VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Mak comblang


__ADS_3

..."Akan Ada Hari yang Cerah Setelah Badai"...


...----------------...


"Fin, Aku masuk dulu ya" ucap Vanya yang mulai melepaskan tangan Daffin dari pinggangnya.


"Oh iya sayang, Semangat ya untuk hari ini" ucap Daffin seraya mendaratkan kecupan di kening sebelah kiri Vanya.


Vanya nampak terbelalak karena mereka sedang di depan umum sekarang.


"Fin" ucap Vanya seraya mengerenyitkan dahinya.


Daffin hanya tersenyum melihat ekspresi Vanya yang seperti tak terima dengan apa yang baru saja ia lakukan, Sementara Leo tersenyum kecut melihat tingkah Daffin.


"Kak duluan ya" ucap Vanya kepada Leo seraya berjalan pergi.


"Iya" jawab Leo.


"Ya udah, Kalau gitu gue juga mau masuk dulu" ujar Leo namun sebelum Leo beranjak Daffin mulai berbicara lagi.


"Le, Gue tegasin sama lo, Jangan pernah lo berusaha deketin Vanya, Dia punya gue" ucap Daffin.


Leo terkekeh,


"Slow aja Fin, Enggak perlu takut begitu lah, Gue juga tahu dia istri lo" ucap Leo.


"Gue bukannya takut, Gue cuma enggak mau kebiasaan lama lo kumat" ujar Daffin.


"Tenang lah Fin, slow aja, Lagi pula Vanya juga bukan tipe gue, Lo tahu kan standar gue cukup tinggi kalau mau juga Stela gue embat dulu" ujar Leo.


"Ok, Bagus lah kalau begitu" ucap Daffin seraya kembali masuk ke dalam mobil dan mulai melajukannya lagi.


"Daffin... Daffin... Gila kali ya, Dulu paling cuek sama cewek sekarang gara-gara cewek satu aja lo bela-belain kesini cuma buat ngomong gitu doang, Hebat juga si Vanya" ujar Leo yang mulai kembali menaiki motornya dan masuk ke dalam kampus.


...----------------...


Sesampainya di dalam, Vanya mulai berjalan dan menghampiri teman-temannya yang tengah duduk di dekat taman, Serta duduk bersama mereka.


"Cieeee yang abis dianter sama suami tercinta," ledek Meta.


"Iya pake rangkul-rangkulan lagi, Pagi-pagi mata gue udah lihat pemandangan yang enggak-enggak" ujar Fani.


"Sirik aja mblo" ledek Vanya


"Dih songong ya sekarang," ujar Fani.


Vanya hanya tersenyum,


"Itu bibir lo kenapa Va?" tanya Meta ketika melihat sudut bibir bawah Vanya nampak memerah.


"Kejedot Ta" jawab Vanya sekenanya.


"Kejedot apaan emang sampe begitu?"" tanya Fani.


"Tembok !" jawab Vanya setengah sewot karena Fani bertanya dengan nada meledek


"Sejak kapan tembok punya gigi???" tanya Fani lagi.


"Hah??" ucap Vanya terbelalak.


"Pak Daffin mainnya kasar ya" bisik Fani di telinga Vanya yang membuat wajahnya seketika merah padam.


"Apaan sih !??" ucap Vanya yang terlihat malu.


Fani pun tertawa puas karena berhasil menggoda Vanya, Sementara Vanya memandang kesal ke arah Fani.


"Vanya" panggil Fani lagi


"Hmm.. Kenapa lagi??" tanya Vanya.


"Kapan dong gue dikenalin sama cowok ganteng kemaren" ujar Fani.


"Cowok yang mana??" tanya Vanya.


"Ih yang nghukum lo, Temen laki lo" ujar Fani.


"Oh... Kak Leo?" ujar Vanya.


"Oh jadi namanya Leo?" tanya Fani.


"Iya namanya Leo" ucap Vanya.


"Terus kapan dong gue di comblangin? Udah bosen nih jadi jones" ucap Fani.


"Iya nanti gue comblangin" ujar Vanya.


"Eh seriusan nih??" tanya Fani.


"Iyaa.. Tapi jangan sampe patah hati ya, Kalau ternyata dia punya pacar" ujar Vanya.


"Emang dia udah punya pacar?" tanya Fani.


"Ya enggak tahu, Nanti gue tanyain dulu" ujar Vanya.


