
"Lain kali jangan jalan sambil ngelamun bahaya"
"Iya Kak, Ya udah aku masuk duluan ya Kak"
"Iya" ucap Leo sambil mengulas senyum tipisnya.
Vanya mulai meninggalkan Leo di sana dan segera masuk ke dalam kampus sementara Leo kembali naik ke atas motornya dan masuk ke parkiran, Lalu menaruh motornya disana.
...----------------...
Saat jam istirahat,
Leo mulai menghampiri Vanya yang tengah duduk di kantin bersama Meta dan juga Fani.
"Hai aku gabung ya" pinta Leo.
"Iya Kak boleh" ucap Fani semangat.
Leo mulai duduk didekat Vanya, Vanya masih terlihat canggung karena kejadian kemarin yang cukup memalukan menurutnya.
Namun Fani masih saja memberikan kode kepada Vanya, Agar ia memulai pembicaraan tentang kelanjutan Fani dan Leo, Karena meskipun Fani wanita yang ceplas ceplos, Dihadapan orang yang satu ini ia ingin sedikit jaim dan tak mau terlalu terlihat barbar.
Fani nampak menendang kaki Vanya dari bawah meja, Vanya mulai menatap Fani sekarang, Fani mulai memberikan kode menggunakan matanya, Dengan akhiran kata "please" yang nyaris tak terdengar dari mulutnya.
Vanya mulai menoleh ke arah Leo yang berada disampingnya dan tengah menikmati makanannya.
"Kak, Gimana ?" tanya Vanya yang terlihat kikuk karena tak tahu harus memulai dengan kata apa.
"Hmm? Apanya,?" tanya Leo.
"Itu..." ucap Vanya yang tengah melirik ke arah Fani dengan mimik wajah yang cukup menggemaskan menurut Leo.
Leo pun malah tersenyum melihat ekspresi Vanya, Vanya yang merasa Leo tak merespon pembicaraannya mulai kembali berbicara.
"Kak gimana??" tanya Vanya yang kini berbicara sambil membulatkan matanya.
Leo pun malah semakin mengembangkan senyumnya, Vanya yang terlihat kesal karena Leo seperti bermain-main dan tak serius mendengarkan ucapannya dengan reflek mengayunkan jemarinya hingga sampai dilengan Leo dan mulai mencubitnya.
"Kak !"
"Aduh" ucap Leo seraya mengusap tangan yang tadi dicubit kecil oleh Vanya namun cukup terasa sensasi sakitnya.
"Iya nanti kita obrolin sepulang kuliah ya" ucap Leo seraya tersenyum dan kembali melanjutkan menyantap makanannya.
...----------------...
Sepulang Kuliah,
Dion sangat sibuk akhir-akhir ini, Dikarenakan kafe yang semula hanya dibuka menjelang malam hari, Kini dibuka mulai dari sore hari, Itu artinya sepulangnya dari kampus, Dion harus segera pergi ke Kafe dan itu juga berarti tugasnya mengawasi Vanya menjadi terbengkalai.
Daffin pun tak mempermasalahkan hal ini, Karena memang Dion pasti menomorsatukan pekerjaannya, Bukan hanya karena uang semata akan tetapi karena kecintaanyan pada musik dan Daffin pun tidak bisa terlalu memaksakan untuk selalu mengawasi Vanya, Ia pun berharap kalau Leo tak lagi berulah, Apalagi sampai nekat merebut Vanya darinya, Sampai akhirnya...
Leo dan Vanya bertemu di taman kampus, Mereka akan membicarakan kelanjutannya dengan Fani, Sementara Fani sudah pulang lebih dahulu dan menunggu kabar dari Vanya.
Vanya tengah duduk dikursi panjang dibawah pepohonan yang cukup rimbun, Leo pun yang melihat dari kejauhan mulai menghampirinya.
__ADS_1
"Hai" sapa Leo seraya duduk disamping Vanya.
"Hai Kak, Jadi gimana Kak? Kapan kakak nembak Fani?" tanya Vanya to the point.
"Aku enggak bisa" ujar Leo.
"Ha? Kenapa Kak? Bukannya kata Kakak Fani lumayan" tanya Vanya.
"Iya dia lumayan memang, Tapi aku punya orang yang aku suka" ujar Leo.
"Siapa?" tanya Vanya.
"Ada lah dia Junior juga disini" ucap Leo.
"Yah, Kakak kok baru bilang sekarang?"
"Iya aku juga baru sadar sekarang" ucap Leo seraya tersenyum.
"Yah terus nasib Fani gimana? Dia ngebet banget padahal buat lepas status jomblonya" ujar Vanya.
"Kamu perduli banget kayaknya sama dia, " ucap Leo.
