
"Ha? Apa lo bilang !!" Daffin mulai berbicara dengan nada tinggi namun hanya disambut tawa dari Leo.
"Bener kata lo Fin, Vanya memang beda sama cewek kebanyakkan dan kalau lo terlalu sibuk buat kasih perhatian ke dia, Gue bisa kok kasih dia perhatian yang lebih, Bahkan kalau lo enggak keberatan ,Gue siap juga buat gantiin posisi lo " ucap Leo dengan penuh percaya diri.
"B*ngs*t !!! "
Daffin nampak membulatkan matanya, Nafasnya mulai tak beraturan emosinya kini telah sampai ke puncaknya, Ia pun mulai mencengkram erat ponsel yang ada pada genggamannya dan dengan sekuat tenaga, Ia pun mulai membantingnya.
BRAKK...
Ponsel milik Vanya membentur tembok dan hancur berantakan, Sementara sang pemilik ponsel nampak terkejut, matanya membulat dengan sempurna.
"Fin, Handphone aku !" jeritnya.
Daffin mengepalkan kedua tangannya, Ia teramat sangat marah sekarang, Ingin rasanya ia melampiaskan amarahnya saat ini juga, Namun kepada siapa pikirnya tak mungkin ia harus lagi-lagi marah kepada Vanya.
Daffin tengah memperhatikan Vanya yang tengah sibuk merapikan kepingan-kepingan ponsel miliknya yang berserakan dilantai dengan posisi berjongkok.
Daffin serem banget kalau lagi marah, Handphonenya rusak sampai separah ini, Aku enggak boleh banyak bicara, takut salah, Nanti bisa-bisa aku kena sasaran juga Batin Vanya yang sambil terus memungut sisa-sisa ponsel yang hancur.
Vanya mulai berdiri setelah selesai membersihkan kepingan ponsel yang hancur, Namun tiba-tiba saja Daffin memeluknya dari arah belakang seraya berkata,
"Maaf, Nanti aku belikan yang baru ya," ucap Daffin lirih.
Vanya nampak gugup dan juga ketakutan,
"I-Iya" ucap Vanya.
Daffin semakin mempererat pelukannya dan Vanya tak berani protes apapun ia hanya diam membatu, Sementara Daffin tengah mengatur nafasnya dan berusaha meredakan amarahnya.
Dengan hanya memeluk istrinya seperti ini emosi lambat laun kian mereda, Ia benar-benar menyayangi wanita yang tengah dipeluknya, Membayangkan bahwa ia akan kehilangan pun ia tidak bisa, Padahal wanita didepannya ini hanya lah wanita biasa namun entah kenapa ia begitu mencintainya, Tak perduli seberapa sakit hatinya, Saat wanita ini pergi bersama laki-laki lain bahkan terakhir kalinya tadi ia nampak tersenyum hanya karena pesan singkat yang dikirim oleh lelaki itu, Namun tetap saja ia tak mau marah, Ia tak bisa begitu saja memarahi wanita didepannya.
"Vanya" panggil Daffin.
"Hmm?"
"Ayo kita segera punya anak" ucap Daffin yang mulai menciumi tengkuk leher Vanya membuatnya merinding seketika.
Daffin tak bisa memikirkan cara lain, Mungkin dengan membuat Vanya hamil dengan sesegera mungkin, Tak akan ada laki-laki yang berani mengganggunya lagi.
__ADS_1
Nampak Daffin yang mulai melepaskan pelukannya dan memutar tubuh wanita didepannya hingga kini mereka saling berhadapan, Ia pun mulai memagut bibirnya dan menciumi dengan lembut, Sementara wanita itu nampak mengerenyitkan dahinya, Daffin tak lagi kasar pikirnya, Ia benar-benar kembali memperlakukan Vanya dengan lembut, Nampak tangan Daffin yang mulai bergerilya dari atas bahunya hingga turun kebawah telapak tangannya, Daffin mulai menggenggam jemari wanita didepannya hingga kepingan benda ditangannya kembali jatuh berserakan, Saat Vanya ingin menoleh Daffin memperkuat pagutannya, Secara perlahan namun pasti Daffin menggiring tubuh wanitanya hingga tepi ranjang, Ia dorong dengan perlahan hingga wanita itu pun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, Dengan perlahan Daffin melucuti semua pakaian yang melekat pada wanita didepannya dan juga ia mulai melepas pula pakaian yang melekat pada tubuhnya sendiri,Daffin mulai membelai lembut wajah wanita yang sangat dicintainya itu, Tidak butuh waktu lama ia pun memulai kembali penyatuannya, Kulit mereka saling bersentuhan, Bibir mereka saling terpaut, Tak ada jarak sedikitpun diantara mereka.
