
Vanya masuk ke dalam kelas, Ia duduk terdiam di kursinya perasaanya campur aduk bahkan ia masih belum percaya dengan apa yang didengarnya tadi.
Harus gimana sekarang batin Vanya
"Va woi lo kenapa? Dari tadi dipanggilin diem aja" teriak Meta
"Oh enggak apa-apa kok" jawab Vanya setelah sadar dari lamunannya
"Beneran enggak apa-apa? Lo bikin salah apa emang sama Pak Daffin?" tanya Meta
Belum sempat Vanya menjawab Guru pelajaran selanjutnya telah datang lebih dulu.
Buat salah? Dia yang udah buat kesalahan besar ke gue batin Vanya
Sepulang sekolah Vanya menunggu Mamanya di gerbang sekolah, Sementara teman-temannya yang lain sudah pulang lebih dulu termasuk Niko.
"Mama mana sih" gumam Vanya
"Sambil jalan pelan-pelan deh nanti juga ketemu dijalan" ucap Vanya pada dirinya sendiri
Ia pun mulai berjalan menyusuri trotoar tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya.
"Kamu mau kemana? Aku antar ya?" ucap orang tersebut yang ternyata adalah Daffin.
"Ga perlu !" jawab Vanya sambil menepis tangan Daffin dan mulai berjalan lagi
Tapi Daffin tak habis akal, Ia tetap membuntuti Vanya dari belakang
"Vanya kamu kenapa sih?" tanya Daffin
Vanya menghentikan langkah, Lalu berbalik
"Apa kamu bilang ? Kenapa??" ucap Vanya dengan marahnya
"Tanya sama diri kamu sendiri!" ucap Vanya lagi
"Udah lah Vanya, Aku juga akan tanggung jawab sepenuhnya sama kamu" ucap Daffin lagi.
Tetapi justru bukan lah itu yang Vanya harapkan sebenarnya dia hanya ingin mengulang waktu dan berharap tidak pernah bertemu sekalipun dengan Daffin..
Tapi apa daya semuanya sudah terjadi, Sekarang Vanya sendiri pun bingung, Tidak tahu harus berbuat apa, dan Ia pun sebenarnya tidak pernah berharap tanggung jawab dari Daffin.
Tanpa sadar air mata Vanya mulai meleleh membasahi pipinya, Daffin berusaha menghapusnya tapi lagi-lagi ditepis oleh Vanya.
Mama Vanya yang melihat dari kejauhan segera turun dari mobilnya.
"Vanya?" ucap Mamanya
"Ma.." ucap Vanya yang langsung memeluk Mamanya
"Kamu siapa? Kenapa mengganggu anak saya?" tanya Mama Vanya dengan marah
"Saya ga mengganggu Vanya tante, Oh iya perkenalkan saya Daffin tante" ucap Daffin sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Plakk
Mama Vanya menampar dengan keras pipi Daffin, Uluran tangannya pun sekarang dipakainya untuk mengelus pipinya sendiri.
"Daffin? Jadi kamu, Orang yang merusak hidup anak saya !" ucap Mama Vanya dengan penuh emosi
Satu tamparan dirasa masih belum cukup untuk Mamanya, Ia ingin sekali memukuli Daffin sepuasnya, Akan tetapi Mama Vanya sadar ia tidak mau mengundang perhatian banyak orang, Apalagi saat ini mereka masih ada di dekat sekolah Mama Vanya pun memutuskan untuk pergi membawa Vanya pulang.
"Tunggu tante" ucap Daffin kemudian
Mama dan Vanya menghentikan langkahnya
"Saya akan mempertanggungjawabkan perbuatan saya, Tante terima atau enggak saya akan tetap menikahi Vanya karena dia sedang mengandung anak saya" ucap Daffin dengan yakin.
Mama Vanya tidak menghiraukan Daffin ia segera membawa Vanya masuk kedalam mobil dan melajukan kendaraannya.
Sesampainya di rumah,
Vanya duduk di sofa, dan Mamanya mengambilkan segelas air untuk Vanya.
"Ini sayang diminum dulu ya" ucap Mama Vanya sambil memberikan segelas air kepada Vanya
Vanya pun meminumnya.
"Ma, Vanya takut Vanya harus gimana sekarang" ucap Vanya
"Tenang sayang ada Mama disini, Kamu enggak perlu takut" ucap Mamanya
Sore hari saat Papa Vanya datang , Ia melihat Mama Vanya yang begitu gusar
"Vanya di kamarnya , Tadi siang aku ketemu dengan orang itu" ucap Mama vanya
"Siapa?" tanya Papa Vanya
"Laki-laki yang menghamili Vanya, Dia bilang dia akan tanggung jawab dan Vanya pun cerita kalau malam ini dia akan datang kesini bersama orang tuanya untuk melamar Vanya" ucap Mamanya
"Ya bagus lah kalau mereka masih punya itikad baik dan mau bertanggung jawab"ujar Papanya
"Tapi aku tidak setuju Vanya menikah dengan dia" ucap Mama Vanya marah
"Kenapa lagi? kita sudah bahas ini dari kemarin" ujar Papa Vanya
"Jadi kamu benar-benar tega memberikan Vanya pada dia??" tanya Mama Vanya
"Aku sudah katakan sama kamu, Ini bukan masalah tega atau tidak, Ini menyangkut dua orang bukan cuma Vanya seorang tapi juga bayinya" ujar Papa Vanya.
