
Vanya mengembangkan senyumnya setelah melihat pemandangan dari atas sana, Pepohonan yang rimbun, Udara yang begitu sejuk, Air yang berjatuhan dari atas, Tak sabar rasanya ia untuk mendekat dan menyegarkan dirinya dengan air tersebut.
Dilepasnya genggaman tangan Leo tadi oleh Vanya, dan ia mulai berjalan mendekat ke arah air terjun, Sementara Leo mulai memandang ke arah telapak tangannya sendiri, Lalu mengepalkannya dan mulai tersenyum.
Vanya mulai membuka sepatu kets, Lalu ia mulai berjalan diatas bebatuan, Semakin dekat dan terus mendekat ke genangan air jatuh, Hingga sampai lah ia dibawah sana.
Vanya mulai duduk disebuah batu besar, Menurunkan kakinya hingga mencapai genangan air, Lalu ia mulai memejamkan matanya, Perlahan menghirup udara dan merasakan kesegarannya.
Sementara Leo yang tadinya sibuk memperhatikan sekeliling pun mulai teralihkan perhatiannya oleh wanita didepannya yang tengah tersenyum menikmati alam seraya memejamkan matanya.
Tanpa pikir panjang lagi, Leo mulai mengeluarkan ponselnya dan memotret pemandangan yang cukup indah itu pikirnya, Pemandangan yang indah dengan wanita cantik yang tengah terpejam didalamnya.
Vanya mulai kembali membuka matanya merasakan air dengan tangannya kini, Leo pun mulai mendekat, "Kamu mau foto enggak?" tanya Leo setelah berada disamping Vanya.
"Enggak usah Kak, Aku cuma mau nikmatin suasananya aja" ujar Vanya.
"Oh ya udah kalau gitu" ujar Leo.
Kini Leo duduk disamping Vanya dan ikut membenamkan kakinya ke dalam air.
"Kamu suka tempatnya?" tanya Leo.
"Iya suka Kak, Makasih ya udah bawa aku kesini" ucap Vanya.
"Iya sama-sama" ucap Leo seraya tersenyum.
Vanya masih sibuk memainkan matanya melihat ke sekeliling air terjun, Sementara tanpa Vanya sadari pria disampingnya hanya terfokus memperhatikan dirinya.
"Kak, Aku mau ke sebelah sana ya?" ucap Vanya
"Oh iya, Awas hati-hati licin" ujar Leo.
"Iya Kak," ucap Vanya seraya bangun dari duduknya begitu pula dengan Leo.
Vanya mulai berjalan mendekat ke arah air terjun dengan Leo yang mengekor dibelakangnya, Namun ketika Vanya menginjakkan kaki disebuah batu yang tidak cukup kokoh, Ia pun mulai kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya terjungkal kebelakang, Lalu dengan sigap Leo pun menangkap tubuh Vanya, Tangannya nampak melingkar ditubuh Vanya sekarang, Vanya masih kesulitan untuk kembali keposisi semula, Sementara orang yang menangkapnya nampak tak ingin melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh Vanya begitu saja.
Perlahan Vanya mulai membetulkan posisinya lagi, Ia berdiri dan mau tak mau Leo pun melepaskan tangan yang sebenarnya ingin lebih lama lagi berada disana.
"Makasih Kak" ucap Vanya yang sudah kembali berdiri dan menghadap ke arah Leo.
"Iya sama-sama" ucap Leo yang tangannya mulai ia tempatkan diatas kepala Vanya lalu mulai mengusapnya.
__ADS_1
Vanya terlihat sedikit canggung namun dengan segera ia kembali berjalan, Hingga sampai lah Vanya di dekat jatuhan air terjun.
"Sini pegang tangan aku" ucap Leo yang mulai mengulurkan tangannya.
Vanya nampak mengerenyitkan dahinya,
"Supaya kamu enggak jatuh, Nanti kalau kamu kenapa-napa aku harus bilang apa sama Daffin" tambah Leo kemudian.
Vanya mulai mengulurkan tangannya menyambut tangan Leo, dan Leo pun mulai menggenggam erat tangan Vanya, Sementara tangan Vanya yang lainnya mencoba meraih jatuhan air di depannya.
Perasaan yang cukup sulit dijelaskan, Leo merasa sangat senang bisa menggenggam tangan Vanya seperti ini, Ia mulai memandangi Vanya yang terus saja mengembangkan senyumnya.
Akhirnya gue tahu kenapa lo tergila-gila sama dia Fin , Karena sekarang, Gue pun merasakan hal yang sama Batin Leo.
