VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Aku juga Sayang Kamu


__ADS_3



Di dalam tenda,


Daffin terus memandang ke arah Vanya yang masih fokus menguping pembicaraan Mama dan Papanya.


"Kok udah enggak ada suaranya" ucap Vanya dengan suara begitu pelan.


"Mungkin mereka lagi ciuman" goda Daffin seraya tersenyum.


"Hah?!" ucap Vanya terbelalak.


"Ssstt jangan berisik" ucap Daffin dengan suara yang pelan.


Vanya mulai mengatupkan kedua bibirnya, Kini ia tak lagi berfokus kepada Mama dan Papanya melainkan kepada orang yang berada didepannya yang sedari tadi terus saja mengembangkan senyumannya seraya memandangi dirinya.


"Mama sama Papa kamu udah baikan, Sekarang giliran kita" ucap Daffin seraya tersenyum.


"Apa sih, Emangnya kita lagi marahan ya?" tanya Vanya.


"Kita memang enggak marahan, Tapi kamu yang masih marah sama aku" ujar Daffin.


"Vanya, Aku tahu aku salah, Perbuatan aku memang buruk, Tapi aku selalu berusaha memperbaikinya, Aku hanya ingin kita bersama tanpa ada kecanggungan lagi, Tanpa kamu ingat lagi semua yang udah lewat" ujar Daffin.


"Vanya, Kamu mau kan memaafkan kesalahan aku waktu itu dan menerima aku sepenuhnya sebagai suami kamu?" tanya Daffin yang menatap lekat kepada Vanya.


Vanya masih terlihat diam, Lalu Daffin mulai berbicara lagi.


"Aku tahu semua cerita tentang Mama dan Papa kamu, Setelah kamu bilang kamu mau membuat mereka berbaikan diam-diam aku mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya supaya aku juga bisa bantu kamu, Tapi ternyata aku malah tidak menyangka kalau semuanya persis seperti yang kita alami juga sekarang, Mama kamu aja udah mulai menerima Papa kamu, Apa aku juga harus pergi dulu dari hidup kamu supaya kamu mau menerima aku?" tanya Daffin bersungguh-sungguh.


Vanya pun terperanjat, Ia tak menyangka Daffin akan berbicara seperti itu, Karena di lubuk hatinya yang terdalam sebenarnya ia telah menyukai Daffin entah sejak kapan perasaan itu mulai hadir, Mungkin karena telah terbiasa bersama Daffin selama ini, Ia memutuskan untuk menginap pun karena pikiran selalu saja dipenuhi oleh Daffin, Ia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi bila Daffin terus berada di sampingnya, Namun ia terus menerus menolak untuk mengakuinya, Dan sekarang ia tak ingin menahannya lagi, Ia tak ingin membuat Daffin pergi seperti Papanya, Ia hanya ingin terus berada di samping Daffin.


Vanya mulai memajukan tubuhnya dan mulai memeluk Daffin,


"Kamu jangan pergi, Kalau kamu pergi gimana sama aku dan anak kita" ucap Vanya jantungnya seperti ingin meledak, Debarannya benar-benar tak bisa ia kendalikan.


Daffin pun tersenyum, Ia pun balas pelukan Vanya dan mengecup dahi Vanya.


"Enggak akan, Aku enggak akan pernah ninggalin kamu dan anak kita, Aku sayang kamu Vanya" ucap Daffin.


"Aku juga" ucap Vanya pelan.

__ADS_1


"Hmm.. Apa? Aku enggak denger kamu bilang apa barusan" ucap Daffin pura-pura.


"Hishh Aku juga" ucap Vanya lagi.


"Apanya yang aku juga?" goda Daffin.


"Aku.. Aku juga sayang sama kamu" ucap Vanya seraya membenamkan kepalanya di dada Daffin.


Ada rasa yang tak bisa Daffin lukiskan saat ini, Senyuman Daffin kian mengembang, Ia sangat bahagia karena Vanya mau memaafkan serta menerimanya, Terlebih lagi ternyata selama ini Vanya merasakan hal yang sama, Namun ia hanya malu untuk mengakuinya.


"Aku sayang kamu" ucap Daffin lagi seraya tersenyum.


Daffin terus saja memeluk sambil mengelus rambut Vanya, Vanya pun merasa mengantuk dan tertidur di pelukan Daffin.


...----------------...


