
Di dalam mobil,
Daffin terlihat kesal, Diacuhkan oleh istrinya sendiri membuat emosinya semakin memuncak, Lalu Daffin yang hendak memutar balik mobilnya nampak melihat seseorang yang datang dari kaca spion mobilnya ia pun mulai mematikan mesin mobilnya, Membuka pintu dan keluar dari dalam mobilnya.
Nampak orang yang tadi Daffin lihat dari kaca spionnya berhenti dan turun dari atas motornya, Kemudian mulai menyapa Daffin.
"Hei Fin" sapanya seraya tersenyum.
Namun Daffin menatapnya dengan marah dan tiba-tiba saja...
BUGHH
Daffin meninjunya tepat di wajah orang tersebut yang ternyata adalah Leo.
Ia pun jatuh tersungkur,
"Ini terakhir kalinya gue peringatkan sama lo ! Jangan lo coba-coba deketin Vanya lagi !!" ucap Daffin dengan marahnya.
"Kalau sampe gue lihat lo deketin dia, Gue pastikan besok lo enggak akan lihat dunia ini lagi !!" ancam Daffin yang mulai masuk ke dalam mobilnya menutup pintu lalu berjalan pergi meninggalkan Leo disana.
Sebenarnya satu pukulan dirasa belum cukup untuk Daffin, Tetapi ia tak mau membuat keributan dan memilih untuk segera pergi dari sana, Daffin pun mulai mengumpat, "B*ngs*t !!" umpatnya.
Sementara Leo yang ditinggalkan begitu saja dan masih setengah tertidur di jalanan pun mulai tersenyum kecut seraya berkata,
"Fin.. Fin.. Enggak waras lo " ucap Leo.
...----------------...
Sesampainya di kelas,
Vanya nampak terdiam, Suasana hatinya nampak tidak begitu bagus hari ini, Fani yang seperti biasa selalu penasaran pun mulai mendekatkan kursinya dan duduk di sebelah Vanya.
"Itu muka coba tolong dikondisikan" ucap Fani seraya melihat ke arah Vanya.
"Apaan sih Fan, Sana ah, Gue lagi enggak mood !" ucap Vanya yang terlihat risih.
Fani yang kena semprot oleh Vanya pun memilih untuk kembali duduk di tempatnya semula.
Sementara Leo yang baru saja datang dan duduk di kursinya, Nampak terus saja memegangi wajahnya.
"Kenapa lo?" tanya Dion.
"Habis ketemu gorila ngamuk" ujar Leo.
Dion terkekeh,
"Nah ini nih, Gue bilang juga apa, Lagi bini gorila masih lo ganggu juga, Siapin aja tanah pemakaman" ledek Dion.
__ADS_1
"Si*l*n lo ! ujar Leo.
Dion pun tertawa puas, Sebenarnya ia pun tak tega dan tak ingin melihat teman-temannya berselisih, Namun ia sendiri tak punya pilihan karena dari awal ia sudah sepakat dengan Daffin agar apapun tentang Vanya harus ia sampaikan kepada Daffin tentang apapun itu, Lagipula ia juga telah memperingatkan Leo sebelumnya agar ia tak lagi mendekati Vanya, Meskipun ia masih saja tak mendengarkan perkataannya dan tetap saja berusaha mendekati Vanya.
"Heh Le, Apa sih yang lo cari?" tanya Dion penasaran.
"Maksud lo?" tanya Leo.
"Lo masih nekat kayak gini apa yang lo mau dan lo cari? Perasaan dulu lo enggak sampe segininya?" tanya Dion lagi.
Leo tersenyum kecut,
"Sensasinya Ion, Lo tahu enggak rasanya tuh lebih menantang dan buat gue makin penasaran," ujar Leo.
"Sint*ng lo !" ucap Dion.
Leo hanya tersenyum mendengar perkataan Dion.
...----------------...
Sementara itu di Kantor,
Karena besok adalah hari keberangkatan Daffin, Daffin pun meminta izin kepada Papanya untuk pulang lebih awal dan menjemput Vanya di kampus.
Tok tok tok..
Suara ketukan pintu yang diketuk oleh Daffin dari luar,
"Daffin Pa"
"Iya, Masuk"
Daffin pun mulai membuka pintu dan berjalan masuk menghampiri serta duduk di kursi di depan Papanya.
"Ada Apa?" tanya Papanya yang mata dan juga tangannya masih sibuk diatas berkas yang tengah ia pegang.