"Kamu mau Vanya jadi bahan cemoohan orang nanti? Kamu mau anaknya nanti diolok-olok karena tidak memiliki ayah?" ucap Papa nya lagi
"Kita sudah pernah mengalaminya, Dan Vanya juga mau tidak mau harus mengambil jalan yang pernah kita tempuh" ucap Papanya
"Tapi kita berbeda kamu dan aku kita sama-sama khilaf waktu itu, Tapi Vanya? Dia dijebak bahkan dia sendiri juga belum terlalu mengenal orang itu" ucap Mamanya
"Terserah kamu aku sudah pusing sudah capek, Kalau kamu punya jalan lain ya sudah kamu tidak usah tanya pendapat aku" ucap Papa Vanya
__ADS_1
Ternyata Vanya diam-diam mendengarkan percakapan kedua orang tuanya
Papa sama Mama belum pernah bertengkar tapi karena aku dari kemarin setiap bertemu mereka pasti bertengkar batin Vanya.
Vanya menuruni tangga, Lalu mulai berbicara kepada kedua orang tuanya.
"Ma.. Pa.. Vanya akan menikah sama dia" ucap Vanya kemudian
Seketika kedua orang tuanya pun syok
"Apa?? kamu ngomong apa sih Vanya
kamu jangan melantur " ucap Mamanya marah
"Enggak Ma, Vanya serius Vanya akan menikah dengan dia, Seperti Mama dan papa dulu, Dulu kalian juga enggak pernah saling suka kan? Tapi kalian korbankan perasaan kalian buat Vanya, Sekarang giliran Vanya lakukan hal yang sama, Semuanya untuk kebaikan anak Vanya, Cucu Mama dan Papa" ucap Vanya yang mencoba menahan tangis
"Kalau gitu Vanya ke atas dulu ya mau siap-siap " ujarnya lagi sambil berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
Vanya menangis dikamarnya sambil memeluk kedua kakinya.
Mamanya terduduk lemas, Tidak tahu harus berbicara apa lagi , Karena Vanya sendiri yang telah memilih untuk menerima Daffin.
Malam harinya Daffin benar-benar datang bersama kedua orang tuanya.
Diruang tamu
"Sebelumnya kami sekelurga benar-benar minta maaf dan menyesal untuk apa yang telah putra kami lakukan" ucap Papa Daffin
"Untuk itu kami sekeluarga kemari berniat untuk melamar putri anda Vanya, Untuk putra kami Daffin, Jadi bagaimana apa Bapak, Ibu dan Vanya setuju?" ucap Papanya lagi
"Demi kebaikan bersama saya akan coba menerima, Bagaimana dengan kamu Vanya?" tanya Papanya
"Saya..." Lidah Vanya terasa kelu, berat sebenarnya untuk menerima semua
Daffin melirik ke arah Vanya, Vanya masih belum bisa meneruskan kata-katanya.
"Iya saya juga " jawab Vanya kemudian sambil mengepalkan tangannya
Mama Vanya bangun dari duduknya lalu pergi disusul oleh Mama Daffin.
Mama Vanya menangis tidak rela kalau nasib putri kesayangan berakhir seperti dirinya.
Mama Daffin datang dan mengelus pundak Mama Vanya seraya berkata
"Saya tahu pasti berat, Saya juga punya seorang putri dan saya juga pasti tidak rela, Tapi kembali lagi kita hanya ingin yang terbaik untuk semua, Dan saya berjanji akan menjaga Vanya sebaik mungkin, menyayangi dia seperti anak saya sendiri"
Mama Daffin pun kembali ke tempat duduknya disusul dengan Mama Vanya,
"Jadi kita sudah sepakat pernikahannya akan diadakan setelah lusa, Besok istri saya yang akan membantu Vanya untuk mempersiapkan segala sesuatunya dan juga mengurus dokumen pernikahannya, untuk resepsi kita akan tunda sampai Vanya melahirkan karena mengingat Vanya juga masih bersekolah jadi kita akan menikahkan mereka dulu baru nanti kita bicarakan lagi mengenai resepsinya" ujar Papa Daffin
"Iya baik lah" ucap Papa Vanya
Daffin tersenyum puas, Dan ia berserta keluarganya pamit pulang.
__ADS_1
Note : Jangan lupa tinggal kan Like dan juga Votenya. Terima kasih😊