"Asik, Makasih Vanya sayang, Istrinya Pak Daffin emang the best nih" puji Fani.


"Kebiasaan ada maunya aja muji-muji" gerutu Vanya.


"Emang" ucap Meta.


...----------------...


Malam hari di rumah Vanya,


Vanya terlihat sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Sedangkan Daffin tengah membaca buku sambil menyandarkan tubuhnya, Vanya pun berangsur bangun dan duduk mendekat di samping Daffin.


"Fin" panggil Vanya kemudian.


"Ya, Kenapa sayang?"tanya Daffin seraya melihat ke arah Vanya lalu tersenyum.


"Kak Leo punya pacar enggak sih?" tanya Vanya.


"Kamu ngapain tanya-tanya Leo punya pacar atau enggak !??" ucap Daffin sewot.


"Fani suka sama Kak Leo, Dia minta dikenalin" jelas Vanya.


"Oh aku kira kenapa" ucap Daffin yang kembali membaca buku ditangannya.


"Punya enggak Fin" ujar Vanya seraya mengguncang bahu Daffin.


"Aku juga enggak tahu, Standar dia tuh tinggi," ucap Daffin.


"Harus yang kayak apa?" Tanya Vanya.

__ADS_1


"Yang jelas bodynya harus sexy dan berisi, Dia enggak suka yang tepos" ujar Daffin.


"Kalau kamu?" tanya Daffin.


"Ya sama lah aku juga" ucap Daffin yang dibalas tatapan tajam dari mata istrinya.


"Oh jadi aku bukan tipe kamu nih.~~" ujar Vanya.


"Ha? Oh ya enggak gitu juga, Aku tetap suka kok meskipun tepos"ucap Daffin dengan penuh keyakinan.


"Dasar cowok lain di mulut lain di hati" ucap Vanya cemberut.


"Ya kan wajar sayang, Tapi aku tetap suka kok" ucap Daffin.


Vanya masih saja tetap memajukan bibirnya.


"Jangan cemberut jelek, Nanti aku cium nih" ujar Daffin sambil mendekat ke arah Vanya.


"Enggak mauuu"ucap Vanya yang berusaha mengelak.


"Yang serius ah Fin, Punya atau enggak nih jadinya?" tanya Vanya mencoba untuk kembali serius.


"Enggak kayaknya" ucap Daffin kemudian.


"Ya udah kalau gitu, Kamu mau enggak deketin mereka?" tanya Vanya.


"Maksudnya? Aku disuruh jadi mak comblang nih?" tanya Daffin.


"Iyaa, Kasihan si Fani udah kelamaan ngejomblo, Terus dia ngebet banget sama Kak Leo," ujar Vanya.


"Ya udah suruh dia deketin langsung aja" ujar Daffin seraya membaca kembali.


"Dia nya enggak mau, Maunya dikenalin dulu, Kamu tolong kenalin ya?" ujar Vanya.


"Aku sibuk sayang, Enggak ada waktu buat ngurusin mereka" ucap Daffin yang tangannya masih saja tertuju pada buku yang ia pegang.


"Ya udah deh kalau gitu aku aja yang ngenalin mereka" ujar Vanya.


Seketika Daffin langsung memandang ke arah Vanya.


"Jangan ! Kamu enggak usah ikut-ikutan, Biar mereka urus, Urusan mereka sendiri" ujar Daffin.


"Emangnya kenapa?" tanya Vanya.


"Ya aku enggak suka aja kamu ngurusin hal enggak penting" ujar Daffin.


"Tapi ini penting buat kelanjutan masa depan Fani" ujar Vanya.


Daffin mulai diam dan berpikir , Kalau seandainya Leo bersama Fani, Ia sudah tak perlu khawatir kalau Leo akan mendekati Vanya.


"Ya udah boleh, Aku dukung sampai mereka jadian" ujar Daffin.


"Nah gitu dong" ucap Vanya.


...----------------...


Keesokan harinya,


Sebelum berangkat Vanya mulai memasukan jaket milik Leo kedalam tasnya, Ia pun mulai berangkat dan diantarkan oleh Daffin.


Sesampainya di kampus Vanya nampak mencari Leo yang ternyata sedang berada dikantin bersama Dion.


Vanya nampak terlihat malas bertemu dengan Dion namun demi menuntaskan misinya mau tak mau ia pun mulai menghampiri Leo.


"Kak Leo, Aku mau bicara sebentar tapi jangan disini" ucap Vanya seraya menatap tajam ke arah Dion.


