seraya meminum minuman ditangannya.


"Sabar Vir, Suatu saat dia pasti berubah" hibur Marcello.


"Dari dulu dia selalu begitu, Gue benci sama dia" ujar Virnie seraya meneguk minumannya.


"Udah jangan minum lagi ! Sini ! " ucap Marcello yang mulai mengambil minuman yang dipegang oleh Virnie.


"Sini Cel, Kasih ke gue !" perintah Virnie


Namun Marcello malah meneguknya sampai habis.


"Kamu jangan kayak Papa aku, Selalu lari dari masalah dengan minuman!" ujar Marcello yang nampak mulai kacau


Virnie setengah tersenyum lalu ia mulai mengambil botol yang satunya dan meneguk minumannya.


Keduanya mulai terlihat kacau, Virnie dan Marcello dibawah pengaruh alcohol hingga tanpa mereka sadari, Mereka mulai melewati batas.


"Cel, Sakit " pekik Virnie saat Marcello mulai menindih tubuhnya.


Keesokkan harinya saat Virnie terbangun ia sudah berada dalam pelukan Marcello tanpa sehelai pakaian pun, Dan hanya sebuah selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.


"Gila lo Virnie... Lo bener-bener b*go banget " ucap Virnie seraya mengambil pakaiannya lalu memakai serta meninggalkan Marcello yang nampak masih tertidur.


Marcello nampak mencari-cari Virnie di kampus, Lalu ia menemukan Virnie yang tengah duduk di tangga dan mulai menghampirinya.


"Virnie, Aku.. Semalam kita.." ucap Marcello terbata.


"Udah lah lupain aja anggap enggak pernah terjadi apa-apa" ujar Virnie seraya berjalan pergi.


Satu bulan kemudian..

__ADS_1


Virnie mulai merasakan ada yang tak beres dengan dirinya, Ia pun pergi ke apotek untuk membeli test pack dan memastikan kekhawatirannya.


"Si*l !!!! umpatnya ketika ia melihat 2 garis yang muncul disana.


Virnie segera menemui Marcello di rumahnya, Yang memang rumah mereka berdekatan.


"Cell, Gue hamil" ujar Virnie yang tengah duduk di kamar Marcello


"Kamu Serius!??" tanya Marcello yang terlihat kaget.


Virnie mengelurkan Test Pack yang ia bawa di saku celananya, Lalu mulai memberikannya kepada Marcello.


"Kita gugurin aja" ucap Virnie kemudian.


"Virnie ! Bicara apa kamu? Anak itu tidak tahu apa-apa dia berhak untuk dilahirkan" ucap Marcello marah.


"Tapi gimana sama kuliah gue, Cita-cita gue, Kita baru semester 2, Gue belum siap, Lagi pula gue enggak cinta sama lo !" ujar Virnie.


"Ini bukan masalah cinta Vir, Tapi ini masalah nyawa, Kamu mau membunuh anak kamu sendiri??" ucap Marcello yang tak habis pikir.


"Terus gue harus apa sekarang, Lo enak enggak nanggung, Kalau gue?? Anak ini ada diperut gue, Dan gue yang harus menanggung semuanya" ujar Virnie


"Kita tanggung sama-sama, Kita menikah, Kita besar kan dia sama-sama" ujar Marcello.


Virnie pun tertawa,


"Marcello.. Ngomong sih gampang terus gimana sama kuliah gue?" tanya Virnie


"Kenapa enggak gugurin aja sih beres" ucap Virnie.


"Virnie ! Anak itu anak kamu dan anak aku juga ! Dan aku tidak izinkan kamu melakukan itu" ujar Marcello


"Ini semua gara-gara lo tahu gak !! Lo cari kesempatan saat gue mabuk" ucap Virnie marah.


"Vir sudah berapa kali aku bilang ke kamu aku pun gak sadar waktu itu karena aku juga dibawah pengaruh alkohol, Lagipula kamu waktu malam itu juga terlihat menikmati dan tidak menolak" ucap Marcello kemudian.


"Apa lo bilang !! " ucap Virnie


...----------------...


"Papa" panggil Vanya yang mulai menyadarkan Papanya dari lamunan.


"Iya sayang, Kenapa?" tanya Papanya


"Papa lagi kepikiran sama Mama ya?" tanya Vanya.


Papanya tersenyum dan berkata, " Iya, Sama kepikiran juga kalau kamu sudah sebesar ini sekarang, Waktu benar-benar cepat sekali berlalunya" ujar Papanya.


" Oh iya, Ayo di makan Ice creamnya nanti mencair" ucap Papanya lagi.


"Oh iya" ucap Vanya seraya mulai membuka ice creamnya dan menyantapnya bersama Papanya.

__ADS_1


Setelah kebersamaan yang cukup lama antara Vanya dan juga Papanya akhirnya Papanya pamit untuk pulang.


"Papa pulang dulu ya sayang, Kamu jaga diri dan anak kamu baik-baik" ujar Papa Vanya.


"Papa mau pulang sekarang? Enggak mau nunggu Mama dulu?" tanya Vanya meyakinkan.


"Enggak usah lain kali aja" ucap Papanya seraya tersenyum dan pergi.


Malam harinya,


Mama Vanya sudah pulang dan mereka terlihat sedang makan malam bersama, Setelah itu mereka duduk berdua di sofa dan Vanya mulai membuka percakapan.


"Ma, Tadi siang Papa kesini" ujar Vanya.


"Iya, Mama yang kasih tahu Papa kamu, Mama pikir mungkin kamu kangen sama dia" ujar Mamanya.


"Mama enggak kangen sama Papa?" tanya Vanya yang membuat heran Mamanya.


"Kamu ini bicara apa" ucap Mamanya yang terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Vanya.


"Papa belum menikah lagi Ma, Papa masih sayang sama Mama, Memangnya Mama enggak sayang sama Papa?" tanya Vanya yang membuat Mamanya terlihat semakin tak nyaman.


"Kamu ini masih kecil Vanya, Kamu tahu apa?" ucap Mamanya yang mulai terlihat kesal.


"Mama lupa ya? Vanya bukan anak kecil lagi Ma, Sebentar lagi Vanya juga akan jadi ibu seperti Mama" ucap Vanya.


Mama Vanya mulai menghela nafas,


"Vanya kamu tidak akan pernah mengerti" ucap Mamanya yang berusaha berbicara selembut mungkin.


"Mama salah, Justru Vanya sangat mengerti karena kita ada di posisi yang sama" ucap Vanya seraya tersenyum.


Mama Vanya pun terdiam, Ia tak lagi bisa membalas perkataan Vanya.


"Sudah lah, ini sudah malam kamu harus istirahat, Mama juga mau istirahat" ujar Mamanya seraya berjalan menuju ke kamarnya.


Note : Jangan lupa tinggalkan Like, komen dan juga Votenya, Supaya authornya makin semangat. Terima kasih 😘


Btw author mendadak badmood naskah buat crazy up lenyap krna ga sengaja kehapus 😭😑😑


VANYA



DAFFIN



ALEXA


__ADS_1


__ADS_2