VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Kena Marah


__ADS_3

..."Akan Ada Hari yang Cerah Setelah Badai"...


...----------------...


Pukul 04.35


Vanya sedang tidur dengan lelap sebelum terganggu oleh seseorang yang ndusel di lehernya.


"Mmhh..."


Ia mulai membuka matanya dilihatnya laki-laki yang kini menjadi suaminya itu sedang mencium belakang lehernya,


"Kamu lagi ngapain?"


"Bangunin kamu sayang" ucap Daffin.


Vanya pun berangsur bangun dan hendak turun dari atas tempat tidur namun dengan cepat dicegah oleh suaminya itu.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Daffin yang melingkarkan kedua tangannya di pinggang Vanya dengan posisi masih setengah tidur.


"Mandi buat sarapan" jawab Vanya.


"Nanti dulu masih pagi banget ini" ujar Daffin.


"Nanti malah kesiangan, Kalau udah rapi duluan kan enak" ujar Vanya.


"Iya tapi kamu urusin aku dulu dong" pinta Daffin.


"Ya kan ini juga mau urusin kamu, Mau masak buat kamu sarapan" ujar Vanya yang belum paham maksud Daffin.


"Bukan urus yang itu sayang, Tapi urus aku disini" ujar Daffin seraya tersenyum.


Disini? batin Vanya.


Ia mengerenyitkan dahinya sebelum akhirnya paham apa yang Daffin maksud.


"Kamu mau itu?" tanya Vanya meyakinkan


"Iya aku mau kamu," ujar Daffin seraya mulai mencium Vanya.


Dengan cepat Daffin mulai melucuti piyama yang Vanya pakai, Ia tak bisa lagi mengelak, Sementara Daffin telah memposisikan tubuh didepan tubuh Vanya yang tampak polos, Ia belum sepenuhnya sadar dari kantuknya, Sampai akhirnya Daffin membuatnya terbelalak.


"Emmmpphh.."


Daffin memulainya lagi dan Vanya hanya bisa pasrah, Hingga waktu menunjukan pukul 05.10, Daffin telah menyeleaikan urusannya, Ia nampak tertidur kembali, Sedangkan Vanya berangsur turun dari tempat tidur mandi lalu menyiapkan sarapan.


...----------------...


Di kantor,


BRAKK ...


Papa Daffin melemparkan berkas-berkas ke atas meja.


"Lagi-lagi kamu berbuat semau kamu Fin !!! " ucap Papa Daffin dengan marahnya


"Kamu tahu, klien kita itu sangat penting, dan kamu yang bertanggung jawab untuk itu, Lalu kamu malah seenaknya mangkir begitu saja !!!"


Daffin masih nampak terdiam.


"Kita kehilangan proyek besar dan itu semua karena ulah kamu, Kamu harus bertanggung jawab," ucap Papanya lagi.

__ADS_1


"Maaf Pa, Kemarin itu..."


"Alah sudah Papa tidak menerima alasan apapun !!"


"Lusa kamu berangkat ke Surabaya menggantikan Papa" ujar Papanya.


"Lho tapi Pa..."


"Tidak ada tapi-tapi, Kamu bisa berangkat bersama Daniel kalian berdua tangani disana, Dan Papa akan urus sisanya disini"


"Sampai berapa lama Pa??"


" Bisa seminggu atau mungkin lebih tergantung kepada diri kamu sendiri kapan bisa menyelesaikan semuanya" ujar Papa.


Daffin terdiam, Ia mulai kembali berpikir kalau ia pergi berarti ia harus meninggalkan Vanya disini? dan sendirian dirumah? Rasanya Daffin tak dapat menyanggupinya.


"Pa apa enggak bisa Daffin urus disini aja?" tawar Daffin.


"Urus disini?? Kamu urus disini saja sudah tidak becus Fin !"


"Tapi Pa.."


"Jangan membantah Papa lagi, Kalau kamu tidak mau, Silahkan kamu keluar dari sini dan kamu kembalikan juga kunci rumah !" tegas Papanya.


Daffin tak bisa mengelak lagi sekarang, Kalau sampai ia tak bekerja bagaimana ia menghidupi istrinya, Serta membiayai kuliahnya, Bekerja dimanan pun tak mungkin dengan cepat menghasilkan uang.


"Iya Pa, Daffin berangkat" ucap Daffin akhirnya.


...----------------...


Sementara itu di kampus,


Vanya baru saja datang dan duduk di kelas serta merebahkan kepalanya diatas meja miliknya, Fani mulai mendekatkan kursinya ke kursi Vanya.