"Ya udah ayo" ajak Leo yang mulai beranjak dari duduknya dan mengikuti Vanya ke tempat yang lebih sepi.


Vanya pun mulai membuka tasnya serta memberikan jaket milik Leo.


"Ini Kak, Makasih ya" ujar Vanya seraya memberikan jaket milik Leo, Leo pun menerima dan langsung memakainya.


"Jaket kesayangan aku nih" ujarnya.


"Oh iya Kak sekalian ada yang mau aku tanyain"ucap Vanya.


"Kamu mau tanya apa?" tanya Leo.


"Emm..Kakak punya pacar gak?" tanya Vanya.


Leo pun setengah tersenyum sambil mengerenyitkan dahinya.


"Memang kenapa? Kamu suka sama aku?" tanya Leo.


"Ha? Bukan Kak, Bukan aku" ucap Vanya yang terlihat kaget.


"Tapi teman aku Fani" ucap Vanya.


"Oh gitu, Yang mana sih orangnya?" tanya Leo.


Vanya pun mulai mengeluarkan ponselnya, mendekat dan sejajar dengan Leo, Lalu membuka galeri serta menunjukan Foto Fani.


Leo nampak mulai membungkukkan tubuh tingginya hingga sejajar dengan Vanya lalu mulai ikut melihat layar ponsel Vanya.


"Yang mana?" tanya Leo.


"Yang ini Kak"tunjuk Vanya seraya menoleh ke arah Leo.


"Oh itu" ucap Leo yang juga menoleh ke arah Vanya.


Wajah mereka pun nampak berdekatan hanya sekitar 10 sentimeter jaraknya, Leo mulai memperhatikan setiap sudut wajah Vanya, Vanya pun nampak tertegun untuk sepersekian detik sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya dan mulai sedikit menjauh dari Leo.


"Ok boleh juga" ucapnya.


"Jadi Kakak mau?" tanya Vanya meyakinkan.


"Ya kita lihat dulu aja" ucap Leo.


"Ya udah kalau gitu apa panggilin sekarang aja apa gimana enaknya?" tanya Vanya.


"Jangan sekarang, Nanti pulang kuliah aja ketemuan di Mall dekat sini." ucap Leo


"Ok Kak, Makasih ya aku kasih tahu Fani dulu" ujarnya seraya berjalan pergi


Sementara Leo mulai kembali menemui Dion dikantin, Sesampainya disana Leo nampak kembali duduk di sebelah Dion.


"Ngapain lo sama si Vanya?" tanya Dion.


"Ada deh" jawab Leo.


"Jangan macem-macem Le, si Daffin tahu gameover lo !" ujar Dion.


"Santai aja Ion, Enggak usah terlalu tegang, Lama-lama lo jadi kayak si Daffin, Apa-apa dibawa serius" ujar Leo.

__ADS_1


"Ya bukan apa-apa lo tahu sendiri kan kalau dia udah marah gimana? Belum lagi dia kasih tanggung jawab ke gue buat jagain si Vanya." ujar Dion.


"Udah lo tenang aja" ujar Leo seraya menepuk bahu Dion.


...----------------...


Sepulang kuliah,


Vanya nampak menunggu dan berbicara lagi kepada Leo, Nampak Vanya dan Leo yang tengah serius berbicara sementara Fani memperhatikan dari kejauhan.


Setelah selesai berbicara Leo pergi meninggalkan Vanya, Sementara Vanya kembali menemui Fani.


"Gimana Va?" tanya Fani.


"Lo disuruh nunggu di deket bioskop mall sebelah" ujar Vanya.


"Ya udah kalau gitu yuk jalan" ajak Fani.


"Jalan kemana?" tanya Vanya bingung.


"Ya ke Mall lah" jawab Fani.


"Yee lo jalan sendiri lah sana, Masa masih harus sama gue juga"protes Vanya.


"Yah Va, Lo kok tega sama gue, Gue malu sendirian temenin dulu yuk" rengek Fani.


"Enggak ah masa nanti gue jadi nyamuk" ujar Vanya


"Enggak akan jadi nyamuk kok gue janji, Kenalin gue ke dia dulu nanti kalau gue udah kenalan baru deh lo boleh pulang, Please temenin gue dulu ya Vanya" Fani memohon.


"Iya deh iya" jawab Vanya akhirnya.


