
Vanya masuk ke dalam kelas, dan langsung dibrondong pertanyaan oleh Fani
"Va gue lihat tadi lo turun dari mobilnya Pak Daffin" ucap Fani
"Emang iya Fan? tanya Meta
"Iya, tadi gue lihat di parkiran" ujar Fani
"Iya tadi enggak sengaja ketemu dijalan, Jadi ikut nebeng deh hehe" ucap Vanya menutupi yang sebenarnya
"Emangnya searah ya? Perasaan gue lihat dia lawan arah rumah lo deh kalau pulang" tanya Meta
M*mp*s gue batin Vanya
"Oh iya tadi tuh dia abis darimana gitu gue lupa jadi kebetulan lewat aja" ujar Vanya berbohong.
"Oh gitu" ucap Fani
Hhh hampir aja besok-besok jangan bareng lagi deh batin Vanya
Saat jam istirahat di kantin,
"Vanya buat kamu" ucap Niko seraya memberikan 1 botol minuman
"Makasih ya Nik" ucap Vanya sambil tersenyum
"Cieeeee enak banget sih jadi lo Va, pacaran enggak boleh tapi punya temen rasa pacar, Gue juga mau kalau gitu" ledek Fani
Vanya setengah tersenyum,
Lo salah Fan justru lo enggak bakal mau jadi gue seandainya lo tahu semuanya batin Vanya
Jam pelajaran Daffin dimulai, buku latihan soal pun telah dibagikan.
Vanya membuka bukunya untuk melihat nilai yang ia dapat, Tetapi lagi-lagi Daffin meninggalkan kertas catatan disana yang bertuliskan
...'Kamu tidurnya ngorok'...
"Enak aja !!" seru Vanya dengan lantang disaat suasana kelas sepi.
Semua murid dikelas mulai menatap ke arah Vanya, Vanya pun menunduk malu.
__ADS_1
Daffin kurang ajaaarr batin Vanya
Sedangkan Daffin sedang tersenyum senang disana,
"Kenapa lo Va?" bisik Meta
"Enggak apa-apa Ta, lagi ngelamun tadi gue" ujar Vanya
Vanya pun menatap marah kepada Daffin tetapi Daffin malah melontarkan senyuman kepadanya.
Setelah pelajaran selesai Daffin pun berkata
"Vanya kamu bantu saya koreksi soal ya jangan pulang dulu" ucap Daffin kemudian
Baru juga waras udah kumat lagi batin Vanya
"Iya Pak" jawab Vanya kemudian
Saat kelas sudah sepi dan hanya ada mereka berdua.
Daffin terus tersenyum sambil melihat Vanya, Sedangkan Vanya memasang tampang sebal,
"Muka kamu lucu pas lagi tidur" ucap Daffin
Wajah Vanya pun memerah,
"Kenapa kamu enggak bawa aku ke kamar embak Sandra aja" ucap Vanya kemudian
"Ngapain? Kan kamu istri aku, Ya aku bawa ke kamar kita lah" jawab Daffin yang masih terus tersenyum
"Hish nyebelin banget" ucap Vanya sambil cemberut lalu mulai mengkoreksi soal dibuku latihan
Daffin masih terus memperhatikan Vanya, Vanya pun melirik ke arah Daffin.
"Ngapain sih ngeliatin terus?" ucap Vanya kemudian
Lalu Daffin pun berkata
"Vanya, Bisa enggak kamu nerima aku sepenuhnya?" tanya Daffin dengan serius
"Hah? Maksudnya?" ucap Vanya bingung
__ADS_1
"Aku mau kita jalanin semuanya secara normal, Aku mau kamu anggap aku sebagai suami kamu, Perlakukan aku selayaknya suami kamu Va, Jangan terus-terusan bersikap dingin dan menghindar dari aku" ucap Daffin bersungguh-sungguh
Vanya terdiam, Semua perlakuan buruk Daffin terhadapnya masih terlintas dengan jelas,
Apalagi karena dia ia sekarang harus tinggal terpisah dengan Mamanya, Karena dia ia sulit dan tidak bebas bermain bersama teman-temannya dan karena dia juga ia harus berusaha mengubur perasaannya terhadap Niko.
Daffin benar-benar telah merenggut masa remajanya yang ingin ia nikmati lebih lama lagi.
"Aku enggak tahu" ucap Vanya yang matanya mulai berkaca-kaca
Daffin mulai menyesali pertanyaannya lagi-lagi bukan senyuman yang ia dapat tetapi malah kesedihan yang ia lihat sekarang di mata Vanya.
"Ya udah lupain aja pertanyaan aku tadi, Maaf kalau aku terlalu seenaknya sama kamu" ucap Daffin lagi
Vanya segera menyelesaikan pekerjaannya lalu pulang ke rumah Daffin.
Vanya langsung naik ke atas dan masuk ke dalam kamar
Setelah sebelumnya menyapa dan bersalaman dengan Mamanya Daffin dan Sandra yang sedang menyiapkan masakan di dapur.
Sesampainya di dalam kamar ia duduk dibawah didekat tempat tidur, sambil memeluk kedua kakinya, Nampak Vanya mulai mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Tidak lama kemudian Sandra masuk untuk memanggil Vanya makan bersama. Dan ia melihat Vanya yang sedang menangis disana lalu ia pun menghampirinya.
"Kamu kenapa? Daffin buat ulah apa lagi sama kamu?" tanya Sandra tapi Vanya hanya menggeleng
Lalu Sandra pun ikut duduk disamping Vanya dan mulai memeluknya, Dengan lembut ia mulai bertanya lagi kepada Vanya
"Kamu lagi ada masalah apa? Kalau kamu mau kamu boleh cerita, Embak siap kok mendengarkan" ucap Sandra
"Embak kenapa harus Vanya yang nerima semua ini, hiks.. Vanya masih belum siap embak hiks.. Vanya cuma mau semuanya kayak dulu lagi, Vanya enggak mau berakhir kayak gini" ucap Vanya sambil terus terisak
Sandra menghela nafas dan mulai berbicara
"Sabar Vanya, Kamu harus percaya semua akan indah pada waktunya nanti, Dan sekarang kamu harus bersabar dulu, Kamu harus kuat demi anak kamu juga, Kalau kamu sedih seperti ini dia juga ikut sedih, Dia bisa merasakan apa yang sedang kamu rasakan" ucap Sandra mencoba menenangkan sambil terus mengelus punggung Vanya
"Embak tahu pasti berat buat kamu, Tapi kamu harus tetap yakin kalau sesuatu yang indah sedang menunggu kamu disana, Akan ada pelangi setelah hujan Vanya, Jangan sedih lagi ya" ucap Sandra sambil memeluk erat Vanya.
Daffin memperhatikan mereka dari balik pintu dan mulai menghela nafas serta beranjak pergi dari tempatnya berdiri.
Note : Yang suka dengan karyaku mohon dukungannya, yang berkenan boleh like,rate + vote jg. Selamat membaca semoga suka 😊
__ADS_1