
"Nita" ucap Vanya nyaris tak bersuara.
"Hai Kak, Kakak temannya Fani kan?" ucap Nita.
Vanya masih terdiam ia tak menyangka akan bertemu Nita disini.
"Emm.. Oh iya" ucap Vanya kemudian.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Hans.
"Iya yang, Kakak ini teman satu sekolahnya sepupu aku Fani" ucap Nita.
"Emm.. Fin aku cari minum dulu ya kesana sama Nita" ucap Vanya kepada Daffin.
"Oh ya udah sana, Tapi kalau sudah langsung cepat kesini lagi ya" ujar Daffin
"Iya, Ayo Nita" ucap Vanya seraya mengajak Nita pergi.
"Wah Fin parah lo bocah sekolah lo embat juga, Kapan merried nya lo?" tanya Hans.
"Kira-kira sebulan yang lalu lah, Elo juga sama lebih parah malah, Emang gue enggak tahu cewek lo juga hamil kan?" tanya Daffin.
"Haha tahu aja lo, Tapi belum bisa merried gue mentok umur" ujar Hans.
"Emang umur berapa sih dia?" tanya Daffin
"Otw 15 tahun" ujar Hans.
"Gila ! Parah parah" ujar Daffin sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Lo juga samanya" ujar Hans.
"Ya mending gue lah 18 tahun," ucap Daffin.
"Om om lagi pada bahas apa nih?" ucap Leo yang baru datang sambil merangkul Daffin di sisi kiri dan Hans di sisi kanan.
"Yee rese lo !" ujar Daffin sambil menoyor kepala sebelah kiri Leo.
"Tahu nih enak aja om om" Hans sewot.
Leo terkekeh,
"Kalau bukan om-om apa namanya? Lagian lo berdua janjian apa gimana? Bikin anak kecil sama anak kecil" ujar Leo.
Daffin hanya tersenyum begitu pula dengan Hans,
"Yee nyengir lagi lo berdua" ucap Leo sewot
"Lo bilang aja kalau ngiri" ledek Hans.
"Si*lan lo !" ujar Leo.
Sementara itu Vanya sedang duduk menunggu Nita yang sedang mengambilkan air minum untuknya ,
"Nih Kak, minumnya" ucap Nita seraya memberikan segelas jus kepada Vanya.
"Oh iya makasih ya" ucap Vanya seraya menerima 1 gelas jus yang diberikan oleh Nita.
Nita pun duduk di sebelah Vanya dan mulai bertanya,
"Kakak udah nikah? Dan lagi hamil juga?" tanya Nita kemudian.
"I-Iya" jawab Vanya gelagapan.
"Hamil duluan ya?" tanya Nita sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ha? Emm Iya" jawab Vanya akhirnya.
"Aku kira cuma aku aja, Ternyata aku ada temennya, Tapi kakak enak udah nikah, Aku masih belum bisa nih" ujar Nita kemudian.
"Nita" panggil Vanya kemudian.
"Ya? Kenapa Kak?" tanya Nita
"Emm bisa enggak kamu rahasiain ini dari Fani" ucap Vanya.
"Lho emang Fani belum tahu ya?" tanya Nita lagi
"Belum, Makanya tolong rahasiain dulu ya jangan sampai dia tahu" pinta Vanya.
"Iya beres tenang aja kak" ucap Nita seraya meneguk minumannya.
Vanya mulai memperhatikan Nita, Lalu matanya mulai tertuju ke perut Nita yang nampak terlihat membesar.
"Kamu udah hamil berapa bulan?" tanya Vanya.
"Oh udah 5 bulan nih" ucap Nita sambil mengelus perutnya.
"Kalau kakak?" tanya Nita
"Emm 10 minggu" jawab Vanya
"Terus sekolah kamu gimana?" tanya Vanya lagi.
"Sekolah? Aku udah dikeluarin dari sekolah Kak, Lama-lama ditutupin juga ketahuan, Apalagi perut makin lama makin besar gini" ucap Nita sambil mencoba tersenyum.
Kini Vanya mulai berpikir bagaimana dengan nasib dirinya nanti, Vanya hanya bisa menghela nafas.
"Kenapa Kak?" tanya Nita.
"Enggak apa-apa" ucap Vanya sambil tersenyum paksa.
"Ya begitu lah, Pusing rasanya enggak tahu harus gimana lagi" ucap Vanya.
"Aku juga awalnya gitu Kak, Tapi mau gimana lagi, Ini kan resiko dari apa yang kita buat sendiri" ujar Nita.
Buat sendiri?? Aku enggak pernah mau kayak gini, Semuanya karena Dion dan juga Daffin Batin Vanya.
Tiba-tiba saja suasana hati Vanya menjadi buruk, Lagi-lagi ia merasa sedih dan kesal.
"Nita, Kita balik kesana yuk" ajak Vanya
"Oh ayo" ucap Nita.
Daffin terlihat sedang duduk dan mengobrol bersama Hans dan Leo, Nita menghampiri Hans dan duduk disampingnya, Vanya pun menghampiri Daffin dan dalam posisi yang masih berdiri ia pun berkata,
"Fin ayo kita pulang" ajak Vanya.
"Pulang? Tapi kita baru aja sampai sayang" ucap Daffin kepada Vanya.
