VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Kepulangan Daffin


__ADS_3

Sehari sebelumnya...


"Nih Fin, Handphone udah diberes," ujar Mas Daniel ketika memasuki kamar dan memberikan ponsel milik Daffin


"Makasih Mas" ujar Daffin yang meraih ponsel dari tangan Mas Daniel


"Lagi kenapa enggak ganti baru aja sih?" tanya Mas Daniel.


"Sayang Mas, Uangnya kan bisa ditabung, Lagian banyak foto yang enggak masuk memory card," ujar Daffin.


"Tumben mikirin nabung biasanya foya-foya terus" ujar Mas Daniel.


"Iya lah Mas, Nyari uang tuh susah, Sampai harus bela-belain tugas jauh kayak gini, Kan biasanya cuma bisa minta aja ke Papa, Enggak tahunya sesulit ini cari uang"ujar Daffin.


"Akhirnya kamu merasakan juga, Punya istri bawa berkah tersendiri ya," ujar Mas Daniel.


"Iya,"ucap Daffin tersenyum kecut


"Ya tapi kan lebih membanggakan hasil keringat sendiri juga Fin," ujar Mas Daniel lagi


"Iya bener Mas" ujar Daffin seraya tersenyum.


"Eh iya besok kita sudah bisa pulang" ujar Mas Daniel


"Eh seriusan Mas??" tanya Daffin antusias


"Iya, Kenapa? Enggak mau?" tanya Mas Daniel.


"Ya mau lah Mas, Mau banget" ujar Daffin.


"Mas juga nih, Udah kangen banget pengen ketemu sama Embak kamu" ujar Mas Daniel.


"Iya Daffin juga kangen sama Vanya, Enggak tenang ninggalin lama-lama, Takut ditikung sama teman sendiri"ujar Daffin tersenyum kecut.


"Memangnya siapa yang mau nikung kamu?" tanya Mas Daniel.


"Ada Mas, Teman nongkrong sama junior di kampus, Dia deketin Vanya terus" ujar Daffin kesal.


"Masa sih? Tapi teman kamu tahu kan, Kalau Vanya itu istri kamu?" tanya Mas Daniel.


"Ya tahu lah Mas, Cuma anaknya ngocol Mas, Paling susah dikasih tahu dan semaunya sendiri" ujar Daffin.


"Wah sama dong kayak kamu" ujar Mas Daniel.

__ADS_1


"Lho kok jadi sama kayak Daffin?" protes


"Ya iya memang biasanya kamu begitu kan?" ucap Mas Daniel


"Ya tapi kan sekarang udah enggak" ujar Daffin.


"Kamu santai aja Fin, Palingan juga teman kamu itu hanya iseng, Hanya mau goda kamu aja, Buat kamu kesal, Bukan ada maksud yang lain, Nah kamunya yang over thinking" ujar Mas Daniel.


"Kok jadi Daffin?" protes Daffin.


"Ya Iya siapa lagi? Udah lah Fin enggak usah terlalu diambil pusing, Toh Vanya udah jadi milik kamu, Hak kamu secara hukum, Kalau pacaran sih iya mungkin ditikung kalau udah nikah? Ya kayak enggak ada cewek lain aja gitu lho, Enggak masuk akal," ujar Mas Daniel.


"Udah ah Mas mau mandi dulu" ucapnya seraya pergi ke kamar mandi.


Daffin mulai melihat ponselnya, Ia pun mulai menyalakan ponselnya, Ada pesan masuk dari Dion, Saat ia hendak membukanya tiba-tiba saja ia mengurungkan niatnya.


Nanti denger kabar aneh-aneh mood gue bisa anjlok, Besok pokoknya enggak mau marah-marah, Enggak mau berantem lagi sama Vanya Batin Daffin.


Hingga keesokan harinya Daffin tiba dibandara ia mulai menarik kopernya, Akhirnya bisa bertemu dengan istri tercinta pikirnya, Daffin berpisah jalan dengan Daniel, Kini Daffin mulai menaiki taxi, Disepanjang jalan ia terus saja mengembangkan senyumnya, Ia ingin mengejutkan Vanya dengan pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.


Pukul 09.20


Daffin telah sampai ke rumah, ia mulai menekan bel namun Vanya tak kunjung keluar, Ia pun akhirnya membuka pintu dengan kunci cadangan yang sengaja disimpan dibawah pot bunga.


Ceklek


"Kamu kemana?" gumam Daffin.


