
"Iya Kak Leo juga, " ucap Vanya
"Kamu ja..." ucap Daffin yang terpotong oleh suara ketukan pintu.
Tok tok tok
"Siapa?"
"Wisnu Pak"
"Masuk"
"Sayang, Nanti aku telepon kamu lagi ya" ucap Daffin yang mulai mengakhiri panggilannya.
"Gimana Va ? Boleh?" tanya Fani.
"Iya boleh katanya" ujar Vanya.
"Ya udah nanti sepulang kuliah kita kesana sama-sama ya" ucap Leo seraya tersenyum.
"Iya Kak"jawab Vanya.
...----------------...
Sepulang kuliah,
Nampak Vanya yang bersiap naik motor bersama Fani, Leo yang tengah siap lebih dulu mulai menghampiri mereka.
"Yuk berangkat" ajak Leo.
Fani berjalan lebih dulu dan membonceng Vanya dibelakangnya sementara Leo mengikuti dari belakang, Mereka pun berhenti di sebuah toko perlengkapan bayi dan membeli hadiah terlebih dahulu, Lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit,
Vanya dan Fani mulai berjalan menyusuri koridor Rumah Sakit dengan Leo yang mengekor dibelakang mereka, Sampai lah mereka di depan sebuah kamar lalu Fani mulai membuka pintu dan masuk kedalam bersama Vanya dan juga Leo.
Nampak Hans yang tengah menggendong bayinya, Sementara Nita duduk bersandar diatas tempat tidur.
"Weh gilaaa... Udah jadi Bapak aja nih, Selamat ya Hans" ucap Leo seraya menghampiri Hans dan menepuk pundaknya.
"Iya, thanks Le, Kok lo tahu gue di kamar ini?" tanya Hans.
"Gue diculik sama 2 cewek itu" ucap Leo seraya menunjuk dengan menggunakan alis matanya ke arah Vanya dan juga Fani.
"Oh si Fani sama istrinya si Daffin" ujar Hans.
Leo tersenyum kecut, Entah kenapa Leo lebih suka kalau Hans menyebut namanya saja tanpa harus berkata "Istrinya."
"Hans sini, Gue mau gendong" ujar Fani yang datang menghampiri Hans.
"Nih pelan-pelan, Awas kepalanya" ujar Hans seraya memberikan bayinya kepada Fani.
Hans dan Leo pun mulai duduk di sofa dan berbincang disana.
"Selamat ya Nita" ucap Vanya.
"Iya Kakak , Makasih ya udah dateng kesini," ujar Nita.
Vanya mulai mendekat ke arah Fani dan melihat bayi yang digendongnya.
"Lucu ya, Laki-laki atau perempuan?" tanya Vanya.
"Perempuan Kak" jawab Nita.
"Udah dikasih nama?" tanya Vanya lagi.
"Belum, Masih belum dapet yang pas" ucap Nita.
"Nih Va mau gendong enggak sekalian belajar" tawar Fani.
"Mau dong Fan" ucap Vanya yang mulai mendekat ke arah Fani dan mulai menggendong bayinya.
__ADS_1
"Lucu ya" ucap Vanya seraya terus tersenyum sambil memperhatikan bayi yang digendongnya.
Perhatian Leo pun kembali teralihkan, Kini ia menatap wanita didepannya yang tengah menggendong bayi di tangannya sambil tersenyum lepas.
Hans masih saja mengoceh, Sampai akhirnya ia sadar kalau Leo tidak mendengarkan perkataannya dan malah fokus memperhatikan Vanya.
"Heh !" ucap Hans seraya menepuk pundak Leo.
Leo pun terkejut dan langsung menoleh ke arah Hans, Hans tersenyum kecut seraya berkata," Wah parah lo.. Parah.. Parah.." ucap Hans sambil menggelengkan kepalanya.
Leo pun ikut tersenyum kecut,
"Jangan nyari penyakit Le," ujar Hans kemudian.
"Lho emangnya gue ngapain?" ucapnya pura-pura tidak mengerti.
"Pake nanya lagi, Inget itu punya orang" ujar Hans mengingatkan.
"Tahu gue juga, Enggak usah lo ingetin" ujar Leo.
"Ya kali lo lupa jadi gue ingetin" ujar Hans.
Mereka kembali berbincang sampai akhirnya Vanya dan Fani mulai pamit untuk pulang.
"Nita aku pulang dulu ya, Nanti takut kesorean" ucap Vanya.
"Oh iya Kak, Makasih Kak udah sempetin kemari" ujar Nita.
"Iya sama-sama" ucap Vanya.
"Hans gue balik ya," ucap Fani seraya menghampiri Hans.
"Eh entar dulu, Gue mau balik dulu sebentar, Mau ganti baju sama ada beberapa barang yang mau gue ambil, Lo temenin Nita dulu disini" ujar Hans.
"Yah terus lo baliknya gimana Va?" tanya Fani.
"Ya angkutan umum kan banyak gue balik sendiri aja" ucap Vanya.
"Enggak usah, Yuk bareng aku aja sekalian aku juga mau pulang"ucap Leo.
"Ya enggak apa-apa kali Va lumayan nebeng sampe rumah, Titip Vanya ya Kak" ucap Fani kepada Leo
"Siap" ujar Leo.