"Aku mau pulang sekarang" ucap Vanya lagi.
"Emm sebentar lagi ya? Duduk dulu disini" ucap Daffin sambil menengadah ke arah Vanya dan menepuk kursi disamping mengisyaratkan agar Vanya duduk disampingnya.
"Ya udah kalau gitu aku pulang sendiri aja" ucap Vanya sambil berjalan pergi.
"Vanya" panggil Daffin seraya menyusul Vanya dan mulai berdiri di depan Vanya untuk menghalangi jalannya.
"Kamu kenapa? Ya udah kalau mau pulang aku pamit sama teman aku dulu ya" ujar Daffin seraya menghampiri Leo dan Hans.
"Le, Hans sorry nih gue balik duluan ya, Istri gue kecapekan kayaknya pengen istirahat" ujar Daffin.
__ADS_1
"Iya enggak apa-apa Fin santai aja" ujar Hans.
Ya udah balik sana hati-hati lo" ujar Leo.
Daffin pun mulai menyusul Vanya kembali dan mengajaknya pulang.
"Ayo kita pulang" ajak Daffin kemudian.
Vanya dan Daffin pun berjalan menuju mobil, Mereka masuk kedalam mobil dan Daffin mulai melajukan kendaraannya.
"Kamu kenapa?" tanya Daffin sambil sesekali melihat ka arah Vanya.
"Enggak apa-apa" jawab Vanya yang memalingkan wajahnya dari Daffin.
Daffin memutuskan untuk menghentikan kendaraannya, Lalu ia mulai memandang ke arah Vanya, Berusaha memalingkan wajah Vanya agar ia menatap Daffin, Namun Vanya masih saja berusaha memalingkan wajahnya.
"Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu jadi kayak gini?" tanya Daffin bingung
"Aku enggak apa-apa, Ayo jalan, Aku mau pulang, Mau istirahat" ujar Vanya yang masih tak mau menatap Daffin.
"Enggak, Kita enggak akan jalan sebelum kamu cerita ke aku ada apa sama kamu, Aku enggak mau lagi-lagi kamu marah dan menghindar dari aku, Pokoknya apapun itu kita harus selesaikan sekarang juga" ujar Daffin yang masih terus menatap ke arah Vanya.
Vanya mulai menelan ludah matanya sudah mulai berkaca-kaca,
"Fin aku mau pulang, please aku mau pulang sekarang" ucap Vanya seraya menghapus air matanya yang mulai mengalir.
Daffin semakin mendekat dan berusaha menghapus air mata Vanya, Namun Vanya menepis tangannya.
"Vanya kamu kenapa??" tanya Daffin sambil mengerenyitkan dahinya.
Daffin semakin bingung melihat Vanya yang mulai menangis, Lalu Daffin pun berusaha memeluk Vanya namun Vanya berusaha melepas pelukan Daffin.
"Lepasin aku!" ucap Vanya yang kalut.
"Enggak akan !"ucap Daffin yang masih terus memeluk Vanya dengan erat.
"Lepasin aku Fin, Lepasin !! Kamu tuh br*ngs*k tahu gak ! Aku benci banget sama kamu !" ucap Vanya yang masih saja terus menangis dipelukan Daffin.
Tiba-tiba saja Daffin merasa sesak, Ia tak menyangka kalau Vanya akan berkata seperti itu.
Perasaan Daffin jadi tak karuan begitu pula dengan Vanya, Daffin masih saja memeluk Vanya dengan erat sambil mengelus rambutnya, Ia terus berusaha menenangkan Vanya yang tengah menangis.
"Udah nangis aja sepuasnya yang kamu mau"ucap Daffin yang semakin mempererat pelukannya.
Vanya semakin terisak, Setelah beberapa saat Vanya sudah berangsur tenang, Daffin pun melepaskan pelukannya keluar dari mobil dan membeli air mineral lalu memberikan kepada Vanya,
"Ini minum dulu" ucap Daffin seraya memberikan air minum kepada Vanya.
Vanya pun mengambil air yang diberikan oleh Daffin lalu mulai meminumnya, Vanya terlihat sedang tertunduk diam, Daffin pun mulai bertanya lagi dengan lembut.
"Kamu kenapa? Cerita sama aku ya?" ujar Daffin lembut.
Vanya mulai menghela nafas, Lalu ia pun berkata,
"Aku bingung, Nita dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan hamil, Terus sekarang gimana sama nasib aku? Apa nanti aku juga akan sama?" ujar Vanya kemudian.
Daffin pun menelan ludah, Ia pun bingung harus berkata apalagi sekarang, Pantas saja Vanya kelihatan begitu kalut, Ternyata ini yang sedang mengganggu pikirannya.
Daffin pun memeluk Vanya kembali, Lalu ia pun berkata,
"Maaf Vanya, Maafin aku ya, Semuanya memang salah aku" ucap Daffin menyesal.
Kini Daffin mulai mengerti mengapa Vanya berkata ia membenci dirinya, Daffin benar-benar telah merusak segalanya, Sampai-sampai ia sendiri pun bingung tak tahu harus berbuat apa selain meminta maaf.
Note : Jangan lupa tinggalkan like, komen dan juga Votenya.
__ADS_1
Happy Reading💞