
Mama Daffin baru saja datang menyusul ke Rumah Sakit, Beliau berusaha berbicara kepada Mama Vanya, Sementara Daffin nampak mendekap kepala Vanya.
"Emm saya benar-benar menyesal dengan apa yang telah terjadi, Semua ini terjadi juga karena kelalaian saya sebagai orang tua, Tetapi bagaimana pun juga Vanya menantu di keluarga kami, Jadi saya harap Vanya tetap diizinkan pulang bersama kami" ujar Mama Daffin.
"Saya benar-benar kecewa, Saya mencoba mengikhlaskan Vanya, Karena saya pikir Vanya bisa mendapatkan kebahagiannya, Saya juga lihat Vanya yang sudah mulai menerima kehidupannya sekarang, Tetapi apa ini?? Vanya sakit dan kalian malah menutupinya dari saya, Dan yang saya tak habis pikir dokter yang merawatnya bilang dia terlalu stres dan juga kurang nutrisi, Sebenarnya bagaimana kalian memperlakukan putri saya !!" ucap Mama Vanya dengan emosi.
"Ma... Ini semua salah Vanya, Vanya memang lagi enggak nafsu makan, Daffin dan keluarganya memperlakukan Vanya dengan baik kok" bela Vanya.
"Lalu apa yang membebani pikiran kamu?? Apa yang membuat kamu menjadi stres?" tanya Mamanya.
Vanya mulai tertunduk diam ia bingung tak tahu harus menjawab apa, Tak mungkin ia mengatakan kalau ia begitu stres karena perlakuan Daffin yang berubah akhir-akhir ini.
"Itu semua karena saya" ucap Daffin kemudian.
Vanya menoleh ke arah Daffin, Vanya berusaha melindungi dia dari amarah Mamanya namun ia malah mengakuinya.
"Sudah saya duga, Memang dari awal kamu adalah biang masalah dari semuanya perusak hidup orang lain !!" ucap Mama Vanya.
"Mama akan berbicara pada dokter yang merawat kamu, Supaya hari ini juga kamu pulang bersama Mama." ucap Mamanya seraya pergi keluar yang di susul oleh Mama Daffin.
"Kamu kenapa bilang gitu ke Mama?" ucap Vanya yang menatap tajam ke arah Daffin.
"Aku cuma berusaha jujur, Aku memang bukan suami yang baik, Aku udah bersalah sama kamu, Tapi aku pasti memperbaikinya, Enggak apa-apa untuk sekarang kamu pulang dulu sama Mama kamu ya, Tapi nanti aku pasti akan menjemput kamu kembali" ujar Daffin sambil mengusap kepala Vanya.
Akhirnya setelah dokter mengecek keadaan Vanya, Vanya pun diperbolehkan pulang, Ia pulang bersama Mamanya tanpa Daffin berusaha mencegahnya.
...----------------...
Sesampainya di rumah Vanya naik ke kamarnya untuk beristirahat,
Malam harinya saat Papa Vanya pulang, Ia cukup terkejut dengan kehadiran Vanya saat makan malam, Setelah selesai makan malam dan berbincang sebentar dengan Papanya Vanya kembali ke kamar.
"Kamu benar-benar membawa Vanya kembali ke rumah" ujar Papanya yang tengah duduk di ruang tamu bersama Mama Vanya.
"Iya" jawab Mamanya singkat.
"Seharusnya kamu tidak boleh seperti itu, Bagaimanapun juga Vanya sudah menikah, Kita tidak boleh ikut campur" ujar Papanya.
"Kamu tahu apa yang dikatakan dokter yang merawat Vanya? Dia terlalu stres dia tidak makan dengan cukup baik sampai-sampai kondisinya drop, Dan kamu mau biarkan Vanya kembali kesana? Begitu mau kamu!??" ujar Mama Vanya.
Papa Vanya hanya terdiam,
"Dari awal kita sudah salah karena menikahkan mereka, " ujar Mama Vanya lagi.
"Lalu setelah ini apa rencana kamu?" tanya Papa Vanya.
"Untuk saat ini kita biarkan seperti ini dulu, Kedepannya kita lihat nanti" ucap Mama Vanya seraya berjalan pergi menuju kamarnya.
Vanya mengambil ponselnya yang tadi sempat Daffin berikan ketika Vanya akan pulang ke rumah, Sudah 2 hari ini ia tak mengecek ponsel miliknya karena Daffin yang menyimpannya.
__ADS_1
Ia mulai menyalakan layar ponselnya, Dilihatnya ada puluhan pesan serta panggilan tak terjawab dari Mama serta teman-temannya.
