
"Kakak yang sabar ya, Maaf kalau aku jadi mengingatkan Kakak lagi" ujar Vanya seraya mengusap bahu Leo.
"Enggak apa-apa" ujar Leo seraya menoleh ke arah Vanya.
Leo pun mulai terpaku pada lengan Vanya yang berada dipundaknya, Vanya nampak mulai menyadari tangannya berada ditempat yang salah dan dengan cepat ia menyingkirkan tangannya dari bahu Leo.
Leo mulai kembali melihat ke arah makam dan membersihkannya dari rumput liar, Vanya pun ikut membantunya.
Setelah selesai membersihkan Leo mulai menatap lekat ke arah Vanya, Vanya yang mulai menyadari Leo yang menatapnya pun mulai bertanya,
"Kenapa Kak?" tanya Vanya.
"Kamu hebat ya" ujar Leo.
"Hah?" ucap Vanya sambil mengerenyitkan dahinya.
"Kamu Vanya, Bukannya enggak jauh berbeda dengan Mona, Tapi kamu enggak pernah berpikiran sama seperti Mona?" ujar Leo tak habis pikir.
Vanya mulai menghela nafas,
"Berat Kak awalnya, Aku juga ngerasa hancur dan bukan enggak pernah berpikiran untuk melakukan hal yang sama, Tapi aku lebih sayang ke Mama, Aku enggak mau buat Mama sedih, Aku pikir kalau aku berpikiran pendek Mama pasti sedih, Apalagi aku ini anak tunggal, Jadi aku memilih buat melanjutkan hidup dan menyimpan semua luka itu sendirian" ujar Vanya seraya setengah tersenyum.
Leo pun tersenyum kecut, " Lalu bahkan kamu juga menerima Daffin? Terbuat dari apa sebenarnya hati kamu??" tanya Leo.
"Itu berbeda Kak, Awalnya juga aku enggak terpikir untuk menerima dia, Tapi waktu itu aku hamil dan mau enggak mau aku tetap harus menerima dia kan, Untuk kebaikan anak aku juga, Meskipun akhirnya aku juga kehilangan anak itu" ucap Vanya yang terlihat sedih.
"Tapi hidup harus tetap terus berjalankan Kak, Yang udah lewat, Ya udah mau diapain lagi," ujar Vanya.
"Andai Mona bisa seperti kamu waktu itu, atau minimal dia kenal kamu, mungkin dia masih ada saat ini." ujar Leo.
Vanya pun terdiam,
"Kamu mau enggak jadi pengganti Mona?" tanya Leo kemudian.
"Hah?"
"Kamu bilang kamu anak tunggal, Berarti kamu enggak punya orang yang bisa diajak bercerita kan, Kamu bisa anggap aku seperti Kakak kamu sendri, Kamu bisa ceritakan apapun sama aku, Kamu bisa cari aku saat kamu butuh bantuan." ujar Leo
"Tapi Kak.."
"Ya itu kalau kamu mau, Supaya kamu enggak canggung ada didekat aku, Anggap aja aku kakak kamu, Begitu juga sebaliknya, Kamu enggak perlu takut, Aku enggak akan melewati batasan karena aku akan menganggap kamu seperti adikku sendiri Mona" ujar Leo.
"Ya kalau memang bisa sedikit mengurangi beban Kakak, Tapi tetap kita juga harus punya batasan ya" ujar Vanya.
"Iya" ucap Leo seraya tersenyum.
"Ya udah, Ayo aku antar kamu pulang" ujar Leo.
"Iya ayo" ujar Vanya.
Akhirnya Leo pun mengantarkan Vanya ke rumahnya dan sebelum pergi ia mulai berkata, " Aku minta nomor handphone kamu ya"
__ADS_1
"Ha? Buat apa Kak?" tanya Vanya.
"Untuk kalau kamu ada perlu bantuan atau apapun itu kamu bisa hubungin aku" ujar Leo.
"Oh"
Vanya mulai menyebutkan angka, dan Leo mencatat lalu mulai melakukan panggilan.
"Nah itu nomor aku kamu save juga ya" pinta Leo
"Iya Kak, Ya udah kalau gitu aku masuk dulu ya, Makasih udah antar aku sampai rumah" ujar Vanya.
"Iya sama-sama" ucap Leo seraya tersenyum.
...----------------...
Malam harinya,
Nampak Vanya yang kembali sibuk memperhatikan layar ponselnya sambil merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur,
Daffin enggak telepon juga batin Vanya.
