
Daffin tengah terpejam dengan bertelanjang dada dan sebagian tubuhnya yang lain hanya tertutup selembar selimut. Begitu pula dengan Vanya yang kini tengah merebahkan kepalanya pada dada bidang milik Daffin.
"Yang, Kok tidur?" ucap Vanya yang menyentuh dada Daffin dengan ujung jari telunjuknya.
"Hmm..."
Daffin hanya menjawab dengan deheman, Vanya mulai terlihat kesal karena tak ditemani dan malah ditinggal tidur. Ia mulai menaruh ujung jari telunjuk dan ibu jarinya di dada Daffin dan mencubit kecil di sana.
"Aduh!!" Daffin memekik keras dan membelalakan matanya.
Ia menoleh ke arah Vanya yang tengah memperlihatkan senyum tak bersalah. Mau marah tak bisa takut Vanya balik marah. Akhirnya ia hanya mendengus kesal.
"Kamu ngapain?? Sakit tahu yang, Baru juga aku masuk alam mimpi udah kamu tarik lagi keluar..."
"Abisnya kamu udah tidur duluan... Aku ditinggalin..." jawab Vanya sambil memajukan bibirnya.
"Ya kan wajar, Aku capek banget abis double lembur di kantor sama di rumah, Sekarang waktunya istirahat."
"Iya... Tapi si kembar mau ice cream katanya, yang cone yang ada selai stroberinya enak ada asamnya gitu..."
"Astaga... Kenapa mesti ngidam tengah malam begini sih? Besok aja ya belinya, Besok aku belikan yang banyak deh sekalian buat stok di rumah. Tapi sekarang tidur dulu. Aku ngantuk banget."
"Ya udah..." jawab Vanya dengan ekspresi wajah yang datar.
Daffin kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, Sementara Vanya turun dari atas tempat tidur menuju lemari pakaian.
Mengenakan piyama lengan panjang dan sengaja menutup lemari pakaian dengan kencang.
BRUK!
Daffin terperanjat dan membuka kedua matanya lebar-lebar lalu menoleh ke sumber suara, Nampak Vanya yang kini mulai berjala n ke arah pintu kamar dan hendak keluar kamar.
"Yang! Kamu mau kemana???" pekik Daffin.
"Beli ice cream sendiri!!" pekik Vanya saat telah berada di luar kamar.
Daffin bergegas bangun dan mengambil handuknya serta memakainya lalu mengejar Vanya keluar yang baru saja akan menuruni tangga ke bawah. Daffin menghampiri Vanya dan memegang tangannya.
__ADS_1
"Hei, yang jangan gitu dong. Ini tuh udah malam. Bahaya keluar malam begini."
"Ya abisnya kamu enggak mau belikan, Aku aja beli sendiri, Aku juga bisa, Enggak harus ngandelin kamu terus." ucap Vanya dengan mata yang berair.
Daffin menghela napas dan menghembuskannya lewat mulut.
"Iya aku belikan sekarang, Sana tunggu di dalam sama Dava, Aku pakai baju dulu."
"Enggak usah! Aku aja, Katanya kamu capek. Sana tidur aja! Enggak usah perduliin aku!"
Vanya semakin memajukan bibirnya. Bumil yang satu ini memang sedang mode sensitif yang tingkat sensitifnya mengalahkan wanita PMS.
Daffin meletakkan dua tangannya di bahu Vanya dan menatap Vanya yang sedang memalingkan wajahnya.
"Jangan ngambek. Iya aku belikannya sekarang, Udah yuk ke kamar lagi. Sekalian aku mau pakai baju"
Kini tangan Daffin mengenggam tangan Vanya dan mengajaknya kembali masuk ke dalam kamar.
"Ayo..." ucap Daffin lagi yang sedikit menarik tangan Vanya.
"Ya udah..."
Vanya pun menurut dan kembali masuk ke dalam kamar bersama Daffin. Daffin berjalan ke lemari pakaiannya dan mengenakan pakaian sementara Vanya duduk di atas tempat tidur.
Setelah selesai berpakaian Daffin meraih kunci mobil dibatas nakas dan mendekat ke arah Vanya.
"Kamu mau apalagi? Biar sekalian aku belikan."
"Udah aku cuma mau ice cream."
"Ya udah aku berangkat dulu ya??"
"Iya... Hati-hati."
Daffin berjalan keluar kamar dan pergi untuk membelikan apa yang diinginkan Vanya. Sekitar 20 menit Daffin kembali dengan sekantung ice cream di tangannya.
Dan Vanya nampak tengah berdiri di dekat box bayi Dava dan memberikan susu botol pada Dava yang terbangun.
__ADS_1
"Dava bangun yang?" tanya Daffin ketika ia berada di samping Vanya.
"Iya nih."
"Sini aku aja yang pegang, Nih kamu makan dulu ice creamnya nanti keburu mencair," ucap Daffin seraya menyodorkan kantung berisi ice cream kepada Vanya.
"Enggak usah. Aku aja. Kamu istirahat aja, Pasti capek banget mana besok masih harus kerja," ucap Vanya yang merasa kasihan pada suaminya itu.
"Enggak apa-apa, Kan aku udah bilang mau bantu ngurus anak bersama, Aku urus Dava, Kamu urus si kembar. Mereka pasti udah enggak sabar mau makan ice creamnya."
"Tapi..."
"Enggak usah tapi-tapi inget harus nurut kata suami. Ini makan dulu, Biar aku yang urus Dava."
Daffin mengambil alih botol susu dan memberikan kantung berisi ice cream kepada Vanya.
Vanya mengambil kantung berisi ice cream, Mengambil satu dan membukanya, sisanya ia simpan di atas nakas.
"Ini," ucap Vanya yang menyodorkan ice crema ke arah mulut Daffin setelah sebelumnya ia melahapnya.
"Udah kamu aja yang makan," ucap Daffin.
"Ini aku serius, Aku suapin."
"Udah kamu aja, Udah sana makannya sambil duduk," ucap Daffin lagi.
Vanya menurut dan duduk di lantai yang beralaskan karpet. Lalu menikmati ice creamnya.
Sementara Dava sudah kembali tidur dan Daffin menarik perlahan botol susu yang ia pegang dan ia tutup kembali,lalu menyimpannya di atas nakas.
Daffin tersenyum dan mendekat ke arah Vanya yang tengah menikmati ice creamnya. Ia duduk berlulut menghadap Vanya.
"Kamu makannya berceceran di dekat bibir sih kayak anak kecil." ucap Daffin.
"Ha? Masa sih?" tanya Vanya sambil mengerutkan dahinya dan kini mulai memainkan lidahnya untuk membersihkan ice cream di sekitar mulutnya yang sebenarnya tidak ada.
"Sini aku bantu," Daffin mendekat dan mulai memainkan lidahnya di bibir Vanya dan Vanya hanya dapat ternganga mendapat perlakuan dari Daffin.
__ADS_1