VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Diabaikan


__ADS_3

BACA ✔


PLAGIAT ❌


Karena mikir menguras energi otak beda dengan tinggal nyomot😂, think smart 😉**


...****************...


Setelah selesai sarapan Vanya mulai berangkat ke sekolah, Sedangkan Daffin memilih mengunci diri di dalam kamar.


Sesampainya di sekolah Vanya terlihat lesu dan murung,


"Lo kenapa Va?" tanya Meta kepada Vanya yang baru saja datang dan terlihat tidak bersemangat.


"Enggak apa-apa Ta" jawab Vanya lesu.


"Hari ini jadi?" tanya Meta lagi.


"Enggak dulu Ta, Gue lagi enggak mood, Mau langsung balik aja" jawab Vanya.


"Ya udah kalau gitu" ucap Meta.


...----------------...


Saat jam istirahat di kantin,


Vanya dan juga teman-temannya sedang menunggu pesanan mereka datang, Tidak lama kemudian pesanan mereka pun tiba, Fani, Meta, dan Riri tampak melahap makanannya, Sedangkan Vanya terlihat hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Kenapa enggak di makan Va?" tanya Meta


"Tahu lagi enggak pengen" jawab Vanya.


"Makan lo, Nanti malah sakit lagi" ujar Fani.


Vanya masih tampak tak memakan makanannya, Sedangkan teman-temannya telah selesai menyantap makanan mereka.


"Eh iya kata kelas sebelah Pak Daffin gak masuk hari ini" ujar Meta


"Masa sih?" tanya Riri


"Gue rasa ini yang buat Pak Daffin gak masuk, Coba kalian lihat deh ini" ucap Fani sambil menunjukan Ponselnya.


"Apaan sih Fan?" tanya Meta penasaran.


"Status Pak Daffin" ujar Fani.


Fani mulai menaruh ponselnya di meja dan dengan cepat Vanya mengambil lalu melihatnya.



#saygoodbye


"Gue rasa Pak Daffin ribut sama istrinya" ujar Fani.


"Iya ya, Statusnya gini banget" ujar Meta yang ikut melihat ponsel Fani di tangan Vanya.


"Kayaknya dia mau cerai deh" terka Fani.


"Lo jangan ngomong sembarangan dong Fan" ucap Vanya cemas.

__ADS_1


"Ya lo lihat aja sendiri statusnya, Dia buka cincin nikah, Apa coba maksudnya kalau bukan dia mau pisah sama istrinya" jelas Fani.


Vanya terlihat semakin murung, Benarkah Daffin akan menceraikannya, Lalu bagaimana dengan nasib dirinya dan juga anak di dalam kandungannya pikirnya.


"Gue ke kelas duluan ya" ujar Vanya yang mulai bangun dan berjalan pergi.


"Kenapa tuh si Vanya?" tanya Fani.


"Tahu dari pagi udah asem banget mukanya" ucap Meta.


Vanya mulai masuk ke kelas hanya ada ia sendiri di sana, Vanya mulai duduk di kursinya dan memegang sambil mengelus perutnya dengan lembut.


"Papa kamu mau ninggalin kita" ucap Vanya yang matanya mulai berkaca-kaca.


...----------------...


Sepulang sekolah,


Vanya mulai naik ke atas menuju kamar, Nampak Daffin yang tengah bermain game di ponselnya, Vanya mengambil pakaian di dalam lemari dan mulai pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.


Setelah selesai ia mulai keluar dan duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi Daffin, Ia ingin berbicara dengan Daffin, Namun baru Vanya memanggil namanya, Daffin langsung bangun dan beranjak pergi dari sana.


Vanya terlihat semakin sedih, Lagi-lagi Daffin mengabaikannya, Padahal Vanya ingin berbicara baik-baik, Ia tak tahan melihat Daffin yang terus menerus mengacuhkannya.


...----------------...


Malam harinya,


Saat makan malam, Nampak Daffin yang duduk seperti biasa di samping Vanya, Namun ada yang berbeda kali ini, Daffin nampak diam, Vanya merasa seolah ia tidak ada di sana, Karena Daffin hanya fokus ke makanan tanpa melihat ke arah Vanya sedikit pun.


Daffin dengan cepat menyelesaikan makannya setelah itu ia beranjak pergi meninggalkan meja makan menuju kamarnya, Vanya hanya bisa menatap nanar kepergian Daffin.


"Vanya, Kenapa enggak di makan? Ayo makan kamu tuh lagi hamil harus banyak makan supaya kamu dan bayi kamu juga sehat" ujar Sandra.