Ia pun mencoba menelepon namun ternyata ponselnya tidak lah aktif.
Vanya terlihat semakin gusar, Tidak seperti biasanya ia benar-benar merindukan Daffin saat ini, Apalagi setelah pertengkarannya tadi siang dengan Daffin di telepon.
"Kamu kemana sih !" ucap Vanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Apa Daffin sengaja matiin teleponnya dan sibuk dengan perempuan lain pikirnya.
Vanya menghela nafas dan terlihat kesal sendiri,
Ping
Ada pesan masuk ke ponsel Vanya dan dengan cepat ia melihat layar ponselnya ternyata pesan dari Leo.
📩 Kak Leo : Malam Vanya, Kamu lagi apa?
📨 Vanya : Iya Kak malam juga, Lagi bete
📩 Kak Leo : Bete kenapa sih? Kok bete
📨 Vanya : Daffin enggak ada kabar Kak, Nomornya enggak aktif.
📩 Kak Leo : Mungkin daya ponselnya habis.
📨 Vanya : Iya Kak mungkin aja.
📩 Kak Leo : Besok kamu ada acara enggak? Kita jalan-jalan yuk mumpung weekend.
Vanya membalas dengan sedikit lebih lama karena ia pun bingung harus menerima atau menolak ajakan Leo, Sampai akhirnya Leo kembali mengirim pesan.
__ADS_1
📩 Kak Leo : Memangnya kamu enggak suntuk dirumah terus, Seenggaknya kamu bisa happy kalau sejenak jalan-jalan menghirup udara segar di luar.
Iya sih suntuk, Di rumah sendirian bete, Daffin enggak ada kabar malah kepikiran yang enggak-enggak juga, Udah lah jalan-jalan sama Kakak aja kali ya Batin Vanya.
📨 Vanya : Ya udah deh Kak, Ayo jalan-jalan
📩 Kak Leo : Ya udah besok aku jemput kamu jam 9 pagi ya.
📨 Vanya : Oke Kak siap.
Setelah balasan terakhir Vanya, Ia mulai kembali mencoba menghubungi Daffin, Namun tetap saja nomornya tidak aktif.
"Kamu ngeselin !!" ucap Vanya menahan tangis.
"Udah ah tidur aja" ucap Vanya yang mulai menaruh ponsel disebelahnya, Menghadap ke samping dan menutupi kepalanya dengan bantal kemudian mencoba untuk tidur.
...----------------...
Keesokan harinya,
Vanya nampak tampil kasual dengan celana jeans serta kaos lengan pendek berwarna putih, Tidak lupa juga jaket jeans yang ikut membalut tubuhnya, serta tas kecil yang bergantung dengan posisi menyamping.
Vanya memakai sepatu ketsnya, Ia pun mulai menghampiri Leo yang baru saja mencapai gerbang.
"Yuk berangkat" ajak Leo.
"Kita mau kemana Kak?" tanya Vanya.
"Emm enaknya kemana?" tanya Leo.
"Ketempat sejuk yang bisa buat perasaan tenang Kak" ucap Vanya.
"Oke dimengerti, Ayo naik " ajak Leo.
...----------------...
Leo pun membawa Vanya ke sebuah perbukitan, Sesampainya disana Vanya mulai turun dari motor Leo, Nampak banyak pengunjung yang mulai berdatangan serta berjalan naik ke atas.
"Kalau kita jalan sedikit keatas enggak apa-apa kan?"tanya Leo.
"Iya enggak apa-apa" ucap Vanya.
Leo mulai turun dari atas motornya dan mulai berjalan ke atas, Vanya pun mulai mengekor dibelakang Leo.
"Ayo sini tangan kamu, Jalanannya licin" ujar Leo yang mulai mengulurkan tangannya ke arah Vanya.
Awalnya Vanya ragu, Tapi kemudian ia mulai meraihnya. Tak apalah, Toh ini hanya sebatas Kakak yang menolong adiknya pikir Vanya.
Leo berjalan terus hingga ke atas sekitar 10 menit mereka pun akhirnya sampai ke atas, Vanya terlihat takjub, Karena ternyata Leo membawa Vanya ke sebuah air terjun, Suasananya masih sangat asri dan juga menyejukan.
Note : Jangan lupa tinggalkan like , komen dan juga Votenya. Terima kasih😌
__ADS_1