Sampai akhirnya ia menuntaskan penyatuannya dan mulai tertidur disamping wanitanya sambil memeluk serta membelai lembut rambut istrinya itu.
...----------------...
Keesokan harinya,
Daffin tengah melajukan kendaraannya dan berhenti di dekat pintu gerbang kampus, Vanya akan segera turun , Namun dengan cepat Daffin mencegahnya,
"Vanya?" ucap Daffin.
"Ya?"
Dengan cepat Daffin mendekatkan tubuhnya, Lalu mulai mendaratkan satu kecupan dibibir mungil istrinya.
Cup
Daffin nampak sekilas menatap istri tercintanya sampai akhirnya ia mulai memeluk Vanya dengan erat, seraya berkata, " Nanti kalau aku udah enggak sibuk, Aku akan ajak kamu liburan lagi"
"Iya" ucap Vanya singkat.
"Vanya"
"Hmm"
Daffin terdiam ia terus memperhatikan Vanya, Perkataan Leo semalam masih terngiang dibenaknya Lalu Daffin pun mulai berkata,
"Kamu... Kalau bisa jangan terlalu dekat ya sama Leo" pinta Daffin lirih.
Vanya sempat terdiam sebelum akhirnya mengangguk dan mengiyakan permintaan Daffin.
"Iya" ucapnya singkat seraya membuka pintu dan mulai keluar dari dalam mobil.
Daffin sangat tahu bagaimana perangai Leo dan kali ini ia tahu bahwa ucapan Leo bukan sekedar main-main, Ia takut kalau posisi benar-benar akan tergantikan, Apalagi akhir-akhir ini ia hampir tidak punya waktu untuk Vanya dan selalu saja Leo yang mengisi waktu dan menemani istrinya itu.
Bulsh*t dengan kata Kakak adik batin Daffin.
Itu hanya dalih Leo untuk bisa mendekati Vanya pikirnya.
__ADS_1
Daffin mulai menyalakan mesin mobilnya kembali dan bergegas pergi dari sana menuju kantor.
...----------------...
Sementara itu di kampus,
Saat jam istirahat Leo mulai menghampiri Vanya,
"Vanya bisa bicara sebentar?" pintanya.
"Iya Kak, Ada apa?" tanya Vanya.
"Tapi enggak disini, Kita bicara disana yuk" ucap Leo lagi seraya menunjuk taman kampus.
Emm" Vanya nampak melirik ke arah teman-temannya, Awalnya ia ragu untuk mengiyakan tapi akhirnya ia pun menyetujuinya.
"Ya udah ayo" ucap Vanya pada akhirnya.
Leo mulai berjalan terlebih dahulu dan diikuti Vanya di belakangnya, Leo nampak berhenti dibawah pohon disana terlihat sepi karena kebanyak dari mereka berada dikantin ataupun diperpustakan.
"Aku mau nagih janji kamu" ucap Leo
"Ha? Janji apa Kak?" tanya Vanya yang terlihat heran.
"Kamu bilang mau bantu aku buat deketin aku sama cewek yang aku suka," ucap Leo.
"Tapi Kak..." ucap Vanya yang menggantung kalimatnya.
"Tapi apa?" tanya Leo.
"Daffin bilang, Aku enggak boleh terlalu dekat sama Kakak" ujar Vanya.
Leo nampak tersenyum tipis, seraya berkata," Jadi kamu mau ingkar janji, Padahal kamu sendiri yang bilang mau bantu aku" ujar Leo yang membuat Vanya mati mutu.
Vanya menghela napas panjang dan kembali berkata," Aku enggak mau disebut ingkar janji, Tapi ini yang terakhir ya Kak, Setelah ini aku harap Kakak enggak libatkan aku dalam urusan Kakak lagi."
"Iya," ucap Leo singkat dengan senyuman penuh arti.
Note : Jangan lupa di like ya up 3 bab nih, Menuju ending😇
__ADS_1