VANYA : After The Storm

VANYA : After The Storm
Diacuhkan


__ADS_3

Daffin masih memeluk Vanya dengan erat, Aroma dari tubuh wanita yang tengah didekapnya itu mulai memunculkan lagi hasratnya, Ia ingin kembali memulai pergumulan panasnya, Sebelum ia pergi lusa pikirnya.


"Sayang, Ayo kita lanjutkan yang tadi pagi" ucap Daffin yang mulai menciumi leher Vanya.


"Ha? Tapi Fin..." ucap Vanya terbelalak.


"Tapi kenapa sayang, hmm? Ayo kita coba di sofa" ucap Daffin yang mulai bergerilya menuruni leher Vanya.


"Aku enggak bisa" ucap Vanya seraya mendorong tubuh Daffin perlahan.


"Kenapa? Kamu enggak mau di sofa? Mau dikamar ?" tanya Daffin yang masih saja berusaha menciumi leher Vanya.


"Bukan" ucap Vanya sambil mengerenyitkan dahinya.


"Terus kenapa sayang?hmm " tanya Daffin yang mulai bergerilya diatas dada Vanya.


"Aku... Aku Lagi datang bulan" ucap Vanya yang membuat Daffin seketika menghentikan aktivitasnya.


Sialll batinnya.


Daffin pun mulai melepaskan Vanya dan memperbaiki posisi duduknya.


"Aku mau mandi dulu kalau gitu" ucap Daffin seraya beranjak dari duduknya dan pergi ke atas,


Sementara Vanya memperbaiki pakaiannya lalu beranjak dari duduknya untuk menyiapkan makanan, Tidak lama kemudian Daffin turun dari kamar dan mulai menghampiri Vanya dibawah, Lalu ia pun mulai menyantap makanannya bersama Vanya, Setelah selesai menyantap makanan bersama Vanya bangun untuk mencuci piring, Sementara Daffin masih terduduk disana sambil memandangi Vanya Lalu ia pun mulai berkata, " Kamu tadi siang jadi ke Hans?" tanya Daffin.


"Iya jadi," jawab Vanya yang tengah sibuk mencuci piring.


"Berangkat sama siapa?" tanya Daffin penasaran.


Hari ini Dion tidak bisa mengawasi Vanya karena ia pergi ke kafe lebih awal untuk latihan bersama teman satu bandnya.


"Sama Fani" jawab Vanya.


"Oh syukur lah" jawab Daffin lega.


"Tapi pulangnya enggak bareng Fani karena dia jagain Nita dulu, Jadi pulangnya aku diantar sama Kak Leo" ujar Vanya.


Leo lagi ?? batin Daffin.


"Tapi dia enggak macem-macem kan sama kamu??" tanya Daffin yang kini berbicara dengan nada kesal.

__ADS_1


"Enggak, Dia baik malah, Tadi tuh perut aku melillit karena PMS, Terus dia beliin makanan sama obat pereda nyeri juga" ujar Vanya yang membuat kekesalan Daffin semakin menjadi-jadi.


Shittt.. Gue masih disini aja dia berani , Apalagi kalau gue enggak disini batin Daffin.


"Besok-besok kamu enggak usah deket-deket sama dia" ucap Daffin dingin.


"Hmm.. Kenapa?" tanya Vanya bingung


"Ya aku enggak suka aja kamu deket-deket sama dia, Jadi lebih baik kamu enggak usah lagi deket-deket sama dia" ujar Daffin.


"Tapi..."


"Enggak ada tapi !! Sekali aku bilang enggak ya enggak !!! ucap Daffin dengan nada tinggi.


Vanya pun terdiam, Namun matanya mulai berair, Sudah lama sekali rasanya Daffin tak pernah membentaknya. Kini ia kembali membentak dirinya, Sesak rasanya.


Daffin pun ikut terdiam, Setelah Vanya selesai mencuci piring ia pun bergegas naik ke kamar dengan terburu-buru, Daffin yang menyadari kepergian Vanya segera pergi menyusulnya.


"Sayang" panggil Daffin.


Namun Vanya tak sedikitpun menghiraukannya, Ia terus saja berjalan membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar dan naik ke atas tempat tidurnya.


Vanya pun merebahkan tubuhnya dan mulai menutupi dirinya sendiri dengan selimut, Sedih dan kesal berkecamuk di dalam dadanya ditambah lagi ia yang tengah pms semakin memperburuk suasana hatinya.


