
Malam hari di kamar Sandra
Vanya duduk terdiam di atas tempat tidur, Ia mulai memikirkan Daffin yang marah dan malah melimpahkan kesalahan kepada Niko,
Batu banget dibilangin, Di bilang bukan gara-gara Niko juga, Enggak mikir apa dia kalau orang-orang disekolah tahu bakalan gimana, Mana nanti ini perut kalau makin besar susah ngumpetinnya, Tahu nya malah marah-marah doang batin Vanya kesal
Udah lah pokoknya malam ini enggak usah makan, Biar perutnya enggak cepat besar pokoknya harus tidur bangun pagi batinnya lagi.
Lalu ia pun mencoba memejamkan mata dan tertidur.
Tapi ternyata tekadnya tak sejalan dengan perutnya, Lagi-lagi ia terbangun karena lapar, Ia melirik jam di dinding 00.37, Duh kenapa harus kebangun jam segini terus sih batin Vanya.
Tapi Vanya tetap berusaha tidur, Namun tetap tak bisa akhirnya dengan rasa sebal ia pun bangun dari tempat tidur dan mulai keluar menyusuri tangga menuju ke arah dapur.
Vanya mencoba membuka kulkas, Tetapi ia tak menemukan makanan yang dapat memuaskan rasa laparnya,
Cuma ada buah mana kenyang Batinnya.
Ia mencoba mengalihkan pandangan ke arah meja berharap kalau Daffin menyediakan makanan lagi untuknya. Tetapi ternyata tak ada apapun disana.
"Yah enggak ada apa-apa" gumam Vanya
"Kemarin-kemarin dia marah juga masih mau siapin makanan, Hari ini malah dia enggak siapin apa-apa," gumam Vanya lagi
Vanya duduk di kursi dapur sambil memegangi perutnya.
"Dia marah banget ya, sampai-sampai enggak mau sediain aku makanan lagi" ujar Vanya yang mulai cemberut.
"Ini Ayam bakarnya" ujar Daffin yang datang dari arah belakang lalu menaruh kantung plastik berisi box berisi ayam bakar diatas meja
"Yang di tempat biasa udah habis, Tadi aku cari-cari ditempat lain baru nemu" ujar Daffin sambil mencari handuk
Vanya melihat rambut serta baju Daffin yang basah kuyup pun mulai bertanya,
"Kamu hujan-hujanan ?" tanya Vanya
"Hmm.. Oh.. Iya tadi hujan lumayan deras di luar, Udah gitu tempat makannya lumayan jauh dari parkiran, Mau nunggu dulu takut kelamaan jadi aku terobos aja" ujar Daffin sambil mengusap rambutnya dengan handuk.
"Sini aku bantu keringin rambutnya" ujar Vanya
"Ha? " ucap Daffin yg seakan tak percaya dengan ucapan Vanya
"Sini buruan" ujar Vanya sambil mengulurkan tangannya agar Daffin memberikan handuk yang sedang ia pegang
"Oh..Iya" Jawab Daffin seraya memberikan handuknya
Daffin pun duduk dibawah membelakangi Vanya, Lalu Vanya mulai menggosok rambut Daffin dengan perlahan.
__ADS_1
Daffin merasakan detak jantungnya yang kembali tak beraturan, Ia sangat senang Vanya begitu perhatian kepadanya.
Sampai tak terasa ia terus saja tersenyum.
Dia tuh kenapa sih padahal sorenya abis marah-marah tapi sekarang malah bela-belain hujan-hujanan cuma buat beliin aku makanan Batin Vanya
"Ada ya orang kayak kamu"ujar Vanya tiba-tiba
"Ha? Kenapa?" tanya Daffin
"Iya abis marah-marah tapi masih aja bela-belain buat beliin aku makanan" ujar Vanya sambil terus menggosok rambut Daffin
"Aku juga enggak tahu" ujar Daffin
"Baru sama kamu, Aku ngerasa jadi orang enggak waras" ucap Daffin lagi
"Enggak waras gimana?" tanya Vanya sambil mengerenyitkan dahinya.