Hans mulai berpamitan kepada Nita sambil mengecup dahinya dan juga anaknya yang tengah digendong oleh Nita.
"Aku pulang dulu sebentar ya" ucap Hans,
"Iya yang, Hati-hati" ucap Nita.
Leo serta Vanya pun pamit pulang, Vanya jalan lebih dulu sementara Hans dan Leo mengekor dibelakangnya.
"Anterin langsung sampe rumah, Jangan lo belokin dulu" Ujar Hans.
"Hahaha beres" ucap Leo seraya tertawa.
Hans dan Leo berpisah diparkiran, Nampak Hans yang berjalan lebih dulu menggunakan mobilnya, Sementara Leo dan Vanya menyusul dibelakangnya dengan menaiki motor Leo.
...----------------...
Sesampainya di Rumah Vanya,
Vanya turun dari motor dan nampak memegangi perutnya sambil meringis.
"Kamu kenapa?"Tanya Leo
"Enggak apa-apa Kak" jawab Vanya.
"Sakit? Mau ke dokter?" tanya Leo.
"Enggak usah Kak, Kayaknya cuma tamu bulanan aja " ujar Vanya.
__ADS_1
"Oh.. Ya udah kamu tunggu disini ya.." ujar Leo yang berjalan pergi menggunakan motornya.
"Nunggu apa" gumam Vanya.
Vanya pun masuk ke dalam rumah, Ia pergi ke kamar mandi dan berganti pakaian, Tidak lama kemudian suara bel rumah Vanya berbunyi, Vanya yang sedang duduk di sofa sambil menggosok perutnya berangsur bangun lalu membukakan pintu, Ternyata Leo yang datang dengan bungkusan diitangannya.
"Ini" ujar Leo yang memberikan bungkusan di tangannya kepada Vanya.
"Ini apa Kak?" tanya Vanya yang terlihat bingung.
"Buka aja" ucap Leo
Vanya pun mulai membukanya, Ada makanan dan juga beberapa macam obat pereda nyeri disana.
"Makan dulu, Habis itu baru diminum obatnya ya." ujar Leo.
"Oh iya Kak, Makasih ya" ujar Vanya.
"Iya sama-sama" ucap Leo seraya berjalan pergi.
...----------------...
Malam harinya,
Sepulang dari bekerja, Daffin masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai, Ia pun mulai mendaratkan tubuhnya di sofa dan kini ia pun mulai bersandar memijit kepalanya dengan satu tangan lalu memutar jari tengah dan ibu jarinya.
Ia nampak terlihat stres dan juga lelah, Tidak lama kemudian Vanya turun dan mulai menghampiri Daffin.
"Kamu udah pulang?" tanya Vanya.
"Mau makan dulu atau mau mandi dulu?" tanya Vanya.
"Aku mau kamu" ucap Daffin.
"Ha?" ucap Vanya yang mengerenyitkan dahinya.
"Sini sayang" panggil Daffin seraya merentangkan kedua tangannya.
Vanya nampak tertegun, Ia tak berani untuk mendekat.
"Kenapa? Aku cuma mau kamu peluk aku" ucap Daffin.
Vanya pun akhirnya mulai mendekat, Ia duduk di samping Daffin dan Daffin pun mulai memeluknya.
"Kamu kenapa?" tanya Vanya yang merasa aneh dengan sikap Daffin.
"Lusa aku berangkat ke luar kota, Ada tugas disana untuk beberapa hari" ucap Daffin.
"Jadi kamu mau ninggalin aku sendirian?" tanya Vanya yang mulai terlihat tak rela di tinggal oleh Daffin.
"Aku juga enggak mau, Tapi ini tugas dari Papa dan enggak bisa di tawar" ujar Daffin.
"Kamu jangan nakal ya disini, Jangan juga bawa laki-laki lain ke rumah, Tunggu aku, Setelah pekerjaan aku selesai, Aku pasti secepatnya pulang." ucap Daffin lagi
"Yang ada juga kamu, Nanti kalau kamu macem-macem disana gimana?" tanya Vanya.
"Aku tuh setia sama kamu, Lagipula aku berangkatnya sama Mas Daniel jadi kamu enggak perlu khawatir, Yang aku khawatirin justru kamu sendirian disini" ujar Daffin
"Kamu enggak perlu khawatir, Aku udah biasa kok kalau Mama lagi jadwal praktek," ujar Vanya.
"Ya beda lah sayang, Mama kamu cuma ninggalin kamu beberapa jam, Kalau aku berhari-hari lho" ujar Daffin.
"Kalau enggak kamu menginap di rumah Mama aku aja ya" saran Daffin.
"Enggak ah, Aku disini aja lebih dekat juga kan sama kampus, Kalau dari rumah Mama kamu kejauhan"
"Tapi nanti kamu sama siapa?" tanya Daffin.
"Sendiri enggak apa-apa, Kalau enggak nanti aku minta Fani menginap disini buat nemenin aku"
"Ya udah kalau begitu" ujar Daffin.
__ADS_1
Sebenarnya Daffin bukan hanya khawatir meninggalkan Vanya sendiri, Tapi ia pun khawatir kalau akan ada orang yang mencari kesempatan disaat dirinya tak berada disisi Vanya.
Note : Jangan lupa tinggalkan like, komen dan juga Votenya. Terima kasih😌😌