VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Extra Part


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit,


Daffin segera melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya dan juga tubuh Vanya, Kini ia membuka pintu dan bergegas keluar dari dalam mobil, Ia pun menghampiri Vanya membuka pintu mobil dan dengan sigap membopong tubuh istrinya itu, Petugas rumah sakit yang tengah berjaga di depan mulai membantu Daffin dan merebahkan Vanya pada Hospital bed , Kini Hospital bed dengan tubuh Vanya diatasnya tengah di dorong ke ruang bersalin.


Daffin terus menemani Vanya disampingnya, Tangannya tak pernah lepas dari tangan Vanya yang sesekali mencengkramnya dengan erat karena rasa sakit yang ia rasakan, Keringat mulai bercucuran dengan derasnya, Sementara Daffin terus saja mengerenyitkan dahinya ia terlihat bingung dan juga panik.


Dokter pun segera datang, Sementara Vanya nampak terus saja mengejan.


"Yang, Sakit" keluhnya yang membuat Daffin semakin kebingungan.


Dokter mulai memberikan aba-aba untuk menarik serta membuang napas, Daffin yang menemaninya pun terbawa suasana dan ikut menarik serta membuang napas, Hingga Dokter mulai menegurnya.


"Pak, Enggak usah ikutan narik napas, Yang mau melahirkan istri bapak"


"Oh iya Dok," ucap Daffin yang tersenyum kecut.


Sudah 30 menit berlalu, Vanya masih terus saja mengejan tapi masih belum juga ada tanda-tanda bayi mereka akan segera lahir.


Vanya semakin merasa tak karuan, Kini bukan saja tangan Daffin yang dicengkram, Namun rambutnya yang sudah mulai kembali panjang nampak dijambak oleh Vanya.


"Yang sakit jangan ditarik !!" pekik Daffin.


Namun Vanya tak menghiraukannya ia masih terus saja menarik dan menggapai apapun yang bisa diraih oleh tangannya.


Dokter nampak menggelengkan kepalanya melihat sepasang calon orang tua yang tengah berteriak secara bersautan.


Daffin berusaha melepaskan genggaman tangan Vanya dari kepalanya. Kini tangan itu telah lepas dari mahkotanya dan tengah ia genggam dengan erat agar tak kembali memporak-porandakan rambutnya lagi.


Anak kedua nanti pokoknya gue mesti potong rambut dulu dan sependek mungkin ! jerit batin Daffin.


Padahal anak pertama mereka pun belum lahir, Tapi ia sudah dengan mantapnya menyusun strategi untuk menemani Vanya saat melahirkan anak keduanya nanti.


Vanya mulai melepaskan genggamnya dan suara tangisan mulai terdengar. Ya , Akhirnya putra pertama mereka lahir dengan selamat dengan bobot 3,5kilogram serta panjang 53 sentimeter.


Cukup besar karena setelah masa mualnya hilang, Vanya kembali dengan napsu makan yang cukup menggebu pada trimester keduanya.


Setelah bayi mereka dibersihkan, Bayi mungil itu pun diberikan kepada Vanya untuk memulai makanan pembukanya, Nampak bibir mungil itu tengah bersusah payah meraih sumber makanan yang akan ia nikmati selama 2 tahun lamanya, Sementara sang ayah nampak mendekat ke arah ibu dan bayinya.


"Yang" ucap Daffin.


"Hmm" ucap Vanya yang masih terlihat lemah.


"Ganteng ya kayak aku" ucapnya lagi.


Vanya mulai melirik ke arah Daffin seolah tak terima dengan pernyataan yang baru saja terlontar dari mulutnya.


"Masih gantengan anaknya daripada ayahnya" ucap Vanya.


Daffin pun menoleh, Mengangkat tangan kanannya menuju dahi Vanya, Lalu mulai menjentikan jarinya disana.

__ADS_1


"Aduh" Vanya mengaduh.


"Enak aja, Dia ganteng juga karena turunan dari aku," ucap Daffin tak terima.


"Iya iya deh" ucap Vanya yang kini mulai kembali memperhatikan putranya yang tengah tertungkup diatas tubuhnya.


Daffin pun ikut memperhatikan putranya itu yang tengah dengan kuatnya meraih sumber makanan pertamanya, Ia mulai berkata, " Hei Junior jangan dihabiskan sisain buat Papa" ucap Daffin yang disambut cubitan kecil ditangannya.


"Aduh, Sakit sayang" ucap Daffin sambil menggosok lengannya.


"Lagian kamu di rumah sakit gini ngomongnya jangan aneh-aneh nanti ada yang denger"


"Iya enggak,Oh iya ngomong-ngomong jadinya pakai nama yang aku pilih ya?" ucapnya.


