
Ketika tengah asik-asiknya sepasang kakek dan juga nenek yang bermain bersama cucu mereka, Tiba-tiba saja Dava menangis...
"Eh kok nangis?" ucap Papa Daffin.
"Haus Pa, Udah sana kasih ke Mamanya dulu," perintah Mama Daffin.
Dava segera diambil alih oleh Vanya dan Vanya mulai berjalan ke atas menuju kamar Daffin saat mereka masih tinggal bersama di sini.
Mama Daffin kembali ke dapur, Sementara Daffin nampak berbicara dengan Papanya yang kini kembali membaca koran.
"Pa besok Daffin izin enggak masuk ya?"
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Papanya dengan mata yang masih terfokus pada koran di tangannya.
"Ke dokter Pa," jawab Daffin singkat.
Seketika Papanya menoleh dan berkata, "Siapa yang sakit? Kamu? Dava atau Vanya??"
"Bukan Daffin atau Dava tapi Vanya Pa."
"Vanya sakit apa? Apa sakitnya serius?" tanya Papa Daffin.
"Emm... Bukan sakit sih Pa," ucap Daffin sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Lalu?" tanya Papa
"Kayaknya Papa mau nambah cucu," ucap Daffin seraya tersenyum.
Dahi Papa mengerenyit,
"Cucu? Vanya hamil lagi?"
"Iya Pa," ucap Daffin nyengir.
"Kamu gerak cepat juga ya."
"Harus dong Pa, Kan mumpung masih muda."
"Bisa aja kamu, Ya sudah besok kamu boleh libur satu hari, Tapi ingat hanya satu hari jangan nambah-nambahin sendiri!" tegas Papanya.
"Siap, Daffin mau nyusul Vanya dulu," ucap Daffin seraya naik ke atas menuju kamar.
Sesampainya di kamar,
__ADS_1
Nampak Vanya yang tengah berbaring sambil mengASIhi Dava, Bayi yang akan menjadi Kakak itu nampak sangat kehausan, Terlihat dari caranya yang dengan rakus menghisap sumber makanannya membuat dahi Vanya sesekali mengerenyit.
Daffin bergegas naik ke atas tempat tidur dan ikut merebahkan tubuhnya di belakang Vanya. Ia pun mulai menoleh ke arah Dava yang tengah dengan kuatnya menghisap.
"Yang," panggil Daffin.
"Hmm," Vanya hanya berdehem.
"Habis Dava gantian ya," bisik Daffin di telinga Vanya.
"Jangan aneh-aneh masih siang!"
"Memang kenapa? Suami istri tuh bebas mau siang atau malam," ucap Daffin yang mulai menciumi pipi Vanya.
"Ya iya tapi enggak enak yang, Masa main ke sini malah sibuk main sendiri di kamar," ucap Vanya gemas.
"Ya enggak apa-apa mereka juga pasti ngerti kok, Kalau Dava bangun aku harus curi-curi waktu terus biar bisa mesra-mesraan sama kamu kan," ucap Daffin yang kini tangan nakalnya mulai memainkan benda bulat yang menganggur karena yang satunya tengah dikuasai oleh putranya.
"Iya kalau Dava tidur, Kalau enggak ya... Terima nasib aja," ucap Vanya seraya tersenyum.
Daffin tak habis akal ia pun kini mengalihkan tangannya ke arah bok*ng Dava yang dan mulai menepuk-nepuknya.
"Ayo sayang bobo ya... Papa mau minta jatah dulu," ucap Daffin yang tengah berusaha membuat putranya tertidur secepat mungkin.
Setelah beberapa puluh menit akhirnya usahanya membuahkan hasil, Dava tertidur dan kini mulutnya nampak berhenti menghisap.
Daffin mulai tersenyum penuh kemenangan.
Vanya hendak merapikan pakaiannya, Namun dengan cepat dicegah oleh Daffin.
"Gantian yang," ucap Daffin yang langsung mndekat dan memagut bibir istrinya itu.
Kini ciuman itu mulai turun ke leher jenjang Vanya dan semakin turun lagi, Sampai akhirnya berhenti di dua benda yang sering diambil alih oleh putranya.
Dava nampak menggerakan tubuhnya, Seketika Daffin dan juga Vanya membatu bersamaan dan melihat ke arah Dava memastikan putranya itu masih tertidur dan ternyata benar Dava kembali tidur sementara Daffin mulai berkata,
"Yang dibawah aja yuk, Nanti Dava bangun aku kentang," ajak Daffin.
Daffin berangsur turun dari atas tempat tidur diikuti oleh Vanya. Kini mereka melanjutkan aktivitasnya, Daffin mulai mencumbui Vanya lagi. Ia tak lantas bermain ke intinya, Ia lebih senang bila melakukan pemanasan lebih dulu.
"Mam..."
Daffin terbelalak, ia yang tengah asik bermain di dada Vanya tiba-tiba menoleh ke atas dan menemukan anaknya itu tengah memperhatikan ke arah mereka sambil tersenyum.
__ADS_1
"Haish perasaan tadi udah tidur, Kenapa jadi seger lagi sekarang," gerutu Daffin.
Vanya segera bangun dari posisinya merapikan kembali pakaiannya, Lalu menggendong Dava.
"Duh sayang udah bangun ya?" ucap Vanya.
Sementara Daffin masih duduk dibawah sambil memijat pelipisnya dengan satu tangan.
"Haish gagal lagi" ucapnya.
Tok tok tok...
"Fin, Vanya," panggil Mama Daffin dari luar kamar.
Daffin beranjak dari duduknya dan membuka pintu.
Ceklek...
"Iya Ma, Ada apa?" tanya Daffin.
"Kita makan sama-sama yuk, Sandra sama Daniel juga sudah pulang,"
"Iya Ma ayo."
"Dava mana? Tidur?" tanya Mama
"Tadi sih tidur Ma."
Vanya keluar dengan Dava didekapannya,
"Nah ini cucu oma yang ganteng, Sini sama oma ya," ucap Mama Daffin seraya mengambil Dava dari pelukan Vanya.
"Ayo Vanya makan dulu."
"Iya Ma," ucap Vanya.
"Ayo sayang makan dulu, Isi ulang biar full lagi ASInya," ucap Daffin yang tersenyum jahil.
Sementara Vanya nampak menajamkan tatapannya ke arah Daffin dan hanya dibalas dengan senyuman oleh Daffin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan likenya, vote dan hadiah juga boleh bila berkenan😊
__ADS_1