VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Mulai Tak Nyaman


__ADS_3

"Ngapain lo disini ??" tanya Daffin dingin.


Leo tersenyum kecut, "Gue cuma mau lihat keadaan Vanya, Karena hari ini dia enggak masuk."


"Perhatian juga lo sama istri gue," ucap Daffin yang ikut tersenyum kecut.


"Gue sama Vanya abis jalan kemarin, Gue takut gara-gara gue dia sakit," ucap Leo dengan senyum penuh kemenangan.


B*ngs*t batin Daffin.


Vanya mendengar Daffin yang tengah berbicara dengan seseorang di luar nampak terlihat penasaran, Ia pun beranjak dari duduknya dan mulai menghampiri Daffin.


"Fin kamu ngomong sama siapa?" tanya Vanya.


Daffin menoleh begitu pula dengan Leo yang pandangan langsung teralihkan pada jejak yang Daffin tinggalkan di sekitar leher Vanya, Vanya mulai menyadari arah pandangan Leo, Ia pun mulai mengutuk dirinya sendri, Karena memakai kaus yang tidak menutupi leher sehingga bekas noda yg Daffin tinggalkan nampak sangat jelas terlihat dileher jenjangnya, Vanya ingin segera masuk kembali dan memutar tubuhnya, Namun dengan cepat Daffin mencegah dan mulai merangkul pinggang Vanya, Ia pun memposisikan Vanya disampingnya, Vanya gelagapan dan menundukan kepalanya.


"Tenang aja, Vanya enggak masuk bukan gara-gara lo, Tapi gara-gara gue, Iya kan sayang?" ucap Daffin yang mulai mencium serta menggigit kecil di bawah pipi Vanya yang merona karena menahan rasa malunya.


Vanya nampak terlihat kesal dengan perlakuan Daffin, Karena ia terlihat memalukan didepan orang lain.


Leo tersenyum kecut, Ia pun memang menyadari Daffin suaminya dan memang itu wajar , Tetapi kenapa ia merasa sangat kesal dibuatnya.


"Ya udah kalau gitu, Gue balik dulu" ujar Leo seraya berjalan pergi.


Vanya mulai melepas rangkulkan Daffin dan berjalan kedalam ia pun terlihat kesal, Daffin dengan segera menyusul Vanya, Vanya pun berbalik dan mulai berkata,


"Kamu apa-apaan sih Fin ! Kenapa sama sikap kamu tadi? " Protes Vanya.


"Memang kenapa?"


"Kamu tanya kenapa? Malu Fin, " ujar Vanya.


Daffin tersenyum kecut,


"Aku suami kamu, Kenapa kamu harus malu??" ujar Daffin tak terima.


"Ya enggak enak dilihat, Seharusnya kamu jangan kayak gitu tadi" ujar Vanya.


Lagi-lagi Daffin tersenyum kecut,


"Kenapa kamu protes? hmm? Aku yang lihat kamu jalan sama dia aja, Aku enggak protes ! ucap daffin kesal dan membelalakan matanya.


Vanya gelagapan dan mulai berusaha menjelaskan kepada Daffin.


"Kak leo udah aku anggap seperti Kakakku sendiri Fin, Dan dia juga anggap aku seperti adiknya." ujar Vanya.


" Kalau dia punya maksud lain dan bukan hanya sekedar anggap kamu adik gimana?" tanya Daffin.

__ADS_1


"Ya enggak mungkin lah Fin," ujar Vanya.


"Tapi aku kenal dia Vanya !" ujar Daffin.


"Kamu tuh jangan over thinking terus, Dulu sama Niko sekarang sama Kak Leo juga, Lama-lama kamu kok jadi posesif gini sih !" ujar Vanya.


"Vanya, Enggak ada hubungan laki-laki dan perempuan hanya sebatas kakak dan adik tanpa salah satu diantara mereka punya perasaan lebih !" tegas Daffin.


"Semua ucapan kamu enggak masuk akal Fin, Buktinya aku enggak ngerasain apa-apa kok sama dia, Lagi pula kita udah nikah, Ngapain dia harus mau sama perempuan yang jelas-jelas udah punya suami," ujar Vanya.


"Terserah kamu lah ! Aku mau berangkat udah telat ! ucap Daffin seraya berjalan pergi.


Sedangkan Vanya hanya terdiam dan tak ingin memperpanjang masalah lagi.


...----------------...


Malam harinya,


Daffin baru saja pulang setelah bekerja, Ia pun masuk ke dalam rumah dan langsung mendaratkan tubuhnya diatas sofa,


Ia merasa sangat penat, Lelah dan juga pusing karena pekerjaan, Belum lagi tadi siang ia lagi-lagi bertengkar dengan Vanya, Tak ada yang dapat menyenangkan untuknya hari ini, Rasanya Ia hanya ingin segera pergi tidur sekarang.