"Kan sesuai perjanjian kalau yang lahir laki-laki aku yang kasih nama, Kalau perempuan baru kamu" ucap Daffin lagi.


"Iya, Kemarin siapa namanya?" tanya Vanya.


"Dava Yuda Pradipta, Da-nya dari nama aku Va-nya dari nama kamu, Pas kan?"


Vanya tersenyum, "Iya memang kamu suka ada aja idenya" ujar Vanya.


"Iya dong suami siapa dulu."


"Suami siapa ya?? Maunya suami siapa nih?" ucap Vanya.


"Oh gitu, Aku enggak diakuin nih jadinya, Ya udah aku cari yang mau akuin aku aja deh" ucap Daffin yang langsung disambut dengan tatapan tajam beserta cubitan yang lebih kencang dari sebelumnya hingga meninggalkan bekas memerah menuju kebiru-biruan oleh Vanya.


"Makanya jangan ngomong sembarangan ! Anak masih merah begini kamu ngomongnya asal begitu !"


"Iya iya maaf," ucap Daffin sambil menggosok-gosok tangannya.


...----------------...


Hari-hari mulai terasa begitu cepat, Bayi mungil mereka mulai tumbuh dengan sehat, Daffin yang baru saja masuk ke kamar setelah seharian bekerja nampak disuguhkan pemandangan yang begitu indah menurutnya.


Nampak Vanya yang tengah terlelap bersama baby Dava yang tengah melingkarkan tangan mungilnya itu pada leher Vanya. Daffin mendekat dan duduk di tas tempat tidur, Rasa penat setelah bekerja terasa hilang begitu saja saja dengan memandangi keduanya.


Daffin pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, Setelah itu Mengenakan pakaiannya dan bersiap bergabung dengan istri dan juga anaknya, Kini Daffin mulai merebahkan tubuhnya disamping Vanya serta melingkarkan tangannya pada tubuh istrinya yang masih terlihat tertidur dengan pulas.


2 bulan berlalu...


Malam harinya...


Vanya baru saja menaruh Dava di dalam box bayinya, Ia telah terlelap setelah Vanya mengASIhinnya, Sementara Daffin yang baru saja keluar dari kamar mandi mulai mendekat dan melingkarkan tangannya pada tubuh Vanya dari arah belakang.


Kini ia mulai menghembuskan napas ditengkuk leher Vanya membuat istrinya itu merinding seketika.


"Sayang, Dava udah tidur?" tanya Daffin yang masih saja ndusel ditengkuk leher Vanya.

__ADS_1


"Udah" jawab Vanya singkat.


"Udah 2 bulan nih, Udah boleh kan?" tanya Daffin.


Vanya nampak terdiam dan pura-pura tidak mengerti,


"Boleh apa?" tanya Vanya.


"Boleh minta jatah, Udah 2 bulan aku dianggurin nih," ucap Daffin lagi.


"Nanti aja ya" ucap Vanya.


"Memangnya kenapa kalau sekarang? Hmm?" ujar Daffin yang masih terus bergerilya dileher istrinya itu.


"Ngeri sama jahitannya, Takut sakit" ujar Vanya.


"Enggak akan, Aku pelan-pelan kok, Mau ya?" ucap Daffin lagi meyakinkan.


Vanya pun hanya bisa mengiyakan keinginan Daffin, Karena kalau tidak Daffin akan terus menempel kepadanya.


"Ya udah" ucap Vanya akhirnya.


Daffin dengan sigap mengangkat tubuh Vanya lalu merebahkannya di atas tempat tidur. Kini ia mulai memagut bibir Vanya, Tangannya mulai berusaha melepas kancing-kancing piyama yang Vanya kenakan.


Namun baru 2 kancing saja yang terlepas tiba-tiba terdengar suara tangisan yang berasal dari dalam box Dava, Vanya terbelalak dan bergegas bangun untuk mengambil Dava, Sementara Daffin nampak membenamkan wajahnya ke kasur.


"Haishh kamu bangun disaat yang enggak tepat, Papa belum juga mulai" gumam Daffin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mulai apa Fin????😂😂😂


Aku nyengir sendiri jadinya😂😂


Udah selesai ya, Udah tamat.


Udah bahagia, Tinggal jatahnya aja yang belum 😂😂😂


Terima kasih semua yang udah ikutin terus kisah Daffin dan Vanya dari awal sampai akhir.


Dari awal Daffin masih bobrok sampe sekarang yang bobroknya masih sisa sedikit.😅





Terimakasih semuaaaaa😘😘😘😘

__ADS_1


...-SEASON 1 TAMAT-...


...YUK LANJUT TERUS MASIH ADA SEASON 2...


__ADS_2