"Iya padahal dulu aku pergoki pacar aku jalan sama yang lain aja, Aku langsung tampar dia di depan umum, Kalau sama kamu rasanya kamu mau apain aku aja, Aku enggak bisa marah" ujar Daffin
"Oh beneran enggak bisa marah nih, Coba kita lihat" ujar Vanya sambil menggosok wajah Daffin menggunakan handuk
"Aduduh kamu ngapain sih!" ujar Daffin yang mulai melepaskan tangan Vanya dari wajahnya dan ia pun berbalik menghadap ke arah Vanya
"Katanya enggak bisa marah" ucap Vanya
"Ya enggak gitu juga" ucap Daffin sambil mengerenyitkan dahinya
"Tampang kamu lucu" ucap Vanya yang masih terus tertawa
Daffin pun menarik rambutnya kebelakang, Lalu mulai menatap lekat ke arah Vanya, Vanya pun menghentikan tawanya dan mulai bertanya kepada Daffin
"Kenapa?" tanya Vanya
"Akhirnya kamu bisa tertawa juga sama aku, Aku pikir kamu cuma bisa tertawa dan tersenyum sama dia" ucap Daffin serius
Vanya pun terdiam, Daffin mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Vanya, Namun Vanya mulai memalingkan wajahnya, Lalu Daffin pun menyentuh dagunya dan berusaha membuat Vanya menatapnya lagi,
"Jangan tolak aku Vanya, Aku cinta sama kamu" ujar Daffin yang kini mulai mengecup lembut bibir Vanya, Vanya pun terbelalak jantungnya mulai berdetak dengan cepat.
"Then you changed my world with just one kiss. You changed me"
Daffin pun melepas kecupannya dan kini mulai menatap wajah Vanya yang merah padam, Ia tampak gemas dengan ekspresi wajah Vanya, Lalu Daffin pun mengecup bibir Vanya lagi dan kini mulai m*lum*tnya, Vanya pun mulai menutup matanya, Diam-diam ia pun menikmati perlakuan Daffin.
Krucukkkk
Vanya terbelalak, Daffin pun menghentikan pagutannya seraya berkata " Kayaknya anak kita udah lapar, Kamu makan dulu ya aku mau ganti baju dulu" ucap Daffin yang beranjak dan pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
__ADS_1
Vanya masih mematung disana, Ia masih mencerna apa yang terjadi tadi, Namun seketika wajahnya kembali memerah, Ia merasakan malu yang luar biasa, Pertama karena ia diam-diam membiarkan Daffin menciumnya dan kedua karena suara perutnya yang tak bisa ia kendalikan.
Vanya pun mulai membasuh wajah di wastafel untuk menyadarkan dirinya.
"Haduhh Vanyaaaaa" gumamnya sambil memegang pipi dengan kedua tangannya.
Ia pun mengeringkan wajahnya dan mulai dengan segera menyantap makanan yang Daffin bawakan untuknya, Ia ingin sebelum Daffin kembali ia sudah selesai dan kembali ke kamar.
Namun terlambat sebelum Vanya menghabiskan makanannya Daffin telah kembali kesana dan duduk tepat di hadapannya.
Daffin pun mulai menopang dagu dengan satu tangannya sambil memperhatikan Vanya yang sedang menyantap makanannya,
Vanya pun terlihat salah tingkah.
"Emm bisa enggak kamu, Enggak lihatin aku terus" pinta Vanya
"Hmm kenapa?" tanya Daffin
"Aku jadi enggak tenang makannya" ujar Vanya sambil tertunduk
"Oh ya udah kalau gitu aku sambil main game" ujar Daffin sambil mengambil ponsel disakunya lalu mulai bermain game di ponselnya.
Vanya pun segera menyelesaikan makannya lalu mencuci tangan, Saat Vanya berbalik ternyata Daffin telah berada dibelakangnya entah sejak kapan, Lalu ia pun mulai menaruh 1 lengannya pada tepi wastafel.
"K-kamu mau ngapain?" tanya Vanya yang gugup
"Aku mau lanjutin yang tadi"ujar Dafiin sambil mulai menatap Vanya
Vanya pun makin salah tingkah,
Daffin pun mulai kembali mendekatkan wajahnya, Namun belum sempat bibirnya menyentuh bibir Vanya tiba-tiba
"Fin? Kamu lagi ngapain?" ucap Sandra yang baru saja datang
Daffin pun segera menjauh, Vanya pun menundukkan wajahnya,
" Oh kamu juga disini Vanya pantesan tadi enggak ada dikamar" ujar Sandra
"Kok diem semua?" tanya Sandra yang mulai mengambil gelas untuk minum
"Oh Daffin haus embak tadi mau minum" ujar Daffin
"Iya Vanya juga" ujar Vanya
"Emm Vanya duluan ya embak" ujar Vanya sambil berjalan pergi
Dan tak lama diikuti pula oleh Daffin.
__ADS_1
Note : Jangan lupa tinggal kan Like dan juga Votenya. Terima kasih😊