VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
S2 Part 151


__ADS_3


Saat akhir pekan tiba...


Daffin mengantarkan Vanya ke Bandara. Hari ini rencananya ia akan menjemput sahabatnya Riri yang baru pulang dari luar negeri.


Daffin membawa Dava di dalam gendongannya dan mengantar Vanya menemui teman-temannya yang lain yang sudah sampai lebih dulu dan menunggu di Bandara.


"Vanyaaaaa!" panggil Fani yang heboh ketika Vanya baru saja menghampiri teman-temannya itu.


"Kangeeenn," ucap Fani seraya memeluk Vanya dengan sangat erat diikuti hal serupa oleh Meta.


Pelukan terlepas kini pandangan Fani teralih pada lelaki bertubuh tinggi yang berada di samping Vanya dengan bayi gemuk yang berada dalam gendongannya.


"Eh Pak Daffin..." ucap Fani yang tersenyum dengan lebar ke arah Daffin.


"Gimana kabar kamu?" tanya Daffin dengan ramah. Ia telah memaafkan kejadian saat Vanya harus kehilangan calon anak mereka. Terlebih lagi Fani telah membawa kemajuan yang cukup pesat, apalagi kalau bukan karena gaun tidur tipis yang ia berikan untuk Vanya membuat malamnya bersama istri tercintanya itu semakin panas.


"Baik Pak."


Fani mengalihkan pandangan ke arah bayi di dekapan Daffin dan mencubit lembut pipinya.


"Eh Dava... Makin gembul aj cih kamuu... Jadi pingin cubit Papanya deh."


Kedua bola mata Vanya membulat dan tangan kanannya bersarang pada pinggang sahabatnya itu.


"Aduh!!" pekik Fani sambil melonjak kaget lalu mengelus pinggang dan menoleh ke arah Vanya di sampingnya.


"Gatellll sama laki orang!" sewot Vanya.


"Ya elah Va, Gatelnya di depan istrinya ini. Yang bahaya tuh kalau gue maen belakang!" ucap Fani.


"Sama aja bambang!" sewot Vanya.


"Va, Kok baru sampe jam segini??" tanya Meta yang mengalihkan perhatian Vanya dan Fani kembali memainkan pipi anak Vanya.


"Iya biasa lah rempong punya dua bayi tuh!" bisik Vanya di dekat Meta.


"Ha? 2 bayi?" Kan yang dua lagi masih di dalam perut. Lagian harusnya juga jadi tiga kan?" ucap Meta dengan dahi mengerut.

__ADS_1


"Ya itu sama bayi besarnya juga kan Ta," ucap Vanya yang semakin mendekat ke telinga Meta dan semakin memelankan suaranya.


Meta manggut-manggut dan mulai memahami arti ucapan Vanya.


"Kamu lagi ngomongin aku ya?" ucap Daffin yang sedari tadi memperhatikan Vanya dan Meta.


"Enggak kok Mas," ucap Vanya sambil tersenyum lebar.


"Ya udah yuk buru bentar lagi pesawatnya Riri landing nih!" ajak Fani.


"Ya udah Dava. Baik-baik sama Papa ya. Jangan nakal. Mama mau jemput teman Mama dulu," ucap Vanya sambil mengecup pipi putranya.


"Papanya enggak??" ucap Daffin.


"Papanya nanti di rumah!" ucap Vanya sambil mengecup punggung tangan Daffin dan mulai berjalan pergi meninggalkan Daffin dan putra mereka.


"Hati-hati, nggak usah lari-lari inget adik-adiknya Dava di dalam perut!" pekik Daffin saat melihat Vanya berlari kecil.


"Oh iya lupa," ucap Vanya yang kini mulai berjalan biasa.


"Iya Va, lagi hamil juga malah mau marathon!" ucap Fani saat mereka berjalan pergi.


"Kalau pas bikinnya kerasa nggak??" celetuk Fani.


"Kepo! Makanya nikah sana!"


"Sialan lo!!" sewot Fani.


***


"Mana sih nih anak, beneran pulang apa cuma nipu kita!" gerutu Fani sambil melihat setiap orang yang berjalan memasuki bandara.


"Sabar sebentar lagi juga dateng kali dia," ucap Meta.


"Jamuran gue Ta!" sewot Fani.


"Lo sewot banget sih? bumil aja lagi anteng duduk manis." ucap Meta seraya melirik ke arah Vanya yang tengah duduk tak jauh dari mereka.


"Ya dia kan duduk gue berdiri Ta, Pegel kali."

__ADS_1


"Sabarr..." ucap Meta lagi.


"Nggak mau tahu ah gue, pokoknya si Riri harus traktir gue makan baso 3 mangkok!" ucap Fani dengan mata yang masih terfokus pada orang yang berseliweran.


"Gila kali lo ya, Kenapa nggak sekalian sama gerobaknya lo makan!"


"Kalau bisa juga udah gue telen!!" ucap Fani emosi.


"Eh Ta, Itu bukan sih," ucap Fani ketika melihat wanita berambut ikal melewati bahu dengan dress lengan pendek dan panjang selutut bermotif bunga lily.


"Mana sih?" ucap Meta yang sibuk memperhatikan ke depan.


"Eh iya bener itu!" pekik Meta.


"Riri!!! teriak Meta dan Fani bersamaan.


Wanita berambut ikal itu menoleh dan tersenyum ke arah Fani dan Meta, Sementara Vanya yang melihat seseorang menghampiri keduanya pun akhirnya bergegas bangun dan menghampiri mereka.


"Riri kangen," ucap Fani seraya memeluk Riri diikuti hal serupa oleh Meta dan juga Vanya yang baru saja bergabung bersama mereka.


Setelah beberapa saat mereka semua melepaskan pelukannya dan memandang Riri dari atas hingga ke bawah.


"Ri, kok lo berubah jadi cantik begini sih??" celetuk Fani.


"Ih Fani, dari dulu kan aku emang cantik!" tegas Riri.


"Evan nggak jemput Ri?" tanya Meta.


Riri menggelengkan kepalanya.


"Nggak, aku udah bilang mau dijemput kalian jadi Evan jemput aku nanti pas aku selesai main sama kalian."


"Ri, gimana kabarnya?" tanya Vanya.


"Aku baik Vanya, anak kamu mana?" tanya Riri.


"Di asuh Papanya dulu jadi kita bisa ngumpul deh." jawab Vanya.


"Hai, nggak ada yang tanya kabar aku nih?" ucap seseorang dari arah belakang, empat sekawan itu pun menoleh bersamaan ke arah orang tersebut dan nampak mengerutkan dahinya.

__ADS_1


__ADS_2