Ia pun mulai membuka pesan satu persatu yang pertama dari teman-temannya,
Riri : Vanya~~~ Kamu kemana? Kok enggak masuk-masuk sih?
Fani : Heh ! Sakit atau kesambet lo sampe gak masuk 2 hari.
Vanya mulai tersenyum membaca pesan dari teman-temannya.
Meta : Sepi, Temen sebangku gue entah kemana
Meta : Woi Vanya kemana sih lo? Susah banget di hubungin.
Meta : Vanya ada yang kangen nanyain lo mulu
Meta : Niko neror gue terus nih nanyain lo kemana.
Vanya pun mulai terdiam melihat pesan terakhir dari Meta, Ya Niko laki-laki yang pernah mengisi ruang di hatinya yang kini telah tergantikan oleh Daffin, Masih ada sedikit kerinduan di hati Vanya untuk Niko, Laki-laki manis yang selalu memberi perhatian kecil untuknya, Andai saja Daffin tak pernah datang mungkin saat ini ia akan senang karena Niko mencari dirinya.
Vanya mulai membuka pesan selanjutnya,
Niko : Vanya, Kamu kenapa gak masuk? Kamu baik-baik aja kan?
Vanya mulai terdiam,
Hhh Niko batin Vanya.
Ping
Pesan baru masuk, yang ternyata dari Daffin.
Daffin : Sayang jangan sampai telat makan lagi ya, Jangan lupa juga minum obatnya.
Daffin : Baru sebentar udah kangen.
Daffin : Sabar ya nanti aku pasti jemput kamu dari sana.
Daffin : Kalau jemput sekarang kira-kira diusir gak ya?
Vanya mulai tersenyum melihat pesan dari Daffin.
Daffin : Sayang udah makan malam belum? Awas jangan sampai telat makannya.
Daffin : Aku kangen sama kamu😔
Vanya mulai membalas pesan dari Daffin, Daffin yang membacanya pun mulai tersenyum.
ISTRIKU : Aku juga kangen sama kamu😘
__ADS_1
"Ah kamu bener-bener bikin aku gregetan tahu gak, Awas ya kalau ketemu aku cium kamu gak akan aku lepasin" ucap Daffin sambil tersenyum.
Daffin pun mulai membalas pesan Vanya lagi.
Daffin : Sayang kamu muaahhhh😚😚😚
ISTRIKU : 😝😝😝
Daffin : Wah udah berani ngeledek ya kamu, Awas aja kalau ketemu.
Vanya tak membalas pesan dari Daffin lagi karena ia telah tertidur. Daffin pun menunggu cukup lama lalu mulai mengirimi Vanya pesan lagi.
Daffin : Kamu udah tidur ya? Selamat tidur istriku, Jangan lupa mimpiin aku ya sayang 😘😘
...----------------...
Keesokan harinya,
Vanya mulai masuk ke sekolah seperti biasa, Teman-temannya mulai menghujani Vanya dengan banyak pertanyaan.
"Lo kemana Va sampe gak masuk 2 hari?" tanya Meta.
"Sakit Ta" jawab Vanya.
"Gue kira kesambet lo" celetuk Fani
"Sembarangan !" ucap Vanya.
Guru mata pelajaran pertama pun mulai datang dan pelajaran pun dimulai, Ditengah pelajaran Vanya ingin buang air kecil dan pamit untuk ke toilet.
Sesampainya di toilet,
"Yah rusak lagi aja sih," ucap Vanya.
Vanya pun mulai berjalan menuruni tangga menuju toilet yang berada dilantai bawah, Namun tiba-tiba saja ada yang memeluk Vanya dari belakang, Vanya nampak terbelalak, Ia pun menoleh tenyata Daffin di belakang sana tengah memeluk Vanya sambil tersenyum.
"Fin, Kamu jangan kayak gini ! Kita ada di sekolah" ujar Vanya seraya berusaha melepaskan pelukan Daffin.
"Tapi aku kangen banget sama kamu," ujar Daffin yang masih mendekap Vanya dengan erat
Ah si*l kenapa tiap peluk Vanya begini bawaannya jadi naik batin Daffin.
"Fin udah lepasin," pinta Vanya.
"Sebentar lagi sayang" ucap Daffin.
"Vanya !! " panggil seseorang dari tangga paling atas.
Vanya terperanjat, Begitu pula dengan Daffin yang dengan cepat melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Si*l ketahuan batin Daffin.
Note : jangan lupa tinggalkan like, komen, serta Votenya. terima kasih😘.