
Daffin mulai melepaskan pelukannya, Ia pun mulai menyentuh kedua pipi istrinya seraya berkata, "Karena mulai besok aku berangkat tugas, Gimana kalau hari ini kita jalan-jalan, Kita pergi kemana pun yang kamu mau, Kita makan di luar juga ya, Kamu mau?" ucap Daffin seraya menatap lekat ke arah Vanya.
Vanya pun mulai mengangguk,"Iya mau" ucap Vanya.
Daffin mulai menggenggam tangan Vanya dan membawanya menuju ke mobilnya, Mereka pun akhirnya pergi,
"Sayang kita mau kemana?" tanya Daffin ketika mereka tengah berada di dalam mobil.
"Nonton" jawab Vanya singkat.
Daffin terdiam sejenak, Ya, memang setelah mereka menikah beberapa bulan ini ia hanya sekali mengajak Vanya pergi menonton, Setelah itu ia tak pernah lagi mengajaknya pergi menonton bersama.
"Iya ayo" ucap Daffin seraya tersenyum.
Daffin dan Vanya pun akhirnya pergi menonton bersama, Setelah menonton mereka pun pergi makan bersama di tempat langganan mereka.
Sesampainya di tempat makan,
Nampak waiter yang mendatangi meja mereka dan memberikan daftar menu, Mungkin karena waiter yang terlalu ceplas ceplos ia pun mulai menegur Vanya.
"Eh Embaknya, Perasaan beberapa hari lalu habis dari sini juga ya, Tapi kok Masnya beda lagi ya" ceplos si waiter yang memang agak kemayu.
"Emm.." Vanya pun mulai terlihat bingung harus menjawab apa.
"Saya suaminya dan yang waktu itu Kakaknya" ujar Daffin yang mulai menatap tajam ke arah Vanya.
Ditegur seperti tadi oleh si waiter nampak membuat Vanya terlihat malu sendiri, Ia pun baru menyadari memang sepertinya salah pergi makan bersama Leo tempo hari.
Ia mulai melirik ke arah Daffin, Tatapannya masih belum berubah, Ia terlihat kesal, Ya, Pasti Daffin kesal pikirnya, Istrinya malah pergi makan bersama pria lain di tempat biasa mereka makan, Vanya pun hanya bisa tertunduk diam.
Tidak lama setelah itu pesanan pun datang, Mereka pun mulai menyantap makanannya hingga habis, Setelah selesai Daffin membayar makanannya, Lalu mereka mulai berjalan dan masuk kembali ke dalam mobil serta mulai melajukannya lagi menuju ke tempat tinggal mereka, Disepanjang jalan Vanya hanya terdiam, Daffin pun tengah fokus menyetir.
Sesampainya di Rumah,
Daffin mulai memarkirkan mobilnya dan sebelum ia turun Vanya pun mencegahnya dengan memegang bahu Daffin.
"Maaf" ucap Vanya akhirnya.
Daffin masih nampak terdiam,
"Maaf pas ditempat makan tadi..."
__ADS_1
"Udah enggak apa-apa lupain aja" ujar Daffin seraya keluar dari dalam mobil dan diikuti oleh Vanya dibelakangnya.
Daffin mulai masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya, Ia pun pergi mandi dan berganti pakaian begitu pula dengan Vanya, Setelah itu Daffin mulai menyiapkan pakaian yang akan dibawanya pergi besok.
Daffin tengah berdiri di depan lemari pakaian, Sementara Vanya tengah duduk diatas tempat tidur sambil memandangi punggung Daffin.
Besok malam sendirian deh di rumah batin Vanya.
Vanya pun berangsur bangun dari duduknya mendekati Daffin lalu mulai melingkarkan kedua tangannya ditubuh Daffin seraya berkata,"Kamu beneran mau pergi besok?"
"Iya" jawab Daffin singkat.
Dengan tangan yang masih melingkar Vanya mulai merebahkan kepalanya dipunggung Daffin dan mulai berkata lagi, " Jadi aku mau ditinggalin nih?" tanya Vanya meyakinkan.
Daffin pun menoleh dan mulai memutar tubuhnya kini mereka saling berhadapan dan Daffin mulai ikut memeluk Vanya.
"Aku juga enggak mau, Tapi ini tugas, Aku enggak bisa nolak" ujar Daffin yang kini tengah memeluk Vanya dengan erat.
"Tapi aku janji, Setelah semuanya selesai aku akan cepat-cepat pulang buat nemuin kamu sayang" ujar Daffin.