"Iya embak" jawab Vanya namun tetap saja Vanya tak memakan makanannya.


Setelah selesai makan malam Vanya mulai berjalan ke teras rumah dan duduk di sana, Tidak lama kemudian Sandra datang menghampiri Vanya lalu duduk di sampingnya.


"Kalian bertengkar?" tanya Sandra.


Vanya mengangguk,


"Kenapa lagi?" tanya Sandra.


"Daffin marah, Karena Vanya enggak mau layani dia di tempat tidur" jawab Vanya.


Sandra menghela nafas,


"Memangnya kamu masih belum bisa?" tanya Sandra, Vanya pun hanya menggeleng.


"Ini sih embak juga bingung, Hubungan intim itu kebutuhan untuk laki-laki, Kadang kalau tidak tersalurkan bisa buat marah-marah enggak jelas" ucap Sandra.


"Kalau menurut embak kamunya yang harus coba membuka diri dan membiasakan diri kamu" ucap Sandra yang lagi-lagi menambah pukulan untuk Vanya.


"Iya embak Vanya permisi dulu mau ke kamar" ujar Vanya seraya berjalan pergi menuju kamar.


Sesampainya di dalam kamar, Daffin nampak bersiap-siap ia berpakaian serapi mungkin, Menyisir rambutnya serta memakai parfum, Vanya pun mulai bertanya saat Daffin hendak keluar.


"Kamu mau kemana?" tanya Vanya.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu" jawab Daffin seraya pergi meninggalkan Vanya.


Seketika sesak yang Vanya rasakan Daffin benar-benar sudah tidak perduli lagi kepada dirinya, Vanya mulai duduk di tepi tempat tidur menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dan mulai menangis.


...----------------...


Daffin berada di dalam mobil, Ia terdiam dan menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi.


Ping


Ada satu pesan masuk dari Leo,


Leo : Fin, Masih dimana lo? Ceweknya udah gue suruh nunggu di hotel nomor kamarnya yang tadi, Awas jangan sampai salah kamar.


Daffin : Siap, Thanks Le.


Daffin mulai melajukan mobilnya menuju hotel yang di maksud, Sesampainya di hotel Daffin mulai masuk dan menuju ke kamar yang sebelumnya telah diberitahukan oleh temannya Leo.


Tok tok tok


Daffin mengetuk pintu, Tidak lama kemudian seorang wanita cantik berpakaian seksi membukakan pintu untuk Daffin.


"Daffin ya?" tanya Wanita itu.


"Iya" jawab Daffin.


Wanita itu pun mulai mempersilahkan Daffin untuk masuk, Serta duduk di sofa.


"Kenalin celin" ucap wanita itu.


"Daffin" ucap Daffin.


"Aslinya lebih ganteng ya ternyata" ucap Celin.


Daffin tersenyum kecut seraya berkata, "Bisa aja"


"Sebentar aku ambilkan minum dulu" ucap Celin seraya beranjak pergi dan mengambil minuman.


Tidak lama kemudian ia datang dengan minuman di tangannya, Ia pun membungkukkan tubuhnya untuk menaruh minuman di atas meja, Model pakaiannya membuat dua gundukan di dadanya nampak terlihat jelas saat membungkuk , Daffin yang melihatnya pun mulai menelan liurnya sendiri.


Naluri kelelakian Daffin mulai mencuat ia segera mendekati Celin yang mulai duduk di sampingnya, Dan mulai menciumi leher Celin.


"Kamu udah enggak sabar ya?" tanya Celin.


"Iya" Jawab Daffin singkat seraya terus menciumi leher Celin.


Nafas Daffin mulai tak beraturan, Daffin sudah tak tahan lagi, Sudah cukup lama ia menahan semuanya, Lalu Daffin mulai mengangkat tubuh Celin dan membawanya ke atas tempat tidur serta merebahkannya di sana.


Nampak Daffin yang membelai rambut Celin, Tangannya kini mulai menyusuri tiap lekuk tubuh Celin, Dan meremas dengan kasar dua gundukan di dada Celin yang membuatnya menelan liurnya sendiri tadi,


Celin mulai mengerang " Ahhh"


Note : Jangan lupa tinggalkan, like, komen dan juga votenya, terima kasih😘


Btw maafkan othor yang berusaha keluar dari zona nyaman asli horor nulisnya😅


Bab selanjutnya nanti malam ya😊


Up mode ngebut😅

__ADS_1


Mau lanjut karya kedua soalnya😁


__ADS_2