
BACA ✔
PLAGIAT ❌
Karena mikir menguras energi otak beda dengan tinggal nyomot😂, think smart 😉**
...****************...
"Ayo kita lakukan sekarang, Aku udah enggak tahan lagi sayang" bisik Daffin di telinga Vanya.
Vanya terbelalak, Ingin rasanya ia berteriak namun tak mungkin karena Daffin adalah suaminya sekarang, Daffin pun mulai mengangkat tubuh Vanya dan merebahkannya di tempat tidur, Vanya segera bangun dan mulai berangsur menjauh dari Daffin.
"Fin, Kamu jangan kayak gitu, Aku takut, Aku enggak mau" ucap Vanya yang terlihat ketakutan.
"Enggak apa-apa sayang, Kamu enggak perlu takut" ucap Daffin yang mulai mendekat dan memagut bibir Vanya.
Tidak seperti biasanya kali ini Vanya tak mau berciuman dengan Daffin ia melepaskan pagutan dan terus mengelak, Namun Daffin tak habis akal ia terus memojokan Vanya dan mulai menindih tubuhnya, Lalu dibukanya tali handuk yang melingkar di pinggang Vanya, Saat Daffin hendak membuka handuk Vanya tiba-tiba...
Tok tok tok..
"Fin, Daffin" panggil seseorang dari luar kamar.
"Si*l !!! Siapa sih ganggu aja !" ucap Daffin seraya bangun dan mulai berjalan ke arah pintu.
Vanya bergegas merapikan kembali handuknya dan mulai bangun dari tempat tidur, Sedangkan Daffin mulai membuka pintu kamarnya.
Terlihat Papa Daffin yang sedang berdiri di depan pintu serta memandang heran ke arah Daffin yang matanya memerah serta terlihat berantakan.
"Kamu kenapa?" tanya Papanya.
"Enggak apa-apa Pa, Papa ada perlu apa?"
"Papa mau minta tolong bantu Papa ketik laporan untuk besok" ujar Papanya.
"Emangnya Mas Daniel kemana?" tanya Daffin.
"Lagi pergi sama Sandra" ucap Papanya.
"Bisa nanti aja enggak Pa?" tawar Daffin.
"Ya kalau bisa nanti Papa enggak akan minta bantuan kamu, Papa perlunya sekarang, Ayo cepat bantu Papa dulu" ucap Papanya seraya berjalan pergi.
Daffin melihat ke dalam kamar, Dan ternyata Vanya sudah masuk ke dalam kamar mandi, Akhirnya mau tak mau Daffin mulai menyusul Papanya ke ruang kerja.
"Ada aja gangguannya" ujar Daffin yang mulai menyusul Papanya ke ruang kerja.
Vanya pun keluar dari kamar mandi dan telah memakai pakaiannya, Lalu ia berjalan ke arah tempat tidur serta duduk di sana, Vanya mulai berpikir kali ini ia masih bisa lepas tapi bagaimana dengan nanti malam dan juga hari-hari berikutnya, Ia benar-benar tak habis pikir kalau Daffin akan memaksanya disaat ia masih merasa trauma dengan apa yang dulu Daffin lakukan kepadanya.
...----------------...
Malam harinya,
Setelah selesai makan malam Vanya memutuskan untuk duduk di teras rumah sendirian, Ia tak ingin masuk ke dalam apalagi masuk ke dalam kamar, Daffin pun datang menghampiri Vanya dan duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Kamu ngapain di sini? Dingin, Ayo masuk" ajak Daffin.
Vanya hanya menggelengkan kepalanya,
"Kamu kenapa?" tanya Daffin.
"Enggak apa-apa" jawab Vanya yang masih memandang ke arah depan.
Vanya menghela nafas dan mulai berbicara lagi, "Ayo masuk sekalian ada yang mau aku bicarain sama kamu" ujar Vanya.
"Ayo" ucap Daffin sambil tersenyum.
Vanya pun masuk dan berjalan menuju ke kamar, Sesampainya di kamar ia mulai berbicara lagi kepada Daffin.
"Fin, Bisa enggak kamu enggak sentuh aku dulu" pinta Vanya.
"Maksud kamu apa ?" tanya Daffin.
"Aku belum bisa lakuin itu, Jadi aku mohon kamu jangan minta apa-apa dari aku" pinta Vanya.
"Vanya, Kamu istri aku, Udah jadi kewajiban kamu untuk melayani aku" ucap Daffin.
"Iya tapi enggak sekarang Fin, Kasih aku waktu" ucap Vanya.
