VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Pindah?


__ADS_3

BACA ✔


PLAGIAT ❌


Karena mikir menguras energi otak beda dengan tinggal nyomot😂, think smart 😉**


...****************...



Setelah Dea pergi Nita pun datang menghampiri Vanya dan juga teman-temannya.


"Selamat ya Kak," ucap Nita sambil menjabat tangan Vanya.


"Iya makasih ya," ucap Vanya.


"Heh kok lo disini sih?"tanya Fani ketika baru saja menyadari kalau Nita pun berada disana.


"Orang gue diundang juga kok," ujar Nita.


"Itu perut lo udah gede begitu juga bukan diem-diem di rumah" ucap Fani.


"Ya emang kenapa?" tanya Nita.


"Sama siapa kesini?" tanya Fani.


"Sama calon suami" ucap Nita.


"Hans? Dimana dia? " tanya Fani.


"Itu disana, Lagi ngobrol sama suaminya kak Vanya" ucap Nita sambil menunjuk ke arah Hans yang tengah asik mengobrol bersama Daffin.


"Kok laki lo kenal Hans Va?" tanya Fani.


"Iya mereka satu kampus" ucap Vanya.


"Kok gue enggak tahu??" tanya Fani.


"Ah lo mah kebanyakkan diem di goa jadi ketinggalan banyak berita" celetuk Nita.


"Yee rese lo" ucap Fani.


Hans dan Daffin mulai menghampiri Vanya dan juga Nita,


Daffin mulai merangkul pinggang Vanya, Sedangkan Hans mulai merangkul bahu Nita dan tangan satunya memegangi perut Nita yang nampak membesar.


"Kamu disini ternyata, Aku cari-cari kamu tadi" ucap Hans.


"Iya, Aku kan mau kasih selamat buat kak Vanya" ucap Nita.


"Oh iya, Selamat ya" ucap Hans seraya bersalaman dengan Vanya.


"Iya makasih ya udah dateng" ucap Vanya.


"Iya sama-sama" ucap Hans.


"Oh iya udah besar banget kayaknya ya, Udah berapa bulan?" tanya Vanya.


"Tinggal hitungan minggu aja kak" jawab Nita.


"Tancap gas lah Fin, Ayo susul gue lagi" ucap Hans.

__ADS_1


"Ya gampang lah, Tinggal nunggu Vanya aja kapan siapnya" ucap Daffin seraya melihat ke arah Vanya.


Vanya pun setengah tersenyum mendengar perkataan Daffin.


...----------------...


Acara resepsi pernikahan Vanya dan Daffin telah selesai, Semua tamu silih berganti pergi meninggalkan gedung, Termasuk Daffin dan Vanya yang mulai memasuki mobil seraya meninggalkan gedung resepsi mereka.


Sesampainya di rumah Vanya segera mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama, Vanya terduduk dan terlihat lelah karena seharian menyambut dan menemani tamu.


Daffin datang membawakan segelas air untuk Vanya,


"Minum dulu sayang kamu pasti haus" ucap Daffin sambil memberikan segelas air mineral.


"Iya nih, Kamu tahu aja, Makasih ya" ucap Vanya seraya tersenyum lalu meneguk minumannya.


"Iya sama-sama sayang, Oh iya besok kamu kemasi barang-barang kamu ya lusa kita mulai pindah" ucap Daffin.


"Pindah?" ucap Vanya sambil mengerenyitkan dahinya.


"Pindah kemana ?" tanya Vanya lagi


"Ke rumah baru kita" ucap Daffin.


...----------------...


Kilas balik...


Saat sedang menonton televisi bersama nampak Vanya yang terus memperhatikan perut buncit Sandra yang tengah dielus oleh Daniel.


Daffin pun secara tidak sengaja melihatnya, Terlihat raut wajah Vanya yang tampak sedih, Sepertinya ia teringat akan bayinya lagi, Kalau dia masih ada mungkin usia kehamilannya hampir sama dengan Sandra.


Keesokan harinya Daffin mulai mengetuk pintu ruang kerja Papanya dan masuk ke dalam setelah Papanya memerintahkan Daffin untuk masuk, Daffin mulai duduk di depan Papanya yang tengah sibuk mengurus berkas-berkas perusahaan.


"Daffin mau minta belikan rumah Pa" pinta Daffin.


"Ha? Rumah? Enggak salah kamu? Minta rumah sudah seperti minta permen saja, Lagipula apa rumah ini kurang besar?" ucap Papanya


"Bukan begitu Pa, Tapi tiap Vanya lihat kehamilan embak Sandra yang semakin besar, Dia selalu kelihatan murung dan sedih, Apalagi nanti kalau anaknya embak Sandra lahir, Lagipula Daffin juga mau mandiri Pa" ujar Daffin.


"Ya sudah mulai kapan kamu ke kantor?"tanya Papanya.


"Hah ? kantor?" ucap Daffin yang terlihat bingung.


"Iya kantor, Memangnya kamu pikir semuanya gratis, Kamu dapat uang darimana untuk menghidupi istri kamu, Kalau bukan bekerja di kantor Papa, Papa ini sudah tua Fin, Sudah waktunya pensiun, Siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan kalau bukan kamu anak laki-laki Papa," ucap Papanya.