Vanya nampak baru saja turun dari kamar, Ia pun segera menghampiri Daffin yang tengah duduk di sofa.


"Kamu mau makan atau mandi dulu?" tanya Vanya.


Daffin berjalan ke atas menuju kamar, Ia pun segera membuka pakaiannya, Mandi, Berpakaian kembali, Lalu mulai merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur seraya memejamkan matanya.


Sementara itu Vanya yang baru saja masuk ke dalam kamar mulai menghampiri Daffin yang tengah tergolek diatas tempat tidur.


"Fin, Kamu enggak mau makan dulu?" tanya Vanya.


"Enggak usah, Aku ngantuk mau tidur" ucap Daffin.


"Tapi aku udah masak banyak tadi," ucap Vanya lagi.


"Kamu aja yang makan" ucap Daffin.


"Tapi aku..."


"Kamu denger enggak sih ! Aku ngantuk ! Aku capek ! Aku mau tidur !!" ucap Daffin yang mulai berbicara dengan nada tinggi seraya menatap Vanya.


"Oh.. Ya udah" ucap Vanya menahan tangis.


Daffin kembali merebahkan tubuhnya, Ia pun mulai memejamkan mata dan ingin segera tidur, Sementara Vanya ikut merebahkan tubuhnya diatas tempat dengan posisi memunggungi Daffin.


Matanya terasa panas, Ia tengah menahan agar tak menangis, Namun tetap saja air itu keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


Duh Vanya cengeng banget sih, Baru dibentak gitu aja pasti bawaannya pengen nangis, Rasanya pengen kayak dulu aja, Mama protektif juga enggak selalu marah-marah terus, Enggak larang-larang terus, Kalau sama Daffin ini enggak boleh itu enggak boleh, Capek lama-lama gini terus, Pengen balik kayak dulu lagi aja rasanya Batin Vanya.


Vanya masih saja berusaha menghapus air yang meleleh dari sudut matanya, Mungkin besok ia ingin pergi menginap saja di rumah Mama pikirnya.


Tidak lama setelahnya Vanya pun ikut tertidur.


...----------------...


Keesokan harinya,


Daffin dan Vanya tengah sarapan bersama, Vanya pun mulai bertanya kepada Daffin.


"Fin, Hari ini aku mau menginap dirumah Mama ya?" ucap Vanya.


"Enggak boleh" ucap Daffin singkat.


"Kok enggak boleh?" tanya Vanya.


"Ya kamu kan udah punya rumah sendiri, Udah punya suami, Ngapain juga mesti menginap dirumah Mama kamu segala" ucap Daffin.


"Tapi aku kangen sama Mama," ujar Vanya.


Daffin tersenyum kecut,


"Kamu tuh udah bukan anak kecil lagi, Yang apa-apa harus sama Mama, Tugas kamu ya disini mengurus dan melayani aku !" tegas Daffin.


"Iya" ucap Vanya singkat.


Vanya terlihat kesal sekarang, Lagi-lagi dilarang pikirnya, Ia mulai merasa jenuh dengan rutinitasnya sekarang, Lama kelamaan bersama Daffin malah membuatnya menjadi merasa tak nyaman.


Setelah mereka sarapan bersama, Vanya pun diantar ke kampus oleh Daffin, Ia pun segera turun dari dalam mobil tanpa berbasa basi dulu dengan Daffin karena Daffin memang sudah terlambat dan terlihat buru-buru.


Vanya mulai berjalan masuk ke dalam kampus sembari melamun, Suara klakson dibelakangnya nampak tak disadarinya, Sampai akhirnya orang yang mengklakson itu turun dari kendaraanya dan menghampiri Vanya.


Ia pun nampak menarik lengan Vanya,


"Hei, Kamu enggak denger suara klakson?" tanya orang itu


"Ha?" Oh Maaf Kak mungkin gara-gara ngelamun tadi" ujar Vanya kepada orang itu yang tak lain adalah Leo.


*Note : Jangan lupa tinggalkan ,like , komen dan juga Votenya. Terima kasih.


Maaf telat up, Moodnya terjun bebas sempet niat enggak up dl sebenernya tapi sudah setengah jalan, Mudah-mudahan belum pada selingkuh dan masih setia nunggu up nya ya 😔


Authornya lagi istirahatin pikiran dulu ya, Nanti balik lagi langsung dikasih crazy up.


cctv 24jam jangan ada plagiat diantara kita, Cz author nulisnya mikir keras ngana mau enak comot ide cerita tak de akhlak 😏

__ADS_1


__ADS_2