"Sampai kapan? Sampai berapa lama lagi aku harus nunggu??" tanya Daffin
"Aku enggak tahu" jawab Vanya.
Daffin tersenyum kecut,
"Kalau gitu percuma kita nikah !!" ucap Daffin yang terlihat emosi lalu mulai pergi keluar sambil membanting pintu.
Vanya hanya bisa terdiam saat Daffin pergi meninggalkannya sendiri di dalam kamar.
Daffin yang sedang kesal pun memutuskan untuk pergi ke kafe dan menenangkan diri.
...----------------...
Sesampainya di kafe,
Daffin mulai duduk dan memesan minuman, Tidak lama kemudian Leo datang dan secara tidak sengaja bertemu dengan Daffin disana.
"Kenapa lo?" tanya Leo yang baru datang serta duduk di dekat Daffin.
"Pusing gue" ucap Daffin.
"Pusing kenapa lo?" tanya Leo.
"Capek gue lama-lama ditolak terus," ucap Daffin.
Leo tersenyum kecut seraya berkata,"Gue bilang juga apa, Makan tuh cinta !"
"Kemaren udah gue tawarin cewek lo tolak, Kita ini laki-laki Fin, Butuh yang namanya menyalurkan hasrat, Lo tahan terus apa gak pusing tuh pala lo" ujar Leo.
__ADS_1
"Iya lo bener" ucap Daffin.
"Udah lah enggak usah pusing-pusing, Besok gue kenalin sama cewek, Lo mau gak?" tawar Leo.
"Iya deh gue mau" jawab Daffin tanpa pikir panjang.
"Nah gitu dong, Dari kemaren kek" ucap Leo.
Daffin mulai terdiam ia pun meneguk minumannya lagi, Tidak lama kemudian Dion pun datang menghampiri mereka.
"Wah ada apa lagi nih, Kalau gue lihat-lihat nih dari muka lo, Pasti lagi ada masalah lagi sama bini" ujar Dion.
"Udah lah enggak usah bahas bini di sini, Gue lagi males" ucap Daffin sewot,
Dion pun bertanya kepada Leo dengan memberikan kode mengangkat alis matanya, Leo hanya mengangkat kedua tangannya mengisyaratkan kalau ia tidak tahu apa-apa.
"Ion, nginep ya gue di kost an lo" ujar Daffin kemudian.
"Boleh aja," ucap Dion
Akhirnya Daffin menginap di kost an Dion, Sementara itu di rumah Vanya nampak sesekali melihat jam di dinding kamar, Waktu menunjukan pukul 01.30 , Vanya masih belum bisa tidur.
"Daffin kemana, Kok belum pulang juga" gumam Vanya.
Vanya nampak terlihat sedih, Baru kali ini Daffin mengacuhkannya sampai tidak pulang ke rumah, Ia mulai berpikir bahwa begitu ketelaluan kah sikapnya tadi terhadap Daffin, Sehingga Daffin begitu marah kepadanya.
Kilas balik...
Saat Vanya sedang mengeringkan rambut Daffin, Daffin pun berkata,
"Baru sama kamu, Aku ngerasa jadi orang enggak waras" ucap Daffin
"Enggak waras gimana?" tanya Vanya sambil mengerenyitkan dahinya.
"Iya padahal dulu aku pergoki pacar aku jalan sama yang lain aja, Aku langsung tampar dia di depan umum, Kalau sama kamu rasanya kamu mau apain aku aja, Aku enggak bisa marah" ujar Daffin
Vanya mulai teringat kembali kata-kata Daffin waktu itu, Dan mulai berkata,
"Dasar pembohong !" ucap Vanya kemudian
Tanpa terasa air matanya mulai meleleh, Ia kesal terhadap Daffin yang mengacuhkannya, Padahal Daffin sendiri yang mengatakan kalau ia tidak bisa marah kepada dirinya.
...----------------...
Keesokan harinya,
Nampak Vanya dan yang lainnya sedang sarapan, Daffin pun datang dari luar.
"Fin, Kamu darimana??" tanya Mamanya.
Namun tak Daffin hiraukan Ia berjalan terus ke atas menuju ke kamarnya.
Sandra dan yang lainnya nampak memperhatikan ke arah Vanya, Vanya hanya bisa tertunduk diam.
__ADS_1
Note : Jangan lupa tinggalkan like, komen dan juga votenya supaya authornya makin semangat. terima kasih untuk yang masih setia membaca😘
Ga jadi lanjut malam, Moodnya lagi bagus jadi bisa langsung up lagi😆