Daffin sangat lelah diperjalanan, Ia pun akhirnya tertidur, Sore harinya Daffin terbangun dilihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 4 Tetapi Vanya masih belum pulang juga, sampai akhirnya ia mendengar suara motor yang tak asing, Daffin mendekat ke arah jendela, Dan melihat arah keluar, Ternyata benar itu adalah suara motor milik Leo dan yang paling mengejutkan istrinya baru saja turun dari atas motor yang Leo kendarai.


Daffin mulai mengepalkan tangannya, Emosinya nampak siap untuk meledak.


Sampai akhirnya Vanya masuk ke dalam kamar dan Daffin memeluknya.


...----------------...


Kembali ke masa sekarang...


Daffin telah menuntaskan hasratnya kini ia terbaring disamping Vanya dengan nafas yang masih terengah-engah, Pandangannya menatap ke arah langit-langit kamarnya, Sementara Vanya tidur menyamping memunggungi Daffin, Hanya sebuah selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.


Nampak air mata yang meleleh dari dua sudut mata Vanya, Dan segera Vanya hapus ketika air mata itu berjatuhan, Terlihat bekas noda memerah yang Daffin tinggalkan ditubuh Vanya, Daffin benar-benar melakukannya seperti saat dulu pertama kali ia lakukan kepada Vanya.


Vanya mulai bangun perlahan, Menuju kamar mandi lalu keluar dan mengenakan pakaian, Vanya bersiap keluar dari kamar, Namun saat ia beranjak pergi Daffin mencegahnya.

__ADS_1


"Mau kemana??" tanya Daffin.


"Mau masak" ujar Vanya.


"Enggak perlu delivery aja," ujar Daffin yang mulai bangun dan mengambil ponsel lalu mulai memesan makanan.


Setelah itu Daffin mulai pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya serta kembali berpakaian, Sementara Vanya turun ke bawah dan duduk di sofa.


Tidak lama setelah Daffin selesai berpakaian ia pun mulai menyusul Vanya kebawah, Ia duduk berjauhan dan nampak memandangi Vanya, Sorot matanya seperti menyimpan amarah, Sementara Vanya melirik sekilas dan mulai tertunduk diam.


Ting tong...


Suara bel rumah berbunyi, Ketika Vanya beranjak bangun Daffin lagi-lagi mencegahnya, "Aku aja yang ambil"


Daffin segera bangun menuju ke arah pintu dibukanya pintu oleh Daffin, dan si pengantar makanan telah berdiri di depan pintu.


Daffin memberikan sejumlah uang lalu si pengantar makanan memberikan pesanan Daffin, Daffin datang dengan sebuah kantung yang berisi makanan di dalamnya.


"Ayo kita makan dulu" ajak Daffin seraya berjalan ke arah dapur diikuti Vanya dibelakangnya.


Daffin mulai menaruh satu kotak nasi berserta lauk didalamnya diatas meja, yang satunya dia taruh didepannya dan yang satunya lagi ia taruh di depan Vanya.


Daffin duduk dan begitu pula dengan Vanya,


Mereka pun mulai menyantap makanannya.


Daffin nampak melirik ke arah Vanya, Vanya makan dengan perlahan seperti orang yang tidak nafsu makan.


"Ayo makan yang banyak, Habis ini kita lanjut lagi," ujar Daffin.


Lanjut apa? Batin Vanya


Daffin telah selesai menyantap makanannya, Ia pun bangun membuang box kedalam tempat sampah lalu mencuci tangannya dan kembali duduk menunggu Vanya menyelesaikan makannya.


Vanya nampak sudah selesai menyantap makanannya, Ia bangun dan pergi ke wastafel untuk mencuci tangan, Daffin yang tadinya hanya duduk menunggu kini mulai mendekat ke arah Vanya dan memeluk Vanya dari belakang.


Tangan nakalnya mulai bergerilya ditubuh bagian atas dan bawah Vanya, Vanya nampak terkejut,


"Fin, Kamu jangan kayak gini" pinta Vanya dengan nada memelas.


Daffin tidak menghiraukan perkataan Vanya, Ia mulai melucuti pakaian yang Vanya kenakan, dan lagi-lagi memulai aksinya.


"Emmphh"

__ADS_1


Desahan yang lolos begitu saja dari mulut Vanya meskipun ia berusaha menahannya, kedua tangan Vanya nampak mencekram tepi wastafel.


Note : Jangan lupa tinggalkan like, komen dan juga Votenya. Terimakasih😌


__ADS_2