"Ya kan Fani temen aku dari SMA Kak, Lagian aku cuma mau bantu dia"
"Gimana kalau kamu bantu aku aja" ucap Leo.
"Hmm? Bantu apa Kak?" tanya Vanya.
"Bantu aku buat deketin orang yang aku suka" ujar Leo.
"Ya ampun Kak, Aku aja gagal mau bantuin Fani, Apalagi bantuin Kakak" ujar Vanya.
"Terus gimana cara bantunya?" tanya Vanya.
"Nanti aku kasih tahu, Tapi kamu mau kan bantu aku?" tanya Leo
"Ya kalau aku bisa, Pasti aku bantu kok Kak" ujar Vanya.
"Ok, Makasih ya" ujar Leo seraya mengusap lembut rambut Vanya.
Vanya nampak terlihat risih sebenarnya dan untungnya Leo segera menurunkan kembali tangannya dari atas kepalanya.
"Iya sama-sama Kak, Ya udah aku duluan ya Kak" ujar Vanya seraya berjalan pergi.
"Iya " jawab Leo.
Vanya telah berjalan cukup jauh, Leo memandanginya dan mulai berkata,
" I'll get you, Vanya" ucap Leo seraya tersenyum.
...----------------...
Malam hari dirumah Daffin,
Daffin dan Vanya hanya bertegur sapa seperlunya, Mereka ada di satu tempat yang sama, Tetapi seperti ada tembok pengalang yang menutupinya, Daffin benar-benar sangat sibuk, Ia sedang berusaha keras agar cepat mengerti semua pekerjaan yang ia tangani, Karena Papanya ingin segera pensiun, Mau tak mau kini bebannya bertambah, Salah perhitungan sedikit saja perusahaan akan goyah, Hingga ia lupa bahwa ada seorang wanita yang butuh diperhatikan, Bukan hanya sebagai teman ditempat tidur, Tetapi ia butuh tempat untuk mencurahkan keluh kesahnya.
__ADS_1
Daffin tengah duduk di meja kerjanya, Ia terlihat pusing seraya menatap layar laptopnya, Sementara Vanya tengah duduk diatas tempat tidur sambil menyandarkan tubuhnya,
Ping
Ada pesan masuk di ponsel Vanya, Vanya pun segera meraihnya dari atas meja, Lalu mulai membuka serta membaca pesan yang masuk.
π© Kak Leo : Lagi apa Vanya?
π¨ Vanya : Lagi bengong Kak
π© Kak Leo : Kamu tahu enggak?
π¨ Vanya : Tahu apa Kak?
π© Kak Leo : Kemarin ayam tetangga aku mati gara-gara kebanyakan bengong !
Vanya nampak mengulas senyum tipis, dan mulai membalas pesan dari Leo lagi.
π¨ Vanya : Enak aja aku disamain sama ayam.
π© Kak Leo : Aku enggak bilang kamu sama kayak ayam lho, Tapi kalau kamu merasa, Ya aku bisa apaπ
π¨ Vanya : Kakak nyebelin π€π€
Vanya nampak mengembangkan senyumnya, Daffin yang mulai memperhatikan Vanya yang tengah asik tersenyum sendiri seraya menatap layar ponselnya pun merasa terusik, Ia bangun dari duduknya dan mulai menghampiri Vanya.
"Sini aku lihat handphonenya," Ucap Daffin yang langsung mengambil ponsel dari genggaman Vanya.
Daffin nampak membaca isi pesannya, Ia pun mulai menekan layar dan melakukan panggilan.
Tut tut tut...
"Kenapa Vanya?" tanya Leo di telepon.
"Gue udah berapa kali bilang sama lo, Jangan deketin Vanya !" tegas Daffin.
"Oh Daffin ternyata,. Santai aja dong Bro " ujar Leo santai
"Le, Gue masih mandang lo sebagai temen, Jadi gue masih mau peringatkan lo secara baik-baik" ujar Daffin.
"Wah , Terima kasih Daffin," ucap Leo.
"Jadi gue harap lo dengerin kata-kata gue" ujar Daffin seraya akan memutus panggilannya namun dengan cepat Leo kembali berkata,
" Oh iya Fin, Gue cuma mau bilang satu hal nih."
"Apa?" tanya Daffin.
"Gue suka sama Vanya " ucap Leo
...****************...
Note : Jangan lupa tinggalkan Like, Komen dan juga Votenya. Terima kasihπ
Niat buat di up pas crazy up nanti apa daya aku dah ga sabar buat up ini.π
__ADS_1
***SELINGAN SEBELUM LANJUT SEMEDIπ
Selamat membaca, Up mode slow karena emang lagi hiatus sebenernya.π***