Fani pun tersenyum, Lalu mereka pun pergi ke tempat yang dimaksud sesampainya disana Vanya pun duduk dan menunggu bersama Fani.


Tidak lama kemudian Leo pun datang dan duduk diantara mereka.


"Lama ya?" ucap Leo.


"Enggak kok Kak" jawab Vanyam


"Oh iya, Ini Fani Kak yang aku ceritain tadi" ujar Vanya.


Leo pun mulai mengulurkan tangannya, dan disambut pula oleh uluran tangan Fani.


"Leo " ucap Leo.


"Fani" ucap Fani.


Fani nampak terlihat salah tingkah serta sesekali membetulkan rambutnya.


"Mau nonton?" ajak Leo kepada Fani.


"Mau Kak" ucap Fani bersemangat.


"Ya udah aku beli tiket dulu ya, Kamu mau sekalian ikut nonton juga?" tanya Leo kepada Vanya.


"Enggak Kak, Aku sebentar lagi juga pulang" ujar Vanya.


Akhirnya Leo pergi membeli tiket dan Fani menunggu disana bersama Vanya.


"Fan, Gue balik ya? Sisanya lo urus sendiri" ujar Vanya.


"Jangan dulu dong Vanya, Temenin sampe dia balik kesini ya baru deh lo boleh pulang" ujar Fani.


"Iya deh" jawab Vanya akhirnya.


Kring Kring 🎶🎶🎶


Suara ponsel Fani, Fani pun mulai menerima panggilan teleponnya.


"Iya Ma, Kenapa?" ucap Fani di telepon.


"Yang bener Ma?!?" ucap Fani lagi.


"Iya Ma Fani nyusul kesana" ujar Fani lagi.


"Kenapa Fan??" tanya Vanya penasaran.


"Gue dapet telepon si Nita mau lahiran katanya" ujar Fani panik dan mulai berdiri.


"Terus sekarang lo mau kemana?" tanya Vanya.


"Gue mau nyusul ke rumah sakit nih," ucap Fani.


"Terus Kak Leo gimana??" tanya Vanya bingung.


"Tolong sampein maaf gue aja ya ke dia, Terus lain kali aja kita ketemuannya, Gue balik duluan Va" ucap Fani yang mulai berjalan dengan tergesa-gesa.


Vanya pun terlihat bingung disana, Sementara Leo mulai datang kembali setelah membeli tiket.


"Teman kamu mana?" tanya Leo.


"Pulang Kak, Mau nemenin saudaranya lahiran" jawab Vanya.


"Terus gimana nasib tiketnya?" tanya Leo.


"Ya gimana ya Kak" ucap Vanya tak enak.


"Ya udah kalau gitu kamu aja yang gantiin" ucap Leo


"Lho kok aku Kak??" tanya Vanya bingung


" Ya aku udah terlanjur beli 2 tiket dan aku juga enggak mau nonton sendirian,"ujar Leo.


Vanya diam dan berpikir, Ia pun merasa tak enak karena tadi ia yang mengajak Leo bertemu Fani dan akhirnya mau tak mau Vanya pun menggantikan Fani.


"Ya udah deh Kak, Iya" ucap Vanya akhrinya.


Leo pun mulai duduk didekat Vanya, Film baru akan dimulai 15 menit lagi, Mereka pun nampak terdiam, Lalu Leo pun akhirnya membuka pembicaraan.


"Gimana sama Daffin? Dia masih suka marah-marah" tanya Leo.


Vanya pun menggeleng, "Enggak Kak, Dia baik kok jarang marah, Malah aku yang sering marah" ujar Vanya.


"Oh ya? Padahal dia orangnya cukup tempramen lho" ujar Leo lagi.


"Iya, Tapi sekarang dia udah mulai berubah kok Kak, Hampir enggak pernah marah, Lembut, Perhatian, Penyayang." ujar Vanya.


"Tunggu.. tunggu.. Yang lagi kamu bahas tuh sebenernya siapa sih?" tanya Leo yang mulai terlihat bingung.


"Daffin Kak, Siapa lagi" ucap Vanya.


"Tapi semua yang kamu sebut tadi berbanding terbalik sama sifat dia" ujar Leo.

__ADS_1


"Seiring waktu, semua orang akan berubah, dan mereka yang dewasa akan berubah menjadi lebih baik."


Note : Jangan lupa tinggalkan like, komen dan juga Votenya. Terima kasih😉


__ADS_2