VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
S2 Part 148


__ADS_3

"Nggak modus sayang, Aku tuh cuma kasian sama si kembar, Dari semalam aku cuma ngurusin kakaknya, Belum sempet nengokin mereka," ucap Daffin sambil melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Vanya dan meletakkan dagunya pada bahu Vanya.


"Enggak usah ditengok mereka sehat kok. Mereka baik-baik aja di dalam lagi anteng, Jangan diganggu kasihan."


"Ya udah kalau gitu Papanya si kembar mau minta jatahnya boleh enggak? Tadi katanya disuruh mandi dulu," ucap Daffin yang ternyata masih belum juga menyerah.


Vanya menghela napas panjang dan menoleh ke arah Daffin.


"Nanti kamu telat yang, Lagian kamu enggak ada capeknya sih?" ucap Vanya dengan dahi mengerut.


"Kalau yang itu sih mau capek atau enggak, Enggak ngaruh sih, Selama dia kuat bangun ya berarti dia masih kuat." Daffin mengelus perut Vanya yang masih rata.


Vanya melirik ke arah jam dinding yang berada di depannya.


"Ya udah nanti malam aja, Sekarang udah siang nanti kamu malah kesiangan repot," ucap Vanya.


"Oke sayang. Aku tagih lagi nanti malam!"


Daffin mengecup pipi Vanya, Lalu bangun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah lemari pakaian untuk mengambil dasinya serta memakainya sendiri.


"Ayo Dava, Sini di gendong sama Papa, Kasihan Mama udah bawa dua adik kamu." ucap Daffin yang telah selesai mengenakan dasinya dan kini mengulurkan kedua tangannya bersiap untuk menggendong putranya.


"Hup!"


Daffin mulai menggendong putranya yang kian hari bertambah berat.

__ADS_1


"Kamu makin berat aja sih, Ayo cepat jalan biar Mama enggak berat gendong kamu."


Daffin berjalan keluar kamar dengan Dava di dalam gendongannya. Diikuti oleh Vanya dibelakang mereka.


...----------------...


"Sayang, Hati-hati ya di rumah? Jangan terlalu capek, Kamu cukup urus Dava aja, yang lainnya nanti aku yang kerjain." ucap Daffin saat berdiri berhadapan di teras rumah dan bersiap untuk berangkat bekerja.


"Iya... Oh iya, Apa enggak sebaiknya kita pekerjakan asisten rumah tangga aja ya?" saran Vanya.


Daffin memutar bola matanya ke bawah dan mulai berpikir. Sebelum akhirnya kembali menatap Vanya.


"Aku sih mau yang, Tapi... Biayanya gimana ya?" ucap Daffin sambil menggaruk kepalanya.


"Ya bisa kali yang, buat bayar asisten rumah tangga masih cukup gaji kamu!"


Vanya menghela napas sambil membetulkan posisi Dava dalam gendongannya.


"Aku bantu kerja aja kali ya?" saran Vanya.


Daffin dengan cepat mendekat dan menjentikan jarinya pada dahi Vanya.


"Aduh!" Vanya mengaduh sementara Daffin membeliakkan matanya.


"Besok aku kasih dua asisten rumah tangga sekalian!! Kerja... Kerja... Lagi hamil juga bukan istirahat aja malah mau kerja!" bentak Daffin.

__ADS_1


"Ihh! Emangnya kerja apa dulu? Kan bisa aku tuh jualan online, Jadi meskipun di rumah bisa tetap menghasilkan, Enggak cuma andelin kamu terus!" Vanya memajukan bibirnya dan mulai protes.


"Enggak usah! Tugas kamu tuh cukup jaga Dava, Diri kamu sendiri sama si kembar, Enggak usah aneh-aneh!"


"Tapi yang..."


Daffin menatap Vanya tanpa berkedip sedikit pun, Ia paling tak suka ucapannya dibantah, Apalagi berdebat panjang lebar. Dan hanya dengan tatapan itu berhasil membuat Vanya mati kutu dan tak bisa lagi membalas perkataan Daffin. Takut ngamuk.


"Ya udah sana! Berangkat! Nanti kesiangan!" sewot Vanya sambil memalingkan wajahnya. Ibu hamil yang moody itu nampak kesal sendiri karena pendapatnya tak di dengarkan.


Daffin menghela napas panjang dan mengatur emosinya. Kini ia mengangkat tangan kanannya dan meletakkan di atas kepala Vanya dan mengusapnya.


"Dengar, Aku begini juga demi kebaikan kamu, Enggak mau sampai kamu kenapa-napa. Mengurus Dava aja udah melelahkan yang, Aku juga rasain sendiri kan semalaman, Apalagi kamu yang setiap hari begitu. Makanya nurut ya? Nanti aku carikan asisten rumah tangga supaya kamu enggak terlalu capek. Sama nanti paling aku akan ambil lemburan di kantor buat tambahan."


Daffin menarik tangannya dari atas kepala Vanya tapi Vanya masih terlihat bad mood.


"Yang, Jangan ngambek jelek. Kan aku udah bilang mau carikan asisten rumah tangganya. Selesai kan masalahnya?" ucap Daffin lagi.


"Iya..." ucap Vanya dengan ekspresi wajah yang datar.


"Ya udah, Aku berangkat dulu."


Daffin mendekat dan mengecup dahi Vanya serta Dava, setelah itu Vanya pun mengecup punggung tangan Daffin.


"Hati-hati di rumah aku berangkat."

__ADS_1


"Iya hati-hati."



__ADS_2