"Hei kamu marah?" tanya Daffin lembut.


Vanya tak menjawab, Air mata pun mulai mengalir dari sudut matanya.


"Sayang" panggil Daffin lagi.


Vanya masih tak menghiraukannya, Ia tengah sibuk menghapus air mata yang mulai jatuh.


Daffin berusaha memeluk Vanya, Namun Vanya pun berusaha keras untuk melepaskan pelukannya.


"Hei kamu kenapa??" ucap Daffin yang bertambah bingung dengan sikap Vanya, Ia sama sekali belum menyadari jika bentakannya tadi telah membuat Vanya sedih sekaligus kesal.


Daffin masih saja terus berusaha memeluk Vanya sampai akhirnya Vanya bangun dan pergi meninggalkan Daffin di kamar.


"Vanya !" panggil Daffin berteriak.


Namun Vanya masih saja acuh tak acuh, Ia pun pergi ke kamar satunya, Lalu menutup pintu kamar dengan kencang, Sedangkan Daffin yang baru saja datang menyusulnya mulai mengetuk pintu kamar.

__ADS_1


Tok tok tok


"Sayang, Kamu jangan kayak gini, Ayo keluar kita bicara baik-baik" ucap Daffin.


"Vanya..."


"Hei, Ayo buka pintunya" ucap Daffin lembut.


Namun Vanya masih saja tak menghiraukannya, Ia sedang ingin menenangkan diri dan tak mau diganggu.


Daffin masih saja terus berusaha membujuk Vanya untuk keluar namun masih saja tak berhasil, Ia pun mulai lelah sendiri dan mulai kembali ke kamarnya.


Daffin tengah merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, Ia pun mulai berpikir apa salah kalau ia tak mau Vanya dekat dengan Leo, Apakah ini terlalu berlebihan pikirnya.


Tapi semakin dibiarkan ia takut nantinya Vanya berpaling darinya, Ia benar-benar terlihat kesal dan juga menyesal sekarang, Tak seharusnya ia menyuruh Vanya untuk berkuliah ditempatnya kala itu, Tadinya ia berharap agar Vanya dekat dengan Dion dan Dion bisa mengawasinya karena Daffin tak bisa terus berada di sisi Vanya seperti saat di sekolah, Namun kini ternyata keputusannya malah jadi bumerang untuk dirinya sendiri.


Daffin semakin pusing dan stres, Ia mulai memijat kepalanya dengan satu lengan dan dengan ibu jari serta jari tengah yang nampak menekan dan berputar disamping kepalanya.


Sementara itu Vanya sudah mulai tertidur di kamar yang satunya.


...----------------...


Keesokan harinya,


Vanya menjalankan tugasnya seperti biasa, Bangun pagi memasak sarapan setelah sebelumnya ia mandi terlebih dahulu.


Daffin pun turun dan memberikan dasi kepada Vanya, Vanya mulai mengikatnya tanpa berbicara sepatah kata pun, Sementara Daffin masih terus saja memandanginya.


Vanya telah selesai mengikat dasi Daffin, Ia pun segera duduk di kursinya dan memulai sarapannya begitu pula dengan Daffin.


Vanya telah selesai sarapan, Ia pun bangun dan hendak mencuci piring, Daffin mulai bangun dan mendekat ke arah Vanya lalu memeluknya dari belakang, Vanya nampak tak merespon apapun ia masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah selesai Vanya mulai melepas pelukan Daffin, dan berkata," Ayo berangkat udah siang" ucap Vanya dingin.


Daffin mulai menghela nafas, Vanya masih saja marah pikirnya, Lalu ia pun mulai menyusul Vanya masuk ke dalam mobilnya, Lalu Daffin mulai melajukan kendaraannya dan mengantar Vanya ke kampus.


...----------------...


Sesampainya di kampus,


Daffin mulai menghentikan mobilnya di tepi jalan, Ia pun mulai mendekatkan tubuhnya dan hendak mencium Vanya seperti biasa, Namun Vanya dengan cepat membuka sabuk pengamannya dan mulai keluar dari dalam mobil serta pergi meninggalkan Daffin begitu saja.

__ADS_1


*Note : Jangan lupa tinggalkan Like dan votenya juga. Terimakasih.


__ADS_2