"Jalan-jalan Fan" jawab Vanya


"Enak banget jalan-jalan bolos kuliah pula,"ucap Fani tak terima.


"Ya mau gimana lagi Daffin yang ajak, Ya udah jadinya terpaksa bolos, Lagi cuma sehari" ucap Vanya.


"Lagi jalan kemana sih emang kayaknya capek banget" ucap Fani yang penasaran karena Vanya yang terlihat lelah.


"Cuma Taman Hiburan doang, Tapi pulangnya langsung itu, Belum lagi pagi-pagi baru bangun udah minta lagi" ucap Vanya tanpa sadar.


"Itu apa?? Minta apa Va??" tanya Fani.


Vanya yang baru sadar dengan ucapannya sendiri langsung bangun dan kembali duduk, Membetulkan rambut dan melirik ke kanan dan ke kiri.


"Emm... Enggak Fan, Bukan apa-apa" ucap Vanya yang setengah tersenyum.


Namun Fani yang mulai menyadari maksud ucapan Vanya pun mulai menatap tajam ke arah Vanya, Seraya berkata," Habis begituan ya~" ucap Fani dengan nada yang begitu menyebalkan untuk Vanya.


"Enggak !!" Elak Vanya dengan cepat.


"Hmm...Masa sih~~~"


"Tahu ah Fan, Udah sana ah jangan deket-deket" ucap Vanya yang mulai menutupi wajahnya yang nampak memerah.


...----------------...


Vanya dan Fani sedang berada di kantin, Sementara Meta baru saja menerima telepon dari Dimas pacarnya memilih untuk pergi ke tempat yang lebih sepi agar tak diganggu oleh Fani yang seringkali bertingkah iseng itu.

__ADS_1


Nampak Vanya yang tengah meneguk minumannya dan Fani yang masih asik menyantap semangkuk baso di depannya.


"Hai boleh gabung" ucap seorang lelaki di depan Vanya yang bertubuh tinggi itu.


Fani yang tengah asik menyantap makanannya pun mulai tersedak.


Uhuk uhuk uhuk..


Dengan cepat Fani mengambil air minum didepannya dan sibuk merapikan dirinya yang penuh keringat sehabis menyantap baso yang cukup pedas.


"Oh iya Kak boleh" ucap Vanya kepada lelaki bertubuh tinggi itu yang ternyata adalah Leo.


"Kamu kemana kemarin? Aku kayaknya enggak lihat kamu seharian" tanya Leo yang mulai duduk di depan Vanya sambil melihat ke arahnya sementara Fani masih sibuk merapikan dirinya.


"Jalan-jalan Kak sama Daffin" jawab Vanya.


Leo tersenyum kecut,


"Oh aku pikir kamu sakit"


"Oh iya Kak, Gimana kelanjutannya?" tanya Vanya.


"Kelanjutan apa?" tanya Leo.


"Itu" ucap Vanya yang mulai melirik Fani yang tengah sibuk memakai lipstik.


"Jadi gimana.. gimana.." ucap Leo.


Fani nampak telah selesai merapikan diri,


"Nonton Kak? Aku enggak bisa kalau minggu-minggu ini masih mau nengokin saudara aku yang habis lahiran" cerocos Fani.


"Oh iya, Nita abis lahiran ya, Gue sama Daffin belum sempet kesana buat nengok Fan" Ucap Vanya.


"Nita mana nih? Kayaknya temen aku juga pacarnya namanya Nita dan baru aja lahiran" ujar Leo.


"Iya Kak, Nita pacarnya Kak Hans temennya Kak Leo sama Daffin juga, Nah Fani ini saudaranya Nita" jelas Vanya.


"Oh jadi gitu, Dunia bener-bener sempit ternyata" ujar Leo.


"Ya udah, Gimana kalau pulangnya nanti kita sama-sama kesana aja?" tanya Leo.


"Iya ide bagus tuh, Lo ikut kan Va?" tanya Fani.


"Tahu Fan, Bentar ya tanya Daffin dulu"


Vanya mulai mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelpon Daffin.


Kring kring..🎢🎢🎢


"Halo sayang, Kenapa? Tumben telepon kangen ya" ucap Daffin yang baru saja masuk ke dalam ruangannya setelah makan siang.


"Emm.. Aku pulang kuliah nanti mau nengok Nita pacarnya Kak Hans, Boleh enggak?"tanya Vanya.


"Oh, Aku kira kenapa"


"Ya udah boleh, Tapi kamu kesananya sama siapa?"


"Sama Fani , Sama Kak Leo juga"


"Leo??"

__ADS_1


Note : Jangan lupa tinggalkan like,komen dan juga Votenya , Terima kasih.😌😌


__ADS_2