Keesokan harinya,


Mama Vanya nampak tengah membuatkan sarapan, Ia lalu menyuguhkan kopi kepada Papa Vanya yang baru datang dari luar.


"Mereka masih tidur?" tanya Mama Vanya.


"Iya masih" ucap Papa Vanya sambil tersenyum.


"Kebiasaan hari minggu kumat nih, Kamu mau bangun jam berapa" ucap Vanya seraya menggelengkan kepalanya.


Vanya mulai bangun lalu duduk serta merentangan kedua tangannya ke atas,


"Pegel juga" ucapnya.


Saat Vanya bersiap bangun dan keluar dari tenda tiba-tiba Daffin memegang tangan Vanya serta mencegahnya untuk keluar.


"Kamu mau kemana?" tanya Daffin yang mulai membuka matanya.


"Emm mau mandi, Mau siapin sarapan juga" jawab Vanya.


"Tidur sebentar lagi sini, Aku masih mau berduaan sama kamu dulu" pinta Daffin.


"Enggak ah udah siang ini tuh, Masa masih mau tiduran juga" tolak Vanya.


Daffin pun bangun dari tidurnya dan mulai memeluk Vanya dari belakang serta menaruh dagunya di pundak Vanya.


"Jangan dulu~~, Aku masih mau berduaan sama kamu" ucap Daffin dengan manja.

__ADS_1


"Ih apaan sih kamu tuh" ucap Vanya seraya tersenyum.


"Udah nanti lagi ya, Enggak enak sama Mama dan Papa" ujar Vanya lagi.


"Ya udah kalau gitu cium aku dulu" pinta Daffin.


"Dih ngelunjak" protes Vanya.


"Ya udah kalau enggak mau, Aku juga enggak mau lepasin kamu" ucap Daffin yang masih terus memeluk Vanya.


Cup


"Udah" ucap Vanya setelah mengecup pipi Daffin.


"Aku enggak mau disitu, Aku maunya di sini" ucap Daffin sambil menyentuh bibirnya.


Seketika wajah Vanya terlihat memerah,


"Apa sih kamu tuh" ucap Vanya sambil menundukkan wajahnya.


"Kamu kenapa? Masih malu-malu juga, Kita kan udah cukup sering lakukan" ujar Daffin.


"Ya tapi kan itu karena kamunya yang mulai duluan" protes Vanya.


"Ya makanya sekali-kali kamu yang mulai jangan aku terus, Katanya kamu sayang sama aku" ucap Daffin.


Meskipun malu rasanya, Tapi akhirnya mau tak mau Vanya pun mengecup bibir Daffin, Tetapi saat Vanya mulai melepaskan bibirnya, Daffin nampak menahan kepala Vanya, Lalu ia pun mulai memajukan wajahnya dan m*magut bibir Vanya, Vanya sempat terbelalak sebelum akhirnya ia mulai memejamkan matanya, Menikmati setiap sentuhan bibir Daffin pada bibirnya, Perasaan Vanya meluap-luap begitu pula dengan Daffin, Mereka berdua seakan tak ingin cepat-cepat mengakhirinya.


Namun saat itu pula sifat jail Daffin muncul saat Vanya terlihat begitu terhanyut Daffin dengan cepat mengakhiri pagutannya lalu membuka tenda dan meninggalkan Vanya di dalam yang terlihat masih mematung, Vanya mulai mengedipkan kedua matanya dan ikut keluar bersama Daffin, Daffin tengah mengikat rambutnya dan berjalan pergi ke dalam,


"Ayo masuk katanya tadi mau mandi" ajak Daffin seraya mengulurkan tangannya kepada Vanya


Vanya masih terlihat kikuk, Sedangkan Daffin tersenyum senang.


"Iya ayo" ucap Vanya seraya tertunduk malu dan menyambut uluran tangan Dafin.


Note : Seperti biasa jangan lupa tinggalkan like,komen dan votenya juga😉


Sampai sini akhirnya bisa up 2 bab juga setelah kemarin sempat kehapus dan mood anjlok seketika.😩


Tapi authornya tetap akan kasih yang terbaik kok meskipun belum maksimal, Terima kasih juga untuk yang masih setia membaca,


Karya kedua belum sempat up karena belum dapat feel nya jadi agak susah buat lanjut, Bisa aja lanjut tapi pasti hasilnya ga maksial.

__ADS_1


__ADS_2