
"Iya tiga, yang satu lagi sama Papanya, dua lagi masih di dalam perut," ucap Vanya seraya mengelus perutnya yang masih terlihat rata.
"Oh, kembar ya? lucu-lucu pasti ya?" ucap Niko dengan senyum kaku.
"Pastilah Nik, perpaduan antara Pak Daffin sama Vanya," celetuk Fani.
Niko tersenyum kaku dan kembali fokus pada makanannya. Setelah selesai, Niko pamit dan pergi lebih dulu. Namun, sebelum pergi Fani sempat meminta foto bersama untuk kenang-kenangan.
"Kita ke mana lagi nih?" tanya Meta.
"Riri sih ikut aja," jawab Riri.
"Iya sama," ucap Vanya.
"Shopping yuk," ajak Fani yang telah menaruh ponselnya kembali setelah memposting foto mereka tadi di akun media sosialnya.
"Tumben banget sih ngajak shopping? Biasanya juga ngajak makan terus kerjaannya," tanya Meta heran.
"Ya kan sekali-kali. Lagian gue itu lagi memperhatikan penampilan, harus terlihat cantik dan modis" jawab Fani sambil berpose dengan kedua tangan di pinggang.
"Tapi tetep aja jomlo," celetuk Meta.
"Ih kurang ajar," sewot Fani dengan dahi mengerut.
__ADS_1
"Ya udah yuk jalan. Kapan jangannya kalau ribut terus, nanti gue keburu dijemput laki gue," ajak Vanya.
"Ya udah yuk," ucap Meta.
Keempatnya memutuskan untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan terdekat, hingga waktu telah menunjukkan pukul tiga sore, mereka pun mau tak mau harus mengakhiri kebersamaan mereka hari ini.
"Yah kok udahan sih??" ucap Riri dengan memajukan bibir, tak rela harus berpisah lagi dari teman-temannya.
"Ya mau gimana lagi? Kasian bumil. Kalau kita sih ayo aja mau jalan sampai besok juga," ucap Meta.
"Nanti sebelum lo balik, kita ngumpul lagi aja," saran Vanya.
"Iya bener tuh, sekarang kita balik dulu. Kasian si Vanya nih mana lagi hamil. Kalau kenapa-napa gue takut diamuk Pak Daffin lagi. Trauma." ucap Fani sambil bergidik ngeri.
"Ya udah iya deh," jawab Riri akhirnya meskipun sebenarnya ia masih tak rela.
Mereka menunggu di depan mall, Riri di jemput Evan lebih dulu dan kemudian Vanya menyusul dijemput oleh Daffin.
"Gue duluan ya?" ucap Vanya saat mobil Daffin sudah terparkir di dekat mereka.
"Iya Va. Hati-hati." pesan Meta dan Fani.
Vanya masuk ke dalam mobil dan melingkarkan sabuk pengaman di tubuhnya. Lalu, Daffin mulai kembali melaju dengan mobil.
__ADS_1
"Dava tidur yang?" tanya Vanya yang meoleh ke arah kursi belakang dengan Dava yang terlihat tidur bersandar pada car seatnya.
"Hmm, iya," jawab Daffin singkat dengan mata yang terfokus ke arah depan.
Tak ada obrolan apapun di dalam mobil, hanya Vanya yang menanyakan keseharian Daffin bersama putra mereka dan itu pun selalu di jawab singkat oleh Daffin. Setelah beberapa puluh menit perjalanan. Mereka tiba di rumah.
Daffin bergegas keluar dan menggendong Dava, lalu membawanya masuk tanpa mengajak Vanya. Dahi Vanya mengerut karena tak biasanya Daffin yang senang sekali berbicara, jadi lebih pendiam bahkan meninggalkannya di luar.
"Non, sudah pulang?" sambut asisten rumah tangga yang tadinya mengabdi di rumah orang tua Vanya dan kini bekerja di rumah Vanya, karena Vanya yang tak mau memakai jasa orang baru. Belum percaya sepenuhnya dan takut bila tak sesuai harapan.
"Iya, udah Bi," jawab Vanya dengan senyum tipis.
"Sini Bibi bawakan tasnya Non," pintanya.
"Oh iya, ini. Terima kasih," ucap Vanya seraya memberikan tas belanjaannya.
Vanya bergegas menyusul Daffin ke dalam, mencarinya yang kini membawa Dava yang tidur dan menidurkannya di kamar.
"Yang. Kamu udah makan? Seharian main ke mana aja sama Dava?" tanya Vanya yang kini berdiri di samping Daffin saat ia telah meletakkan Dava di dalam box bayinya.
Daffin diam dan malah melengos pergi ke kamr mandi tanpa menjawab pertanyaan dari Vanya.
"Ih dia kenapa sih? Aneh banget hari ini," gumam Vanya.
__ADS_1
Vanya memutuskan untuk menunggu Daffin keluar dari kamar mandi dan duduk di tepi tempat tidur.