Leo nampak terus memandangi wanita dihadapannya, Pemandangan alam pun mengalahkan perhatiannya, Ia makin mempererat genggam tangannya seakan tak ingin ia lepaskan begitu saja.
"Kak, Udah yuk" ucap Vanya
"Oh iya, Ayo" ucap Leo.
Leo membalikan tubuhnya perlahan dengan tangan yang tetap menggenggam tangan Vanya, Dan mulai berjalan menjauh dari tempatnya berdiri tadi dengan Vanya dibelakangnya.
"Vanya, Kamu tunggu disini dulu ya aku mau beli kopi dulu" ujar Leo.
"Iya Kak," ucap Vanya.
Leo mulai berjalan pergi meninggalkan Vanya, Sementara itu Vanya mulai merasakan dingin yang menusuk dipori-pori kulitnya.
Cukup lama Leo pergi sampai akhirnya ia kembali dengan kopi serta teh ditangannya, dan juga 2 cup mie instan didalam kantung plastik.
" Ini buat kamu" ujar Leo serta memberikan teh dan juga mie instan.
"Iya makasih Kak" ujar Vanya.
Mereka mulai menyantap mie bersama, Setelah itu Vanya kembali bermain di dekat air, Sementara Leo hanya mengawasinya sambil terduduk disebuah batu, Hingga tak terasa hari sudah semakin sore, Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pulang.
...----------------...
Sesampainya di rumah,
Vanya turun dari atas motor Leo, Ia nampak lelah sekaligus senang karena bisa sedikit menenangkan pikiran ditempat yang memang membuatnya merasa tenang.
__ADS_1
"Kak, Makasih ya buat hari ini" ucap Vanya seraya tersenyum.
"Iya sama-sama" ucap Leo yang ikut tersenyum.
"Ya udah, Kalau begitu aku pulang dulu ya," ucap Leo berpamitan.
"Iya Kak, Hati-hati dijalan ya" ucap Vanya.
Vanya mulai memasuki rumahnya, Ia segera menuju ke kamar untuk mengganti pakaian, Baru saja Vanya membuka jaketnya, Tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan seseorang yang memeluknya dari arah belakang.
Vanya menoleh dengan spontan, Dilihatnya laki-laki bertubuh tinggi, Berambut gondrong, Serta hidung yang mancung berdiri tepat dibelakangnya.
"Kamu udah pulang???" tanya Vanya terkejut.
Laki-laki itu tidak lain adalah suaminya sendiri, Yang entah kenapa hanya diam membisu dan tak menjawab pertanyaan dari istrinya.
Daffin mulai meletakan dagunya dipundak Vanya, Perasaannya kian campur aduk, Marah, Kesal, Tetapi juga ia sangat merindukan wanita yang berada didepannya saat ini.
Daffin mulai mengelus lembut telinga Vanya dengan pipinya, Hembusan nafas Daffin ditelinga Vanya membuat bulu kuduknya meremang, Daffin mulai menciumi tengkuk leher Vanya membuatnya semakin tak karuan
"Datang bulan kamu sudah selesai?" tanya Daffin kemudian.
Vanya hanya mengangguk pelan, Senyum tipis nampak terlihat di wajah Daffin dan tanpa ragu lagi Daffin mulai mengangkat tubuh istrinya dan ia rebahkan diatas tempat tidur mereka.
Daffin duduk disamping Vanya dan terus saja memandanginya, Banyak pertanyaan dalam benaknya, Apalagi tadi ia melihat sendiri dari jendela kamar, Vanya yang turun dari motor Leo, Jadi mereka hari ini pergi bersama dan sampai seharian? pikirnya.
Daffin pun mulai kembali merasakan kekesalan yang tak terbendung,
"Kamu kenapa?" tanya Vanya.
Namun Daffin tak menjawab ia pun mulai mencium Vanya dengan kasar, Vanya nampak terbelalak, Dilucutinya dengan kasar seluruh pakaian yang Vanya kenakan, Vanya nampak terlihat kebingungan, Kenapa Daffin begitu kasar dan tak selembut biasanya pikirnya.
Daffin nampak kembali menciumi Vanya dengan kasar, Ciumannya mulai turun ke leher dan digigitnya oleh Daffin.
"Fin " Panggil Vanya yang air matanya mulai meleleh dari sudut matanya.
Namun Daffin nampak tak menghiraukannya, Ia masih terus mencium leher Vanya, menggigit disetiap jengkalnya, Vanya berusaha mendorong Daffin, Namun Daffin mencengkram kedua tangannya dengan erat.
Note : Jangan lupa tinggalkan like , komen dan juga votenya. Terima kasih.😌
Jangan lupa bersyukur dan tetap semangat😉
__ADS_1