VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
S2 Part 142


__ADS_3

Tangan-tangan nakal Daffin mulai bergerilya di tubuh bagian depan Vanya dan kini tengah mainkan benda bulat yang biasanya dikuasa oleh Dava.


"Yang," ucap Vanya dengan sedikit mendesah.


"Apa sayang?" tanya Daffin disela-sela ciumannya pada tengkuk leher Vanya.


"Davanya pindahin dulu," ucap Vanya.


"Enggak usah kita belajarnya di sini aja di atas meja," bisik Daffin yang kini mulai mengangkat tubuh Vanya dan mendudukkannya di sana.


"Yang bener aja yang, Masa di sini?" ucap Vanya sambil mengerenyitkan dahinya.


"Memangnya kenapa? Kan kita lagi mau belajar sayang" ucap Daffin yang mulai kembali memagut bibir ranum istrinya.


Disela-sela ciumannya ia mulai mengigit kecil di sana membuat Vanya berteriak kecil dan saat Vanya membuka mulutnya Daffin mulai memasukan lidahnya dan memainkannya di dalam sana. Setelah beberapa menit Daffin mulai melepas pagutannya dan berkata,


"Sayang, Dilepas dulu dong," pinta Daffin.


"Ini beneran mau disini??" tanya Vanya meyakinkan.


Daffin tersenyum dan berkata," Iya, Kenapa?"


"Aku bilang juga apa! Pasti kamu aneh-aneh deh," ucap Vanya dengan bibir mengerucut.


"Sekali-kali yang, Memangnya enggak jenuh di kasur terus?" ucap Daffin yang kembali mendekat ke arah istrinya yang masih memandangnya dengan tatapan tak percaya.


Saat Daffin hendak menyatukan bibir keduanya, Vanya nampak menahan tubuhnya agar tak mendekat, Namun Daffin tak menyerah ia masih berusaha mendekat dan kini memeluk tubuhnya.


"Yang !!" pekik Vanya seraya mengerenyitkan dahinya.


"Apa?" ucap Daffin yang tersenyum jahil.


Daffin mendekat ke arah telinga Vanya dan membisikan sesuatu di sana.


"Kalau nolak dosa lho yang," ucap Daffin yang kembali tersenyum jahil.


Vanya pun tak lagi berusaha mengelak, Ia pun akhirnya menuruti keinginan Daffin dan mulai melepas satu persatu apa yang melekat ditubuh Daffin.


"Kok kamu jadi semangat banget sih? Aku belum suruh buka, Baju aku udah kamu bukain begini," ucap Daffin dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


Puk!


"Aduh!"


Daffin mengaduh karena Vanya nampak memukul dada bidangnya yang sudah polos tanpa sehelai benang pun di sana, wajahnya terlihat merah padam menahan malu karena ucapan telak dari suaminya.


"Enggak apa-apa kok, Aku suka kamu inisiatif duluan enggak harus selalu aku yang mulai," ucapnya lagi dengan senyum yang lebar.


"Hish kamu tuh!" ucap Vanya dengan dahi mengerut serta bibir mengerucut.


Daffin mulai duduk di kursi di depan meja, Ia mulai kembali tersenyum jahil.


"Ayo yang sini, Kamu ambil sendiri," ucap Daffin yang membuat wajah Vanya semakin memerah.


"Kenapa kok diem? Aku udah pasrah nih, Kamu mau apain aja aku terima," ucap Daffin lagi yang tak henti-hentinya tersenyum.


Vanya pun turun dari atas meja dan mulai memukul bahu suaminya karena ia terus saja tersenyum dengan wajah yang sangat menyebalkan menurut Vanya.


"Kamu sukanya main kasar ya?" ucapnya lagi.


"Yang, Udah ah! Aku malu tahu!" ucap Vanya dengan mata yang membulat.


"Sini duduk," ucap Daffin yang menepuk pahanya sendiri.


"Enggak usah malu, Kita ini udah bukan pengantin baru lagi, Udah punya Dava juga, Bahkan Dava udah mau punya adik lho, Jadi kalau memang kamu mau, Enggak usah malu-malu lagi, Aku enggak mulai juga kamu bisa mulai duluan sayang," ucapnya dengan senyum tipis.


"Ya udah," ucap Vanya.


"Ya udah apa?" tanya Daffin seraya mengerenyitkan dahinya.


"Ya udah jangan ngomong terus! Jangan protes, Awas kalau protes aku enggak mau lanjut!" ancamnya.


"Ok siap," ucap Daffin sambil menutup matanya.


Awalnya Vanya ragu, Namun karena Daffin menutup matanya ia tak lagi segan dan mengendalikan penuh permainan yang memacu adrenalin itu.


Daffin benar-benar dibuat kewalahan dengan aksinya, Seliar inikah ia ? pikir Daffin.


Namun, Ia tak mau banyak bicara dan hanya ikut mengimbangi permainan Vanya. Hingga setelah beberapa puluh menit berlalu, Vanya nampak mengeratkan pelukannya, Dan mencengkram punggung Daffin.

__ADS_1


Daffin tersenyum puas karena istrinya sudah tak sekaku biasanya. Vanya akan turun, Namun dengan cepat Daffin mencegahnya.


"Udah begini aja dulu," pintanya.


"Capek," ucap Vanya masih dengan napas yang terengah-engah dan meletakkan dahinya pada pundak Daffin dan tangan yang masih melingkar dipunggung Daffin.


"Iyakah? Kamu liar juga ya mainnya," ucap Daffin tersenyum.


"Aduh!" Daffin mengaduh karena cubitan yang Vanya berikan dipunggungnya.


"Jangan buat aku malu!" tegasnya lagi.


"Iya sayang," ucap Daffin.


"Besok kita jadi ke dokter, Aku udah izin ke Papa tadi," ucapnya.


"Hmm," Vanya hanya berdehem dan memejamkan matanya.


Namun, Vanya pun mulai terbelalak karena teringat sesuatu hal.


"Yang?" panggil Vanya.


"Apa sayang?" tanya Daffin.


" Minggu depan aku mau kumpul sama teman-teman aku ya? Boleh gak? Riri pulang soalnya udah lama enggak ketemu dia," ucap Vanya sambil memainkan rambut gondrong suaminya.


"Boleh kok," ucap Daffin.


Vanya terperanjat dan menatap ke arah wajah Daffin," Beneran yang?" tanya Vanya meyakinkan.


"Hmm, Iya, Tapi ada syaratnya," ucap Daffin.


"Apa?" tanya Vanya dengan dahi mengerut.


"Sekali lagi yah?," ucap Daffin yang mulai menggerakan sesuatu yang masih terbenam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author be like: Please jgn mikir yang iya-iya😭

__ADS_1


**Maaf baru up lagi, Mood nulisnya lagi terjun bebas, karya kedua juga cuma aku up 1 bab perhari.


Terima kasih untuk yang msh menyimak dan menunggu kelanjutannya**.


__ADS_2