Vanya pun hanya mengangguk serta membenamkan kepalanya di dada bidang Daffin.
...----------------...
Vanya bangun pagi-pagi sekali, Hari ini adalah jadwal keberangkatan Daffin, Ia pun dengan sigap menyiapkan sarapan terlebih dahulu, Lalu mulai membangunkan Daffin, Nampak Vanya yang naik ke atas tempat tidur, Namun bukannya ia membangunkan Daffin, Vanya malah kembali merebahkan tubuhnya disamping Daffin dan merebahkan kepalanya di dada Daffin, Daffin yang menyadari kehadiran istrinya itu pun mulai melingkarkan kedua tangannnya ditubuh mungil istrinya.
"Sayang bangun" ucap Vanya yang langsung membenamkan wajahnya didada suaminya itu.
Daffin pun terbelalak, Ia mulai membuka matanya dan melihat ke arah istrinya.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Daffin.
"Aku enggak bilang apa-apa" ucap Vanya.
"Enggak mau ngaku??" ucap Daffin yang mulai menyentuh dagu Vanya dan mendongakkan wajahnya.
"Enggak mau bilang aku cium nih" ujar Daffin yang mulai bangun dan mendekatkan wajahnya ke wajah Vanya.
"Enggak mau, Kamu bau belum mandi" ujar Vanya.
"Enak aja, Sini aku hukum kamu ya karena ngomong sembarangan" ucap yang menarik tubuh Vanya hingga berada diatas tubuhnya.
__ADS_1
Daffin pun mulai memagut bibir Vanya, dilingkarkannya dengan erat kedua tangannya pada pinggang Vanya, Daffin menyapu hampir keseluruh wajah Vanya, Vanya nampak berontak namun percuma saja karena Daffin mengunci tubuhnya, Kini ciumannya pun turun hingga ke leher, Digigitnya leher Vanya hingga meninggalkan bekas memerah disana, Vanya pun terbelalak Lalu mulai protes.
"Kok gigit !?" protes Vanya.
"Itu hukuman buat kamu" ucap Daffin seraya tersenyum.
Vanya pun dengan sigap melepaskan pelukan Daffin dan turun dari tubuhnya lalu menuju ke meja rias, Nampak Vanya yang sedang bercermin untuk memastikan tidak ada tanda yang Daffin tinggalkan, Sementara Daffin mulai turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi, Setelah selesai mandi Daffin mulai pergi ke meja makan dan bersiap sarapan dengan Vanya yang telah menunggunya disana.
Sepanjang sarapan Vanya nampak terus memajukan bibirnya Daffin yang memperhatikannya pun mulai bertanya, "Kamu kenapa?" tanya Daffin.
"Kamu main gigit aja kalau di kampus ada yang lihat gimana,?" gerutu Vanya.
"Ya bagus, Jadi mereka tahu kamu udah ada yang punya." ujar Daffin.
"Hishh" ucap Vanya yang masih memajukan bibirnya.
"Jangan gitu nanti aku tambahin lagi nih" ujar Daffin
Dan dengan cepat Vanya mengatupkan bibirnya.
"Nah gitu dong, Kan cantik" ujar Daffin seraya tersenyum.
Mereka pun mulai menyelesaikan sarapannya, Setelah itu Daffin mulai membawa koper berisi pakaian ditangannya, Nampak taxi yang tengah menunggunya di depan, Daffin pun pergi ke bandara dan diantar oleh Vanya.
Di Bandara,
Nampak Vanya yang masih terus saja memeluk Daffin dan tak mau melepaskannya,
"Sayang, Udah waktunya berangkat, Dilepas ya?" ujar Daffin lirih.
Vanya pun menggeleng, "Enggak mau" ucapnya.
"Udah lepas dulu nanti pokoknya aku beliin oleh-oleh yang banyak dan spesial buat kamu" bujuk Daffin.
"Yang penting kamu sehat dan selamat sampai sana" ujar Vanya.
"Iya sayang, Ya udah aku berangkat dulu ya, Kamu jaga diri kamu buat aku, Setelah pekerjaan aku selesai aku akan langsung pulang pulang" ujar Daffin sambil mengelus rambut Vanya.
Vanya pun mengangguk, Lalu mulai melepaskan pelukannya. Daffin pun mengecup dahi Vanya dan berjalan pergi hingga punggungnya sudah tak terlihat lagi.
*Note : Jangan lupa tinggalkan likenya
__ADS_1
Mood authornya lagi terjun bebas nih maaf ya kalau kurang greget heuu*..