Daffin nampak terdiam, Ini lah yang ia tak pernah bisa sanggupi, Bagaimana nanti sibuknya dia kalau harus bekerja di kantor Papa, Apalagi sampai harus menggantikan Papanya.


"Sudah jangan terlalu banyak berpikir, kamu tinggal bilang kapan kamu ke kantor, Papa pastikan lusa kunci rumah sudah ada ditangan kamu" tegas Papanya.


"Ya udah deh Pa, Tapi ke kantornya minggu depan aja ya Pa" ujar Daffin.


"Ya boleh saja, Asal kamu jangan mangkir " ujar Papanya.


"Siap Pa, Makasih ya Pa" ucap Daffin.


"Iya sama-sama tapi ingat minggu depan" ucap Papanya lagi.


"Iya Pa siap laksanakan !" ucap Daffin.


...----------------...

__ADS_1


Kembali pada Vanya dan Daffin,


"Tapi seminggu kemudian aku bakalan agak sibuk karena mulai bekerja di kantor Papa" ujar Daffin.


"Terus kamu enggak ngajar lagi di sekolah?" tanya Vanya.


"Enggak, Aku kan hanya pengganti sementara Embak Sandra, Lagipula waktu itu aku mau mengajar disana juga karena ada kamu" ujar Daffin.


"Oh gitu" ucap Vanya.


Keduanya nampak terdiam lagi, Daffin pun terus memperhatikan Vanya dan mulai berkata,"Kamu cantik banget hari ini."


"Iya makasih" ucap Vanya seraya tersenyum.


"Ngomong-ngomong malam ini, Malam pertama kita setelah resepsi pernikahan, Kira-kira kalau kita lakukan malam ini juga, Kamu sudah siap belum?" tanya Daffin sambil menatap lekat kepada Vanya.


"Ha? Emm... A-Aku capek banget hari ini, Mau langsung tidur istirahat," ucap Vanya gugup.


"Ya udah lain kali aja kalau begitu, Tenang aja sekarang aku enggak akan pernah memaksa kamu kok, Tapi kalau kamu sudah siap kasih tahu aku ya" ucap Daffin sambil menggenggam tangan Vanya dan mengelus kepalanya


"Iya," ucap Vanya seraya menundukan wajahnya.


"Ya udah yuk tidur, Besok akan jadi hari yang melelahkan karena kita mau berkemas," ujar Daffin.


"Iya ayo" ucap Vanya.


Vanya mulai merebahkan tubuhnya, Begitu pula dengan Daffin, Daffin mulai memejamkan matanya sedangkan Vanya masih terlihat membuka mata sambil melamun.


Ini lah yang membuat ia semakin merasa nyaman bersama Daffin, Karena ia sekarang sudah tak seenaknya seperti dulu, Saat akan melakukan sesuatu ia pasti meminta pendapat serta izin dari Vanya terlebih dahulu, Vanya pun sekarang sudah tak merasa canggung bersama Daffin, Sifat Daffin yang lembut dan penyayang sekarang membuat Vanya semakin dekat dengan Daffin, Jarak di antara mereka benar-benar telah hilang, Hanya satu hal yang belum bisa Vanya berikan untuk Daffin, Yaitu melayaninya ditempat tidur mungkin nanti ia akan mencoba pikirnya tetapi tidak untuk saat ini.


Lalu Vanya mulai melingkarkan tangannya ke tubuh Daffin, Daffin tersenyum dengan mata terpejam ternyata ia belum benar-benar tertidur, Hanya dipeluk Vanya seperti ini pun sudah membuatnya terlihat sangat senang.


...----------------...


Keesokan harinya,


Daffin dan Vanya nampak tengah mengemas pakaian mereka serta memasukannya ke dalam koper, Vanya terlihat lelah sekali ternyata cukup banyak yang harus mereka kemas, Lalu Vanya mulai keluar dari kamar dan menuju dapur untuk membuat jus, Setelah selesai membuat jus ia kembali ke atas lalu memberikan jusnya kepada Daffin.


"Ini minum dulu" ucap Vanya seraya menyodorkan gelas berisi jus tadi kepada Daffin.


"Makasih ya sayang" ucap Daffin.


"Iya sama-sama" jawab Vanya.


Hari semakin sore akhirnya mereka berdua selesai mengemas barang yang akan mereka bawa saat akan pindah besok.


"Akhirnya selesai juga" ucap Daffin.


"Iya capek juga ternyata, Gimana pas rapiinnya lagi nanti" ucap Vanya.


"Tenang aja pasti aku bantu kamu buat rapikan semuanya nanti" ujar Daffin.


"Udah jam berapa ini?" tanya Daffin.


"Jam 5 " jawab Vanya.


"Ya udah kamu mandi dulu sana, Nanti malam kita pergi ke tempat makan biasa" ucap Daffin.


"Asik, Aku mau mandi dulu kalau gitu" ucap Vanya.


Vanya pun mandi dan bersiap-siap setelah itu mereka pergi makan bersama di luar.

__ADS_1


Note : Jangan lupa tinggal kan like , komen dan juga Votenya. Terima kasih untuk yang masih setia mengikuti kisah ini dari awal hingga sekarang😘


__ADS_2