"Pa, Besok kan Daffin berangkat ke surabaya, Kalau hari ini Daffin minta pulang lebih awal buat jemput Vanya, Boleh kan Pa??" tanya Daffin.
Papanya mulai menghela nafas, "Sebenarnya pekerjaan masih banyak, Ya tapi untuk hari ini boleh lah, Papa juga mengerti pasti kamu mau berlama-lama dengan istri kamu dulu kan?" ujar Papanya.
"Iya Pa" ucap Daffin seraya mengembangkan senyumnya.
"Fin, Dengarkan Papa" ujar Papanya.
"Iya Pa kenapa?" tanya Daffin.
"Sampai sejauh ini Papa sudah sangat senang dengan kemajuan kamu, Ya mungkin bisa dibilang setelah mempunyai istri kamu jadi mencoba untuk lebih bertanggung jawab, Tidak manja, dan tidak semaunya, Papa harap hal itu akan seterusnya kamu terapkan, Karena jujur Papa sangat berharap kamu bisa meneruskan perusahaan Papa ini, Jadi jangan sampai masalah sekecil apapun merusak semuanya, Merusak konsentrasi kamu, Ini perbaiki sukur-sukur selesai sebelum kamu pulang tapi kalau tidak juga ya tidak apa lah untuk hari ini" ujar Papanya menaruh berkas yang tengah ia pegang di atas meja.
__ADS_1
"Ok Pa" ucap Daffin seraya mengambil berkas didepannya dan pergi dari ruangan Papanya menuju ke ruangannya sendiri.
Daffin pun dengan segera menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Papanya, Hingga tak tiba waktunya ia menjemput Vanya.
Daffin pun mulai bergegas keluar dari kantor, Ia segera menuju ke mobil masuk ke dalam, Lalu mulai melajukannya mobilnya untuk menjemput istri tercintanya.
Di tengah perjalanan nampak Daffin berhenti lebih dulu di toko bunga, Ia pun turun dan membeli satu buket mawar merah untuk Vanya.
...----------------...
Sesampainya di Kampus,
Daffin yang tak sabar ingin bertemu dengan istrinya itu pun akhirnya memilih masuk ke dalam, menyusuri tangga hingga sampai di depan kelas Vanya.
Daffin menunggu di depan kelas, Saat Vanya keluar Daffin bergegas menghampiri dan memberikan bunga ditangannya,
"Ini sayang" ucap Daffin.
Saat Vanya ingin mengambil bunga dari tangan Daffin, Daffin pun membungkukkan tubuh tingginya lalu mulai mengecup bibir Vanya.
Cup..
Vanya pun terbelalak sementara teman-temannya yang lain mulai menyoraki Vanya, Terutama Fani yang suaranya terdengar paling keras seperti menggunakan toa.
"Cieeeee Vanyaa... " ucap teman-temannya yang lain.
"Vanya ! Please jangan bikin jiwa jomblo gue meronta-ronta ! " teriak Fani.
Vanya pun tertegun, Melihat Daffin yang ada didepannya dan tengah mengembangkan senyumannya, Seketika wajah Vanya merah padam, Ia pun mulai menarik tangan Daffin dan membawanya pergi dari sana ke tempat yang lebih sepi.
"Daffiiiiin....." ucap Vanya gemas.
"Kamu tuh nyebelin!!" ucap Vanya seraya memukuli lengannya.
"Aduh..aduh.. Sakit sayang" ucap Daffin.
"Kamu tuh apa-apaan sih~~~ Aku maluu" ucap Vanya cemberut.
Daffin pun tersenyum lalu mulai memeluk wanita di depannya.
"Maaf ya... Maaf buat semuanya" ucap Daffin seraya memeluk erat tubuh mungil istrinya.
"Aku sayang sama kamu" ucapnya lirih.
Jantung Vanya mulai berdegup dengan cepat, Ia mungkin marah kepada Daffin tapi tetap saja ia mencintai orang yang kini tengah memeluknya dengan erat itu.
Vanya pun mulai mengulurkan kedua tangannya dan ikut memeluk Daffin.
__ADS_1
Sementara itu entah dari mana datangnya , Leo sedang menatap kearah Daffin dan Vanya yang tengah berpelukan, Lalu bergegas pergi dari sana.
Note : Jangan lupa tinggalkan like dan Votenya untuk mendukung authornya. Terima kasih😊